Waktu pendaftaran ulang, saya juga belum merasa aneh dengan kondisi ini. Dari lima belas mahasiswa yang diterima, yang mendaftar ulang ada tiga belas orang. Baru terasa aneh ketika keluar dari GSG, karena anak-anak jurusan lain disambut oleh kakak kelas mereka. Malah ada beberapa yang setengah dikerjai dan setengah dipaksa. Sementara, nggak ada seorang pun mahasiswa senior yang meneriakkan “Astronomi!” di tengah hiruk pikuk penyambutan mahasiswa baru. Ya sudah, saya melenggang pulang dengan cuek.
Setelah beberapa saat kuliah, barulah kami mulai mengikuti program kaderisasi dan interaksi dengan Himastron. Biasanya dilakukan setiap hari Minggu pagi, sekalian olahraga.
Interaksi kami nggak seberat teman-teman jurusan lain. Lebih banyak game, simulasi, menyusun makalah, presentasi, dan yang paling dahsyat adalah: menggambar konstelasi yang dikenali pada malam hari. Saya masih ingat, jam dua pagi saya keluar rumah, ditemani si Papap yang memang hobi begadang, untuk menggambar rasi-rasi di langit. Boro-boro ketemu, namanya juga di kota, banyak polusi cahaya! Saat sedang bingung mencari-cari rasi yang saya kenal, seorang petugas ronda lewat dan bertanya, “Nuju naon, Neng?” Hahahaha … sungguh materi interaksi yang aneh!
Kebetulan, saat itu kaderisasi di ITB sedang bermasalah. Hasilnya angkatan di atas kami, ’96, belum dilantik jadi anggota Himastron. Akhirnya, interaksi kami digabung. Tetap saja, dua angkatan digabung nggak bisa mengalahkan satu angkatan jurusan lain. Kami hanya berlima belas orang, karena nggak semua ikut acara akhir dan pelantikan.
Meskipun hanya bersedikit dan fisik kami nggak begitu banyak digojlok, acara akhir itu terasa berat. Bayangkan, kami disuruh datang sore hari untuk upacara pelantikan, di pelataran belakang Himastron, labtek III lantai 4, di kampus ITB. Setelah itu kami disuruh pulang, tapi dibekali tugas: meresensi buku, mencatat isi Dunia Dalam Berita di TVRI, dan mencatat berita malam di RRI. Besoknya, kami harus datang jam 5 pagi. Waktu itu darah rendah saya agak kambuh, jadi setelah minta izin saya datang jam 7 pagi. Yang lain sedang berolahraga, jadi saya menunggu mereka kembali.
Setelah itu, mulailah materi-materi maraton—game dan segala macam simulasi kekompakan. Lokasinya bermacam-macam, kadang-kadang di Labtek Elektro, di Oktagon, dan di Perpustakaan Pusat. Saat pindah dari Oktagon ke Perpustakaan Pusat, kami harus memakai ponco dan berbaris. Padahal, saat itu tengah hari, cerah ceria, dan banyak mahasiswa yang berkeliaran! (Kalau dalam bahasa Spanyol sih kami menyebutnya “mentrang-mentring”:p) Ya ampuuun … plis duech. Gimana nasib pergaulan kami selanjutnya? Dan mulailah siksaan batin pertama.
Setelah selesai acara itu, sekitar jam 4, kami disuruh pulang. Hah? Disuruh pulang? Padahal habis maghrib kami disuruh kumpul lagi. Tanggung! Si Abang sampai bingung dan bertanya, “Kok ospeknya aneh banget sih? Pulang-pulang melulu!”
Waktu itu, saya menunggu-nunggu dengan penasaran, kok kami nggak dibawa ke lapangan sih. Padahal persiapan sih sudah lengkap di dalam ransel. Saya kira, inilah saatnya.
Eh, ternyata, kami hanya disuruh kumpul di pelataran depan Himastron, lalu disuruh berbaris. Kemudian, kami disuruh menghibur para senior! Pertama, kami melakukan usul Heri ‘96 untuk bernyanyi lagu anak-anak sambil menari. Setelah di-huuuuu oleh para senior, kami sepakat untuk mengganti atraksi. Iyam puisi, sementara kita bergerak-gerak di belakangnya membuat visualisasi puisi. Ya Tuhan … inilah siksaan batin berikutnya.
Setelah para senior sudah puas memarahi kami (meskipun garing sih:p), kami disuruh menutup mata, lalu dipisah-pisah. Oh, ternyata kami digiring berkelompok ke pos-pos yang ditempati oleh panitia dan swasta.
Pos satu ada di pintu jurusan, pos dua ada di pintu depan sekretariat Himastron, pos tiga di dalam sekretariat Himastron, dan pos empat di pelataran belakang Himastron.
Setelah melewati pos-pos itu, yang kebanyakan isinya hanya wawancara dan tanya jawab, kami disuruh berbaris lagi. Lalu kami dilantik.
Hanya ada seorang panitia yang menggebrak meja saat kami dinyatakan bisa dilantik jadi anggota Himastron. Tapi sungguh mengibakan, yang lain cuek beibeh!
Ya sudah, itu saja. Setelah itu kami disuruh pulang. Jadi kapan ke lapangan? Nggak pernah! Kami terlalu siap untuk kegiatan dan hukuman-hukuman fisik, juga tempaan-tempaan mental yang dahsyat. Tapi, kenyataan berkata lain. Ternyata, ketua Himastron saat itu nggak mau mengambil risiko bermasalah dengan jurusan dan rektorat.
Yang mengagumkan, anggota dua angkatan itu tumbuh dengan mental baja. Mungkin karena siksaan batin jauh lebih berat daripada siksaan fisik! Hahaha ….
(Aduh, sayang nggak punya foto-foto digital waktu acara akhir itu. Foto biasa sih ada, tapi di Himastron. Jadi, blog ini nggak bisa dilengkapi dengan foto-foto acara supergaring tea hekhekhek ...)
suze, aku anak yang bandel, tak pernah sudi ikut ospek. eh, pernah ding, tapi aku tak suka, tak suka, tak suka.... tapi aku juga tak suka ngospek lah. aku juga tak suka ujian, tak suka bikin skripsi, tak suka dosen yang mahasiswanya diharusin pake rok, .... huuuhh...
BalasHapusaku juga tadinya males ikut ospek, tapi sayang kalo nggak, soalnya kami hanya bersedikit. ternyata pas ikut juga acaranya supercrunchy dan superkriuk ginih hahahahahahaha ... aku juga nggak galak kok kalo ngospek, paling jail hikhikhik ... aku juga nggak suka ujian, nggak suka ngamat, nggak suka ngolah data TA, nggak suka ngetik, nggak suka ujian .... (tapi syukurlah dosen-dosenku nggak pernah nyuruh kami pake rok hikhikhikhik)
BalasHapusiya, loh, bener, may!
BalasHapussiksaan batin jauh bisa bikin seseorang lebih tangguh secara mental ketimbang siksan fisik! kerasa banget, loh!
mungkin, kalo siksaan fisik, bisa bikin seseorang jadi kuat begadang, kuat ngerjain tugas ampe ga tidur beberapa hari, tapi begitu dicoret sehalaman aja pake spidol merah, langsung berurai air mata *hahaha, saya pangalaman nyoret kerjaan mahasiswa yang saya asistensiin dengan spidol merah sehalaman penuh, padahal, salahna ngan sarumus*
hahaha kalian sih terlalu siap, jdnya panitia engga PD ;D
BalasHapushahahahahahahahhaaaaa
BalasHapusini dia panitianya nimbrung :D
mana si mang uing, nya? dulu kan jadi panichia juga :D
BalasHapushadir..heuheuheu..
BalasHapusTongboroning ente Mar, uing ge buingung. Karek datang ka Himastronna oge ba'da maghrib, dina ransel geus siap-siap dek "pesiar".heuheuheu...Ari pek teh "pesiarna" teu jadi.
Punteun ka panitia, pas harita teh uing nuju seueur uruskeuneun di LSS. Perijinan kegiatan sareung latihan gamelan.
Mar,sanesna aya keneh siksaan batin terakhir,anu pangedasna....?ingeut teu?
hahaha ... pas ospek 98 nya :D
BalasHapusheuheuheu...manada pas acara swasta nu dicarekannana panitia selain di H*....Pesertana mah ngan dititah tutup mata jeung tutup telinga hungkul....Piiss,ah.
BalasHapustentang ospek, waktu akhir kuliah sempat beredar foto ospek angkatan kami yang lagi berlumpur2 merayap, push up dll. terlihat penuh dg kekerasan. gak tau deh..skrg kemana 'bukti-bukti' itu. kalau beredar skrg..bisa masuk tv sbg tindak kekerasan tuh..
BalasHapusmakanya, masuk astronomi aja ... hihiii
BalasHapusoiya, lupa, dulu ada lagi siksaan yang berat juga: siang-siang abis makan kan ngantuk banget tuh, tapi kami disuruh denger ceramah mantan ketua Himastron, si Papa Tom angkatan '92. dasar oknum Bondowoso, dia ngomongnya lambat dan pelaaaaaan banget.
kalo tidur juga nggak bakal dihukum sih, tapi malu aja, peserta OS cuma dikit kok tidur, hihiii ... jadi, kami tersiksa setengah mati nahan kantuk, sementara si Papa Tom (namanya sih Taufiq, cuma dia menjuluki dirinya sendiri Papa Tom) berkicau ... *keluh*
heuheuheu...siksaan tanpa ujung...hahaha...
BalasHapusyah mang, siksaan yang sebenarnya mah nya, terpaksa berteman dengan Papa Tom, si Bahrun, Kang Asep Cililin, si Yadi, si Geboy, Mang Uing, si Nata, si Boykeu, si saha deui nya ... tersiksa edan lah ... Sakit semua!
BalasHapushahahahaaaaaaa
hihihihi sama saya mah masih sejahtera yaa mar!! :))
BalasHapussiluman siduru sisiuk.hahaha...tapi tetap waras kan....heuheuheu...
BalasHapusini mah setuju banget deh!! kl skrg mengalami masih ngantuk engga yaa ?? atau malah ketawa2 mesum??
BalasHapuspapa tom dan mama oum...heuheuheu...
BalasHapussayang mereka tidak berjodoh......
BalasHapusyah ... kita ini kan PAC PAC D
BalasHapushahahaaa
haha ... abis dia mah mau ngomong jorang aja mikirnya lama, hahahahhaaaaaaaaaaa
BalasHapus*dan senyumnya aduhai, mesum sekali :D*
hahahahahahhahaaaaa
BalasHapuskalo berjodoh, hancur dunia persilatan :D
apa kata dunia!!!
BalasHapusdimana lagi kita bisa nemuin senyum yang demikian yaa???
BalasHapusdi KLAB ASTRONOMI BONDOWOSO
BalasHapus(ah ... mungkin papa tom itu ya ketua, ya sekretaris, ya bendahara, ya anggota, ya seksi sibuk. hahahahahahahhaaaa)
bukom yang penuh dengan tom-tom dan oum-oum itu apa msh ada dihimpunan ga ya...?
BalasHapusbukan mungkin mar....memang!!! hahahaha
BalasHapusbukan memang Yah,...tapi pastilah..masa pasti doung...hihi
BalasHapusmengerikan pisan ya, bukom-bukom itu
BalasHapuscemarrrr ... harus dipegang pake sarung tangan latex. hahahaaaa
plus masker dan sabun detol mar!
BalasHapusatau pake pinset sakalian :D
BalasHapuscek...cek..cek...sampe segitu tercemarnya yaaa
BalasHapushahaha...lebih menakutkan dari HIV sekali pun....hiiiiiiy...tatut...
BalasHapuskata si nata mah panyakit 'Ai
BalasHapuskan AIDS itu ciri-cirinya menwa 4 minggu. kalo baru 1 minggu, namanya panyakit A. kalo udah 2 minggu, panyakit 'Ai.
hihiii
walah....jadi si nata pernah menwa selama 2 minggu....hebat euy....hahaha
BalasHapus