Barusan saya menyeduh secangkir besar teh tubruk.
Merknya Cap Botol—yang ada di toserba-toserba kecil dekat
rumah—meskipun ada referensi dari Jeng Antie yang orang Salatiga bahwa
lebih enak merek Goalpara atau 99. Begitu diseduh, aroma teh tubruk
yang khas segera meruap. Wangi dan damai, juga sedikit
memabukkan—karena mengingatkan saya akan waktu-waktu lampau.
tubruk yang diminum dengan cangkir enamel mengingatkan saya pada
masa-masa bersekolah di TK. Di TK Yayasan Beribu tempat saya sekolah
dulu, setiap hari semua anak makan hidangan yang sama. Ibu-ibu para
murid yang bergantian membuat, jadi kadang-kadang kami makan bubur
kacang hijau, besoknya kue, lalu besoknya lagi sup, dan seterusnya.
Hidangan itu selalu ditutup dengan minuman yang sama tiap hari: teh
tubruk dengan rasa manis yang samar, dihidangkan dengan cangkir tua
yang beberapa lapisan enamelnya terkelupas. Tambah sensasional ketika
saya ingat bagaimana lapisan enamel itu bersentuhan dengan gigi saat
minum, menimbulkan benturan lembut yang terasa akrab.
teh tubruk ini nggak begitu mengingatkan saya pada saat-saat kemping.
Soalnya, kalau kemping sih, jauh lebih praktis membawa teh celup.
Meskipun begitu, saya punya minuman favorit kalau sedang kemping:
oplosan teh celup panas dengan Segersari rasa jeruk nipis (Saya belum
pernah mencoba merek lain. Mungkin Nutrisari lebih oke). Pertama kali
saya minum oplosan ini saat sedang mendaki Gunung Halimun dari jalur
Selatan bersama tim pengembaraan 2000. Kalau tidak salah, minuman ini
diracik saat saya terpaksa mengisap rokok untuk mengusir dengungan
serangga di camp 4 (ough … saya trauma disengat odeng—lebah
kecil—pengalaman ini mungkin suatu saat akan saya ceritakan).
lagi kepada bahasan semula, bagi saya, teh tubruk identik juga dengan
hujan deras. Waktu mengerjakan tugas akhir, saya sempat jadi penghuni
Himastron. Cukup lama, mungkin sekitar dua bulan. Biasanya, dalam
seminggu saya bisa lima hari menginap di Himastron, lalu dua hari
sisanya di rumah.
itu dulu selalu ada sebungkus teh tubruk. Penyedianya ya sang hantu
penunggu Himastron, si Nyimas Siti Ulya (bwehehehe … si Nata pasti bete
banget disebut nama aslinya), meskipun kadang-kadang duitnya hasil
memeras para penghuni Himastron lainnya (buat sekalian beli gula).
di bawah atap kayu Himastron, di pelataran Labtek III lantai 4, tanpa
ada naungan atap kokoh lagi di atasnya, terasa cukup mengerikan—jika
sedang hujan deras. Angin bertiup kencang, air hujan menerpa atap dan
jendela, kadang-kadang merembes di sela-sela pintu, menggenangi
pelataran depan dan belakang, bahkan membasahi sepatu-sepatu yang
diparkir di luar (dan menjadikannya semakin bau, iukhhhhhh!).
atau panci listrik milik si Tri. Setelah itu, kami menyeduh teh tubruk.
Setelah daun-daun tehnya mengembang, kami tambahkan gula. Lalu, teh
tubruk yang wangi, panas, manis, dan kental itu kami minum
bersama-sama. Bisa sambil menonton televisi, main gitar sambil
nyanyi-nyanyi nggak puguh, atau sekadar diskusi hal-hal aneh yang
kadang-kadang nggak penting banget.
selesai menulis ini, teh tubruk saya sudah hampir habis. Tinggal
sisa-sisa daun yang mengendap di dasar cangkir. Sudah dingin pula, tapi
masih wangi dan manis. Tapi, aroma teh tubruk ini masih membuat saya
mabuk … mabuk dalam kerinduan akan masa-masa lalu. Saat tak ada beban
pekerjaan, hanya memikirkan bagaimana caranya menghindar dari Pak Hakim
karena tugas akhir saya tidak kunjung beres! Hahaha ….
Kalo di Bukittinggi, padang sekitarnya yang enak merknya Cap Bendera, katanya mah dari perkebunan teh Medan..^^
BalasHapusHahhhh? Bukannyah Cap Bendera ituh susu? Dulu juga sempat nyobain teh khas orang Minang tapi lupa mereknya apa, trus pernah juga dikasih teh vanilli dari Malang, trus ada seorang teman yang sudah membuatku GR karena tiba-tiba dia datang dari jauh dan ... membawa sebuah kotak kecil. Sugan teh mau ngasih cincin berlian (hahahaha ... mimpiiiiii!), ternyata ... isinya bubuk. Bukan bubuk heroin tapinyah, ternyata ituh teh Masala dari Kampung India di Malaysia hekhekhekhek ... (huh, kirain cincin berlian!)
BalasHapuswah, sekarang saya tidak lagi doyan sama teh tubruk, ampasnya suka tertelan... huhuhuhu.... :'(
BalasHapus