Jumat, 02 Juni 2006

When All the Stars were Falling


Salah satu yang membuat saya sadar bahwa saya seorang perempuan adalah … para musisi wanita.

Tetapi,
bukan yang cuma nyanyi doang. Biasanya, mereka memainkan paling sedikit
satu jenis alat musik juga sambil bernyanyi. Salah seorang
penyanyi-musisi yang lagunya paling membuat saya terkesan adalah Lisa
Loeb—sayang setelah lagu pertama "Stay" dia sudah nggak berkarya
bersama band-nya lagi, Nine Stories Band. Lagu ini berjudul When All The Stars Were Falling, termuat di albumnya yang berjudul Tail.



Liriknya begini:



When all the stars were falling I reached up like you said
All the stars were falling, one hit me in the head
And I fell down, down, down, I fell down, down



When all the stars were falling, they fell from above
And I thought of hate, and I thought of hate and then I thought of love
And I fell down, down, down, I fell down, down



And I've learned how to dance from a Vincent Van Gogh
And the nights were wrapped in a white sheet
And now no one even says hello, 'cause I couldn't stand on my two feet



I fell down, I fell down
Down, down, down



Now the peace you will find, in your own you have found
The lights of the city are the stars on the ground
"I may not be a quaalude living in a speed zone,"



But I could be restful, I could be someone's home if I fell down
And I fell down, down
Now all the stars have fallen ….



Menurut saya, lagu ini adalah kebalikan lagu Don’t Stop Me Now-nya Queen yang juga sangat saya sukai—I’m
burning through the sky, yeah …. Two hundred degrees, so why they call
me Mister Fahrenheit. I’m travelling with the speed of light, I’m gonna
make a supersonic man out of you!



Mendengarkan Don’t Stop Me Know
selalu membuat semangat saya tetap menyala, melarang saya untuk
kehilangan gairah hidup, dan memacu saya untuk terus meraih segala
keinginan dan mewujudkan obsesi yang rasional. Tapi, When All The Stars Were Falling memiliki efek lain—meredam “bara di dalam dada”.




Mungkin, ada beberapa interpretasi terhadap lirik lagu ini. Tapi, saya
punya interpretasi sendiri. Lagu ini bercerita tentang seorang
perempuan—karena penciptanya Lisa Loeb toh—yang ingin meraih banyak
cita-cita, ambisius. Tetapi, di tengah perjalanan, ia mengalami suatu
kendala besar. Akhirnya, ia tidak bisa mewujudkan keinginannya.




Ia jatuh, terpuruk, tidak dipedulikan. Hanya karena ia bukan
“seseorang”, hanya karena ia bukan pemegang kendali keadaan sekitar. Ia
juga bukan quaalude—yang berasal dari frase 'quiet interlude'
dengan tambahan 'aa', suatu kamuflase nama methaqualone, obat
antidepresan—sesuatu yang bisa mengurangi depresi dan banyak dicari
meskipun ilegal.

Tapi, perempuan ini sadar akan sesuatu—ia
bisa menjadi seseorang lain dengan keadaannya ini. Mungkin kedamaian
yang ia cari selama ini nggak usah dicari jauh-jauh. Mungkin keadaannya
saat ini adalah kedamaian baginya. Selain itu, jika ia “jatuh”, nggak travelling with a speed of light, ia bisa jadi “rumah” bagi seseorang. Atau mungkin bagi beberapa orang.




Mendengarkan lagu ini dan meresapi liriknya membuat saya berpikir: ada
waktunya bagi setiap orang untuk meninggalkan ambisi pribadinya, untuk
bertenggang rasa terhadap orang-orang di sekitarnya—meskipun ia
bagaikan “jatuh” karena mimpi-mimpinya tidak terwujud.






Sekarang,
siapa yang tahu kapan pastinya saya
betul-betul "kejatuhan bintang"? Bisa aja besok atau taun depan atau
sepuluh taun lagi hahahahahahaha .... Meskipun tentu saja, sebagai
mantan mahasiswa astronomi "murtad" yang beruntung bisa lulus akhirnya,
saya
tahu bintang jatuh itu meteor. Dan, meteor itu adalah suatu benda
langit, mungkin berupa batuan atau kerikil, atau bahkan partikel debu,
yang masuk ke dalam atmosfer bumi dengan kecepatan tinggi. Gesekan
dengan atmosfer bumi menyebabkan panas dan nyala api, seperti kalau
kita menggesekkan korek api ke bagian samping kotak bungkusnya. Nah,
itu yang membuat meteor menyala bagaikan bintang jatuh (nah, apa coba
bedanya meteor dan komet? Owgh, plis duech ....)



1 komentar:

  1. ya, kita harus bisa rela meninggalkan ambisi pribadi dalam keadaan terpuruk atau jatuh sekalipun, buat bertenggang rasa terhadap sekitar kita.
    siapa tau, kita bisa bangkit lagi karena "tenggang rasa" ini

    BalasHapus