Salah seorang teman seperjalanan
saya, sesama penumpang bus Antapani – KPAD adalah si Dede. Saya nggak tahu
siapa nama aslinya, yang jelas cewek mungil ini dipanggil Dede. Dia masih
sekolah di SD Sabang, kira-kira kelas 2 atau kelas 3. Biasanya, dia berangkat
sekolah diantar bapaknya.
Si Dede ini berkulit putih,
berambut panjang kemerahan. Tapi, raut wajahnya khas Indonesia. Penampilannya
tomboy—selalu memakai sepatu sport dan kadang-kadang memakai topi.
Tidak setiap hari saya sebus dengan
si Dede ini. Kadang-kadang, dia dan bapaknya sudah ada di bus ketika saya naik
di belakang flat. Kadang-kadang, mereka naik di belokan menuju Setrasari Mall,
dekat tukang bunga. Jika bus sedang kosong, dia duduk sendiri. Jika penuh, dia
dipangku bapaknya. Pernah suatu hari, bus sangat penuh. Dia dan bapaknya naik
setelah saya. Ibu-ibu pegawai Pemda yang duduk di sebelah saya menarik si Dede
untuk duduk di antara kami. Sepanjang perjalanan, dia bersenandung pelan sambil
memandang keluar jendela bus.
Rupanya, si Dede memang senang
menyanyi. Beberapa bulan sebelumnya pun, saya pernah mendengarnya menyanyi. Saat
itu, saya duduk di sebelah si Dede dan bapaknya, terhalang lorong di tengah
deretan kursi bus. Si Dede duduk di dekat jendela, asyik memerhatikan
pemandangan sepanjang jalan. Tapi, dia bernyanyi keras-keras dengan asyik, tak
peduli dengan keadaan sekitar. Sampai waktunya turun, baru dia berhenti
menyanyi.
Si Dede juga anak yang ramah dan
ceria. Si Bapak kenek bus langganan kami sering menyapanya, “Eh, ada Dede,” dan
biasanya dia tertawa dengan ceria. Minggu kemarin—saat terakhir kami naik bus
bersama—ketika turun di PPI, di pinggir jalan dia berteriak-teriak kepada si
Bapak, “Paaaaak! Dadaaaaah! Dadaaaaaah!”
Sayang sudah sebulan ini saya
nggak ketemu si Dede. Padahal, kehadirannya bisa menceriakan pagi saya,
terutama kalau saya telat bangun (ini mah biasa hahahahaha …) dan bete karena
harus terburu-buru berangkat ke ujung dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar