Waktu kuliah dulu, saya punya
seorang teman yang bernama Yadi Supriatna. Karena saya sempat kuliah di Unpar
dulu selama setahun, dia jadi kakak kelas saya deh. Tapi, karena masa
kaderisasi dan pelantikan angkatan ’96 dan ’97 digabung, rasanya kami satu
angkatan—meskipun terasa sekali perbedaannya, pada umumnya angkatan ’96
jago-jago dalam urusan akademik, sementara angkatan ’97 jago-jago dalam urusan
tipu menipu .
Hubungan saya
dengan Yadi lumayan dekat, tapi biasanya dalam hal pekerjaan. Bukan pekerjaan
akademik, tapi betul-betul pekerjaan yang menghasilkan uang. Biasanya, kami
berpartner dalam hal produksi—mulai dari plakat untuk kenang-kenangan wisudawan
sampai proyek buku saku mahasiswa baru sebuah akademi yang dulu terletak di
Jalan Surapati.
Dulu saya sering
ke rumah Yadi untuk urusan bisnis ini, karena di sekitar rumahnya banyak tukang
kayu, tukang sablon, dan percetakan kecil. Gampang kok kalau mau ke rumah Yadi.
Kalau menuju arah Cicaheum, coba tengok sebelah kanan Jalan Surapati/Suci,
setelah Cikutra. Ada sebuah wartel yang plangnya besar, berjudul “Kokolono”. Di
dekat wartel yang namanya ajaib ini—saya dulu sering protes kepada Yadi, kenapa
sih namanya ajaib begini?—ada sebuah gang besar (cukup dimasuki satu mobil)
yang berjudul “Jalan Setia”. Nah, mencari rumah Yadi itu gampang, jalan saja
beberapa meter, di sebelah kanan ada warung pertama. Itu rumah Yadi. Atau tanya
saja kepada penduduk di situ, pasti mereka akan menunjukkan rumah Yadi si Aa
ITB, yang terkenal dengan julukan “Kuik” (saya nggak tahu julukan ini berasal
dari mana, mungkin dari kata quick?).
Mungkin karena
dia satu-satunya Aa ITB di antara berjuta-juta penduduk Cicadas—yang merupakan
daerah terpadat di seluruh dunia—Yadi itu termasuk idola para wanita (tapi
sayangnya, tidak di antara teman-teman kuliah, hehe …). Selain itu, memang dia
mah rada playboy saeutik lah. Biasanya yang jadi korban keplayboyannya ini
setipe: cewek-cewek mungil berjilbab. Ada yang namanya Nining, Rita, Diana, dll., dsb
(aduh, maaf saya nggak begitu hafal nama-namanya). Selain cewek-cewek Cicadas,
dia juga berhasil menebar pesona kepada seorang gadis Lembang saat sering
bertugas di Bosscha. Bayangkan, gadis Lembang itu rela mengantarkan susu murni ke
observatorium untuk Yadi! Yang enak sih kami teman-temannya, sering kecipratan
juga.
Tapi ternyata
pesona seorang Yadi bisa membawa petaka. Suatu hari, kami pernah tertawa
habis-habisan mendengar ceritanya. Dia pernah diajak kenalan oleh seorang gadis
Cicadas. Kira-kira begini percakapannya.
“Hei, kenalan
dong. Nama saya Rosma, tapi panggil aja Oo’,”
(sampai sini saja kami sudah cekikikan. Please deh … nama bagus-bagus
kok panggilannya Oo’). Kata Yadi sih, si Neng Oo’ itu kenalan sambil
senyam-senyum genit.
“Yadi,” jawab
Yadi dengan tegas. Ja-im duonk … Aa ITB gitu bok.
“Yadi udah ada
yang punya belum?” tanya Oo’ sambil senyam-senyum genit lagi. Dasar preman,
Yadi langsung meradang.
“Memang kunaon
mun geus aya nu boga? Naon urusan maneh?”
Pokoknya, saya
tidak ingat lagi detail percakapannya bagaimana, tapi akhir pembicaraan mereka
ditutup dengan … bencana. Dengan manis, Neng Oo’ “ngadegungkeun” (apa ya
istilah yang paling pas? Menyuntrukkan? Gitu deh, mendorong dengan kesal)
kepala Yadi Kuik.
Bwahahaha … kami
yang mendengar ceritanya begitu puas tertawa sampai sakit perut. Peristiwa itu
begitu berbekas, sampai-sampai saya dan beberapa teman Himastron memindahkan
julukan itu kepada Demi, kakak kelas kami (angkatan ’92) sehingga panggilannya
jadi Nenden Oo’.
Bukannya kapok,
Yadi semakin gencar menebar pesona. Contohnya kepada seorang gadis yang kamar
kosnya berhadapan dengan kamarnya (di tingkat atas). Mereka sampai punya kode
khusus—jendela tertutup berarti sedang pergi, jendela dibuka dua-duanya berarti
ada di rumah, atau jendela dibuka satu berarti tidak ada di rumah tapi sedang
jalan-jalan dekat-dekat situ. Sungguh niat ….
Saking seringnya
bergaul dengan Yadi, dia sempat menghantui mimpi saya suatu malam. Mungkin itu
termasuk mimpi erotis, tapi anehnya tokoh dalam mimpi itu bukan saya sendiri,
melainkan … si Nata! Hahahaha … Waktu bangun, berjuta perasaan campur aduk:
takjub, heran, aneh, sebal, ingin tertawa, tapi ingin muntah. Huek! Kok adegan
begituan masuk ke mimpi orang lain sih, hahahahaha ….
Selain kisah
romantik, Yadi juga pernah punya kisah heroik. Suatu malam, dia berniat
menginap di Himastron. Dari rumahnya, dia menumpang angkot Cicaheum-Ledeng.
Sebelum turun di gerbang belakang (dulu gerbang yang dibuka adalah gerbang di
depan Batan), angkotnya melewati kawasan Kebun Binatang dan Batan yang sepi dan
gelap. Nah, ternyata si sopir dan kenek itu berniat jahat—akan merampok tiga
penumpang angkot itu (Yadi beserta seorang laki-laki dan seorang perempuan).
Katanya sih dia sempat terlibat perkelahian dengan si sopir dan kenek. Tapi
akhirnya dia memutuskan untuk lari ke Himastron. Saat itu Himastron sedang
dikuasai cewek-cewek perkasa—Mbak Sari SD, Mama “Shita” Oum, dan si Nata.
Saat itu, mereka nggak segera membuka pintu, jadi Yadi kesal dan berlari ke bawah, ke Himatika.
Saya lupa akhirnya bagaimana, yang jelas dia tidak luka parah kok.
Yang mengagumkan
tentang Yadi adalah kebiasaannya belajar. Dia termasuk segelintir mahasiswa
astronomi yang lulus tepat waktu—delapan semester. Yadi juga adalah seorang
mentor yang baik. Cara dia menerangkan sesuatu mudah dimengerti, baik itu
materi kuliah atau hal-hal teknis yang menyangkut teleskop, misalnya.
Setelah dia
lulus dan bekerja, berita heboh tentang kebiasaan tebar pesonanya mulai
memudar. Sampai suatu saat, waktu saya sedang ke rumah si Aq, Ibu (ibunya Aq)
bertanya kepada saya, “Adek kenal sama Yadi nggak? Anak astronomi ITB juga.”
Oh, tentu saja
saya kenal. Terus, saya tanya, “Memangnya kenapa, Bu?” Tapi saya sudah curiga
dengan ekspresi Ibu, seperti menahan tawa. Si Aq juga sudah cekikikan geli.
Ternyata tebaran pesona Yadi sudah sampai ke Jalan Jurang, tak sesempit Cicadas
dan Bosscha lagi. Ceritanya, ada seorang cewek yang kost tepat di depan rumah
si Aq, bernama Diana. Kadang-kadang, si Aq suka nangkring di ruang tamu sambil ngopi, sambil
melihat-lihat ke luar. Dari luar sih tidak terlihat karena terhalang tirai.
Nah, si Aq mendapati suatu pemandangan aneh—ada seorang cowok yang berdiri
lamaaaaa sekali di luar halaman tetangganya. Setelah diperhatikan, ternyata
cowok itu sedang mengobrol dengan Diana. Tapi, si cewek
ada di dalam rumah dan si cowok di luar pagar. Biasanya mereka ngobrol
lamaaaaa.
Setelah diusut,
si ibu kost bercerita kepada ibunya si Aq, bahwa cowok yang sering ngapel itu
adalah … Yadi, anak astronomi ITB. Hahahaha … saya masih ingat ekspresi wajah
Yadi saat saya konfirmasi berita itu. Kaget, malu, gengsi … semua bercampur
jadi satu. Dia heran, kok saya tahu? Ya iyalah … di depan rumah si Aq banget,
gitu bok! Hahaha ….
Tapi, setelah
insiden itu, saya dan teman-teman tidak pernah mendengar lagi kisah playboynya.
Kami hanya tahu dia semakin serius dengan seorang cewek Indramayu (atau
Kuningan ya? Saya lupa, pokoknya daerah-daerah perbatasan gitu deh). Ternyata …
kami dikejutkan oleh sepucuk undangan yang dikirim lewat milis Himastron. Yadi
akan menikah dengan tetangganya! Tapi maaf, sayangnya, lagi-lagi saya lupa nama
istrinya. Mungkin karena terlalu banyak nama cewek yang berseliweran di kepala
saat mengingat nama Yadi. Sang calon istri ternyata baru lulus sekolah! Dia
lulusan SMK jurusan busana, kalau saya tidak salah. Dia membuat baju muslimah,
yang katanya bertempat di rumah Yadi.
Sekarang,
Yadi sudah berbahagia dengan istri dan anak laki-lakinya. Sayang, saya
belum pernah bertemu dengan dia bersama keluarga. Tapi saya percaya,
sifat playboy cap kembang kadu itu hanya sisa-sisa kejayaan masa
lalunya. Semoga! Hahaha ….
hahahaha... meni "aa ITB" tapi preman... werrrrrrr......
BalasHapus