Tampilkan postingan dengan label astronommurtad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label astronommurtad. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 November 2009

Kenangan Astrofisika Sebelas Tahun yang Lalu

Kemarin malam ada berita mengejutkan. SMS dari Vivi yang bilang Pak Djoni N. Dawanas, dosen astronomi, meninggal jam 19.30 di RS Tubagus Ismail.

Padahal, baru temu alumni astronomi di Bosscha kemarin, kami bertemu Pak Djoni, kelihatan segar-bugar (Entah juga ya, mungkin beliau sedang sakit tapi nggak terlihat dari luar saja).

Pak Djoni ini adalah dosen mata kuliah Astrofisika, mata kuliah dasar di astronomi. Beliau ini salah seorang dosen yang jagoan mengajar, kami para mahasiswanya bisa benar-benar mengerti konsep dasarnya, tidak sekadar hafal rumus. Dosen pintar memang banyak, tapi dosen yang benar-benar ahli mengajar bisa dihitung dengan jari.

Kepergian beliau membawa kami kembali mengenang masa-masa kuliah Astrofisika dulu, terutama saya dan—yah, dia lagi-dia lagi, memang—si Nata Pehul. Jadi, sebelas tahun yang lalu itu, kami adalah dua orang yang tersisa dari seluruh peserta mata kuliah itu, yang tidak mendapatkan kelompok untuk presentasi. Terpaksa kami berpasangan. Yang satu pemalas, yang satu lebih pemalas lagi (tebak mana yang lebih pemalas, yang jelas tulisan tangan saya lebih bagus daripada tulisan si Nata, hahahahaaaa).

Kelompok-kelompok lain hebat-hebat euy ... mereka mempersiapkan presentasi dan topiknya dengan baik. Pilihan topiknya sederhana, tapi pembahasannya lumayan mendalam. Perangkat presentasinya (dulu masih musim OHP) dibikin serius. Sementara kami, si kelompok pemalas, sampai H-1 masih kebingungan memilih topik apa.

Akhirnya, kami putuskan memilih topik tentang interferometer. Pilihan yang nekad, sebenarnya, karena kami sama-sama nggak menguasai instrumen ini, ditambah lagi konsep-konsep fisikanya. Tapi mau gimana lagi, kepepet gitu bok.

Jadi, H-1 sebelum presentasi dimulai, saya dan si Nata Pehul membagi tugas—saya membuat transparansi (karena tulisan saya lebih bagus, sialan), dan dia ... sholat tahajud. Berdoa dengan khusuk agar kami nggak kebagian presentasi pertama. Nata gitu lhuwokh, sholat tahajud. Tapi yah, dulu memang dia masih salihah, seperti Bu Dedeh guru ngaji di dekat rumah saya, hihihiii ....

Dan ternyata, mungkin karena si Nata masih salihah, doanya makbul. Saat pengundian giliran presentasi dengan cara mengambil batang korek api, kami nggak dapat giliran presentasi pertama. Kedua pun nggak. Eh ... mungkin si Nata benar-benar khusuk berdoa. Atau mungkin dia teraniaya, entah. Jadilah kami mendapat giliran terakhir. Itu pun Pak Djoni senyum-senyum terus mendengar presentasi kami, mungkin beliau maklum kalau kami sama-sama dodol.

Tapi, meskipun begitu, saya lulus kuliah Astrofisika 1 dengan nilai cukup memuaskan, B (Astrofisika 2 dapet apa ya ... lupa. Tapi karena peserta kuliah hanya sedikit dan dosennya ahli mengajar, jadi nggak sesulit kuliah-kuliah di jurusan Fisika).

Saya lupa si Nata dapat nilai apa. Tapi, ada suatu prestasinya yang gemilang, yang masih dikenang oleh para peserta kuliah Astrofisika saat itu (Mungkin Pak Djoni pun masih ingat). Karena kami ini angkatan yang lumayan pasif dalam bidang akademis (tapi tidak di bidang non-akademis haha), waktu disuruh bertanya, nggak ada yang mau bertanya. Karena sepi, si Nata memberanikan diri mengacungkan tangan.

Pertanyaannya, “Pak, kalau massa bumi itu dihitung dengan isi-isinya? Dengan manusia, binatang, bangunan, dan lain-lain ....”

Bahkan Pak Djoni pun tersenyum geli, tapi mungkin beliau nggak tega tertawa, karena sudah bagus ada yang mau bertanya, meskipun pertanyaannya naif seperti itu. Hihihihiii ....



Dan tadi siang, meskipun nggak sampai ke makam, saya dan Sakya mengantar Pak Djoni ke peristirahatan terakhirnya. Selamat jalan Pak, terima kasih banyak karena telah “membetulkan” otak kami, dan semoga mendapatkan tempat yang lapang di sana.

Minggu, 25 Januari 2009

Gerhana Matahari Cincin 26 Januari 2009 | langitselatan.com


http://langitselatan.com/2009/01/12/gerhana-matahari-cincin-26-januari-2009/
Besok gerhanaaaaaaaaaaaaaaa ....

Tapi baca aja tulisannya si Pinah teman saya ini di langitselatan ya .... Hahahaaaaaaaaaaaa ....

*semoga besok cerah sehingga teman-teman yang ngamat gerhana puas*
**karena nggak ada foto gerhana, jadi pake fotonya si Pinah yang nulis hahaa**

Minggu, 15 Juni 2008

MEKJUT oh ... MEKJUT


"Pap, kalau Adek DO, Adek mau kursus kue di Nyonya Liem, ya.”


Begitu yang saya bilang kepada si Papap waktu sempat terganjal kasus di tahap sarjana muda. Si Papap sih seperti biasa, manggut-manggut doang. Dan syukurlah, saya memiliki seorang abang yang aneh, SMA saja lima tahun, kuliah full tujuh tahun, jadi prestasi saya di sekolah tidak akan dibanding-bandingkan dengan prestasi si abang, hahahahahahaaaaaa! 

Di sekolah gajah yang bukan Way Kambas itu, ada tiga tahap evaluasi—TPB, Sarjana Muda, dan Sarjana. Kalau IPK < 2.00 dalam setiap tahap atau ada nilai mata kuliah E (pada tahap Sarjana sih D), dadaaaah …. Dan masing-masing tahap ada masa maksimalnya, seperti TPB maksimal dua tahun, Sarjana Muda maksimal lima tahun, dan Sarjana maksimal tujuh tahun (dulu, sekarang lebih ketat lagi).

Yah, angkatan saya memang angkatan paling ganjil dibandingkan angkatan-angkatan lain—nyaris kriminil semua (bukan kriminal). Bayangkan, dari tiga belas orang yang ada, dikurangi tiga pada tahap TPB (sekarang, yang satu sudah jadi sarjana hukum, yang satu sarjana politik, yang satu lagi entah ke mana), ada enam orang yang kasus sarmud. Lebih dari setengah dari yang tersisa!

Satu orang berkasus dalam mata kuliah Matriks dan Ruang Vektor dari jurusan Matematika (yah, saya juga ikut kuliah ini LIMA kali, dan akhirnya cuma dapat C, hahaha). Lima orang lagi, termasuk saya, tersangkut di mata kuliah MEKJUT.

Sumprit, bukan jorang atau parno, MEKJUT memang ada, MEKanika lanJUT. Kalau dalam mata kuliah Mekanika yang dipelajari adalah mekanika klasik Newtonian, di MEKJUT kami belajar tentang mekanika yang lebih rumit, mekanika Lagrangian, Hamiltonian, dan sebagainya (oh, jangan tanya apa isinya … saya juga sudah lupaaaa hahahaha).

Masalahnya, MEKJUT ini adalah mata kuliah dari jurusan Fisika, bukan dari jurusan Astronomi. Di jurusan Fisika sendiri, MEKJUT ini mata kuliah pilihan, tapi diwajibkan untuk mahasiswa Astronomi. Oh, kejam nian! Soalnya, yang mengambil mata kuliah pilihan ini umumnya adalah mahasiswa Fisika yang berminat belajar fisika teoretis—dan mereka biasanya pintar-pintar. Bagaimana nasib distribusi nilai kami? Huh.

Selain itu, isi MEKJUT sebenarnya juga diulas di mata kuliah jurusan Astronomi sendiri, di Geometri Alam Semesta. Oh, sungguh nama yang menakutkan. Seperti mata kuliah berjudul Benda Kecil dalam Tata Surya. Hihihiii ….

Nah, ada lagi masalahnya. Mata kuliah Matriks dan Ruang Vektor biasanya diberikan saat Semester Pendek. Jadi, si teman saya yang berkasus itu sudah agak selamat lah, paling-paling dia harus berusaha keras agar nilainya minimal C nanti. Sementara, MEKJUT ini kuliah pilihan yang paling diikuti oleh paling banyak lima belas orang mahasiswa. Mana mau jurusan Fisika menyelenggarakan semester pendek hanya untuk kami-kami ini?

Selain itu, dosen MEKJUT ini, sang ketua jurusan Fisika pada masa itu, adalah seorang dosen keras hati. Sebenarnya beliau baik (dan ganteng—menurut salah seorang teman saya yang juga berkasus. Halahhh!), tapi sulit dibujuk. Maka, mulailah kami bolak-balik—ke dosen wali, ke ketua jurusan, ke sekretaris jurusan, kembali ke jurusan Fisika, menemui si bapak dosen MEKJUT, bertemu dengan Pak Yeye—petugas TU Fisika, dipingpong lah.

Entah kenapa ya, saya sih waktu itu merasa benar-benar percaya diri. Saya berpikir, yang bener aje, masa jurusan rela kalau setengah angkatan 97 DO semua? Hihihii .... Tapi, ada salah seorang teman saya yang oh, panik setengah mati. Di mana-mana, air matanya bercucuran. Di depan ketua dan sekretaris jurusan, di depan si bapak dosen MEKJUT, mungkin juga di depan Pak Yeye (hmm … orangnya sama dengan si Neneng yang kami tipu harus traktir batagor itu, hihihiii).

Akhirnya, betul dugaan saya—kami semua mendapat kesempatan untuk ujian perbaikan. Syukurlah, saya mendapat nilai D! (Hahaha … nilai D aja bangga. Tapi memang, Listrik Magnet juga D, saya biarkan saja. Kimia 1 dan Kimia 2 juga begitu, ah, biar saja, daripada gatal-gatal, hihihiiiii) Sayang, di antara kami berlima, ternyata ada seorang teman yang meskipun dapat D, tapi IPK-nya benar-benar jauh dari 2.00. Jadi, hanya kami berempat yang lolos, bersama seorang teman yang berkasus Matriks dan Ruang Vektor itu.

Syukurlah, nilai-nilai saya jauh lebih membaik di tahap Sarjana (Kosmologi aja dapet A! Tapi sumprit, nggak inget sama sekali isinya, hahahahahaaaaa), meskipun perjuangan menyelesaikan Tugas Akhir sangat berat juga (haha … ini ada di kisah lain yang sudah diceritakan duluuuu).

Yang mengibakan sih si teman saya yang bercucuran air mata itu. Padahal dia yang berpendapat jika Bapak Dosen MEKJUT itu ganteng. Sampai lulus kuliah, dia nggak pernah mau lewat di depan gedung Fisika! Lebih baik jalan memutar. Sungguh aneh.

Yah, nggak jadi deh, kursus kue di Nyonya Liem. Hihihiiii ….

 

(Tulisan ini tuh request dari si Nata Pehul, yang juga berkasus MEKJUT bersama-sama saya, dan juga sialnya berpartner dengan saya di mata kuliah MATERI ANTAR BINTANG yang sudah saya ceritakan juga. Idihhh!)

Rabu, 28 Mei 2008

Kriminalitas di Kalangan Mahasiswa

Tulisan ini ada di blog friendster lamaaaa, tapi karena teman seangkatan saya mengingatkan kisah ini, jadi tulis lagi aaahhhhh di sini, hihihiiiii ....

Mahasiswa adalah sosok tanggung—baru beranjak dari usia remaja dan memasuki tahap dewasa muda. Sudah jelas, pada usia-usia sebaya mereka, para mahasiswa masih labil. Mereka juga mudah tergoda oleh  pengaruh-pengaruh negatif yang begitu gencar menerpa.

Salah satunya adalah seperti yang pernah saya alami ketika masih duduk di semester tiga. Saat itu, saya dan teman-teman baru saja menyelesaikan TPB (Tahap Persiapan Bersama) di ITB. Mata kuliah di TPB ini hampir seragam untuk semua jurusan, kecuali FSRD, salah satunya mata kuliah Fisika Dasar. Bobot Fisika Dasar ini 4 SKS, dan tentu saja dilengkapi praktikum yang  membosankan—menurut saya. Mungkin ada beberapa teman yang tidak bosan mengikuti praktikum ini, karena banyak mahasiswa-mahasiswa tingkat atas yang jadi asisten lab. Kebanyakan mereka adalah mahasiswa jurusan Fisika, hanya segelintir yang dari jurusan Teknik Fisika. Dan kebanyakan laki-laki, tidak seperti asisten lab kimia. Tentu saja, lab ini jadi ajang perkecengan dan sarana saling mengincar.

Rupanya, pesona seorang asisten lab telah mencuri hati teman saya. Dua orang sekaligus, lagi. Hebat sekali. Padahal, kalau menurut saya, dia biasa-biasa saja, tipikal “mas-mas ITB” gitu deh. Tapi mungkin kegalakannya (yang menurut teman-teman saya adalah sifat tegas) yang jadi salah satu daya tarik.

Kedua teman saya ini bagaikan musuh dalam selimut—tampak rukun, padahal dalam hati mereka bergelora. Menurut mereka, tidak ada persaingan. Tapi, kami yang ada di sekitar mereka merasakan hawa panas persaingan ini.

Suatu hari, kami menemukan sebuah fakta, yang menjadi pencetus kriminalitas ini. Karena, hal ini menyangkut masa depan salah satu teman kami yang jadi peserta persaingan.

“Neng (nama disamarkan), kami harus memberitahumu sesuatu,” kata kami waktu itu.
“Apa? Apa?” kata si eNeng. Rasa penasaran membuncah di dalam dadanya.
“Kami tahu sesuatu tentang kecenganmu,”
“Apa? Tentang apa? Kenapa?”
“Mmm … nanti deh kami ceritain. Tapi, traktir dulu makan dong,”

Akhirnya, kami semua pergi ke Jalan Ganesha. Di sana banyak jajanan. Setelah memesan batagor dan yoghurt, temanku langsung membayarnya. Kami lalu duduk di meja, di bawah kerindangan pohon-pohon besar.

“Jadi, apa beritanya?” si eNeng tidak sabar.
“Mmm … nyam … nyam …” kami masih asyik menikmati batagor dan yoghurt.
“Ayo doooong! Cerita!”

Ehem. Baiklah.

“Begini Neng, pertama, kami ucapkan terima kasih untuk traktiran batagor dan yoghurtnya,” kami menarik napas dulu, menelan sisa kunyahan yang ada di mulut, lalu mulai lagi, “Lalu, ada yang harus kami sampaikan kepadamu.”
“Apaaaaaa?” rupanya dia mulai tidak sabar.
“Ehem,” kerongkongan perlu dibersihkan terlebih dahulu. “Begini Neng … kecenganmu … jadian … sama si Nona … (nama samaran teman kami yang sama-sama mengeceng si Mas ITB itu).”

“Ya ampuuuuuuuuuuuuuuun … Sialaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan!”

Dan kami pun tertawa puas di atas penderitaan teman sendiri.


Moral cerita ini: Jangan cepat teperdaya oleh rayuan maut teman-teman yang mencoba memeras Anda. Terutama untuk hal-hal yang remeh-temeh seperti kecengan dan gebetan. Si Neneng dan si Nona ada di dalam foto seangkatan yang segelintir itu, tapi saya nggak mau bilang yang manaaaahahaahahahaaaaaaaa ....


Senin, 05 November 2007

Tiga Belas (minus dua) Bocah Tua Nakal ...


Tanpa Ketut, Yana, dan Farkhan

Yah, ini memang bocah-bocah tua nakal, angkatan paling berandal di astronomi, karena prestasi-prestasinya yang membanggakan: satu menghilang dan dua orang pindah ke universitas lain waktu taun kedua, enam dari sepuluh orang kasus sarjana muda, hanya satu orang yang lulus tepat waktu dan IPK-nya di atas tiga, dua oknum dikejar-kejar oleh dosen pembimbingnya (bukan ngejar-ngejar, hehe), ada yang pernah menipu dan mengentuti profesor (yah, memang tanpa sengaja sih kentutnya, tapi tetep aja ... dasar gelo)

Kisah tentang makhluk-makhluk berandal ini bisa dibaca di SINI

Oiya, keterangan foto yang latarnya hijau:
ATAS dari kiri: Ical (yang gondrong), Zaid, Udin
TENGAH dari kiri: Iyam, Tya, Lia, aku
BAWAH dari kiri: Nata, Ina, Vivi

Foto kedua minus Neflia, foto ketiga itu si Ketut, oknum Bali-Tanjungsari tapi berlogat Prabumulih.

Di foto keempat masih ada foto Yana, di belakang si Nata Pehul yang masih pake jilbab, hihihiii .... (karena kulitnya hideung ya maaf, nggak jelas hehehe)

Sabtu, 11 Agustus 2007

Mars Sebesar Bulan Purnama? Tetowwww! Ternyata itu BOHONG. Tolong Disebarkan ke Seluruh Penjuru Dunia

Sebetulnya berita ini sudah beredar sejak beberapa tahun yang lalu, dan selalu muncul menjelang atau pas bulan Agustus.

Betul nggak Mars bisa tampak sebesar bulan purnama?
TETOWWWW ...
Ternyata, nggak bener.

Tapi, karena saya sudah jadi astronom murtad, biarkan teman-teman saya yang astronom taubat atau astronom istiqomah saja yang menerangkan, hikhikhik ...

Tulisan yang mengcounter hoax ini bisa dilihat di LANGIT SELATAN DOT COM atau di blog PAK MUTOHA, seorang astronom amatir yang lebih jagoan daripada astronom murtad, hikhikhik ... atau juga di blog PINAH si rambut besar, atau tulisannya PAK T.DJAMALUDDIN, alumnus astro yang sekarang kerja di LAPAN, dan juga tulisannya VIVI.


Selamat membaca, dan tolong sebarkan ke seluruh dunia yak. Terima kasih buanyak ...

Jumat, 28 Juli 2006

Bagaimana Caranya Berkunjung ke Observatorium Bosscha, Lembang


"Oh, kamu kuliah di astronomi? Pengen ke Bosscha doooong ..."

pertanyaan-pertanyaan semacam ini sering saya dengar sejak baru masuk kuliah sampai sekarang. Tentu saja dengan senang hati saya menjawab sepengetahuan saya. Kalau nggak bisa jawab pun, dengan senang hati akan saya carikan infonya. Sungguh, betuuuul ... aku Etty Gadis Jujur, kok! Hahahahaha ....

Kenapa saya senang hati menjawabnya? Karena dengan meneruskan info ini, berarti saya ikut berperan dalam penyebaran dan pemasyarakatan ilmu pengetahuan (halahhhh! so sweet ... hahaha) walaupun sedikiiiiiit.

Ya sudah, cukup basa-basinya.

Para pemandu yang bertugas di Observatorium Bosscha ini kebanyakan mahasiswa, meskipun tentu saja ada mas-mas peneliti (seperti Mas Hendro & Mas Irfan, bintang film Sherina yang itu lhuwo, "Ndro, Ndro, saya mau pulang, istri saya melahirkan!" hahaha) dan asisten peneliti seperti Gaby (cowok lho dia, namanya Gabriel Iwan, bukan Gabriella). Ada juga bapak-bapak teknisi yang kemampuan teknisnya lebih ahli daripada para mahasiswa, hahahaha ... (buka kartu euy)

Waktu masih kuliah juga saya lumayan sering jadi pemandu di sana. Lumayan lah, selain menambah skill cuap-cuap, saya jadi kepaksa belajar ilmu astronomi lagi. Karena terbiasa berlatih memikirkan kalimat-kalimat terstruktur, jadilah saya … seorang editor, hahaha …. Ngarang abissss!

Observatorium Bosscha sendiri dibuka untuk umum antara bulan April sampai Oktober, waktu-waktu yang dianggap musim kemarau (sehingga cerah). Waktunya adalah ketika bulan sedang dalam fase seperempat pertama, berarti sekitar 7 hari pertama bulan Islam. Mengapa? Supaya para pengunjung bisa melihat objek langit (bintang, gugus bintang, planet, dll) sekaligus melihat bulan. Cahaya bulan seperempat pertama tidak sekuat bulan purnama sehingga objek-objek langit lain bisa cukup jelas terlihat, dan terbitnya sekitar senja (pada fase seperempat terakhir, bulan terbit setelah tengah malam).

Kunjungan ke Observatorium Bosscha sendiri ada beberapa jenis:
1. Kunjungan malam
Ini yang paling banyak peminatnya. Dalam kunjungan malam ini (kalau istilah kami sih: malam umum), Anda bisa:
- Mengikuti presentasi topik astronomi populer, kadang-kadang temanya cukup aktual. Misalnya, di sekitar hari presentasi sedang terjadi gerhana bulan, ya temanya itu. Tapi ya nggak selalu, meskipun presentasinya tetap menarik. Apalagi sekarang sudah sering menggunakan media presentasi yang lebih canggih, multimedia (Kalau dulu sih seringnya slide projector atau OHP, hiks ... Hahaha).
Sedikit tips: kalau masih penasaran, tanya saja si pemberi presentasi! Pada umumnya sih, kami-kami senang ditanya-tanyai. Itu tandanya Anda memerhatikan pemaparan kami dan ingin tahu lebih lanjut tentang astronomi.

- Meneropong di dua teleskop yaitu Teleskop Bamberg dan Teleskop Unitron.
Teleskop Bamberg terletak paling dekat dengan jalan masuk ke Bosscha. Lumayan besar dan untuk masuk, kita harus menuruni lumayan banyak anak tangga. Biasanya sih, objek yang dilihat di teleskop ini adalah bulan. Di arah Barat, ada teleskop kecil yang bernama Unitron. Kecil-kecil cabe rawit, nggak usah kecewa duluan melihat tongkrongannya. Biasanya, kita bisa mengamati objek-objek seperti planet-planet, gugus bintang, dan bulan (Ed, CMIIW euyyyy … udah lupa sih).
Sedikit tips: bersabarlah, antre yang rapi. Jangan memegang eye-piece (lubang tempat kita mengintip) teleskop, karena ini sering menyebabkan teleskop bergeser dari objek (apalagi menggerakkan teleskop dengan sengaja, karena biasanya sudah diset untuk mengikuti gerak objek langit). Jangan menyalakan lampu yang terang juga, agar objek langit bisa terlihat lebih jelas. Dan jangan berharap terlalu tinggi, misalnya meneropong sebuah bintang dan berharap melihat gambaran mirip matahari. Oh, tentu tidak. Paling juga, kalau kita mengamati bintang ganda (yang terlihat dengan mata telanjang seperti satu bintang), sekarang terlihat jelas ada dua bintang. Bintangnya juga berupa titik saja, bukan Titik Shandora.

- Melihat interior teleskop terbesar di Observatorium Bosscha, Teleskop Zeiss.
Sayang memang, di sini kita nggak bisa seenaknya menjajal teleskop. Tapi, presentasi sang pemandu nggak kalah menarik, dia akan menerangkan sistem kerja teleskop ini, termasuk membuka dan memutar tutup kubah serta menaik-turunkan lantai! Selain sistem kerja, sang pemandu juga akan menerangkan sejarah teleskop ini dan hal-hal yang berkaitan dengannya.
Sedikit tips: jangan memaksa untuk naik ke daerah pengamatan, apalagi bergerombol. Soalnya, konstruksi Teleskop Zeiss tidak dirancang untuk menopang beban banyak. Apalagi usianya sudah tua, dibangun tahun '20an. Jangan menjelajah ke tangga di bawah daerah pengamatan pula. Selain gelap dan menyeramkan, kalau lantainya diturunkan, kita bisa terjebak di sana. Hiyyy ….

- Berbelanja di "toko" yang menjual merchandise astronomi, mulai dari kaus, stiker, gantungan kunci, miniatur Teleskop Zeiss, bahkan teleskop kecil.

Tips umum: Datang agak awal, sekitar jam 5 sudah stand by di Bosscha. Soalnya, jam 8 acaranya selesai.

2. Kunjungan Siang
Di kunjungan siang ini, biasanya pesertanya murid-murid sekolah. Acaranya sih hanya presentasi saja, ditambah melihat-lihat teleskop-teleskop dari luar, tidak menjajalnya. Kadang-kadang ada sih, untuk mengamati matahari. Tentu saja dengan teleskop khusus yang telah dipasangi filter. Tapi selama saya bertugas sebagai pemandu, jarang terjadi deh, nggak tahu ya sekarang-sekarang.
Sedikit tips: WARNING! Jangan pernah melihat matahari dengan menggunakan teleskop tanpa filter. Prinsip kerja teleskop adalah memperkuat cahaya. Sinar matahari yang sudah kuat akan bertambah kuat, bisa membuat mata kita buta!

3. Kunjungan Khusus
Selama bertugas sebagai pemandu, saya belum pernah mengalami yang namanya kunjungan khusus ini. Tapi, kunjungan khusus ini adalah permintaan yang diminta secara khusus oleh badan-badan tertentu. Nggak tahu tuh kalau pengalaman Mister Edi Brekele, pernah nggak Ed? Dan setahu saya, proses permintaan kunjungan khusus ini lebih mudah dilakukan oleh badan-badan yang memiliki kaitan erat dengan Observatorium Bosscha atau ITB sendiri, seperti misalnya badan apa ITB lah, atau yang lain-lain.

Inilah yang harus dilakukan untuk bisa berkunjung ke Observatorium Bosscha di Lembang:
1. Telepon ke Bu Cucu pada hari dan jam kerja, ke nomor telepon (022) 2786001.
Bu Cucu ini adalah salah seorang staf administrasi Observatorium Bosscha, yang salah satu tugasnya adalah mengatur jadwal kunjungan. Beliau akan meminta informasi tentang jumlah anggota rombongan (tapi sendiri juga nggak apa-apa sih, nggak usah takut). Lalu, Bu Cucu akan mengecek jadwal, dan memasukkan rombongan ke hari yang masih kosong. Dan sori dori mori, bisa saja kita daftar tahun ini tapi baru bisa berkunjung tahun depan. Soalnya antreannya banyak dan kapasitas Observatorium Bosscha terbatas. Jika menerima kunjungan dengan berlebih, bisa-bisa biaya perawatan yang dikeluarkan akan sangat besar (untuk memperbaiki yang rusak, dll).
2. Biaya masuk per orang adalah Rp. 7.500,00 (murah kaaan? Dulu apalagi, gretong!). Bisa ditransfer atau dibayarkan langsung pada saat kunjungan, nanti Bu Cucu yang akan menerangkan lebih jelas.
3. Tunggu apa lagi, setelah mendapatkan jadwal pasti, ya datang ke Lembang!

Dan ini beberapa tips umum untuk berkunjung ke Observatorium Bosscha:
1. Jika tidak membawa kendaraan, bisa naik ojek dari Batureok Lembang. Harga per ojek itu Rp. 3000,00 kalau hari biasa, kalau ada kunjungan sering ada praktik-praktik penggelembungan biaya oleh para tukang ojek itu.
2. Jika rombongan datang dengan bis, bis diparkir di pelataran depan toko-toko di Batureok. Lalu, kita bisa naik ojek dari Batureok. Sebetulnya berjalan kaki juga bisa, apalagi kalau ingin sedikit berolahraga. Tapi memang melelahkan, karena lumayan jauh dan menanjak. Kalau ingin berjalan kaki, jangan lupa bawa senter. Sepanjang jalan masuk dari gerbang kedua Bosscha gelap, siapa tahu tiba-tiba kita menginjak ular. Hiyyy!
3. Bawa jaket atau baju hangat, soalnya dingiiiin. Apalagi kalau malam.
4. Observatorium Bosscha susah air-jatah air ledeng juga bergantian digunakan oleh perumahan para dosen, kantor observatorium, dan penduduk. Jadi, kalau bisa sih sudah buang air kecil atau besar sebelumnya. Ada sih fasilitas WC, tapi terbatas.
5. Jangan makan di sembarangan tempat, apalagi membuang sampah sembarangan! Selain jorok, remah-remah makanan akan memancing binatang-binatang yang bisa merusak peralatan (seperti tikus, kecoa, dll). Sebaiknya makan permen aja deh, minum boleh, atau makanan praktis seperti roti untuk mengganjal perut. Kalau mau makan, di sekitar Pasar Lembang kan bejibun penjual makanan. Jangan berniat piknik di Bosscha, meskipun tamannya mirip setting film India, penuh bunga. Dan, keterlaluan kalau ada yang buang sampah sembarangan. Ini mah berlaku di mana saja!
6. Hati-hati dengan instrumen. Ini adalah aset kekayaan bangsa Indonesia dalam bidang riset dan ilmu pengetahuan. Harganya tentu saja mahal. Lagipula, hal-hal ini kan belum mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Kalau ada instrumen rusak dan harganya mahal, dari mana biaya perbaikannya? (Paling nunggu bantuan luar negeri lagi, tapi … malu atuh, dibantu terus) Jadi, tumbuhkan rasa memiliki terhadap instrumen-instrumen ini ya.
7. Sudah beberapa kali kejadian, cinta bersemi di antara para pemandu dan rombongan kunjungan. Ini sih terserah saja, bagaimana Tuhan menentukan jodoh datang dengan cara apa saja. Tapi, berbaik-baiklah dengan para pemandu pada umumnya, meskipun nggak merasa tertarik kepada individunya. Rasanya senang sekali mendapat perlakuan ramah dari pengunjung, setelah cuap-cuap dan capek-capek datang ke Bosscha. Senyum dari pengunjung bagaikan air sejuk yang menyiram tanah kering-kerontang. Halahhhh! Hahahaha …

 Jadi bagaimana, siapkah Anda berkunjung ke Observatorium Bosscha?

Ed, kalo ada yang kurang tolong tambahin ya, kalo ada yang salah tolong benerin. Tengkiuh.
(model yang sedang sok aksi di bawah Teleskop Zeiss itu adalah si Bona)


Tambahin ahhh ... fotonya.
Bandingkan ketebalan tubuh model yang satu dengan model yang lain, hihihiiiiiiii


Jumat, 02 Juni 2006

Siksaan Batin Lebih Dahsyat daripada Siksaan Fisik

Sebetulnya, sejak mengisi formulir UMPTN, saya sudah tahu jika astronomi hanya menerima sedikit mahasiswa.Tapi, karena nggak menyangka sedikit pun akan masuk ke jurusan itu (karena milihnya juga dengan alasan: passing gradenya lebih rendah daripada arsitektur, dan nggak banyak kimia-nya), hal ini nggak begitu mengganggu pikiran.

Waktu pendaftaran ulang, saya juga belum merasa aneh dengan kondisi ini. Dari lima belas mahasiswa yang diterima, yang mendaftar ulang ada tiga belas orang. Baru terasa aneh ketika keluar dari GSG, karena anak-anak jurusan lain disambut oleh kakak kelas mereka. Malah ada beberapa yang setengah dikerjai dan setengah dipaksa. Sementara, nggak ada seorang pun mahasiswa senior yang meneriakkan “Astronomi!” di tengah hiruk pikuk penyambutan mahasiswa baru. Ya sudah, saya melenggang pulang dengan cuek.

Setelah beberapa saat kuliah, barulah kami mulai mengikuti program kaderisasi dan interaksi dengan Himastron. Biasanya dilakukan setiap hari Minggu pagi, sekalian olahraga.

Interaksi kami nggak seberat teman-teman jurusan lain. Lebih banyak game, simulasi, menyusun makalah, presentasi, dan yang paling dahsyat adalah: menggambar konstelasi yang dikenali pada malam hari. Saya masih ingat, jam dua pagi saya keluar rumah, ditemani si Papap yang memang hobi begadang, untuk menggambar rasi-rasi di langit. Boro-boro ketemu, namanya juga di kota, banyak polusi cahaya! Saat sedang bingung mencari-cari rasi yang saya kenal, seorang petugas ronda lewat dan bertanya, “Nuju naon, Neng?” Hahahaha … sungguh materi interaksi yang aneh!

Kebetulan, saat itu kaderisasi di ITB sedang bermasalah. Hasilnya angkatan di atas kami, ’96, belum dilantik jadi anggota Himastron. Akhirnya, interaksi kami digabung. Tetap saja, dua angkatan digabung nggak bisa mengalahkan satu angkatan jurusan lain. Kami hanya berlima belas orang, karena nggak semua ikut acara akhir dan pelantikan.

Meskipun hanya bersedikit dan fisik kami nggak begitu banyak digojlok, acara akhir itu terasa berat. Bayangkan, kami disuruh datang sore hari untuk upacara pelantikan, di pelataran belakang Himastron, labtek III lantai 4, di kampus ITB. Setelah itu kami disuruh pulang, tapi dibekali tugas: meresensi buku, mencatat isi Dunia Dalam Berita di TVRI, dan mencatat berita malam di RRI. Besoknya, kami harus datang jam 5 pagi. Waktu itu darah rendah saya agak kambuh, jadi setelah minta izin saya datang jam 7 pagi. Yang lain sedang berolahraga, jadi saya menunggu mereka kembali.

Setelah itu, mulailah materi-materi maraton—game dan segala macam simulasi kekompakan. Lokasinya bermacam-macam, kadang-kadang di Labtek Elektro, di Oktagon, dan di Perpustakaan Pusat. Saat pindah dari Oktagon ke Perpustakaan Pusat, kami harus memakai ponco dan berbaris. Padahal, saat itu tengah hari, cerah ceria, dan banyak mahasiswa yang berkeliaran! (Kalau dalam bahasa Spanyol sih kami menyebutnya “mentrang-mentring”:p) Ya ampuuun … plis duech. Gimana nasib pergaulan kami selanjutnya? Dan mulailah siksaan batin pertama.

Setelah selesai acara itu, sekitar jam 4, kami disuruh pulang. Hah? Disuruh pulang? Padahal habis maghrib kami disuruh kumpul lagi. Tanggung! Si Abang sampai bingung dan bertanya, “Kok ospeknya aneh banget sih? Pulang-pulang melulu!”

Waktu itu, saya menunggu-nunggu dengan penasaran, kok kami nggak dibawa ke lapangan sih. Padahal persiapan sih sudah lengkap di dalam ransel. Saya kira, inilah saatnya.

Eh, ternyata, kami hanya disuruh kumpul di pelataran depan Himastron, lalu disuruh berbaris. Kemudian, kami disuruh menghibur para senior! Pertama, kami melakukan usul Heri ‘96 untuk bernyanyi lagu anak-anak sambil menari. Setelah di-huuuuu oleh para senior, kami sepakat untuk mengganti atraksi. Iyam puisi, sementara kita bergerak-gerak di belakangnya membuat visualisasi puisi. Ya Tuhan … inilah siksaan batin berikutnya.

Setelah para senior sudah puas memarahi kami (meskipun garing sih:p), kami disuruh menutup mata, lalu dipisah-pisah. Oh, ternyata kami digiring berkelompok ke pos-pos yang ditempati oleh panitia dan swasta.

Pos satu ada di pintu jurusan, pos dua ada di pintu depan sekretariat Himastron, pos tiga di dalam sekretariat Himastron, dan pos empat di pelataran belakang Himastron.
Setelah melewati pos-pos itu, yang kebanyakan isinya hanya wawancara dan tanya jawab, kami disuruh berbaris lagi. Lalu kami dilantik.

Hanya ada seorang panitia yang menggebrak meja saat kami dinyatakan bisa dilantik jadi anggota Himastron. Tapi sungguh mengibakan, yang lain cuek beibeh!

Ya sudah, itu saja. Setelah itu kami disuruh pulang. Jadi kapan ke lapangan? Nggak pernah! Kami terlalu siap untuk kegiatan dan hukuman-hukuman fisik, juga tempaan-tempaan mental yang dahsyat. Tapi, kenyataan berkata lain. Ternyata, ketua Himastron saat itu nggak mau mengambil risiko bermasalah dengan jurusan dan rektorat.

Yang mengagumkan, anggota dua angkatan itu tumbuh dengan mental baja. Mungkin karena siksaan batin jauh lebih berat daripada siksaan fisik! Hahaha ….

(Aduh, sayang nggak punya foto-foto digital waktu acara akhir itu. Foto biasa sih ada, tapi di Himastron. Jadi, blog ini nggak bisa dilengkapi dengan foto-foto acara supergaring tea hekhekhek ...)