Rabu, 07 Juni 2006

Cowok-Cowok Dodol Himastron, PACPAC-D, dan Cap "G" di Buku Danus

Saya termasuk salah seorang yang bisa dikategorikan sebagai "penghuni"
Himastron, karena sering sekali nangkring di sekretariat himpunan ini.
Tapi tentu saja belum bisa dikategorikan sebagai "jurig" (hantu)
Himastron seperti si Nata Pehul yang pernah menebar teror dengan
kehadirannya. Atau seperti si Muhammad Lutfi Agung Ginanjar alias Asep
1 (Naha sih, ngaran maneh teh panjang tapi meni teu nyararambung!) yang
sudah saya ceritakan di tulisan sebelumnya.



Saya mulai jadi aktif di Himastron sejak pertengahan tahun '98, saat
mulai bisa akrab dengan cewek-cewek '94 yang tampak jutek dan galak,
padahal sebetulnya sih nggak (wekekek … banyak tuh di friendsterku. Ada
Mbak Esta, Mbak Sari KW, Mbak Panca hikhikhik … piss ahh kata Alam
juga).



Keistimewaan anggota Himastron adalah: semuanya bisa jadi pengurus.
Jadi, dari dua angkatan yang aktif, hampir seluruhnya adalah pengurus
pada masa itu, sementara anggota biasa adalah angkatan selain dua
angkatan aktif itu. Waktu baru dilantik, saya langsung jadi staf di
divisi Humas. Alasan mengapa saya ditempatkan di situ sederhana saja:
tulisan saya cukup bagus, jadi kalau Himastron menyelenggarakan acara,
saya kebagian menulisi poster-poster dari kertas buram ukuran A2 untuk
ditempel di seluruh penjuru ITB.



Ketika angkatan '97 dan '96 kebagian jadi pengurus inti, saya
ditempatkan di divisi danus. Mungkin gara-gara waktu SMA saya pernah
jadi wiraswastawati, jualan kartu lebaran hasil sablonan bersama
teman-teman kelas 1A. Program danus saya sih sederhana, jualan makanan
dan minuman di Himastron. Waktu itu, dasar pemikirannya adalah
Himastron terletak di langit keempat (kalau langit-langitnya dihitung
dari lantai dasar Departemen Matematika) dan sulit mengakses warung.
Barang jualannya sederhana, seperti kue astor dengan harga satuan 100
perak, energen, pisang, kue-kue basah, kopi, puding, sampai mie instan.



Pada saat itu, di Himastron belum banyak hiburan. Yang ada hanya sebuah
tape milik Boyke '94 yang akhirnya raib tanpa bekas secara misterius.
Pada masa-masa kegelapan itu, para penghuni Himastron kebanyakan adalah
para remaja '80an seperti Taufiq, dedengkot Klub Astronomi Bondowoso
a.k.a. Papa Tom '92, Kang Asep Cililin '91, Bahrun si pemuda Kuningan
nan melankolis '92, Boyke si kasep '94, Gabriel "Geboy" si Letkol
Untung angkatan '95, dan beberapa oknum lain.



Tanpa bermaksud mendiskreditkan pihak-pihak tertentu, pada masa ini
bermunculan cowok-cowok dodol. Ciri-cirinya adalah meninggalkan piring
kotor, gelas berisi ampas kopi, serta puntung dan abu rokok di
mana-mana. Sudah banyak usaha yang dilakukan untuk menumpas para
gembong dodol ini, seperti menulis peringatan di bukom (buku
komunikasi), papan pengumuman, dan lain-lain. Bahkan, saya sempat
menaikkan harga, mie instan tanpa cuci piring sekian, jika piring
dicucikan danus tambah Rp. 500,-. Susah juga, soalnya mereka kan
"menghuni", sementara saya dan teman-teman lain pengurus danus hanya
datang di sela-sela kuliah. Jadi siapa yang meninggalkan benda-benda
bersejarah itu ya misteri besar.



Meskipun berbagai cara kami lakukan, teteeeeeuuup aja si cowok-cowok
dodol itu merajalela. Sebelumnya, kami yang tidak tahan melihat
Himastron berantakan, biasa membereskan hasil karya mereka. Lama-lama
kami sudah bosan-kami biarkan saja himpunan berantakan dan cucian
bertumpuk di luar.



Padahal, untuk menunjang penjualan mie instan, pihak danus sudah
menyediakan galon air mineral kosong dengan pompa, agar para pembeli
bisa mencuci sendiri piring atau gelas. Kalau sekarang enak, di depan
pelataran Himastron sudah ada keran yang layak pakai. Kalau dulu, kami
harus menghisap air dari tangki dengan selang berlumut-kadang-kadang
terpaksa menelan air berlumut itu, yaiks!



Selain karya seni mahatinggi mereka itu, pernah ada suatu peristiwa
mengagumkan: ceritanya, si Letkol Untung alias Geboy ini pindahan (saya
lupa dari mana ke mana, kalau nggak salah dari Sangkuriang ke Bedeng
Bosscha, ya?). Ternyata, yang membantu Geboy pindahan semua cewek!
Personilnya Mbak Shita (alias Mama Oum), T' Dyah, si Icy Meta, dan si
Nata (maaf kalo ada yang kelewat). Bayangkan, betapa perkasanya
cewek-cewek Himastron ini. Selain mengangkut barang, menyopiri pula ke
Bosscha (T'Dyah memang sopir tob! Hehehe).



Saking banyaknya cerita tentang cowok-cowok dodol ini, ketika para
cewek perkasa ini berkumpul di Himastron, kami sepakat untuk membentuk
PACPACD: Partai Aliansi Cewek Perkasa Anti Cowok Dodol. Bahkan, kami
merancang logonya segala hehehe ….

Ada satu lagi cerita tentang oknum-oknum Himastron ini waktu saya
berkuasa jadi danus: kebiasaan pagede-gede hutang. Saya dulu
menyediakan sebuah buku kecil untuk catatan utang danus. Ya ampuuuun …
ternyata ada beberapa oknum yang malah bertanding besar-besaran utang!
Modal jualan saja hanya Rp. 50.000,-, ini diutangi Rp. 40.000,-, bahkan
ada yang sampai Rp. 60.000,-!



Ya sudah, tanpa pikir panjang, alih-alih menggambar cap "LUNAS", saya
gambar cap "GOBLOG" pada tempat-tempat bertuliskan utang badag
tersebut. Yang menyebalkan, bukannya pada bayar utang, mereka makin
bangga memamerkan cap "GOBLOG" itu kepada sesama cowok dodol!



Tapi, ternyata saya rindu membuat gambar cap "GOBLOG" itu hahaha ….
Coba saja kalau saya bisa membalik waktu. Saya akan membuat cap betulan
dengan warna merah. Jika harus mengeluarkan modal sendiri pun nggak
masalah, yang penting bahagia! Hekekekek ….



1 komentar:

  1. hahahaha.... sayang, ya...
    baru kepikiran ketika dirimu menulis ini... wakakakaka.....

    BalasHapus