Jumat, 02 Juni 2006

Tegalpanjang, Tempat Ilalang Bersenandung



Jika
saja punya uang banyak untuk membuat sebuah film atau video klip, saya
akan langsung memilih lokasi di: Tegalpanjang! Dijamin deh, mata kita
akan dimanjakan jika melihat masterpiece Sang Seniman Alam Semesta ini.




Jangan Mandi pada Siang Bolong



Tempat
nan indah ini terletak di sebelah selatan Bandung, di perkebunan teh
Pangalengan. Tepatnya, di antara Gunung Puntang dan Gunung Papandayan.
Perjalanan dari Bandung ke desa terakhir, desa Cibatarua, memakan waktu
sekitar lima jam jika menggunakan kendaraan pribadi. Jika menggunakan
angkutan umum, di Bandung kita menuju ke terminal Kebun Kelapa. Dari
Kebun Kelapa ke Pangalengan kita dapat menggunakan bus umum, lalu dari
Pangalengan ke desa Cisedep menggunakan angkutan umum. Tapi hati-hati,
angkutan dari Pangalengan ke Cisedep hanya ada hingga sore hari,
kira-kira jam 15.00 WIB. Dari Cisedep ke Cibatarua, kadang-kadang ada
truk angkutan hasil perkebunan. Tetapi jika kurang beruntung, apa boleh
buat, kita harus berjalan kaki selama kira-kira dua jam. Total
perjalanan dari Bandung dengan menggunakan angkutan umum kira-kira
tujuh jam!



Kita bisa
menginap di Cibatarua, tentu saja dengan seizin RT/RW setempat. Selain
di mesjid, kita juga bisa tidur di pos-pos tempat menyimpan hasil
perkebunan sementara. Tetapi, suhu udara di malam hari sangat dingin,
jadi harus selalu siap sedia peralatan tidur yang menghangatkan. Di
Cibatarua banyak terdapat warung-warung kecil dengan bapak-bapak dan
ibu-ibu penjual yang ramah. Di sana kita dapat menikmati teh tubruk
yang rasanya, mmm … nikmat sekali! Apalagi jika diminum panas-panas di
malam yang dingin. Tanpa gula pun, teh ini sudah sedap.



Ada
satu pesan dari bapak pemilik salah satu warung: jangan pernah mandi
siang-siang di Cibatarua dan sekitarnya! Awalnya kami berpikiran,
jangan-jangan berhubungan dengan takhayul dan kami bisa kualat jika
melanggarnya. Tapi ternyata si bapak dengan logis menjelaskan: air yang
mengalir dari pegunungan suhunya sangat dingin. Jika mandi pada pagi
hari, suhu udara masih dingin, jadi air akan terasa lebih hangat.
Tetapi jika mandi pada siang hari, saat udara sedang panas, wah …
ditanggung, orang akan kedinginan dan gemetar.



Biasanya,
setelah semalam menginap di desa ini, keesokan harinya, pagi-pagi
sekali, para pendaki telah berkemas. Kebanyakan bertujuan ke Gunung
Papandayan. Yang bertujuan ke Tegalpanjang belum terlalu banyak, karena
lokasi ini memang belum banyak diketahui orang. Selain itu, jalan
menuju lokasi agak sulit dilalui karena lumayan membingungkan.



Perjalanan Menuju Taman Bermain Peri



Dari
Cibatarua, kita menyusuri kebun teh dahulu menuju arah barat. Setelah
kira-kira satu jam berjalan, kita mulai memasuki hutan. Ada tiga sungai
kecil yang dilewati, airnya masih jernih. Segar sekali rasanya membasuh
tangan setelah berjalan jauh.



Medan
yang dilalui bervariasi, tidak melulu mendaki. Ada jalan setapak yang
menurun, mendatar, tapi kebanyakan menanjak. Suatu kali, ketika lelah
berjalan selama kira-kira empat jam, kami dikejutkan oleh kemunculan
seekor elang. Antara kaget dan takjub, kami dibuat terdiam karena sang
raja langit itu terbang dari pohon yang jaraknya dekat sekali, hanya
sekitar tiga meter. Mula-mula ia terbang berputar di dekat kami,
sekitar dua meter di atas kepala, kemudian ia mengepakkan sayapnya,
menuju matahari. Rasa lelah karena medan yang dilalui lumayan berat
serasa menghilang dari badan, dikalahkan oleh rasa takjub melihat elang
begitu dekat. Selain itu, terdengar juga suara-suara monyet, tapi
mereka tidak pernah menampakkan diri sehingga jenisnya tidak diketahui.



Setelah
sekitar lima jam berjalan, mendaki, menyusuri jalan setapak datar dan
menurun, kita akan sampai di suatu tanjakan yang curam. Hampir saja
rasa putus asa mengalahkan semangat diri. Tapi, di akhir tanjakan dan
begitu keluar dari rangkulan bayangan pohon-pohon besar, serasa melihat
taman bermain peri.



Sepotong Surga yang Jatuh di Bumi-kah?



Seketika,
terlihat suatu padang rumput yang maha luas, sekelilingnya dilindungi
oleh hutan dan kaki-kaki gunung. Tak ada yang bisa dilakukan, kecuali
diam sebentar, duduk melepaskan lelah, dan melemparkan pandangan
sejauh-jauhnya. Ilalang bagai menari ditiup angin, dan sungai berkelok
bagaikan ular raksasa penjaga padang rumput. Kata-kata tak akan cukup
untuk melukiskan perasaan di dalam hati, yang campur-aduk antara
takjub, lelah, ringan, dan macam-macam. Imajinasi langsung berkembang.
Alangkah cocoknya jika padang ilalang ini digunakan sebagai tempat
bermain peri-peri mungil yang bercahaya. Atau bahkan bidadari-bidadari
cantik yang bersayap. Membayangkan mereka berkejaran, atau melangkah
hati-hati karena tidak ingin merusak tempat yang sangat indah ini.



Setelah
puas memandang sekeliling, kami mulai menyusuri padang ilalang ini,
menuju ke sungai. Ternyata dari permukaan padang rumput ke dasar sungai
cukup dalam, kira-kira tiga meter. Pada musim kemarau air sungai tidak
terlalu banyak, dan sungai ini dapat diseberangi hanya dengan
melangkahinya saja.



Dari
sungai, mulailah kami mencari tempat yang aman untuk bermalam. Tentu
saja lokasi yang dipilih adalah di hutan yang terletak di sisi-sisi
padang ilalang ini, agar terlindung dari angin yang menusuk hingga
sumsum.



Ketika
malam tiba, kita dapat mendengarkan desiran angin yang menerpa ilalang,
bagai menyenandungkan tembang lirih. Serasa dininabobokan dengan
senandung ilalang.


Ada
sekelumit perasaan enggan ketika bersiap-siap meninggalkan padang
ilalang ini. Berada di tempat damai, terisolasi dari lingkungan,
apalagi lingkungan kota. Pertanyaan bersimpang-siur di benak, apakah
ini sepotong surga yang jatuh ke bumi? Tetapi, karena pulang menjadi
suatu kewajiban, yang dapat dilakukan hanya berjanji: suatu saat saya
akan kembali ke Tegalpanjang ….



16 komentar:

  1. waaaaaaaaaahhhh.. pengen ke sanaaaa!!! iyaaaa shooting!!! ayoooo... hahuhauahuah.. ada listrik gak?? buat nge-charge kamera ama lampu :D

    BalasHapus
  2. hahahaha ... ajakin tuh abangku yang gendut, biar olahraga dikit gitu bok. ada listriknya sih di desa terakhir, Cibatarua. Tapi kebayang bawa-bawa barangnya hiyyyy ... harus menyewa porter profesional itu mah hehehehehehehehe ...

    BalasHapus
  3. keren, nyaaa
    tapi, saya harus tutup mulut ka salaki saya, mun henteu, pasti blio pengen ke Tegalpanjang :p

    BalasHapus
  4. Euleuh Teh Peni, iya ntar aja bilangnya kalo si dede udah lahir dan udah beberapa bulan. Terus nanti jalan-jalan sekeluarga ke sanah ... (hahaha ... kebayang repotnya memanggul si dede & membawa perbekalannya)

    BalasHapus
  5. gue jadi pengen nih ke sini .... nodong anak anak bandung ah, biar diajak jalan ke sono. btw, bandung masih menggunung gak sampahnya :p .. hueheheh baunya terasa sampai bekasi nih :D

    BalasHapus
  6. di beberapa tempat masih, tapi di beberapa tempat lain udah mulai diangkut. cuma, proses pengangkutan ini malah yang bikin lebih bau, karena sampah lama yang diobrak-abrik, yang udah membusuk lebih lama, iukhhhhhhh .... tapi sebetulnya ada sisi positifnya sih, kalo weekend bandung nggak macet banget karena orang jakarta males ke bandung hahahahaha ...
    (jadi orang bandung bisa jalan-jalan di kota sendiri saat weekend)

    BalasHapus
  7. ka ka ka ... kasian amat, untuk bikin acara jalan jalan di kota dewek, kudu pasang bom bau dulu .. :D

    BalasHapus
  8. terkadang keinginan kita untuk berbagi termpat yang indah menjadi preseden buruk bagi tempat itu sewndiri. masih terekam hamparan edellweis pondok saladah sampai awal tahun 90 an berubah jadi hamparan kantong plastik pasca itu.
    mungkin beberapa saat lagi tegal panjang bernasib sama, kalo aksesnya dibuka lebar.
    semoga sisa zamrud papandayan satu ini gak tergerus lagi, setelah kita kehilangan pesona paondok salada, tegal alun atau curug rambay yang disapu gunung.

    BalasHapus
  9. yaaaa ... jangan sampai nyampahhhhh
    (saya juga suka sebal sama yang ngaku-ngaku PA tapi nyampah, huhh)

    amiin

    BalasHapus
  10. Heuheuheu...lamun heunteu plastik minimal nyampah puntung roko. Yah..sigana ari budak PA masih keneh nyampah mah,meureun lain Pencinta Alam eta mah,tapi Penyampah Akut. Ateul leungeunna lamun heunteu nyampah teh. Yah... espresi lain salian ti Mamang was here meureun. heuheuheu..heup ah dung bang dung.

    BalasHapus
  11. ah ... meninggalkan kenangan di hati weh mang, siga si nata nu katipu pas di cicenang, hihihihiiii

    BalasHapus
  12. heuheuheuheuheu...masih dipake keneh cicenang teh euy

    BalasHapus
  13. cicenang tos jadi kebon, semua mang ...
    mun taun 95 mah aya keneh leuweung geledegan

    BalasHapus
  14. insyaAllah ahir taun ini mau ke tegal panjang.....mohon doanya biar g nyasar... :D

    BalasHapus