Sejak kecil, saya susah teurab. Tau nggak teurab itu apa?
Kalo bahasa Jawanya sih glege'an. Bahasa Indonesianya bersendawa. Jarang sekali
saya mengeluarkan angin dari atas, seringnya sih dari bawah (hahaha ... memang
pada dasarnya jago hitut wehhhhh!). Apalagi, waktu saya kecil, di rumah sering
terjadi perang kentut. Awalnya, yang saya anggap paling jagoan itu si Papap.
Tapi, ternyata ada yang lebih jago lagi: si Totok Bung! Totok Bung bisa kentut
tanpa berhenti sambil berjalan dari tempat cucian ke ruang makan, di rumah
Sukahaji. Lumayan jauh lho ... (Mungkin semakin senior, kentutnya semakin jago
juga ya).
Baru SMA saya agak bisa teurab. Tapi, teurab saya masih sopan, nggak
"EEEUUUU!" keras-keras seperti si Antjheu (edun siah, wajahnya sangat
mengerikan kalo lagi teurab keras-keras), atau "MAAAAAAAK!" seperti
si Ryan Otoy. Karena saat itu peer pressure sangat kuat, saya berusaha
mencoba teurab keras-keras seperti teman-teman. Angger weh, teu bisa! Mungkin
memang pada dasarnya, saya ini seorang gadis santun nan rupawan hahahahaahahaha
.... *ketawa Iblis*
Setelah lulus SMA, peer pressure memudar. Saya kembali ke kebiasaan
lama, lebih suka mengeluarkan gas dari saluran bawah daripada saluran atas.
Tapi tentu saja saya tidak mengentuti profesor, nggak seperti si Nata gitu
lhuwokh. Dan setelah mengenal si Aq, ternyata dia lebih jagoan dalam soal
teurab ini. Bayangkan, dia bisa teurab sekaligus kentut pada saat bersamaan!
Edun nggak sihhhhhh ....
Si Emak juga hobinya teurab. Pencet-pencet punggung sedikit, langsung eureuleu
(hmmm ... apa ya, padanan kata ini dalam bahasa Indonesia?). Si Abang juga hobi
teurab. Biasanya, setelah dipijat oleh si Emak, dia juga langsung mengeluarkan
serangan "aa ... eeuu ..." dengan meriah.
Lalu saya? Masih bernasib sama, sulit teurab. Dan susah teurab ini membawa saya
mengalami operasi. Bukan operasi penangkapan wts atau razia ktp, ini mah
operasi beneran. Ini terjadi sampai saya mahasiswa tingkat akhir (nggak usah
disebut semester berapanya, hahahahaha!). Waktu itu, bulan puasa, saya sedang
nonton TV sambil ngobrol dengan si Emak. Eh, ternyata si Emak menyadari
sesuatu, ada tonjolan seukuran koin seratus baru di leher saya.
Langsung si Emak menyuruh saya periksa. Ternyata, kelenjar tiroid saya
membengkak. Gondok, gitu lhuwokh, kalo nggak tau tiroid itu apa ... hehehe.
Perasaan, si Emak selalu masak memakai garam beryodium. Jadi nggak mungkin
kekurangan yodium. Tapi, setelah dirunut, ternyata ini genetik. Ompung Armia
dan Bou Justi (satu-satunya saudara perempuan si Papap) juga pernah mengalami
hal ini. Ternyata juga, pembengkakan kelenjar tiroid kadang-kadang memang nggak ada penyebabnya.
Awalnya, si Abang Alfa menyarankan untuk langsung operasi. Tapi Bou Justi
menyarankan agar mencoba obat oral dulu. Jadi, setiap hari selama sebulan, saya
harus minum sebutir obat kecil. Membosankaaaaan! Kadang-kadang juga lupa, karena
obatnya kecil banget. Tapi kok, si benjolan itu nggak mengecil juga, ya?
Ukurannya malah makin besar. Dan ini berakibat lebih parah, saya semakin susah
teurab.
Tersiksa banget deh, dengan kumpulan angin yang mendesak ingin keluar dari atas
(sementara, anehnya, saluran bawah saya seperti mampet), tapi nggak bisa.
Selanjutnya saya sering sesak napas. Bahkan, saya nggak berani tidur sendiri,
takut terbangun malam-malam dan sesak napas. Jadi, kalau waktunya tidur
saya sulit terlelap karena susah bernapas. Tapi anehnya, sekalinya tidur, saya
nggak bisa bangun meskipun sudah berjam-jam. Saya pernah tidur lebih dari dua
belas jam dalam sehari! Ternyata, menurut si Abang Alfa yang dokter anestesi
(sekaligus pengusaha obat bius hehehe), penderita pembengkakan tiroid memang
begitu. Selalu merasa kurang tidur. Ini menjadi pembenaran bagi saya, yang
selain jago kentut juga jahe alias jago he-es, hahahahahaha ....
Akhirnya, karena miris melihat penderitaan saya, setiap malam sesak napas dan
sulit tidur, si Papap memutuskan agar saya dioperasi saja. Kebetulan, jenis
pembengkakan tiroid yang saya alami ini aman untuk dibedah, karena kata Teh Ui
(kalo nggak salah inget) "nodul dingin" yang nggak akan menyebar,
bukan "nodul panas" yang hanya bisa dihilangkan dengan radiasi (Uh,
sumpeh deh, naon sih istilah "nodul" ieu teh? Untung sama sekali
nggak kepikir untuk masuk kedokteran setelah SMA. Kebayang lieur ngapalkeun
istilah-istilah, mangkaning urang teh pohoan hehehe).
Setelah merencanakan waktu, tempat, dan segala macam, akhirnya tibalah waktu
pembantaian, hehehehe .... Dokter bedahnya cakep meskipun sudah berumur, Dr.
Dimyati. Saya dioperasi di RS. Kebonjati karena rekomendasi si Abang Alfa,
karena selain harganya lebih murah, Dr. Dimyati juga praktik di situ, dan yang paling
penting nggak bakal dijadikan objek pembelajaran oleh para ko-as. Huh, sori
layawwww ... kalaupun ada yang cakep, mereka kan pria necis berkemeja,
bercelana pantalon, dan rambut licin! Hahahaha .... Dokter anestesinya Dr.
Afifi, bapaknya teman SMP saya, Trisye. Tapi, karena si Abang Alfa datang
menemani saya operasi, Dr. Afifi malah asyik baca koran, sementara yang membius
saya si Abang Alfa (mentang-mentang ada junior, wekkk). Kata si Abang Alfa,
kelenjar tiroid saya yang diambil itu (syukurlah) hampir bulat sempurna, nggak
ada jaringan yang mengakar ke mana-mana. Jadi, kemungkinan berkembangnya kecil.
Tapi, ternyata ukurannya sebesar bola pingpong. Karena tumbuhnya ke dalam,
kelenjar bengkak ini mengganggu pernapasan.
Setelah operasi, lumayan lah, teurab saya jadi lumayan lancar. Tapi, ada
kebiasaan baru yang sebelumnya nggak terjadi; saya jadi beser berat. Ini
terjadi sejak saya diinfus untuk pertama kalinya seumur hidup. Sebelumnya, saya
jarang pipis. Bahkan sering heran melihat gank beser di sekolah, tiap
pergantian jam pelajaran selalu ke WC. Biasanya sih keringat saya yang
berlebihan. Setelah operasi, saya tetap gampang berkeringat, sekaligus sering
pipis. Huh, ternyata saya jadi anggota gank beser juga tuh ... sebal.
Dan menurut si Abang Alfa juga, setelah operasi saya akan jadi gendut.
Sebelumnya, saya lebih RW 06 dari sekarang. Bahkan Gugum sang dedengkot RW 06
sampai kagum, waktu makan nasi goreng, porsi saya sama besar dengan porsinya.
Setelah operasi, betul saja, berat badan saya naik 5 kg dalam waktu 6 bulan.
Untung saja nggak lebih. Tapi, lambung saya seperti mengecil, karena porsi nasi
turun drastis.
Selain itu, di leher saya sekarang ada bekas luka jahitan. Dr. Dimyati ini kata
si Abang Alfa termasuk salah seorang empu bedah onkologi di Bandung, jadi
jahitan di leher saya cukup rapi. Syukurlah nggak ada keloid. Orang-orang yang
nggak tahu riwayat operasi saya sering bertanya, lehernya kenapa? Yah, saya
jawab aja "tapak bacok". Namanya juga turunan Banten, wajar duonk
kalau punya bekas luka di leher hehe ....
Operasi pengangkatan tiroid ini sudah berlalu, hampir dua tahun yang lalu
(setelah saya wisuda, kira-kira bulan April 2004). Tapi ternyata, sekarang saya
mulai kesulitan teurab lagi. Sudah hampir tiga minggu nih, angin bagaikan
menumpuk di diafragma, tapi susah dikeluarkan. Semoga saja nggak usah operasi
lagi. Makasih duech, cukup sekali seumur hidup gitu bok .... Nah, ada yang
punya saran untuk memecahkan masalah susah teurab ini? Kalau ada, terima kasih
banyak saya ucapkan sebelumnya.
blog gusuran dari multiply. yang masih aktif sampai sekarang: http://marialubis.wordpress.com
Minggu, 11 Juni 2006
Susah Teurab
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
hiiii...
BalasHapusgambarnya yang diclose up kok bagian bekas bedah nya siiiiiii
*getek bin geli*
lhuwo ... ini kan tapak bacok tea, hehehehe ...
BalasHapuskerokan ama minum jamu tolak angin ... :p
BalasHapusJamu tolak angin sering dicoba (yang pil, kalo yang cair mah nggak tahan, pedesss hehehe), kalo kerokan nggak boleh, ntar pembuluh darahnya pecah, hiyyyyyyy ....
BalasHapus