Pernah nggak mengalami, hanya
bertiga mengambil satu mata kuliah? Berdua deh, pernah? Atau sendiri?
Kalau kamu mahasiswa astronomi,
atau pernah jadi mahasiswa astronomi, pasti pengalaman ini kemungkinan besar
pernah terjadi. Kuliah wajib saja rata-rata pesertanya hanya lima belas orang,
apalagi kuliah pilihan.
Nah, sekarang, pernah nggak, waktu
kuliah ditawari oleh sang dosen, “Mau teh atau kopi?” Lalu, setelah selesai
kuliah, ditawari makan siang di rumah sang dosen?
Kebetulan, saya pernah mengalami
ini semua, saat jadi peserta kuliah pilihan Materi Antar Bintang bersama
partner in crime saya, si Nata Pehul.
Saat itu, sebetulnya SKS saya sudah
lengkap semua. Tinggal TA-1 dan TA-2, seminar dan sidang. Si Nata sih masih
kurang. Nah, awal semester genap itu si Nata tiba-tiba datang ke Himastron dari
Bosscha Lembang, karena dia sedang kerja praktek di sana. Dengan hariweusweus
(maaf saya tidak menemukan padanan yang tepat dalam bahasa Indonesia), dia
menceritakan Pak Bambang, profesor kami, yang sedang semangat sekali menyiapkan
bahan kuliah. Pokoknya, dalam usia senjanya, semangat beliau menggetarkan hati,
deh.
Saya yang waktu itu sedang
nangkring di Himastron awalnya hanya mendengarkan tanpa bereaksi. Nah, beberapa
saat kemudian, si Nata datang lagi ke Himastron. “Mar, si Babe (maaf ya Pak,
kami menjuluki Bapak dengan sebutan Babe. Tapi ini panggilan sayang kok
*wink-wink*) geus datang!” kata si Nata. “Tapi, sepertinya nggak ada yang ikut
kuliah beliau, deh.”
Sempat hening sejenak. Kami
sama-sama trenyuh akan keadaan ini. Bayangkan, seorang profesor yang mumpuni di
bidangnya, menyiapkan kuliah sebaik-baiknya, dan sama sekali tidak ada peserta
kuliah. OMG, ini adalah sesuatu yang sangat ironis. Hanya karena reputasi Babe
yang cenderung galak, dengan mood yang naik turun, sampai nggak ada seorang pun
mahasiswa yang mau ikut kuliah itu.
Akhirnya—entah karena kami
mengetahui fakta bahwa Babe menyiapkan kuliah dengan sangat baik, atau kasihan
karena tidak ada yang mengambil kuliah itu—kami memutuskan menantang maut. Ya,
menantang maut!
Mengapa? Akan saya jelaskan secara
kronologis ….
Kuliah pertama yang berlangsung di
Departemen—sekarang prodi—Astronomi, di ITB, berjalan lancar. Kuliah pertama
diisi dengan pembicaraan mengenai jadwal kuliah, tempat (kuliah selanjutnya
berlangsung di Bosscha), silabus, dan daftar buku.
Tapi … kuliah-kuliah selanjutnya … adalah
pengalaman menegangkan. Hampir tiap pertemuan diisi dengan presentasi. Sebetulnya,
materi presentasi itu adalah hal-hal elementer yang wajib diketahui setiap
mahasiswa astronomi. Tapi, tahu sendiri, lah … saya dan si Nata kan mahasiswa
astronomi murtad!
Jadi, meskipun diawali dengan
tawaran, “Mau minum teh atau kopi?” dan “Nanti, setelah kuliah, kita makan
siang di rumah saya ya,” kuliah ini membuat kami panas-dingin. Apalagi, Babe
termasuk dosen perfeksionis. Beliau sangat memerhatikan struktur serta logika
makalah dan presentasi kami. Makalah yang dicoret-coret sudah menjadi hal
biasa. Presentasi seperti ini pun, “dan … dari rumus ini … didapatkan ini …
lalu … lalu … lalu …” akan dipotong di tengah-tengah. Mengapa? Karena tidak
jelas dan terstruktur. Seharusnya, kami menerangkan seperti ini, misalnya “Dari
pengamatan, magnitudo mutlak objek ini sekian sekian. Dengan menggunakan rumus
Pogson, akan kita dapatkan bahwa luminositasnya sekian-sekian. Dari luminositas
ini kita akan mendapatkan bahwa temperatur objek langit tersebut adalah …”
Begitulah. Semua kalimat harus
jelas, terstruktur, dan harus mengalir. Kalimat dengan “lalu … lalu … lalu …”
diharamkan, karena memang tidak menerangkan apa-apa.
Jadwal yang semula ditetapkan dua
kali seminggu kemudian menjadi lebih sering. Bukan apa-apa, ini sih gara-gara kami
saja yang lemot, jadi Babe selalu tidak puas dengan presentasi kami. Selain
itu, kalau sedang malas kuliah biasanya kami bermuslihat—saya tulis surat
pemberitahuan bahwa saya sakit, lalu saya antarkan Nata ke Bosscha sampai
belokan Bosscha dengan motor. Selalu begitu, karena Nata juga kebetulan sedang
melakukan suatu proyek dengan Babe. Tapi, tipu muslihat ini pernah hampir
membawa petaka. Suatu hari, ketika kami mengulang muslihat ini, saya datang ke
departemen, karena ada sidang atau seminar (saya lupa siapa). Di sana saya
bertemu Pak Hakim, dosen pembimbing tugas akhir saya. Saya lupa akan fakta
ini—Babe dan Pak Hakim itu sobatan! Hahaha … tentu saja Pak Hakim melapor bahwa
beliau bertemu saya di bawah. Sungguh sial!
Dengan pengalaman kuliah-kuliah
yang menegangkan itu, akhirnya saya dan Nata punya kebiasaan baru: shalawatan
di motor hahahaha …. Biasanya, shalawat ini dimulai dari gerbang bawah Bosscha
(Batureok) sampai saya memarkir motor di depan ruang ceramah. Lumayan lah,
menyejukkan hati yang rusuh hihihihi … (preman insyaf banget!)
Dan pengalaman yang paling tak
terlupakan adalah … kecelakaan kentut Nata. Waktu itu, dia kebagian presentasi
di ruang baca Bosscha. Meja ruang baca panjang, Babe duduk di ujung agar bisa
menatap papan tulis langsung, jadi agak jauh. Saya duduk di tengah-tengah
panjang meja, lebih dekat ke si Nata. Tiba-tiba, Babe memotong presentasi Nata
di tengah-tengah dan marah-marah karena kalimat-kalimat Nata membingungkan. Di
tengah kemarahan Babe, saya mendengar bunyi “Tuuuut …” lemah. Ya ampun, memang
eta bujurna teu nyakola pisan, si Nata kentut! Saya langsung membelalak kepada
Nata. Nata tampak grogi, tapi dia pura-pura memerhatikan Babe dengan khidmat.
Untung saja, suara kentut itu nggak terdengar sampai belakang, hahahaha … Jika
iya, pasti kemarahan Babe akan berlipat ganda: sudah presentasi nggak becus,
masih berani juga mengentuti dosen! Profesor, lagi! Hahahaha … dasar.
Ternyata, gara-gara kuliah ini
pula, tugas akhir saya tertunda satu semester. Syukurlah Pak Hakim
memakluminya. Mungkin karena beliau sangat memahami Babe. Ketika satu semester
sudah berlalu, kuliah kami belum juga berakhir. Tapi, akhirnya Babe sendiri
yang memutuskan, tempaan mental kami sudah cukup. Saya mendapat nilai B dan
Nata C (dia agak bete tuh, kasihan deh. Mungkin gara-gara tulisan saya lebih
bagus daripada dia, jadi lebih mudah dibaca, hahaha …).
Meskipun terasa membuang waktu
(apalagi, dengan kuliah ini saya kelebihan 3 SKS), ternyata banyak sekali
manfaat yang bisa saya petik. Entah ya, si Nata mah. Contohnya, logika berpikir
dan analisis. Meskipun masih sangat dangkal—dibandingkan anak astronomi
lain—saya merasa logika berpikir saya agak ter-up grade. Selain itu, saya mulai
bisa menulis dan bicara dengan terstruktur. Sampai akhirnya saya sempat menjadi
penyiar di Her Radio (haiyah … radio bangkrut!) dan sekarang menjadi editor.
Wah, kuliah satu semester itu sangat berguna bagi karier saya sebagai
penyunting! Hahaha ….
Karena itu, saya tidak merasa rugi.
Malah, saya menyayangkan mengapa teman-teman dan adik-adik kelas saya
melewatkan kesempatan emas ini. Bagi saya, lulus tepat waktu tidak ada artinya
dibandingkan pelajaran berharga—menjadi mahasiswa Pak Bambang!
Babe, maafkan saya—dan Nata—karena
sering menipu Anda, Babe. Meskipun begitu, berjuta-juta terima kasih saya
ucapkan, karena Anda telah sedikit memperbaiki otak kami dan membuat saya tidak
perlu belajar dari nol lagi saat sudah bekerja. Salam sayang, Babe.
kumaha, nya? saya seuri ngakak2 tapi bari ceurik, da terharu.... dosen seperti Babe bener2 tipikal dosen yang sungguh mengantarkan mahasiswa nya ke jalan yang benar. terbukti, kan, may, dapet hikmahnya...... andai saya katampi di Astronomi keur basa miluan UMPTN baheula, meureun saya pernah ngarasaan jadi mahasiswa Babe, nyaaaa.....
BalasHapusyak betul! jaman sekarang mah, susaaaaaaah banget nyari dosen seperti Babe! kalo teh peni katampi di astronomi, pasti akan semakin bertambah kuat mental hikhikhik ....
BalasHapusidem
BalasHapuskuat mental naon? pasti karena bergabung ama anak2 himastron macam umay, coni, nata pehul... hahahaha
BalasHapusyo'iiii, betul, selain itu kuat mental karena ospek-nya garing, pekerjaan 10 bahkan 20 orang dikerjakan oleh 1 orang (kalo ikut himpunan atau kepanitiaan), terancam dijadikan tumbal angkatan sebagai ketua himastron, diteleponin dosen pembimbing kalo kita menghilang waktu TA, hikhikhik ... (yang terakhir mah pengalaman pribadi pisssssaaaaaaaaaan)
BalasHapustapi kan dengan sedikit itu asa pripat ceu.. dan dikenal...
BalasHapussok coba mun di matematika 70 orang saangkatan, kudu pinter pisan atawa bodo pisan supaya dikenal..
hehehe ko jadi banci tenar gini ya .. :P
gaaaaaaaaak baaaaaaaaangeeeeeeeeeeet...
oia.. saya tau pak Hakim.. tau tau.. hehhe temennya bu Aan mantan atasan di tempat kerja dulu ... :D
haha .. waktu tpb sayah bareng sama anak-anak matematika
BalasHapustapi ternyata lebih merasa senasib sepenanggungan dengan anak-anak fisika