Jumat, 02 Juni 2006

Kamar Mandi dan WC



Kamar mandi dan isinya adalah obsesi saya sejak kecil, bahkan sejak
baru bisa duduk untuk buang air besar di kursi berlubang. Barangkali,
kursi ini juga mendukung terciptanya kegemaran saya akan kamar mandi
beserta isinya.

Kursi istimewa ini warisan dari
si Abang, yang juga saya wariskan kepada sepupu-sepupu yang lebih muda.
Sebetulnya, modelnya biasa saja. Terbuat dari kayu dan besi, bercat
putih. Yang istimewa, kursi ini punya meja berengsel yang bisa
dibuka-tutup, dan alas duduknya juga berengsel. Jika lapisan alas duduk
ini dibuka, akan tampak sebuah lapisan berlubang, seperti kloset duduk.
Cukup menyediakan pispot di bawah, kegiatan buang air besar akan sangat
menyenangkan bagi anak-anak kecil. Apa lagi, sambil melakukan kegiatan
itu, si Emak menyediakan benda-benda menyenangkan—buku-buku, kertas,
pensil, atau alat tulis lain. (Sangat multiguna, karena sambil buang
air besar kita bisa membaca, menggambar, menulis, bahkan makan!
Hahahaha ... :p)



Sejak bisa mengingat, saya
selalu senang jika orang dewasa di sekitar saya (orangtua, nenek, uwak,
atau kakak sepupu) menggambar dua jenis objek: teko dan keran. Sampai
sekarang juga saya menyukai bentuk teko, tetapi saya lebih menyukai
keran. Seiring waktu, kesukaan saya terhadap keran pun berkembang; saya
mulai menyukai kloset, wastafel, bathtub, shower, bidet, dan benda-benda lain di kamar mandi.



Karena
itu, saya mencoba untuk ikut ujian seni rupa, berharap diterima di
desain interior. Tapi, garis hidup menentukan kalau saya harus
berurusan dengan hal yang lebih besar lagi: alam semesta beserta
isinya. Mengecewakan memang, tapi, kecintaan saya terhadap kamar mandi
nggak bisa dibendung.



Mungkin, bagi
orang-orang yang mengenal saya, kecintaan ini hanya salah satu bentuk
keisengan untuk mengisi waktu, atau untuk menghabiskan kertas bukom
Himastron (sudah berapa bukom ya, yang saya gambari dengan gambar kamar
mandi?). Atau, hanya sebuah lelucon untuk menceriakan hari-hari penuh
kejenuhan, saat enam setengah tahun belajar konsep-konsep astronomi dan
rumus-rumus turunannya.



Tapi, bagi saya,
kamar mandi adalah ruh kehidupan. Kamar mandi adalah suatu penemuan
canggih dan berguna, yang bisa membuat manusia menjadi lebih baik dari
sebelumnya. Kamar mandi adalah simbol hal-hal berguna yang seringkali
diabaikan, atau disimpan di belakang, dan tidak dianggap penting.



Di kamar mandi, manusia bisa membersihkan diri. Dengan bak dan gayung, shower, atau bathtub. Kloset
dan bidet berguna untuk mengeluarkan kotoran sisa metabolisme tubuh
manusia. Apa jadinya kalau tidak ada kamar mandi dan WC? Mungkin kulit
kita hitam penuh daki dan wajah kita ungu karena konstipasi. Atau, kita
terpaksa menggali di kebun belakang atau tanah kosong untuk melepaskan
hasrat terpendam. (Uh, pekerjaan ini begitu menyebalkan, terutama kalau
kita cuma bersenjata golok. Susah kan, menggali tanah dengan golok?
Lebih baik bawa sekop kecil hehehe)



Bagi
beberapa orang, kamar mandi bisa jadi sarana terapi yang menenangkan.
Bayangkan, setelah seharian terpanggang sinar matahari dan hawa panas
kota besar, betapa sejuknya masuk ke kamar mandi, mendengarkan
tetes-tetes air di bak yang menenangkan, dan menyiram tubuh dengan air
segar.



Kamar mandi juga bisa jadi sarana
hiburan—menyanyi atau membaca. Efek akustik yang dihasilkan kamar mandi
lebih glamour dibandingkan dengan ruang-ruang biasa. Suara kita akan
jadi lebih bergema, bagaikan menggunakan perangkat audio elektronik
(Sst… saya pernah mencoba bermain gitar di kamar mandi. Hasilnya oke
banget!). Membaca juga menjadi hiburan yang menyenangkan, asal kamar
mandi yang kita gunakan layak pakai (setidaknya, ada tempat untuk
menyelipkan bacaan setelah selesai buang air) dan kita cukup terampil
(mencari cara agar buku/majalah/tabloid/koran tidak basah terciprat
air).



Dan, yang paling mencengangkan dari
kamar mandi adalah … fungsinya sebagai tempat kontemplasi dan berpikir.
Begitu banyak perenungan yang bersifat introspektif dan ide-ide
cemerlang yang bisa muncul saat kita bengong sambil bertengger di atas
kloset. Saya sendiri mengalaminya—waktu akan sidang sarjana. Beberapa
hari sebelum sidang, saya tidak bisa menemukan pemecahan suatu masalah
(dan malu bertanya kepada dosen pembimbing. Yang bener aja, masa’
seminggu sebelum sidang baru nanya?). Sudah berhari-hari saya berpikir,
bagaimana bisa seperti itu? Karena apa?



Jawabannya
tiba-tiba muncul, pada pagi hari sebelum berangkat sidang, saat
bertengger di kloset. Rasanya bagaikan Archimedes, yang juga menemukan
jawaban atas pertanyaannya saat sedang berendam di bak mandi. Setelah
kejadian itu, kecintaan saya terhadap kamar mandi semakin bertambah.



Sampai
sekarang, saya suka membeli majalah interior hanya untuk mengumpulkan
foto-foto kamar mandi. Dan jika ada yang bertanya cita-cita saya apa,
jawabannya pasti: desainer interior khusus kamar mandi. Yah, setidaknya
khusus untuk kamar mandi di rumah saya sendiri kelak.


Jadi,
suatu saat, jika teman-teman menemukan sebuah rumah mungil dengan kamar
mandi besaaaaaar (kalau memungkinkan sih setengah dari luas rumah
adalah kamar mandi) dan nyaman, penuh buku dan majalah, dengan hiasan
bunga-bunga dan tanaman segar, bahkan ada gitar, mungkin itu adalah
rumah saya. Amiiiiiiin ….


12 komentar:

  1. hmm... kenapa sih kok aku terus yang komen? apa aku harus ngasih komen? mengapa? mengapa?

    BalasHapus
  2. hati-hati, kamu sudah tertular sifat menyebalkannya si kecil imut Little King maskot Little K. Aku juga pusiiiiiing menghadapinya hahahahahahahahahaha ...

    BalasHapus
  3. whoaaaaa.... kalo gitu Umay aku kasih gelar "Miss Kamar Mandi" atau "Queen of WC", nyaaaaaa! hahaha
    btw, eta gambarna kumaha sih! mata saya nepi ka juling ningalikeun, angger teu katingal.... toloooonggg!!!

    BalasHapus
  4. Itu teh kamar mandi tampak atas alias perspektif mata cakcak, Teh Peni. Hehehehehehe ...

    BalasHapus
  5. oia, aku jadi inget, aku pengen menulis tentang kamar mandi umum. ntar lah, segera dipublish!

    BalasHapus
  6. pasti kamuh nulisnya yang jorok-jorok ya? hiyyyyyyyyy ...

    BalasHapus
  7. yah, di antaranya sih begitu. aku ingin berkeluh kesah dan mengetuk kesadaran orang banyak. hihihihi.

    BalasHapus
  8. btw, itu kan emang alat buat toilette training --> khusus anak anak huehehhehe .... heibat ortunya, udah bisa ngasih toilet training dari jaman jebot ... yg jaman sekarang aja, kecuali di kota besar, tidak dikenal.

    BalasHapus
  9. memang masarcon, kursi itu udah ada dari jaman kakak saya kecil, berarti ... sekitar 33 taunan yang lalu lah, hehehehe ... dan kursi itu selalu diwariskan ke generasi-generasi yang lebih muda, setelah saya yang pake, sepupu saya yang pake, terus sepupu yang lain lagi, begitu terus. Sekarang sih nggak tau di mana bendanya. Mungkin udah punah.

    BalasHapus
  10. hii, jijay .. dipake orang banyak .... wakakakak :p bergurau ...!

    BalasHapus
  11. Justru di situ letak kesaktian kursi putih itu ... karena dipake bersama-sama!
    (meskipun tentu saja dalam waktu yang berbeda, kalo dipake bersama pada waktu yang sama mah sempit atuh) Hehehehehehehe ....

    BalasHapus
  12. wah, dimasukkan musium khusus keluarga besar tuh huahahahah ...kenang kenangan tak terlupakan ..

    BalasHapus