Jumat, 02 Juni 2006

Antapani - KPAD



Sejak kantor pindah ke Cinambo,
saya naik bis Antapani-KPAD setiap hari. Bentuk bisnya seperti roti tawar.
Warnanya dulu hijau-putih, sekarang berubah jadi biru-kuning. Tapi kedua jenis
bis itu masih wara-wiri di jalanan. Awalnya saya tidak ngeh jika kemunculan dua
bis yang berbeda itu memiliki pola tertentu. Tapi, saya baru tahu minggu lalu:
mulai dari jam 06.30 sampai 17.30, bis biru-kuning yang lebih baru yang
berkuasa di jalan. Sementara, sebelum jam-jam tersebut, bis hijau-putih yang
bertugas, karena jumlahnya pun lebih sedikit.






Jarak waktu dari satu bis ke bis
berikutnya kira-kira 10 menit. Biasanya, saya naik bis yang sampai dekat rumah
susun Sarijadi jam 06.50. Kadang-kadang (tapi jarang) saya lebih awal, jam
06.40. Dulu sih, awal-awal naik bis, sempat jam 06.30 sudah nangkring. Tapi
sekarang sih sudah yakin, naik bis jam 06.50 pasti sampai kantor nggak telat
kok. Aling lambat juga jam 08.00, saat bel kantor berdentang lah.






Akhir-akhir ini, si papap biasa
mengantar sampai tempat menunggu bis. Saya punya cara khusus untuk bisa tahu,
bis jam 07.50 sudah lewat atau belum. Kalau masih ada Bu Siti menunggu di flat,
berarti bisnya belum lewat hehehe … (Bu Siti ini dulu mengajar di TK milik si
Emak, sekarang dia mengajar TK di daerah Dago dan sama-sama pelanggan bis
Antapani-KPAD).






Ternyata bukan hanya saya yang
punya jadwal tetap, karena banyak sesama pengguna bis yang akhirnya saya hafal.
Ada para pegawai Pemda yang selalu turun di Gedung Sate, ada dua orang
mbak-mbak yang selalu turun di dekat Hotel Grand Aquila (salah satunya sangat
menarik, tinggi langsing, berambut pendek, dengan attitude keren tapi
tidak berlebihan!), seorang ibu pegawai PMI yang selalu turun di Jalan Anggrek,
seorang ibu yang selalu turun di Pusdai, seorang aa-aa yang selalu duduk persis
di samping sopir, seorang bapak pegawai kantor pos yang sering memberikan
tempat duduknya kepada para perempuan, seorang ibu yang mengantar anaknya (yang
berkebutuhan khusus) yang selalu naik di SMA Puragabaya, dan seorang bapak tua
penjual kerupuk yang selalu turun di Dago. Ada beberapa yang juga sering saya
lihat tapi tak terlalu saya perhatikan.






Sopir dan keneknya pun selalu yang
itu-itu saja. Mungkin mereka memang punya jadwal tetap. Ada seorang bapak sopir
yang senang sekali mengobrol dan bercanda dengan penumpang saat mengemudi. Dua
orang kenek, satu bapak-bapak dan satu aa-aa, sudah hafal dengan jadwal turun
saya. Jika bis sudah berada di Jalan Cicadas, depan Balai Keramik, tanpa saya
minta mereka langsung mengetuk gagang besi dengan uang koin.






Kalau pulang, biasanya agak susah.
Saya turun angkot di Jalan Jakarta dan menunggu bis di sana. Tapi kalau numpang
Mas Yanto yang bawa motor, saya biasa turun di deretan toko kue Jalan Jakarta
dan membeli es krim kacang merah di Kartika Sari sambil menunggu. Jarang sekali
saya langsung bisa naik bis begitu turun angkot. Saya pernah menunggu selama 30
menit dan terpaksa pulang naik angkot Margahayu Ledeng!






Penumpangnya pun tidak tetap
seperti saat pergi. Hanya, sopirnya kadang-kadang sama, seorang laki-laki
berumur 35an dan bermata merah, yang sering telepon-teleponan pakai HP.
Beberapa kali dia didampingi seorang perempuan berambut panjang. Bikin bete,
karena sepanjang perjalanan mereka mengobrol terus, sehingga bis berjalan
saaaangat lama. Keneknya seorang pemuda yang bertampang kalem.






Selama jadi pengguna bis, banyak
kejadian tidak biasa yang saya alami. Ada kisah si Emak yang saya ceritakan di
blog sebelumnya. Pernah juga near death experience saat suatu hari
pulang kantor. Saat itu saya naik bis dengan si sopir mata merah. Di Jalan
Jakarta, dia ngetem lama sekali, sampai-sampai para penumpangnya betul-betul
seperti pindang. Setelah penuh, dia melaju dengan sangat kencang. Sampai di
Gasibu, dia melesat bagai kesetanan. Lebih parah, di perempatan Dago-Sulanjana,
dia hampir menyambar sebuah motor, menyalip bis Antapani-KPAD lain, memarkir
bisnya melintang di tengah jalan, lalu turun! Sopir bis yang disalip tadi juga
turun, dan mereka hampir saja berkelahi jika para kenek tidak menahan mereka.






Ibu-ibu dan para wanita sudah
menjerit-jerit panik sejak bisnya dibawa ngebut dari Gasibu. Tambah panik lagi
ketika hampir terjadi perkelahian. Saya juga gemetaran sejak tadi, cuma tidak
menjerit-jerit saja. Waduh, kalau saja pas ngebut tadi bisnya terguling atau
menabrak apa lah. Pulang tinggal nama deh.






Tadi pagi juga ada yang sedikit
aneh: bis yang saya tumpangi tidak ada keneknya. Bapak sopir juga kebingungan.
Kata si ibu pegawai PMI, di satu belokan Sarijadi atas, keneknya lari tanpa
bilang apa-apa. Saya menebak-nebak, kenek yang mana ya? Naik bis tanpa kenek
tentu saja merepotkan, karena para penumpang harus turun dari pintu depan dan
sebelumnya membayar kepada sopir. Yang lebih repot jika nggak membayar dengan
uang pas. Akhirnya, di depan Rektorat ITB bapak sopir memarkir bis, bangkit dan
menagih ongkos dulu, baru meneruskan perjalanan. Baru di Supratman, terdengar
suara uang receh bergemerincing. Kenek yang sudah bapak-bapak itu naik. Rupanya
dia menumpang bis Antapani-KPAD berikutnya, dan bis yang saya tumpangi tersusul.






Dengan wajah muram, sang kenek
langsung duduk di dekat sopir, lalu bercerita dengan suara pelan. Pak sopir
tampaknya kesal, tapi untunglah dia tidak ekspresif. Saya jadi ikut sedih
melihat wajah muram bapak kenek itu, karena biasanya dia sering tersenyum.






Saya juga pernah gagal menahan
tangis waktu malam-malam lewat Dago. Saat itu sudah jam 22.00 malam, hujan
gerimis, dan hawa dingin sekali. Waktu itu saya sedang dibonceng si AQ naik
motor. Di stopan bawah jembatan layang, saya melihat bapak penjual kerupuk
teman perjalanan pergi saya, masih menjajakan kerupuk tanpa jaket! Sayang, saat
saya sedang sibuk mengeluarkan uang, berniat membeli sebungkus kerupuknya,
lampu stopan sudah berubah hijau. Yang bisa saya lakukan hanya berdoa, semoga
jualan si bapak cepat habis dan dia bisa pulang ke rumah, mengganti baju, minum
teh hangat, lalu tidur dengan nyaman.






Bagi saya, jadi penumpang bis
Antapani-KPAD adalah seperti menonton film tentang kehidupan nyata di dalam
sebuah layar 360 derajat dan 4-dimensi ….





4 komentar:

  1. bener, may
    banyak episode yang bisa kita lihat sepanjang kita berada di dalam perjalanan, terlebih di dalam bis Antapani - KPAD....

    BalasHapus
  2. Mungkin seharusnya kita bikin tulisan tentang "Antapani - KPAD" chronicle, nya? Hehehehehe ... (tapi senang karena Sabtu kemaren berhasil naek beus baru dan sopirnyah memutuskan untuk naik di jembatan layang Pasteur & turun di Surapati. Udah mah duduknya genah, perjalanannyah cepat! Hahaha)

    BalasHapus
  3. Nteu, Sabtu kemaren ada acara kantor, gathering milis Qanita. Kan perginyah rada siang, jadi weh kesempatan ngasaan beus baru! Hikhikhik!

    BalasHapus