Jumat, 02 Juni 2006

FENOMENA MAKHLUK GANTENG YANG MENJADI ANOMALI DI HIMASTRON




Di antara segelintir mahasiswa astronomi ITB saat ini, ada
dua orang yang cukup “cemerlang”—maksudnya, biasanya sih mereka menonjol di
antara barudak yang pada umumnya dekil-dekil.




Mereka itu sama-sama orang Bogor, sama-sama berkacamata, dan
sama-sama kasep. Sungguh, mereka ganteng-ganteng. Sungguuuuuh!!!
Saya memuji dengan jujur, dari lubuk hati terdalam.




Dulu, waktu mereka baru aktif di Himastron, saya iseng
menomori mereka, jadi Asep 1 dan Asep 2. Tapi tidak ada alasan dalam menomori,
kenapa si ini harus nomor satu dan si itu harus nomor dua. No particular
order
lah.




Asep 1 adalah Muhammad Luthfi Agung Ginanjar. Ada yang
memanggilnya Agung, ada yang memanggilnya Luthfi, tapi di PSIK dia dipanggil
Anjar. Sebetulnya ada sebagian raut wajahnya yang mirip Ello (menurut si Bona
juga begitu), tapi ternyata banyak yang protes (padahal protes harus bayar
hahahaha).




Si Asep 1 ini berperawakan tinggi, badan sedang, kondisi
rambutnya yang lurus kemerahan tidak tetap: kadang-kadang botak seperti Cuplis,
kadang-kadang gondrong. Dulu sih hobinya memakai kupluk, sekarang entahlah. Daya
tarik lain dari makhluk ini adalah janggut kambing dan bulu-bulu kakinya—yang
menurut seorang oknum anggota Himastron “maskulin!”. Selain itu, dia cukup ngulik
komputer, jadi sering dimintai bantuan (saya juga sempat meminta bantuan
menghapus linux dari harddisc saya). Sekarang, dia memanfaatkan keterampilan
komputer grafisnya untuk Centaurus, majalah astronomi.




Karena sempat beberapa saat bersama-sama menjadi penghuni
Himastron dengannya, saya jadi tahu beberapa kebiasaan si Asep 1 ini. Dulu dia
jadi penghuni rumah kos di Taman Hewan, bersama si Asep 2. Tapi, kamar kosnya
sering dia tinggalkan, dan lebih sering menginap di Himastron. Jadi, kamar kos
hanya dijadikan tempat menyimpan barang saja.




Manusia satu ini hobi begadang, semalaman bisa nggak tidur
(nge-game, ngutak-ngutik komputer, dll) sementara paginya dia tidur. Ada
juga kebiasaan lain yang aneh untuk orang seganteng dia: jarang mandi! Pokoknya,
jika dia mandi, itu adalah peristiwa istimewa yang dirayakan oleh alam—dengan
gelegar guntur yang mengerikan, angin yang bertiup kuat-kuat, dan hujan deras.




Selain jarang mandi, kalau cukup memerhatikan si Asep 1 ini,
kita akan tahu kapan dia kehabisan baju. Soalnya, salah satu hobinya yang lain
adalah merendam cucian—dan malas mencucinya. Jadi kalau dia sudah memakai
baju-baju aneh (kemeja rapi, kaos gaul, dll), atau memakai jaket tanpa kaos
atau kemeja di dalamnya, berarti dia sudah tidak punya baju bersih.




Tapi, sungguh, saya berkata jujur, meskipun dia bau, jarang
mandi, orang lain kuliah dia tidur, hobi merendam cucian, dan sering memakai
jaket tanpa baju di dalamnya, si Asep 1 ini memang ganteng!






Makhluk ganteng kedua, yang dijuluki Asep 2 adalah Fikry
Maulana. Hanya saja, akhir-akhir ini dia lebih sering disapa “Freaky” daripada
“Asep” (lebih keren kali yeeee). Orangnya kalem, berkulit putih, bertinggi dan
berpostur sedang, dan orangnya rapi sekali. Mulai dari penampilan hingga
barang-barang, si Asep 2 ini selalu teratur.




Tutur katanya halus, agak berbeda dengan si Asep 1 yang
agak-agak “gordes” alias gorowok desa. Padahal, rumah Asep 2 ini malah
agak diskotik dari Bogor, yaitu di Ciomas. Sama seperti si Asep 1, Asep 2 ini
juga ngulik komputer. Sama jagoannya lah.




Sayang saya tidak begitu tahu kebiasaan-kebiasaan Asep 2
ini, soalnya ketika saya menjadi penghuni Himastron, dia sedang aktif-aktifnya
di GTV. Malah mungkin sampai sekarang.




Saya lupa kapan dia bergabung dengan Goerita Malam sebagai
pemain bass. Kalau sedang “latihan kering” di Himastron, dia sering
bersenandung. Menurut saya, suaranya cukup merdu kok hehe … cuma dia masih
nggak percaya diri mengeluarkan semuanya. Berapa kali saya dan si Bona
membujuk-bujuk dia untuk maju dan bernyanyi, jangan sembunyi di kegelapan saja.
Tapi dia tetap nggak mau. Padahal, kalau dia yang jadi frontman Goerita
Malam, mungkin band kami ini akan digila-gilai para fans wanita hahaha ….






Ternyata, penomoran makhluk-makhluk ganteng ini juga sempat
memancing sedikit kericuhan. Karena memang tidak ada alasan mengapa Agung
ditahbiskan sebagai Asep 1 dan Freaky sebagai Asep 2, teman-teman sering
bertanya, “Kenapa sih ada nomor 1 dan nomor 2?”




Biasanya, pertanyaan itu kami (saya dan Nata Pehul)
kembalikan, “Menurut kamu, mana yang lebih cakep. Agung atau Freaky?”




Dari beberapa cowok yang bertanya demikian dan kami tanya
balik, semua tidak mau menjawab dan berkomentar begini, “Masa’ cowok menilai cowok
juga. Nggak ah.” Lalu diam, tidak mengungkit-ungkit masalah penomoran itu
lagi—kecuali satu, si Ical. Dia bilang begini, “Si Fikry mah cakep, tapi kalo
Agung lucu.”




Hahahahahaha … penomoran kedua makhluk ganteng aset
Departemen Astronomi dan Himastron ini ternyata menghasilkan satu bukti—bahwa
si Ical itu …. (isi sendiri ah, saya mah nggak bertanggung jawab atas segala
kekacauan semesta akibat tulisan di blog ini:p)





Teh Tubruk, Kenangan yang Memabukkan

Barusan saya menyeduh secangkir besar teh tubruk.
Merknya Cap Botol—yang ada di toserba-toserba kecil dekat
rumah—meskipun ada referensi dari Jeng Antie yang orang Salatiga bahwa
lebih enak merek Goalpara atau 99. Begitu diseduh, aroma teh tubruk
yang khas segera meruap. Wangi dan damai, juga sedikit
memabukkan—karena mengingatkan saya akan waktu-waktu lampau.



Teh
tubruk yang diminum dengan cangkir enamel mengingatkan saya pada
masa-masa bersekolah di TK. Di TK Yayasan Beribu tempat saya sekolah
dulu, setiap hari semua anak makan hidangan yang sama. Ibu-ibu para
murid yang bergantian membuat, jadi kadang-kadang kami makan bubur
kacang hijau, besoknya kue, lalu besoknya lagi sup, dan seterusnya.
Hidangan itu selalu ditutup dengan minuman yang sama tiap hari: teh
tubruk dengan rasa manis yang samar, dihidangkan dengan cangkir tua
yang beberapa lapisan enamelnya terkelupas. Tambah sensasional ketika
saya ingat bagaimana lapisan enamel itu bersentuhan dengan gigi saat
minum, menimbulkan benturan lembut yang terasa akrab.



Tapi,
teh tubruk ini nggak begitu mengingatkan saya pada saat-saat kemping.
Soalnya, kalau kemping sih, jauh lebih praktis membawa teh celup.
Meskipun begitu, saya punya minuman favorit kalau sedang kemping:
oplosan teh celup panas dengan Segersari rasa jeruk nipis (Saya belum
pernah mencoba merek lain. Mungkin Nutrisari lebih oke). Pertama kali
saya minum oplosan ini saat sedang mendaki Gunung Halimun dari jalur
Selatan bersama tim pengembaraan 2000. Kalau tidak salah, minuman ini
diracik saat saya terpaksa mengisap rokok untuk mengusir dengungan
serangga di camp 4 (ough … saya trauma disengat odeng—lebah
kecil—pengalaman ini mungkin suatu saat akan saya ceritakan).



Kembali
lagi kepada bahasan semula, bagi saya, teh tubruk identik juga dengan
hujan deras. Waktu mengerjakan tugas akhir, saya sempat jadi penghuni
Himastron. Cukup lama, mungkin sekitar dua bulan. Biasanya, dalam
seminggu saya bisa lima hari menginap di Himastron, lalu dua hari
sisanya di rumah.



Di Himastron
itu dulu selalu ada sebungkus teh tubruk. Penyedianya ya sang hantu
penunggu Himastron, si Nyimas Siti Ulya (bwehehehe … si Nata pasti bete
banget disebut nama aslinya), meskipun kadang-kadang duitnya hasil
memeras para penghuni Himastron lainnya (buat sekalian beli gula).



Berada
di bawah atap kayu Himastron, di pelataran Labtek III lantai 4, tanpa
ada naungan atap kokoh lagi di atasnya, terasa cukup mengerikan—jika
sedang hujan deras. Angin bertiup kencang, air hujan menerpa atap dan
jendela, kadang-kadang merembes di sela-sela pintu, menggenangi
pelataran depan dan belakang, bahkan membasahi sepatu-sepatu yang
diparkir di luar (dan menjadikannya semakin bau, iukhhhhhh!).



Pada saat-saat seperti itu, biasanya kami menjerang air dengan heater
atau panci listrik milik si Tri. Setelah itu, kami menyeduh teh tubruk.
Setelah daun-daun tehnya mengembang, kami tambahkan gula. Lalu, teh
tubruk yang wangi, panas, manis, dan kental itu kami minum
bersama-sama. Bisa sambil menonton televisi, main gitar sambil
nyanyi-nyanyi nggak puguh, atau sekadar diskusi hal-hal aneh yang
kadang-kadang nggak penting banget.



Saat
selesai menulis ini, teh tubruk saya sudah hampir habis. Tinggal
sisa-sisa daun yang mengendap di dasar cangkir. Sudah dingin pula, tapi
masih wangi dan manis. Tapi, aroma teh tubruk ini masih membuat saya
mabuk … mabuk dalam kerinduan akan masa-masa lalu. Saat tak ada beban
pekerjaan, hanya memikirkan bagaimana caranya menghindar dari Pak Hakim
karena tugas akhir saya tidak kunjung beres! Hahaha ….


Tegalpanjang, Tempat Ilalang Bersenandung



Jika
saja punya uang banyak untuk membuat sebuah film atau video klip, saya
akan langsung memilih lokasi di: Tegalpanjang! Dijamin deh, mata kita
akan dimanjakan jika melihat masterpiece Sang Seniman Alam Semesta ini.




Jangan Mandi pada Siang Bolong



Tempat
nan indah ini terletak di sebelah selatan Bandung, di perkebunan teh
Pangalengan. Tepatnya, di antara Gunung Puntang dan Gunung Papandayan.
Perjalanan dari Bandung ke desa terakhir, desa Cibatarua, memakan waktu
sekitar lima jam jika menggunakan kendaraan pribadi. Jika menggunakan
angkutan umum, di Bandung kita menuju ke terminal Kebun Kelapa. Dari
Kebun Kelapa ke Pangalengan kita dapat menggunakan bus umum, lalu dari
Pangalengan ke desa Cisedep menggunakan angkutan umum. Tapi hati-hati,
angkutan dari Pangalengan ke Cisedep hanya ada hingga sore hari,
kira-kira jam 15.00 WIB. Dari Cisedep ke Cibatarua, kadang-kadang ada
truk angkutan hasil perkebunan. Tetapi jika kurang beruntung, apa boleh
buat, kita harus berjalan kaki selama kira-kira dua jam. Total
perjalanan dari Bandung dengan menggunakan angkutan umum kira-kira
tujuh jam!



Kita bisa
menginap di Cibatarua, tentu saja dengan seizin RT/RW setempat. Selain
di mesjid, kita juga bisa tidur di pos-pos tempat menyimpan hasil
perkebunan sementara. Tetapi, suhu udara di malam hari sangat dingin,
jadi harus selalu siap sedia peralatan tidur yang menghangatkan. Di
Cibatarua banyak terdapat warung-warung kecil dengan bapak-bapak dan
ibu-ibu penjual yang ramah. Di sana kita dapat menikmati teh tubruk
yang rasanya, mmm … nikmat sekali! Apalagi jika diminum panas-panas di
malam yang dingin. Tanpa gula pun, teh ini sudah sedap.



Ada
satu pesan dari bapak pemilik salah satu warung: jangan pernah mandi
siang-siang di Cibatarua dan sekitarnya! Awalnya kami berpikiran,
jangan-jangan berhubungan dengan takhayul dan kami bisa kualat jika
melanggarnya. Tapi ternyata si bapak dengan logis menjelaskan: air yang
mengalir dari pegunungan suhunya sangat dingin. Jika mandi pada pagi
hari, suhu udara masih dingin, jadi air akan terasa lebih hangat.
Tetapi jika mandi pada siang hari, saat udara sedang panas, wah …
ditanggung, orang akan kedinginan dan gemetar.



Biasanya,
setelah semalam menginap di desa ini, keesokan harinya, pagi-pagi
sekali, para pendaki telah berkemas. Kebanyakan bertujuan ke Gunung
Papandayan. Yang bertujuan ke Tegalpanjang belum terlalu banyak, karena
lokasi ini memang belum banyak diketahui orang. Selain itu, jalan
menuju lokasi agak sulit dilalui karena lumayan membingungkan.



Perjalanan Menuju Taman Bermain Peri



Dari
Cibatarua, kita menyusuri kebun teh dahulu menuju arah barat. Setelah
kira-kira satu jam berjalan, kita mulai memasuki hutan. Ada tiga sungai
kecil yang dilewati, airnya masih jernih. Segar sekali rasanya membasuh
tangan setelah berjalan jauh.



Medan
yang dilalui bervariasi, tidak melulu mendaki. Ada jalan setapak yang
menurun, mendatar, tapi kebanyakan menanjak. Suatu kali, ketika lelah
berjalan selama kira-kira empat jam, kami dikejutkan oleh kemunculan
seekor elang. Antara kaget dan takjub, kami dibuat terdiam karena sang
raja langit itu terbang dari pohon yang jaraknya dekat sekali, hanya
sekitar tiga meter. Mula-mula ia terbang berputar di dekat kami,
sekitar dua meter di atas kepala, kemudian ia mengepakkan sayapnya,
menuju matahari. Rasa lelah karena medan yang dilalui lumayan berat
serasa menghilang dari badan, dikalahkan oleh rasa takjub melihat elang
begitu dekat. Selain itu, terdengar juga suara-suara monyet, tapi
mereka tidak pernah menampakkan diri sehingga jenisnya tidak diketahui.



Setelah
sekitar lima jam berjalan, mendaki, menyusuri jalan setapak datar dan
menurun, kita akan sampai di suatu tanjakan yang curam. Hampir saja
rasa putus asa mengalahkan semangat diri. Tapi, di akhir tanjakan dan
begitu keluar dari rangkulan bayangan pohon-pohon besar, serasa melihat
taman bermain peri.



Sepotong Surga yang Jatuh di Bumi-kah?



Seketika,
terlihat suatu padang rumput yang maha luas, sekelilingnya dilindungi
oleh hutan dan kaki-kaki gunung. Tak ada yang bisa dilakukan, kecuali
diam sebentar, duduk melepaskan lelah, dan melemparkan pandangan
sejauh-jauhnya. Ilalang bagai menari ditiup angin, dan sungai berkelok
bagaikan ular raksasa penjaga padang rumput. Kata-kata tak akan cukup
untuk melukiskan perasaan di dalam hati, yang campur-aduk antara
takjub, lelah, ringan, dan macam-macam. Imajinasi langsung berkembang.
Alangkah cocoknya jika padang ilalang ini digunakan sebagai tempat
bermain peri-peri mungil yang bercahaya. Atau bahkan bidadari-bidadari
cantik yang bersayap. Membayangkan mereka berkejaran, atau melangkah
hati-hati karena tidak ingin merusak tempat yang sangat indah ini.



Setelah
puas memandang sekeliling, kami mulai menyusuri padang ilalang ini,
menuju ke sungai. Ternyata dari permukaan padang rumput ke dasar sungai
cukup dalam, kira-kira tiga meter. Pada musim kemarau air sungai tidak
terlalu banyak, dan sungai ini dapat diseberangi hanya dengan
melangkahinya saja.



Dari
sungai, mulailah kami mencari tempat yang aman untuk bermalam. Tentu
saja lokasi yang dipilih adalah di hutan yang terletak di sisi-sisi
padang ilalang ini, agar terlindung dari angin yang menusuk hingga
sumsum.



Ketika
malam tiba, kita dapat mendengarkan desiran angin yang menerpa ilalang,
bagai menyenandungkan tembang lirih. Serasa dininabobokan dengan
senandung ilalang.


Ada
sekelumit perasaan enggan ketika bersiap-siap meninggalkan padang
ilalang ini. Berada di tempat damai, terisolasi dari lingkungan,
apalagi lingkungan kota. Pertanyaan bersimpang-siur di benak, apakah
ini sepotong surga yang jatuh ke bumi? Tetapi, karena pulang menjadi
suatu kewajiban, yang dapat dilakukan hanya berjanji: suatu saat saya
akan kembali ke Tegalpanjang ….



Edie Brickell & The New Bohemians


Selain dipengaruhi Lisa Loeb, ada beberapa lagi musisi perempuan yang
memberikan pengaruh begitu besar dalam hidup saya. Kadang-kadang, saya
berpikir kalau hidup saya penuh soundtrack—seperti film Ally McBeal.

Salah
satunya Edie Brickell, saat dia masih bergabung dengan band-nya yang
bergaya hippies dan beraliran folk, The New Bohemians. Pokoknya,
masa-masa sebelum dia pindah ke aliran yang lebih ngepop—mungkin
gara-gara disunting oleh Paul Simon yang dulu beken dengan duo Simon
and Garfunkel.



Lagunya yang paling berkesan bagi saya adalah Oak Cliff Bra.



Sittin’ on the front porch in Oak Cliff with my bra



Watchin’ some cars go by



The lady with the baby with only one shoe walks by



The baby on her shoulder has his mouth open more than his eyes



Where is his other shoe?



….



Kesederhanaan
yang begitu memikat. Membayangkan Edie duduk dalam keremangan bayangan
atap beranda, di Bukit Oak (saya bayangkan bukit itu penuh pohon Oak),
menyenandungkan melodi santai yang keluar dari hati seorang perempuan,
sambil hanya memakai bra :p.



Bagi
saya, lagu ini menyejukkan hati. “Mengheningkan cipta” di keteduhan
adalah hal sederhana yang bisa mengobati hati yang terasa rusuh, lelah,
setelah berjam-jam berkutat dengan persoalan-persoalan serius. Mungkin
seperti terapi “membaca di kloset” untuk saya.



Edie juga mendefinisikan cinta dalam lagunya yang berjudul Keep Coming Back. Dia berteriak,



Desperately tryin’ to get you, desperately tryin’ to get you, get you off my mind!



But you keep coming back! Keep coming back, back, back!



Keep coming back!



Lalu, dia meneruskannya dengan lembut,



Love is never easy to lose my friend.



To lose my friend. To lose my friend ….



Dalam hal ini, Edie sependapat dengan saya.



Lagu-lagu
patah hatinya juga sepertinya menyanyikan perasaan saya (hahaha … tapi
sudah lama sekali saya tidak patah hati :p). Edie bilang begini, dalam
lagu Circle,



I quit, I give up. Nothing’s good enough for anybody else.



It seems …. And being alone is the best way to be.



When I’m by myself is the best way to be.



When I’m all alone is the best way to be.



When I’m by myself, nobody else can say goodbye …



Everything is temporary, anyway ….



Dalam Me By the Sea, Edie juga menyanyikan kesendirian.



I'm in the habit of being alone
I try hard to break it I can't on my own



I'm glad no one's here just me by the sea
I'm glad no one's here to mess it up for me
I'm glad no one's here just me by the sea
But man, I wish I had a hand to hold …




Sendirian
memang enak. Jalan kaki sendiri, ke toko buku sendiri, nonton bioskop
sendiri, makan sendiri. Bebas, tanpa harus bertenggang rasa dengan
orang lain yang memiliki keinginan berbeda. Semua tergantung saya
sendiri, apakah sudah puas atau lelah. Tapi, tentu saja kadang-kadang
saya tidak ingin sendiri.


Saat ini, saya
merindukan Edie kembali bernyanyi dengan The New Bohemians. Atau,
setidaknya seperti dulu, dengan petikan gitar akustik dan senandung
yang memabukkan. Edie, Edie ... boleh dong saya GR, karena sepertinya
dia begitu memahami perasaan saya. Betul nggak, Mbak Edie? Hehehe ....

When All the Stars were Falling


Salah satu yang membuat saya sadar bahwa saya seorang perempuan adalah … para musisi wanita.

Tetapi,
bukan yang cuma nyanyi doang. Biasanya, mereka memainkan paling sedikit
satu jenis alat musik juga sambil bernyanyi. Salah seorang
penyanyi-musisi yang lagunya paling membuat saya terkesan adalah Lisa
Loeb—sayang setelah lagu pertama "Stay" dia sudah nggak berkarya
bersama band-nya lagi, Nine Stories Band. Lagu ini berjudul When All The Stars Were Falling, termuat di albumnya yang berjudul Tail.



Liriknya begini:



When all the stars were falling I reached up like you said
All the stars were falling, one hit me in the head
And I fell down, down, down, I fell down, down



When all the stars were falling, they fell from above
And I thought of hate, and I thought of hate and then I thought of love
And I fell down, down, down, I fell down, down



And I've learned how to dance from a Vincent Van Gogh
And the nights were wrapped in a white sheet
And now no one even says hello, 'cause I couldn't stand on my two feet



I fell down, I fell down
Down, down, down



Now the peace you will find, in your own you have found
The lights of the city are the stars on the ground
"I may not be a quaalude living in a speed zone,"



But I could be restful, I could be someone's home if I fell down
And I fell down, down
Now all the stars have fallen ….



Menurut saya, lagu ini adalah kebalikan lagu Don’t Stop Me Now-nya Queen yang juga sangat saya sukai—I’m
burning through the sky, yeah …. Two hundred degrees, so why they call
me Mister Fahrenheit. I’m travelling with the speed of light, I’m gonna
make a supersonic man out of you!



Mendengarkan Don’t Stop Me Know
selalu membuat semangat saya tetap menyala, melarang saya untuk
kehilangan gairah hidup, dan memacu saya untuk terus meraih segala
keinginan dan mewujudkan obsesi yang rasional. Tapi, When All The Stars Were Falling memiliki efek lain—meredam “bara di dalam dada”.




Mungkin, ada beberapa interpretasi terhadap lirik lagu ini. Tapi, saya
punya interpretasi sendiri. Lagu ini bercerita tentang seorang
perempuan—karena penciptanya Lisa Loeb toh—yang ingin meraih banyak
cita-cita, ambisius. Tetapi, di tengah perjalanan, ia mengalami suatu
kendala besar. Akhirnya, ia tidak bisa mewujudkan keinginannya.




Ia jatuh, terpuruk, tidak dipedulikan. Hanya karena ia bukan
“seseorang”, hanya karena ia bukan pemegang kendali keadaan sekitar. Ia
juga bukan quaalude—yang berasal dari frase 'quiet interlude'
dengan tambahan 'aa', suatu kamuflase nama methaqualone, obat
antidepresan—sesuatu yang bisa mengurangi depresi dan banyak dicari
meskipun ilegal.

Tapi, perempuan ini sadar akan sesuatu—ia
bisa menjadi seseorang lain dengan keadaannya ini. Mungkin kedamaian
yang ia cari selama ini nggak usah dicari jauh-jauh. Mungkin keadaannya
saat ini adalah kedamaian baginya. Selain itu, jika ia “jatuh”, nggak travelling with a speed of light, ia bisa jadi “rumah” bagi seseorang. Atau mungkin bagi beberapa orang.




Mendengarkan lagu ini dan meresapi liriknya membuat saya berpikir: ada
waktunya bagi setiap orang untuk meninggalkan ambisi pribadinya, untuk
bertenggang rasa terhadap orang-orang di sekitarnya—meskipun ia
bagaikan “jatuh” karena mimpi-mimpinya tidak terwujud.






Sekarang,
siapa yang tahu kapan pastinya saya
betul-betul "kejatuhan bintang"? Bisa aja besok atau taun depan atau
sepuluh taun lagi hahahahahahaha .... Meskipun tentu saja, sebagai
mantan mahasiswa astronomi "murtad" yang beruntung bisa lulus akhirnya,
saya
tahu bintang jatuh itu meteor. Dan, meteor itu adalah suatu benda
langit, mungkin berupa batuan atau kerikil, atau bahkan partikel debu,
yang masuk ke dalam atmosfer bumi dengan kecepatan tinggi. Gesekan
dengan atmosfer bumi menyebabkan panas dan nyala api, seperti kalau
kita menggesekkan korek api ke bagian samping kotak bungkusnya. Nah,
itu yang membuat meteor menyala bagaikan bintang jatuh (nah, apa coba
bedanya meteor dan komet? Owgh, plis duech ....)



Kamar Mandi dan WC



Kamar mandi dan isinya adalah obsesi saya sejak kecil, bahkan sejak
baru bisa duduk untuk buang air besar di kursi berlubang. Barangkali,
kursi ini juga mendukung terciptanya kegemaran saya akan kamar mandi
beserta isinya.

Kursi istimewa ini warisan dari
si Abang, yang juga saya wariskan kepada sepupu-sepupu yang lebih muda.
Sebetulnya, modelnya biasa saja. Terbuat dari kayu dan besi, bercat
putih. Yang istimewa, kursi ini punya meja berengsel yang bisa
dibuka-tutup, dan alas duduknya juga berengsel. Jika lapisan alas duduk
ini dibuka, akan tampak sebuah lapisan berlubang, seperti kloset duduk.
Cukup menyediakan pispot di bawah, kegiatan buang air besar akan sangat
menyenangkan bagi anak-anak kecil. Apa lagi, sambil melakukan kegiatan
itu, si Emak menyediakan benda-benda menyenangkan—buku-buku, kertas,
pensil, atau alat tulis lain. (Sangat multiguna, karena sambil buang
air besar kita bisa membaca, menggambar, menulis, bahkan makan!
Hahahaha ... :p)



Sejak bisa mengingat, saya
selalu senang jika orang dewasa di sekitar saya (orangtua, nenek, uwak,
atau kakak sepupu) menggambar dua jenis objek: teko dan keran. Sampai
sekarang juga saya menyukai bentuk teko, tetapi saya lebih menyukai
keran. Seiring waktu, kesukaan saya terhadap keran pun berkembang; saya
mulai menyukai kloset, wastafel, bathtub, shower, bidet, dan benda-benda lain di kamar mandi.



Karena
itu, saya mencoba untuk ikut ujian seni rupa, berharap diterima di
desain interior. Tapi, garis hidup menentukan kalau saya harus
berurusan dengan hal yang lebih besar lagi: alam semesta beserta
isinya. Mengecewakan memang, tapi, kecintaan saya terhadap kamar mandi
nggak bisa dibendung.



Mungkin, bagi
orang-orang yang mengenal saya, kecintaan ini hanya salah satu bentuk
keisengan untuk mengisi waktu, atau untuk menghabiskan kertas bukom
Himastron (sudah berapa bukom ya, yang saya gambari dengan gambar kamar
mandi?). Atau, hanya sebuah lelucon untuk menceriakan hari-hari penuh
kejenuhan, saat enam setengah tahun belajar konsep-konsep astronomi dan
rumus-rumus turunannya.



Tapi, bagi saya,
kamar mandi adalah ruh kehidupan. Kamar mandi adalah suatu penemuan
canggih dan berguna, yang bisa membuat manusia menjadi lebih baik dari
sebelumnya. Kamar mandi adalah simbol hal-hal berguna yang seringkali
diabaikan, atau disimpan di belakang, dan tidak dianggap penting.



Di kamar mandi, manusia bisa membersihkan diri. Dengan bak dan gayung, shower, atau bathtub. Kloset
dan bidet berguna untuk mengeluarkan kotoran sisa metabolisme tubuh
manusia. Apa jadinya kalau tidak ada kamar mandi dan WC? Mungkin kulit
kita hitam penuh daki dan wajah kita ungu karena konstipasi. Atau, kita
terpaksa menggali di kebun belakang atau tanah kosong untuk melepaskan
hasrat terpendam. (Uh, pekerjaan ini begitu menyebalkan, terutama kalau
kita cuma bersenjata golok. Susah kan, menggali tanah dengan golok?
Lebih baik bawa sekop kecil hehehe)



Bagi
beberapa orang, kamar mandi bisa jadi sarana terapi yang menenangkan.
Bayangkan, setelah seharian terpanggang sinar matahari dan hawa panas
kota besar, betapa sejuknya masuk ke kamar mandi, mendengarkan
tetes-tetes air di bak yang menenangkan, dan menyiram tubuh dengan air
segar.



Kamar mandi juga bisa jadi sarana
hiburan—menyanyi atau membaca. Efek akustik yang dihasilkan kamar mandi
lebih glamour dibandingkan dengan ruang-ruang biasa. Suara kita akan
jadi lebih bergema, bagaikan menggunakan perangkat audio elektronik
(Sst… saya pernah mencoba bermain gitar di kamar mandi. Hasilnya oke
banget!). Membaca juga menjadi hiburan yang menyenangkan, asal kamar
mandi yang kita gunakan layak pakai (setidaknya, ada tempat untuk
menyelipkan bacaan setelah selesai buang air) dan kita cukup terampil
(mencari cara agar buku/majalah/tabloid/koran tidak basah terciprat
air).



Dan, yang paling mencengangkan dari
kamar mandi adalah … fungsinya sebagai tempat kontemplasi dan berpikir.
Begitu banyak perenungan yang bersifat introspektif dan ide-ide
cemerlang yang bisa muncul saat kita bengong sambil bertengger di atas
kloset. Saya sendiri mengalaminya—waktu akan sidang sarjana. Beberapa
hari sebelum sidang, saya tidak bisa menemukan pemecahan suatu masalah
(dan malu bertanya kepada dosen pembimbing. Yang bener aja, masa’
seminggu sebelum sidang baru nanya?). Sudah berhari-hari saya berpikir,
bagaimana bisa seperti itu? Karena apa?



Jawabannya
tiba-tiba muncul, pada pagi hari sebelum berangkat sidang, saat
bertengger di kloset. Rasanya bagaikan Archimedes, yang juga menemukan
jawaban atas pertanyaannya saat sedang berendam di bak mandi. Setelah
kejadian itu, kecintaan saya terhadap kamar mandi semakin bertambah.



Sampai
sekarang, saya suka membeli majalah interior hanya untuk mengumpulkan
foto-foto kamar mandi. Dan jika ada yang bertanya cita-cita saya apa,
jawabannya pasti: desainer interior khusus kamar mandi. Yah, setidaknya
khusus untuk kamar mandi di rumah saya sendiri kelak.


Jadi,
suatu saat, jika teman-teman menemukan sebuah rumah mungil dengan kamar
mandi besaaaaaar (kalau memungkinkan sih setengah dari luas rumah
adalah kamar mandi) dan nyaman, penuh buku dan majalah, dengan hiasan
bunga-bunga dan tanaman segar, bahkan ada gitar, mungkin itu adalah
rumah saya. Amiiiiiiin ….


Siksaan Batin Lebih Dahsyat daripada Siksaan Fisik

Sebetulnya, sejak mengisi formulir UMPTN, saya sudah tahu jika astronomi hanya menerima sedikit mahasiswa.Tapi, karena nggak menyangka sedikit pun akan masuk ke jurusan itu (karena milihnya juga dengan alasan: passing gradenya lebih rendah daripada arsitektur, dan nggak banyak kimia-nya), hal ini nggak begitu mengganggu pikiran.

Waktu pendaftaran ulang, saya juga belum merasa aneh dengan kondisi ini. Dari lima belas mahasiswa yang diterima, yang mendaftar ulang ada tiga belas orang. Baru terasa aneh ketika keluar dari GSG, karena anak-anak jurusan lain disambut oleh kakak kelas mereka. Malah ada beberapa yang setengah dikerjai dan setengah dipaksa. Sementara, nggak ada seorang pun mahasiswa senior yang meneriakkan “Astronomi!” di tengah hiruk pikuk penyambutan mahasiswa baru. Ya sudah, saya melenggang pulang dengan cuek.

Setelah beberapa saat kuliah, barulah kami mulai mengikuti program kaderisasi dan interaksi dengan Himastron. Biasanya dilakukan setiap hari Minggu pagi, sekalian olahraga.

Interaksi kami nggak seberat teman-teman jurusan lain. Lebih banyak game, simulasi, menyusun makalah, presentasi, dan yang paling dahsyat adalah: menggambar konstelasi yang dikenali pada malam hari. Saya masih ingat, jam dua pagi saya keluar rumah, ditemani si Papap yang memang hobi begadang, untuk menggambar rasi-rasi di langit. Boro-boro ketemu, namanya juga di kota, banyak polusi cahaya! Saat sedang bingung mencari-cari rasi yang saya kenal, seorang petugas ronda lewat dan bertanya, “Nuju naon, Neng?” Hahahaha … sungguh materi interaksi yang aneh!

Kebetulan, saat itu kaderisasi di ITB sedang bermasalah. Hasilnya angkatan di atas kami, ’96, belum dilantik jadi anggota Himastron. Akhirnya, interaksi kami digabung. Tetap saja, dua angkatan digabung nggak bisa mengalahkan satu angkatan jurusan lain. Kami hanya berlima belas orang, karena nggak semua ikut acara akhir dan pelantikan.

Meskipun hanya bersedikit dan fisik kami nggak begitu banyak digojlok, acara akhir itu terasa berat. Bayangkan, kami disuruh datang sore hari untuk upacara pelantikan, di pelataran belakang Himastron, labtek III lantai 4, di kampus ITB. Setelah itu kami disuruh pulang, tapi dibekali tugas: meresensi buku, mencatat isi Dunia Dalam Berita di TVRI, dan mencatat berita malam di RRI. Besoknya, kami harus datang jam 5 pagi. Waktu itu darah rendah saya agak kambuh, jadi setelah minta izin saya datang jam 7 pagi. Yang lain sedang berolahraga, jadi saya menunggu mereka kembali.

Setelah itu, mulailah materi-materi maraton—game dan segala macam simulasi kekompakan. Lokasinya bermacam-macam, kadang-kadang di Labtek Elektro, di Oktagon, dan di Perpustakaan Pusat. Saat pindah dari Oktagon ke Perpustakaan Pusat, kami harus memakai ponco dan berbaris. Padahal, saat itu tengah hari, cerah ceria, dan banyak mahasiswa yang berkeliaran! (Kalau dalam bahasa Spanyol sih kami menyebutnya “mentrang-mentring”:p) Ya ampuuun … plis duech. Gimana nasib pergaulan kami selanjutnya? Dan mulailah siksaan batin pertama.

Setelah selesai acara itu, sekitar jam 4, kami disuruh pulang. Hah? Disuruh pulang? Padahal habis maghrib kami disuruh kumpul lagi. Tanggung! Si Abang sampai bingung dan bertanya, “Kok ospeknya aneh banget sih? Pulang-pulang melulu!”

Waktu itu, saya menunggu-nunggu dengan penasaran, kok kami nggak dibawa ke lapangan sih. Padahal persiapan sih sudah lengkap di dalam ransel. Saya kira, inilah saatnya.

Eh, ternyata, kami hanya disuruh kumpul di pelataran depan Himastron, lalu disuruh berbaris. Kemudian, kami disuruh menghibur para senior! Pertama, kami melakukan usul Heri ‘96 untuk bernyanyi lagu anak-anak sambil menari. Setelah di-huuuuu oleh para senior, kami sepakat untuk mengganti atraksi. Iyam puisi, sementara kita bergerak-gerak di belakangnya membuat visualisasi puisi. Ya Tuhan … inilah siksaan batin berikutnya.

Setelah para senior sudah puas memarahi kami (meskipun garing sih:p), kami disuruh menutup mata, lalu dipisah-pisah. Oh, ternyata kami digiring berkelompok ke pos-pos yang ditempati oleh panitia dan swasta.

Pos satu ada di pintu jurusan, pos dua ada di pintu depan sekretariat Himastron, pos tiga di dalam sekretariat Himastron, dan pos empat di pelataran belakang Himastron.
Setelah melewati pos-pos itu, yang kebanyakan isinya hanya wawancara dan tanya jawab, kami disuruh berbaris lagi. Lalu kami dilantik.

Hanya ada seorang panitia yang menggebrak meja saat kami dinyatakan bisa dilantik jadi anggota Himastron. Tapi sungguh mengibakan, yang lain cuek beibeh!

Ya sudah, itu saja. Setelah itu kami disuruh pulang. Jadi kapan ke lapangan? Nggak pernah! Kami terlalu siap untuk kegiatan dan hukuman-hukuman fisik, juga tempaan-tempaan mental yang dahsyat. Tapi, kenyataan berkata lain. Ternyata, ketua Himastron saat itu nggak mau mengambil risiko bermasalah dengan jurusan dan rektorat.

Yang mengagumkan, anggota dua angkatan itu tumbuh dengan mental baja. Mungkin karena siksaan batin jauh lebih berat daripada siksaan fisik! Hahaha ….

(Aduh, sayang nggak punya foto-foto digital waktu acara akhir itu. Foto biasa sih ada, tapi di Himastron. Jadi, blog ini nggak bisa dilengkapi dengan foto-foto acara supergaring tea hekhekhek ...)