Selasa, 03 Juli 2007

Salon Mariani

Daripada ke salon-salon mahal, saya lebih memilih ke salon dekat rumah saya, namanya Salon Mariani. Mariani ini nama pemiliknya. Gadis Batak, usianya lebih tua setahun dari saya. Dia mengerjakan segala sesuatunya sendiri, mulai dari mengeramasi, menggunting, meng-creambath, memblow, mengeriting, melulur, melakukan facial, hingga menyapu sisa-sisa rambut di lantai.

Biayanya murah. Gunting rambut dengan cuci dan blow saja cuma dua puluh ribu. Apalagi untuk pelanggan, dia mematok harga lima belas ribu saja. Hasil potongannya sih standar lah, tapi sudah memadai untuk orang-orang seperti saya—yang potong rambut bukan untuk mejeng di majalah atau televisi, hehehe ….

Hanya saja, kelebihannya adalah Mariani sendiri. Dia ini ceriwis dan sok akrab dengan para pelanggannya. Tapi, bukan ceriwis dan sok akrab dalam arti negatif—berbicara dengan Mariani menyenangkan. Buktinya, kalau kita sedang “dikerjai” di salonnya, banyak orang yang menyapa Mariani dari luar pintu yang terbuka. “Hai Mar!” “Kakak!” dan sebagainya.

Mungkin selain karena murah, itu yang membuat salon milik Mariani ini banyak pelanggannya. Bayangkan, saya datang ke sana untuk potong rambut pagi-pagi. Eh, ternyata jadwalnya sudah penuh sampai jam tujuh malam! Akhirnya memang harus membuat janji dulu sebelumnya. Si Emak bertanya, kalau buru-buru, kenapa nggak ke salon lain saja di dekat situ juga? Hmmm … lebih baik saya menunggu sampai malam. Bukan apa-apa, saya pernah ke salon lain yang di dekat situ juga. Mungkin potongan rambutnya sama saja sih, tapi ada sesuatu dari Mariani yang nggak dimiliki oleh salon lain itu.

Nggak tahu apa. Saya sendiri nggak bisa mengungkapkannya. Hanya saja, kalau saya menyerahkan kepala saya ke Mariani, saya merasa “dimanusiakan”. Bukan sekadar kepala berambut yang dijadikan objek eksperimen para penata rambut, yang protes atau permintaan khususnya kadang-kadang nggak didengar. Mau coba ke Salon Mariani? Kalau mau ke rumah saya lewat pasar, pasti melihat spanduk kuningnya yang sederhana kok, di dekat Indomaret. Tapi bikin janji dulu ya … hehehe.

 

Catatan

Salon Mariani terdengar cocok kan untuk sebuah salon kecantikan. Nggak seperti Salon Agus, langganannya Sitorus di daerah Cikutra, hahahaha … (Dan ya ampuuuun, Sitorus itu banggaaaa sekali dengan Salon Agus-nya itu! Dasar cewek brengsek, hahahaha)

 

16 komentar:

  1. Mungkin karena dia cewek batak plus namanya mirip sama kamyu, umay ...
    Makanya lo gak bisa pindah ke lain salon:-P

    BalasHapus
  2. Ah iya.. Pasti ada misi Batakisasi terselubung. Hahahaha...

    BalasHapus
  3. ato karena sok akrab nya itu, maria kan identik dengan orang-orang sok akrab, contoh lainnya yah si bibing-bibing itu, hi hi hi hi

    BalasHapus
  4. hmmm ... apakah itu menjelaskan juga fenomena mengapa aku sok akrab sama dumaria pohan, oknum batak kuncen YM? hahahahahahaha

    BalasHapus
  5. yah mungkin ... aku mau bikin persatuan batak murtad sarijadi raya hahahahahahaha

    BalasHapus
  6. yah ... begitu juga dengan seorang oknum batak boru pohan yang masih suka online jam tiga pagi, hahahahahahahahahahahahahaha

    BalasHapus
  7. kalo mas agus yang bukan di salon agus, suze ... tiap aku potong selalu ditanyain, "bagus rambutnya, tadinya potong di mana?" (di dia2 juga, dasaaarr). kalo sama temenku, nanyanya selalu, "kamu orang garut ya?" tapi sekarang aku ga pernah mengunjunginya lagi, secara potongan rambut dia berkiblat pada agnes monica.

    BalasHapus
  8. hahaha ... mas agus itu narsis dan sompral!

    kok aneh gitu sih, ditanyain orang garut? padahal jawab aja, saya orang tarogong atau orang bayongbong mas ... mungkin doski juga orang garut hahahahahaha

    tapi aku yang geli kalo ke salon D & D, secara yang punya dan yang suka namanya MAS DINDIN! hahahahahahahahahahahahaha

    BalasHapus
  9. waaaa...
    baru ditulis ama umay, eh, ternyata udah harus booking dulu
    waks...
    padahal kan aye can keunal sama mariani

    hahahhahaha

    ke salon maria lubis aja deh

    BalasHapus
  10. ow yaaa ... tuh kan, mariani itu gaul pisan hahaahahaahaha

    aku juga dulu sempat praktik menyalon, korbannya banyak tuh, temen-temenku yang pake jilbab, terus seorang temenku ngeratain rambutnya doank, terus cowok-cowok gpa yang rambutnya pengen dimodel shaggy ... ahhhh, jadi inget cowok-cowok centil itu hahahahahaha

    BalasHapus
  11. gimana kalo Salon Hasyim di ciumbuleuit, suze??

    BalasHapus
  12. hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha ...

    kalo salon hasyim nggak akan laku
    harusnya salon hasheem khan
    biar laku di antara orang-orang indihe hehehehehehe

    BalasHapus
  13. coba kamu bikin salon edward, pasti ... nggak laku, hikhikhikhik ...

    (atau kebalikannya, laku di kalangan tertentu, hohoho ... *inget pembahasan di milis himastron?* hikhikhik)

    BalasHapus