Tampilkan postingan dengan label ettygadisjujur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ettygadisjujur. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Mei 2009

SAKYA LAIL WAHIDIN, Si Botak (yang dulu) Berambut Gondrong




Pas hari ketujuh, si Lumba-Lumba dikasih nama dan digunduli. Yang ngegundulin sih Kang Deni, tukang cukur langganan si Papap yang buka lapak di pengkolan, karena doski udah biasa nyukur bayi.

Dan akhirnya setelah perdebatan cukup panjang, muncul juga deh namanya: Sakya Lail Wahidin.
Sakya itu dari bahasa Sanksekerta, artinya kebahagiaan, ini sumbangan emaknya.
Lail itu dari bahasa Arab, artinya malam, pemberian bapaknya.
Wahidin itu berarti dia anak Pak Dindin, bukan anak Pak Soleh (Karena selalu didoain semoga menjadi anak Soleh ... hihihiiiii).

Tampangnya jadi berubah garang gitu setelah dibotakin, hiks hiks .... Nggak seimut dulu, huhuuuuuuu :(

Rabu, 06 Mei 2009

Malam Pertama Itu Nggak Ada Apa-Apanya ....

Akhirnya, si Lumba-Lumba yang ditunggu datang juga. Terlalu cepat dua minggu dari perkiraan sih, meskipun kata dokter, sejak usia kandungan 36 minggu juga dia sudah cukup umur buat lahir.

Kamis malam, tanggal 30 April, bagian atas perut saya kok sakit ya. Sempat berkeluh kesah sama si Aq, tapi kami sama-sama berpikir, itu sih masuk angin biasa. Dan besernya semakin heboh, sampai akhirnya terakhir mau tidur, saya nggak kuat nahan pipis sedikit, dan memutuskan untuk memakai pembalut.

Ternyata eh ternyata, besok paginya, saya bangun dengan perasaan aneh, karena pembalutnya kok basah. Waktu diperiksa, ternyata sudah keluar lendir dengan sedikit darah. Si Aq langsung nyuruh saya siap-siap berangkat. Tanpa mandi (yah, namanya juga bapak-bapak waterproof, hihiii). Tapi, waktu laporan sama si Emak, saya disuruh mandi, BAB, dan segala macam dulu, karena si Emak lebih pengalaman, pasti nggak akan brojol cepat-cepat (Tapi si Aq tetap nggak mandi. Sialan).

Jam tujuh pagi sudah sampai di Hermina (karena cuma 10 menit dari rumah), lalu saya disuruh naik kursi roda. Padahal perasaan masih bisa jalan deh, tapi ternyata enak juga nggak perlu jalan kaki, hehehe ....

Sampai di Ruang Bersalin, perut saya langsung dipasangi monitor untuk menghitung detak jantung bayi dan memeriksa kadar mulas. Waktu itu sih belum mulas-mulas. Tapi, detak jantung janinnya kok sempat turun sampai 60-an. Padahal normalnya di atas 100. Jadi saya disuruh makan dulu.

Agak siang, akhirnya Dr. Anita datang, dan sekali lagi perut saya dipasangi alat itu. Kali ini juga, detak jantung si Lumba-Lumba sempat turun sampai 60-an, dan gerakannya jarang. Kata Dr. Anita, kalau begini terus, kemungkinan besar harus caesar. Aduuuh ... saya ogah, karena mahal, hihihiiiii .... Akhirnya diputuskan kalau saya harus diinfus cairan (bukan obat) dan dikasih oksigen murni, supaya detak jantung si Lumba-Lumba bagus lagi.

Saat itu juga, saya mengalami kejutan pertama. Periksa dalam, booook .... Selama jadi pasien Dr. Anita, saya belum pernah diperiksa dalam. Pernah sekali sih, waktu periksa kista, itu pun nggak dalem-dalem dicoloknya, oleh dokter pengganti Dr. Anita. Karena saya tegang, Dr. Anita sempat betek juga, karena tangannya kejepit dengan kuat, hihiii .... Dan kembali keluar ancaman, kalau saya nggak bisa kooperatif juga, ya memang sebaiknya dicaesar saja. Tapi waktu itu sempat ketahuan kalau sudah bukaan satu. Dan saya disuruh puasa, untuk siap-siap operasi caesar (Untung tadi sarapan bihunnya licin tandas, hihiii).

Sekitar jam tiga, saya kembali diperiksa. Syukurlah kali ini, yang kebagian jaga bidan yang baik sekali, dan setelah berbekal pengalaman dicolok-colok, saat itu saya sudah siap mental, meskipun si Aq yang jadi korban dijambak-jambak. Ternyata sudah bukaan tiga. Detak jantung si Lumba-Lumba juga bagus, tapi dia kok malas bergerak ya. Saat itu, sudah mulai kerasa mulas sedikit.

Sekitar jam setengah enam, kembali perut saya dipasangi alat, dan kembali (doh) dicolok-colok. Meskipun sudah berpengalaman, tapi kali ini kembali menyebalkan, karena ternyata sudah bukaan enam menuju tujuh. Tapi kok belum mulas-mulas amat ya, masih bisa ditahan dengan mempraktikkan latihan pernapasan (yoga-nya ternyata bermanfaat kok, hihihiiii). Dr. Anita kembali datang, dan saya disuruh buka puasa, karena nggak perlu caesar. Cuma, melihat mulas-mulas saya masih ringan di bukaan yang sebegitu, akhirnya diputuskan kalau saya diinduksi.

Gerakan si Lumba-Lumba juga nggak heboh, padahal biasanya dia heboh megal-megol ke sana kemari. Mungkin dia demam panggung, hihihiii .... Atau mungkin pada saat-saat menegangkan, dia memutuskan untuk kebluk (seperti emak dan bapaknya). Sampai dirangsang dengan bel berbunyi "TOOOOOT" keras, dia cuma megol sedikit, lalu diam lagi, hihihiiii ....

Jam demi jam berlalu, si Aq bolak-balik keluar untuk merokok, jadi yang jaga gantian, kadang-kadang si Emak atau ibu mertua. Sekitar jam delapan, mulailah mulas yang nyaris nggak nahaaaaan. Saat itu si Emak pulang, karena si Papap nggak ada yang jaga. Jadi, yang menunggu hanya si Aq dan ibu mertua.

Sekitar sebelas malam, si Emak datang lagi, karena nelepon si Aq dan dilapori kalau saya
sudah bukaan sembilan menuju sepuluh. Waw ... saat itu mulasnya uedaaan! Karena si Emak dan ibu mertua saya bilang "Kalau sakit jangan ngeluh, istighfar atau dzikir aja!", saya menurut. Tapi pas mulasnya heboh sekali, tanpa sadar saya teriak keras banget "ASTAGHFIRULLAH!" (dan si Aq langsung bisik-bisik, ya ampun Dek, keras amat teriaknya, sambil ngetawain. Sialan!)

Karena memang kurang tidur dan lelah, jadi di antara mulas itu saya sempat ngalenyap---tertidur sejenak tanpa sadar. Dan mengigau segala, hihiii .... Dalam bayangan, saya sedang berkata, "Meskipun air ketubannya ...." lalu tanpa sadar, saya bilang begitu, dan si Aq langsung heboh nyari air minum. Dan kalau episode mulasnya menghilang, saya seringkali tertidur. Yah, namanya juga Geng Kebluk hehe ....

Saat itu juga saya diajari mengedan oleh bidan (lho kok berima?), tapi karena sudah mulas sekali, nggak sempat minta gaya macam-macam. Setelah beberapa kali mengedan, yang keluar kok malah anak tiri, hihihiiii (Lewat belakang gitu lhuwokh ... tapi kata ibu-ibu sepergaulan, sekarang memang gayanya begitu, jadi nggak dikasi obat pencahar sebelumnya, biar lebih alamiah).

Sekali lagi, yoga prenatal memang bermanfaat (eh, pada beli dong bukunya ... ya nggak, T' Ujie? Hihihiii). Meskipun nggak menghilangkan rasa sakit (itu mah obat bius atuh), tapi ternyata otot-otot saya jadi lebih kuat, dan napas lebih panjang. Jadi bisa terus mengedan dengan penuh semangat.

Dan akhirnya, jam 23.50, Jumat malam tanggal 1 Mei, lahirlah si Lumba-Lumba (yang sampai
sekarang belum bernama, soalnya dikira masih ada kesempatan nentuin nama semingguan
lagi, hihiiii). Kelahirannya diiringi ribut-ribut suara demonstrasi karyawan Hotel Grand Aquila
yang ada tepat di seberang RS. Hermina, sekalian May Day.

Saya juga mau mengulang nasihat Ibutio kepada para pengantin baru yang akan menghadapi
malam pertama tapi dalam kondisi berbeda, bawalah handuk kecil saat melahirkan normal, hehe .... Soalnya, keringat mengucur derassss!

Dan yang terakhir, nyeri pada malam pertama tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan
pengalaman melahirkan. Hahahahahaaaaaaaaaaaaaa ....

Selasa, 05 Mei 2009

Hari Kelahiran si Bayi Lumba-Lumba


oh, anggota marching band toh

Kenapa sih harus disebut si Lumba-Lumba? Soalnya, emaknya hobi berenang waktu hamil, dan hobi menyanyikan lagu "Si Lumba-Lumba! Makan dulu!"-nya Bondan Prakoso jaman dia masih unyil, lengkap dengan koreografinya (dan ditirukan dengan sukses oleh si Bapak Lumba-Lumba, heheehee)

Lahir tanggal 1 Mei 2009, jam 23.50 WIB, proses persalinan normal, BB 3.320 kg, panjang 49 cm, hobi memberi tatapan meremehkan, ngenyot, dan nangis keras-keras, hihiiii ....

Sayang sekali dia belum bernama, karena ortunya mikir, ah, brojolnya juga 2 minggu lagi, masih ada waktu untuk nyari nama yang pasti, hahahaaaa ....

Jumat, 03 April 2009

[Geng Beser] Peta Per-WC-an di Bandung dan Sekitarnya

Sejak kecil sampai kuliah, saya jarang beser. Sepertinya pembuangan kotorannya tersalur lewat produksi keringat berlebih. Tapi yah, kalau sedang sekolah atau kuliah tetap saja izin ke WC, penyegaran sedikit hihihiii ....

Saya mulai sering beser sejak pengalaman pertama (dan mudah-mudahan terakhir kali) diinfus. Cairan infus rasanya membuat sekujur tubuh jadi dingin dan werrrr ... kadang-kadang nggak ketahan lagi dah, sampai-sampai bisa ngompol.

Seperti yang sudah diperingatkan oleh banyak ibu-ibu yang lebih berpengalaman dan di buku-buku, keadaan Hamdan ATT bisa membuat beser lebih sering. Apalagi kalau si orok semakin besar, karena kandung kemihnya tertekan. Kalau di rumah sih tenang saja, tapi kalau sedang di luar rumah? Makanya, saya jadi terpaksa menguasai peta per-WC-an di Bandung.

Menurut saya, WC umum yang lumayan bersih dan aman ya di mal atau pusat perbelanjaan atau restoran. Mahanagari juga sedang bikin polling di websitenya tentang WC-WC umum di mal ini hehe .... WC umum di mal ini terbagi dua, ada yang gretongan, ada yang harus bayar 1000 perak.

Yang gretongan itu di antaranya adalah WC umum di PVJ, Ciwalk, Istana Plaza, Braga Citiwalk, dan BEC, sementara di BSM, BIP (baru-baru ini), BTC, dan beberapa tempat lain adalah WC umum berbayar. Ada yang nyaman dan tidak nyaman. Menurut standar saya, WC umum yang nyaman adalah yang selalu menyediakan tisyu, sabun, wastafel, dan tempat sampah yang bersih, terus kalau WC duduk, keadaannya harus kering.

Di antara WC umum gretongan, yang paling nyaman menurut saya adalah di PVJ dan Ciwalk. Hanya, saya baru menemukan dua WC di Ciwalk (belum sempat menjelajah dengan teliti), kalau di PVJ, sekarang di tiap lantai ada, di Sogo pun ada, atau kalau mau iseng main ke Blitz, ada juga di sana (meskipun seringnya penuh kalau bubaran nonton hehe). Di PVJ, hampir selalu tersedia tisyu. Istana Plaza lumayan nyaman, tapi antrenya panjang dan nggak ada tisyu. Sementara di BEC, ya gitu deh ....

Nah, yang berbayar pun anehnya, ada yang nyaman ada yang tidak. Padahal kalau dipungut biaya, harusnya perawatannya lebih oke ya. WC mal berbayar yang paling nyaman menurut saya ada di BSM, dan kita selalu diberi tiket undian setiap kali masuk WC (dan saya selalu bertanya-tanya, betulkah ada yang benar-benar menang undiannya? Mungkin saja saya pernah menang, tapi kan jarang ke BSM karena jauh, hihihiiii). Kalau di BSM mau nyaman, masuk ke Metro saja, gretongan pula! Sekarang, BIP pun memberi tiket undian. Tapi di BIP antreannya panjang ... dan jarang ada tisyu tersedia.

Kalau di BTC, ada dua pengalaman yang berkaitan dengan WC. Pernah, sepulang yoga, di bis Antapani - KPAD, saya kebelet pipis. Aduuuuh ... tempat apa yang kelewat oleh rute bis ini, yang menyediakan WC lumayan nyaman ya? Sebelum sempat terpikir, bisnya sudah naik ke jalan layang Paspati, dan keluar-keluar di Pasteur. Ada beberapa pilihan, RSIA Hermina (WC-nya bersih), Griya, Giant, atau BTC. Tapi saya belum tahu letak WC di Griya, sementara kalau ke Giant harus nyeberang dulu, dan di Hermina nggak bisa sekalian jajan hihihiii .... Ya sudah, saya putuskan ke BTC. Eh, setelah lega, hujan turun derassssssss sekali, jadi saya terjebak di sana sampai dua jam, karena jalan banjir (tapi jadinya jalan-jalan dan jajan, hahaha).

Kali kedua, saya sengaja ke BTC, nyari baju kondangan yang cucok untuk ibu-ibu Hamdan ATT. Eh, begitu sampai ke sana, kok kebelet ya. Saya langsung ke WC di lantai dasar. Setelah jalan-jalan dan lapar, saya jajan dulu di foodcourt, lantai 3. Eh, pengen pipis lagi. Pipislah di sana. Jalan-jalannya masih berlanjut, sekarang ke toko perlengkapan bayi di lantai 2. Eh, beser lagi, sialan. Jadi saya ke WC dulu. Sudah tiga lantai yang saya pipisi, hahaha .... Karena masih belum puas, jalan-jalannya dilanjutkan dan ... sebelum pulang, karena beser lagi, saya mampir di WC lantai 1.

Meskipun nggak nemu baju kondangan (malah beli baju dan sepatu bayi lucu), saya harus mengeluarkan 4 x 1000 perak untuk beser dalam waktu hanya sekitar dua jam saja. Coba kalau jalan-jalannya lebih lama, mungkin uang yang dikeluarkan lebih besar lagi, hihihiiiii ....

Di Braga Citiwalk, pengalamannya lain lagi. Saya sempat ngompol di sana (hihiii ...), karena WC yang biasanya sepi, tumben-tumbennya antre. Untung ngompolnya sudah di dalam bilik WC, dan hanya kena CD, nggak kena celana luar. Masalahnya, kali itu saya benar-benar lupa bawa CD cadangan (biasanya selalu bawa), jadi terpaksa ... gitu deh, hihihiiii .... Lalu, pas keluar, saya bisik-bisik sama si Aq, cerita pengalaman tadi, dan kami langsung ke Carrefour untuk membeli yang baru (sambil diketawain lagi, menyebalkannn).

Selain tempat-tempat itu, saya juga langganan ke WC di Supermarket Setiabudi (bersih, kering, sepi lagi, tapi jarang ada tisyu), Giant Flamboyan, dan akhir-akhir ini berhasil menemukan letak WC di Griya Setrasari Mal (duh, leganya, hahaha). WC di Indomaret dekat rumah juga pernah dikunjungi, karena betulan kebelet pipis waktu turun angkot, untung mbak-mbak Indomaret mah baek-baek, hehehe ....

WC-WC di rumah sakit pun beragam kenyamanannya. WC umum di paviliun VIP RSHS lumayan bersih lah, meskipun nggak begitu nyaman (saya nggak berani ke WC umum di RSHS yang biasa, kebayang soalnya, hihiii). WC umum di RSIA Hermina menurut saya adalah yang paling nyaman. Di RS Advent lumayan bersih, tapi nggak ada tisyu. Di RS Kebonjati, ya gitu deh ... tapi yang paling parah adalah WC umum di RS Muhammadiyah. Waktu itu saya nengok almarhum uwak saya di sana, dan tiba-tiba pengen muntah karena migrain. Karena nggak enak kalau muntah di WC dalam (banyak sodara gitu bok), jadi saya cari WC umum di luar. Pas sampe sana, wowww ... malah jadi nggak pengen muntah, hihihiiii ... (aneh, saking joroknya, malah mendingan nggak muntah di sana, mending di plastik aja, haha).

Beda lagi ya, dengan WC di dalam kamar rumah sakit, apalagi yang kelasnya utama atau VIP. WC kelas VIP di RS Al Islam nyaman, begitu pun dengan WC di kelas VIP RS Advent. Bahkan, waktu si Papap sedang dirawat di RS Advent, saya sempat mandi di sana, dan ... serasa mandi di Bali, hahaha .... Soalnya, jendelanya menghadap Jalan CIhampelas (tapi karena di lantai 4, jadi yang tampak hanya rimbunnya pepohonan), kaca jendelanya blur, dan kalau dibuka bagian atasnya, nggak bakal ada yang bisa ngintip hihihiiiii .... Airnya panas lagi.

Bagaimana dengan WC-WC di kampus? Kalau di Unpar (terakhir kali saya ke Unpar pertengahan '97, sebelum kabur tanpa izin dari situ), WC-nya sejak dulu lumayan. Tapi kalo di WC Fisip, kacanya nyaris selalu penuh oleh cewek-cewek yang ngaca, hihihiiii .... Saya pernah ke WC UPI, di bangunan lama, ya gitu deh. Khas WC sekolah. Di Itenas juga gitu (waktu sering jemput si Aq awal-awal pacaran hehe), lagian di Geodesi banyakan cowok, jadi WC-nya seadanya.

Sementara, kalau di ITB, menurut saya WC paling enak adalah WC Astronomi doooong, meskipun klosetnya jongkok. Bisa mandi air anget kalau pagi-pagi (pake teko heater Himastron, haha).WC Astronomi relatif bersih karena hampir selalu dikunci, kalau mau masuk ya ambil kunci dulu di palang pintu. Tapi yang repot kalau kebelet dan kuncinya masih di Pak Amas. Kalau berkasus begitu, pasti lari ke WC TI di seberang.

WC-WC lain di ITB ya begitu deh, standar WC kampus. Sebetulnya ada WC yang nyaman dan bersih, yaitu WC dosen TI. Yah, maaf saja, sedikit nepotisme membuat saya pernah bisa masuk WC dosen TI yang selalu terkunci juga, hihihiiii ....

Begitulah peta per-WC-an di Bandung, meskipun pasti belum lengkap. Sebetulnya, penjelajahan WC ini juga merambah Jakarta lho. Sudah berapa kali saya ke Jakarta bersama Suze Antie naik travel CT Trans yang turun di Fatmawati, dan kami selalu mengunjungi WC raksasa kami di dekat situ---CITOS! Hahaha ....

Minggu, 08 Maret 2009

Insiden di WC sewaktu Beritunya si Babah

Peristiwa ini terjadi di acara pernikahan seorang oknum Babah yang berinisial Q dengan sang mamah yang berinisial M.
 
Sebagai anggota geng beser, seorang tante yang berinisial M (tapi kalo yang beritu dengan si Babah, kita panggil saja Mamah M, yang ini Tante M) bolak-balik ke WC yang untunglah dekat dengan pelaminan (lho kok? Hihii).
 
Nah, saat beser untuk terakhir kalinya, dari balik bilik WC-nya, Tante M mendengar percakapan seseorang via telepon … kok perasaan kenal suaranya ya. Mendesah-desah becek gitu. Tanpa sengaja, Tante M menguping.
 
“Halo? Iya Yang … bentar lagi udahan kok … iya, lima belas menit lagi mau cari taksi. Ini di WC, lagi ganti baju … tadi kan pake kebaya. Iya Yang … Yang … Yang ….” Lalu desahan becek itu diikuti dengan nyanyian mengikuti vokalis band kawinan.
 
Tante M terkesiap, antara ingin batuk dan ingin tertawa (soalnya Tante M memang radang tenggorokan). Tapi rasa terkejut membuatnya tersedak, dan jadilah si Tante M itu batuk-batuk heboh. Sampai muntah segala, hihihiiii ….
 
Setelah beres bersih-bersih, meskipun masih ingin batuk, Tante M keluar dari bilik WC-nya. Sambil masih terbatuk-batuk tapi ingin sekali menghina.
 
Kali ini giliran si oknum yang sejak tadi mendesah-desah becek yang terkesiap. Dia tidak menyangka TANTE M yang ada di bilik WC.
 
Jadilah Tante M keluar dari WC sambil digelendoti si oknum yang memohon-mohon “Kaaa … jangan cerita ya pliiiis … abatatsa!” Karena Tante M nggak menjawab dengan “jimhakho”, jadi ya tetap saja Tante M berniat cerita.
 
Si Tante M sendiri sampai heran, kenapa sih, selaluuuuuuuuu aja dia yang memergoki kekonyolan si oknum. Sejak dulu waktu bekerja di perusahaan yang sama. Dan anehnya si oknum nggak kapok-kapok bertindak konyol, hahahahahaaaa ….
 
Jadi Sit, siapa si Yangyang itu? Apakah kamu berubah nama jadi Icuk? Hahahahaaaa ….


(aku nggak pasang foto ah ... kejadian itu sudah cukup nista, jadi nggak usah ditambah nista hahahaha)

 

Rabu, 03 Desember 2008

Maria Lubis versus Maryam Wahidin

Sebetulnya, di akte kelahiran saya (dan banyak teman yang umurnya sebaya), nggak ada nama marga yang dicantumkan. Di kelas saya (kelas 2 dan 3) waktu SMA juga ada sembilan pemilik marga Batak dan hanya satu orang yang tercantum marganya, si Olip doang (Padahal ada tiga Sirait, satu Lubis, satu Barus, satu Marpaung, satu Ginting, satu Manurung, terus si Ratna apa ya, lupa dia boru apa hihihiiii).

Menurut si Papap, pada masa itu pembuat akte kelahiran melarang pencantuman marga di akte kelahiran, dengan alasan yang agak-agak SARA (ya gitu deh, males ah ceritanya hihihiiii). Jadi, karena nama di sekolah harus sesuai dengan akte kelahiran, marga-marga yang bukan satwa itu terpaksa hilang sementara.

Saat akhirnya memiliki KTP, si Emak mencantumkan marga Lubis di belakang nama saya. Karena KTP yang akhirnya dianggap lebih berlaku daripada akte kelahiran, jadilah nama dengan marga Lubis itu yang dipakai di mana-mana, mulai urusan dengan bank sampai pekerjaan. 

Jauh-jauh hari sebelum “beritu”, saya sudah bilang kepada si Aq, saya nggak akan memakai namanya. Saya akan tetap bermarga Lubis saja, tidak seperti si Emak yang akhirnya ikut memakai nama Lubis di namanya. Si Aq sih santai-santai saja, sepertinya kalau saya ganti nama juga dia mah cuek saja hihihihihiiiiii ….

Bukannya berpikiran atau memiliki harapan buruk, tapi memang ada pengalaman merepotkan yang melibatkan nama gadis dan nama suami itu. Waktu masih kuliah, adik-adik kelas saya mengadakan suatu acara astronomi yang cukup besar. Mereka mengundang pembicara seorang perempuan ilmuwan yang beken. Tapi, ternyata mereka kerepotan mengganti spanduk pada saat-saat terakhir, karena di spanduk itu tercantum nama si ibu dengan nama suami di belakang namanya. Padahal mereka baru saja bercerai. Jadi, si ibu ingin nama gadisnya saja yang dipakai. Waks, kasihan teman-teman yang harus balik lagi ke pembuat spanduk untuk menggantinya! 

Kerepotan lain juga terjadi saat uwak saya meninggal dan istrinya mengurus surat kematian. Karena nama istri uwak saya berbeda (ada yang memakai nama gadis, ada yang memakai marga Lubis) di berbagai surat, KTP, Kartu Keluarga, dan beberapa dokumen lain, jadi urusannya berbelit-belit di kelurahan dan kecamatan.

Jadi, melihat dua pengalaman yang merepotkan ini, saya semakin mantap tidak akan memakai nama suami di belakang nama saya. Yah, kalau disapa “Bu Dindin” sih ya sok wae, hihihihiii …. Yang jelas, nama saya di dokumen-dokumen resmi dan halaman-halaman copyright buku tetap ada Lubisnya. Saya juga nggak berniat menambahkan Wahidin di belakang atau di depan Lubis, seperti nenek saya yang namanya jadi Armia Lubis-Nasution (maksudnya menikah dengan marga Lubis, sementara Ompung sendiri boru Nasution). Ini sih alasannya cetek—malas, kepanjangan. 

Emmm … sebetulnya ada alasan lain sih, yang membuat saya enggan mencantumkan nama si Aq di belakang nama saya. Alasannya lebih cetek lagi, hihihiii …. Soalnya, nama kami itu nggak nyambung kalau disatukan, masa’ jadi Maria Wahidin? Apalagi kalau Masniari-nya dicantumkan, jadi Maria Masniari Wahidin. Ini teh nama Batak atau nama apa? Hahahahaaaaa ….

Karena itu, biarkan saja nanti anak-anak kami yang memakai nama Wahidin di belakang namanya, ibunya mah tetap boru Lubis, kecuali kalau ganti nama jadi Maryam—cocok kan, Maryam Wahidin?

 

*Tapi tentu saja si tante keren ini nggak mau ganti nama, karena sudah ada pemilik nama Maryam di keluarga (istrinya salah satu uwak saya) dan di Astro '97. Hihihihiiiii ....

Senin, 03 November 2008

Si Ical, Si Betty, Saudara Sepemuhriman

Saya pertama kali bertemu dengannya waktu pembukaan penataran P4 di Sabuga, sebelas tahun lewat beberapa bulan yang lalu. Saat itu dia masih berambut a la Adi Bing Slamet, dan menambah daftar kekecewaan saya terhadap teman-teman seangkatan hahaha … (Soalnya nggak ada yang gimanaaaaa gitu. Mirip-mirip Otong Koil kek. Hihihiii).

Doski biasanya dipanggil si Ical, dan suka betek kalau namanya ditulis salah—harus Faizal Riza (karena sering ditulis Faisal). Yang agak aneh, dia dari Makassar tapi fasih berbahasa Sunda pergaulan (kasar) dengan si Yana, teman seangkatan kami yang juga dari Bandung. Setelah diusut, ternyata si Ical ini sempat sekolah di SD Banjarsari dan SMP 2 Bandung, lalu balik lagi ke Makassar.

Waktu tahun pertama kami kuliah, pergerakan mahasiswa sudah semakin ramai. Si Ical masuk PSIK (Pusat Studi Ilmu Kemasyarakatan) ITB, bersama seorang teman seangkatan kami yang lain, Iyam. Jelas saja wawasan kebangsaannya kuat. Dan pada tahun pertama ini juga, kami (Ical-Iyam-saya-Tya) sempat jadi artis demo hahaha …. Gara-garanya sih ditugaskan oleh Mas Hasan, ketua Himastron saat itu, untuk mengisi acara musik kampus. Ya sudah, kami nekad dan sok-sokan mengisi dengan band akustikan, menyanyikan lagu-lagu ngaco karya sendiri. Waktu itu masih ada Farkhan yang main gitar juga, tapi setelah manggung pertama kali, dia kapok!

Waktu itu kami lumayan laku, tapi ya laku di kalangan kampus hehe …. Setiap ada acara musik kampus, kami sering diundang. Sempat juga main di Radio Ganesha dan Radio Chevy (dan direkam di Radio Ganesha), karena saat itu dua radio itu tergolong radio “pemberani” yang sering bikin talk show “penggulingan” orde baru. Prestasi terbesar kami adalah main sepanggung dengan El Pamas (hahaha … masih ingat, grogi banget pas liat Totok Tewel) di acara malam alumni di Jakarta, dan pada malam itu juga Tragedi Trisakti terjadi (dan kami dipulangkan dengan panik oleh panitia, dengan taksi 4848, karena khawatir acaranya diintai oleh intel).

Hasil karya band akustikan kacau ini masih bisa terdengar sampai sekarang. Soalnya, Hymne KM-ITB karya si Ical dan Iyam. Dulu judulnya Demi Tuhan, Bangsa, dan Almamater, sama dengan motto KM-ITB. Sewaktu motto KM-ITB berubah, judulnya juga ikut berubah, jadi Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater. Tapi saya sering sebal karena orang-orang biasanya lupa bertanya-tanya, siapa sih yang membuat lagu kampus. Seperti lagu Mentari yang diaku-aku lagu kampus (tanpa disebutkan karya Abah Iwan Abdurrachman).

Setelah pergolakan politik mereda, si Ical masih aktif di PSIK. Tapi saat itu juga, kami “terpaksa pulang” ke Himastron, karena Himastron membutuhkan kami (hahaha … GR amat. Tapi memang benar, karena semua anggota pasti sempat ngerasain jadi pengurus, saking sedikitnya!). Si Ical yang sial, harus jadi tumbal angkatan, jadi ketua Himastron. Saat masa kepengurusannya, saya jadi danus kejam yang hobi membubuhkan stempel GOBLOG—bukan LUNAS—di buku utang Himastron (karena para penghuni Himastron saat itu saingan gede-gedean berutang dengan bangga, huh!).

Dengan komposisi tujuh cewek dan enam cowok dari tiga belas orang seangkatan (dan dua cowok rontok duluan di awal, lalu diikuti satu lagi), sungguh mengibakan nasibnya, karena cewek-ceweknya dominan, tukang ledek, dan hobi menjajah. Apalagi si Ical ini emosional dan keras. Tapi kasihan, seringkali dia tak berdaya menghadapi cewek-cewek penjajah, hihiii …. Lagipula, karena dia berambut panjang dan lembut serta berkulit putih mulus, kami sering menjuluki dia Betty (cowok-cowok lain juga dapat julukan).

Di luaran, citranya si Ical ini jantan, garang, gagah. Apalagi pernah jadi korlap demo. Tapi buat kami, dia adalah cowok manis yang lebih cantik daripada kami-kami, hihihiii …. Jadi kalau ada anak-anak jurusan lain yang memuji “Si Ical jantan ya …” kami sering membantah, “Ical? Jantan? Gagah? Halah … dia mah cantik!” (dan seringkali diprotes, karena menurunkan pasaran hahaha.) Yang lebih parah, dia seringkali kami lecehkan—misalnya dia sedang berjongkok sambil merokok di luar kelas, tiba-tiba si Lia berjongkok di sebelahnya dan tersenyum manissss sekali (yah, senyum manisnya Lia, hahaha!), dan tiba-tiba pura-pura mau mencolek dagunya. Atau saat kami iseng beli “minuman anu” untuk mabuk-mabukan di belakang Himastron, kami membelikannya sebotol Kiranti, hahahahahaaa …. Kasihan ya. Waktu giginya ompong pun, saya sempat meledeknya. Soalnya, giginya itu potong karena dia makan jagung, hahaha … saya ledek-ledekin, huh, nggak heroik, kirain berantem dengan siapaaaa gitu.

Saya pernah tanpa sengaja menginap di kamar kostnya di Sangkuriang. Oh, tentu saja setelah dengan sukses mengusirnya supaya tidur di kamar kost penghuni Sangkuriang lainnya (waktu itu ada lima anak astronomi yang ngendon di situ). Waktu itu kami sedang ada lanjutan pembicaraan materi ospek, lalu saya kemalaman dan malas berjalan kaki ke kampus (karena nggak ada angkot kalau sudah malam). Kamarnya rapi. Lebih rapi daripada kamar saya. Kamar mandinya bersih. Dan … peralatan mandinya berjajar lebih banyak daripada peralatan mandi saya. Wow.

Selama berteman—mungkin sudah bukan berteman lagi, tapi bersaudara, sebagai satu disfunctional family yang kacrut, dan sudah merasa muhrim—tentu saja kami sering berantem. Yang sering jadi masalah adalah sifat si Ical yang keras. Darahnya panas. Sampai pernah ada tragedi tangis-tangisan multiangkatan di Himastron pada suatu HUT Himastron. Sampai saya sempat mendiamkannya selama nyaris sebulan karena suatu hari dia meledak di Himastron. Tapi itu akibat saking dekatnya kami. Mirip berantem dengan saudara sendiri.

Si Ical termasuk yang terancam DO pada tahap Sarjana Muda, tapi untungnya dia berkasus di mata kuliah Matriks dan Ruang Vektor, lebih mudah daripada kasus Mekanika Lanjut kami. Dulu Tugas Akhirnya tentang Kosmologi, dan sampai beberapa saat yang lalu dia masih berminat terhadap Kosmologi (dia sempat bilang ingin S2, tapi ngumpulin duit dulu). Selama TA dia sering kami jodoh-jodohkan dengan si Ina, partner TA-nya yang juga seangkatan (dan seringkali keduanya ngambek, hahahaaa).

Setelah lulus, dia sempat menghilang beberapa saat dari pergaulan kami karena bekerja di Jakarta, jadi asisten editor di perusahaannya Raam Punjabi (dan selalu kami ledek, “Dasar perusak moral generasi muda bangsa!” Hahahaaa). Akhirnya dia nggak tahan—mungkin nggak sesuai juga dengan idealismenya—dan kalau nggak salah, sekitar peristiwa tsunami Aceh, dia keluar. Sempat jadi relawan Aceh dan bikin film dokumenter di sana. Dia memang berjiwa sosial, apalagi dia anggota KSR – PMI.

Sepulang dari Aceh, dia kerja di IMTV Bandung. Mulailah dia sering bergaul lagi dengan kami. Apalagi si Ketut juga sudah mulai muncul, setelah puas bertapa di Jatinangor. Semakin lama berteman, ternyata pelecehan kami semakin menjadi-jadi, hahaha …. Saya masih ingat, suatu hari kami kumpul angkatan di Perpustakaan Pusat. Si Ical belum datang-datang. Si Ketut yang kebagian nelepon. Lalu, pas akan menyudahi pembicaraan, kami cewek-cewek ini berseru-seru, “Bilang love you, Tut!” Si Ketut yang memang sama sintingnya menurut, dengan mesra bilang, “Love you ….” Dan kami mendengar seruan “ANJEEEEENG!” dari si Ical, hahahahaaaaaaaa! (Setelahnya kami marah-marahin, karena dia membalas sikap si Ketut yang penuh cinta dengan umpatan, dasar!)

Dia juga yang sering saya ganggu kalau sedang online tengah malam. Kalau id-nya, pcl_astro, tampak kuning, biasanya saya sapa “Hai, Say … Saython …” (Seperti biasa, umpatan-umpatan seperti “ajig” dan “gobod” selalu mewarnai percakapan kami. Seringnya sih dari dia hihiii … tapi buat kami, itu bukan umpatan kasar, itu ekspresi pertemanan akrab saja. Saat online malam-malam ini juga, dia beberapa kali curanmor soal cinta (Sebetulnya bukan dia yang sukarela curanmor sih, saya saja yang hobi mengorek-ngoreknya dengan pertanyaan mendetail. Dan dia selalu menjawab dengan jujur, hihii). Sempat juga saya ancam karena ada tanda-tanda dia mau melangkahi saya menikah duluan, tapi ternyata nggak jadi hahaha …. Sayang waktu saya “beritu” dia nggak datang karena harus pulang ke Makassar. Dan saya ledek-ledekin, “Kenapa sih nggak datang? Patah hati ya? Aaaah … ngaku, pasti patah hati yaaa!” (dan seperti biasa, dia membantah sambil mengumpat-umpat, hahaha ….)

Kami bertemu terakhir kali waktu Lebaran kemarin, hari ketiga, waktu dia beserta Vivi dan Dyno “ngalap berkah” ke rumah saya. Yah, biasa, si Emak yang menyayangi anak-anak kost seringkali open house untuk anak-anak kost yang nggak mudik saat Lebaran (sejak dulu, mulai dari teman-teman si Abang sampai teman-teman saya). Waktu itu lama juga mereka di rumah, bayangkan, dari makan siang sampai makan malam! (Si Emak sih senang, karena ada yang menghabiskan kakaren Lebaran. Soalnya kami sudah bosan, ketupat-opor-rendang melulu, hihiii) Saat itu masih saja saya ledek-ledek. Tapi beberapa tahun terakhir ini, kalau menurut saya sih, sifat emosionalnya sudah berkurang. Kalau soal dia mengumpat-umpat, itu sih karena ledek-ledekan (dan biasanya mengumpat sambil ketawa, kalau dulu bisa marah betulan—tapi semakin dia marah, kami biasanya semakin senang mengganggunya hihiii).

Sekitar dua minggu lalu, saya sempat mengobrol dengannya di telepon. Waktu itu saya sedang di BSM, dan nemu miniatur planetarium yang sudah lama Vivi cari. Saya sms Vivi, ternyata dia menelepon dengan HP si Ical. Waktu itu si Ical sempat ngajak saya jadi panitia Kongres Ikatan Alumni Astronomi, tapi saya bilang nanti dulu, lagi jadi ibu hamil nih (alasan, padahal males, hihiii). Nggak disangka, ternyata itu pembicaraan terakhir dengannya. Dan masih saya ledek-ledek juga, “Adeeeuh … kencannya ganti, bukan sama Ina lagi, sekarang sama Vivi!” (Si Vivi juga ikutan ngeledek, “Iya nih, ini kami lagi kencan!” dan seperti biasa dia ngomel-ngomel.)

Jumat minggu lalu, saya mendapat sms dari si Coni (yang Sawung), kabarnya Ical masuk RSHS. Waktu itu pikiran saya, si Ical paling-paling sakit DB atau tipp-ex, langganan (dasar anak kost, makannya nggak bener dan hobinya minum kopi banyak-banyak). Saya, Vivi, dan beberapa teman lain sudah berencana menengoknya Sabtu sore, eh, ternyata Sabtu pagi si Coni sms lagi, Ical sudah dibawa ke Makassar.

Yang sempat merasa ada sesuatu itu si Ketut, karena dia sms ke hp Ical, tapi yang bales kakaknya. Ketut sempat sms saya, “Mar, si Ical parah nggak ya? Kok nggak bisa pegang hp?” Lalu saya jawab (sambil bercanda dan menenangkan si Ketut—sebetulnya, lebih menenangkan diri sendiri juga sih), “Mungkin dia operasi kelamin, penghilangan jakun, dan pembesaran payudara Tut, jadi masih belum bisa pegang hp.” Lalu kami masih smsan bercanda gitu.

Eh, tiba-tiba, Jumat pagi kemarin, tiga sms berturut-turut masuk ke hp saya. Dari si Coni, dari si Bona, dan satu lagi dari siapa ya, lupa. Kabarnya, si Ical meninggal pukul 09.30 WITA. Saya langsung nangis dan ngadu sama si Aq, “Adek ngeledekin si Ical melulu, Q ….”

Seharian itu rasanya kelabu. Si Emak juga sedih. Tiap melihat gitar yang ada di rumah juga sedih, karena itu “gitarnya Ical” (yang dulu suka dipakai saat manggung). Sampai sekarang juga, dia masih terbayang-bayang. Sayang sekali saya nggak bisa langsung ke Makassar, tapi saya bertekad, suatu saat saya akan berziarah di makamnya. Dan mudah-mudahan, lagu-lagu rekaman karyanya berhasil dilacak (karena beberapa waktu lalu kami sudah berniat mencarinya, mudah-mudahan masih ada, karena Radio Ganesha sudah pindah).

Itulah si Ical. Bukan teman lagi, dia mah saudara, muhrim. Mudah-mudahan dia damai di sana.

Foto Terakhir Bareng Ical, Bubar Astro '97 di Warung Pasta
(Ical - Lia - Vivi - Ketut - saya)


Selasa, 09 September 2008

Laporan Honeyweek

Saya selalu menjawab “kurang lama, kurang puas,” kalau ditanya “Gimana honeyweeknya?” Soalnya, sebelum pergi si Aq harus kerja rodi dulu nyelesein pesenan tas seminar. Sampai Senin tengah malam dia belum pulang, padahal berangkat hari Selasa. Jadi, entah untung atau sial pesawatnya delay, dari jam 10.55 sampe jam 14.55 (jadi dia masih punya kesempatan istirahat).

Dan ini pengakuan jujur: saya baru pertama kali ke Bali. Si Aq sih udah pernah, tapi udah lama banget, sekitar taun 93an gitu. Dan dia datang dengan ngegembel karena cuma mau menghadiri peresmian Sungai Ayung dan pembentukan FAJI (Federasi Arung Jeram Indonesia). Jadi sama-sama belum punya bayangan mau ke mana aja.

Karena ada sepupunya si Aq, Teh Yeyet, yang sedang tugas di Denpasar, jadi kami dijemput di bandara, langsung menuju hotel The Lokha. Hotelnya keweeen …. Kamar superior aja udah luas, apalagi suite? Eh, karena si Aq kecapean, jadi aklimatisasinya lama. Karena hari Selasa udah datang malam, hari Rabunya dia tidur sampai siang.

Jadi, waktu tiga hari full honeyweek (kan dua hari dalam perjalanan, nggak keitung hihi) itu bener-bener mepet. Lumayan lah, masih sempat ke Ubud dan rafting di Sungai Ayung. Meskipun nggak terlalu “adventure” karena grade sungainya 2 atau 3 (oh, saya malah bersyukur, karena males banget kalo harus kejebur saat rafting … hihihiii), tapi sungainya bagus. Bersih dan di pinggir sungai, ada beberapa tebing yang dipahat. Tadinya mau foto di air terjun, tapi sayang baterai kamera habis, cuma ada foto yang diambil fotografer Sobek doang (lumayan, karena duduk di depan, jadi jelas banget wajah kami). Yang agak menyebalkan, yang seperahu sama kami itu ibu-anak dari Jepang, dan mereka sepanjang perjalanan ngobrooool melulu, nggak pernah ngedayung! Jadi sakit-sakit badan deh hahaha ….

Eh, konyolnya, setelah itu lupa ngecharge baterai lagi. Jadi, setelah itu, dikit banget foto-foto yang ada. Soalnya sudah hilang mood, hihihiii ... (Padahal udah sengaja beli kamera baru sebelumnya hahaha … dasar gaya).

Terus, masih ada lagi kejadian konyol yang menyertai. Ke Tampaksiring tapi karena lupa ngecharge baterai kamera, jadi nggak bisa foto-foto. Malah ditipu beli gelang termahal di dunia, 12 ribu perak, sementara di Sukowati ditawarin seribuan hahaha …. Di Sukowati juga agak ketipu karena nggak bisa nawar (beberapa sih, seperti sendal). Pulang dari Sukowati, ban motor (si Aq pinjem punya Teh Yeyet) bocor. Terus lama lagi nambalnya. Eh … waktu udah mau balik ke Legian, motor Teh Yeyet tiba-tiba ngadat di stopan, dan kami ditabrak mobil dari belakang. Pelan sih, cuma karena ada polisi, jadi urusannya lama. Dan hasilnya, KTP si Aq ditahan.

Tadinya udah khawatir aja, nanti di bandara kan harus periksa KTP. Tapi, entah untung entah sial lagi, Mas Jakfar (suaminya Teh Yeyet) yang mau nganter kami ke bandara ternyata harus ke kantor dulu. Jadi kami datang mepet banget, dan jadi orang terakhir yang boarding. Untungnya, nggak ada pemeriksaan KTP! (Tapi ini jadi berbuntut panjang, karena proses kredit motor baru jadi tertunda, huuuuuuuu)

Terus pake ketipu makan lobster di Legian. Soalnya lobster gede harganya 350 ribeng, hahaha …. Padahal tau gitu mending kita makan sushi aja ya Suze! Hahaha ….

Oh iya, kisah voucher Andong hadiah “beritu” juga aneh (hihi … makanya aku sms Smartie). Sampai seorang pemilik warung makanan Jawa Timuran turun tangan nyariin, tetep nggak ketemu. Lalu malam-malam kami nanya tukang andong beneran di Kuta, si tukang andongnya malah menyarankan kami ke Kepaon, tempat mangkal andong yang lebih banyak hihihiii …. Jadi, voucher itu masih utuh. Mungkin itu pertanda, kami harus balik lagi hahahahaaaa ….

Jadi gitu deh cerita singkatnya. Tapi kisah honeyweek ini menghasilkan suatu hal positif, kami jadi hafal jalan-jalan di Kuta-Denpasar dan sekitarnya. Dan juga menghasilkan tekad, suatu saat kami pasti balik lagi ke Bali. (Kalau saya sih malah pengen tinggal sebulaaaaan aja di Bali. Hihihiii) Selain menjelajah tempat-tempat lain, sekalian nyeberang ke Lombok hehehe …. Foto-foto yang cuma segelintir (dan nggak puguh) ada di SINI.

Senin, 25 Agustus 2008

HONEYWEEK

Menghilang duluuuuu ....

Dadaaaaahhh ....

Teriring ucapan terima kasih terchusus kepada kubugil & friends yang telah membuat minggu madu ini terwujud hihihiiiiii

memang beneran honeyweek, karena nggak sampe sebulan

itu gambar kursi di depan komputer yang akan kosong hingga tanggal 30.

Minggu, 10 Agustus 2008

Kenakalan Pre-Wedding


sedang siap-siap nyobain

Kenakalan ini terjadi tanggal 4 Juli 2008, delapan hari sebelum hari-H. Karena betek, capek, becek, nggak ada ojek, ngurusin hari-H sendirian, si Aq tiba-tiba ngajak ke Pusdik Kavaleri di Parongpong, karena anak-anak Battlefield lagi ngeset bungee trampoline untuk klien mereka (sekalian paintball).

Sebelum para klien datang, kami boleh nyobain main bungee trampoline, dan ternyata setelah klien pulang, ada rombongan Ibu Ira, Mangmak (Makki), Bara, Lana, dan sepupu-sepupunya bergabung.

Kenakalan inilah yang membuat kulit hangus dan melepuh, serta merepotkan seorang dokter kulit di salah satu klinik perawatan kulit ternama ... hihihihiiiiiiiiiii

Kamis, 31 Juli 2008

Selamat Jalan, Surti Sayang ....

Hari ini adalah hari terakhir saya bersama si Surti ….

Surti telah bersama saya delapan tahun, menemani saya ke Bosscha bersama si Nata untuk mengerjakan TA, menjadi pemandu di Observatorium, dan ikut kuliah Materi Antar Bintang. Seringkali ikut menginap bersama saya di kampus, kedinginan di pelataran TI. Juga seringkali menjadi incaran favorit teman-teman saya, terutama Dyno.

Surti yang manis, yang setia mengantar saya, si Emak, si Aq, dan banyak teman saya, tanpa pernah memprotes. Menemani saya pulang tengah malam dan dini hari, tanpa pernah ada masalah.

Surti juga sempat menemani saya dan si Aq ke Cicenang, Ciater, Citarum, dan ke kaki Gunung Burangrang. Pernah juga masuk sedikit ke jalanan menuju Situ Lembang yang berbatu, syukurlah tidak sampai Cicaruk.

Surti juga menderita ketika saya dan si Aq jatuh di Jalan Cihapit sewaktu hujan deras dan jalan licin. Ia juga terluka saat saya diserobot motor nakal di perempatan Jalan Suci - Gasibu, sebelum masuk kantor. Ia juga kesakitan menabrak roda truk ketika saya tergelincir karena menginjak rem belakang terlalu tiba-tiba, di Jalan Cimareme, menuju ke Situ Ciburuy.

Surti yang selama delapan tahun hanya beberapa kali mogok, itu pun karena saluran bensinnya tertutup tanpa sengaja, atau lupa membeli bensin. Meskipun rodanya lumayan sering bocor, tetapi ia begitu tangguh.

Oh, Surti, si hitam legam, mengapa banyak sekali nama tempat yang berawalan Ci- yang saya datangi bersamamu? Hihihiii ….

Yah, Surti sekarang berpindah tangan ke seorang pemilik baru dari Jalan Bungur. Dan kepergiannya tidak sia-sia, karena ia berkorban demi kenyamanan saya, yang sudah seringkali sakit punggung karena terguncang-guncang shockbreakernya yang keras.




Meskipun nanti ada gantinya, saya tidak akan pernah melupakan Surti. Tidak sedetik pun. Surti, aku padamu … dirimu makin ….


Keterangan foto atas: Surti di depan pos satpam SMAN 2 Bandung, saat pemiliknya sedang bertemu teman-teman SMA.

Keterangan foto bawah: Surti dan pemiliknya sang wanita "Jawa" di Cicenang, saat menunggu anak-anak longmarch pulang ke Bandung.

Rabu, 23 Juli 2008

Ada yang Joged di Balik Jendela .... SINTING!

Ini sambungan dari seminggu yang bikin nggak waras.

 

Ketika sampai ke TKP, hal pertama yang saya rasakan adalah … kebelet pipis! (Sebetulnya dari didandanin juga udah kerasa sih, tapi tanggung … hahaha) Dan sialnya, kamar mandi di rumah Hegarmanah yang dalam nggak bisa digunakan, jadi harus ke rumah putih yang ada di belakang.

Setelah lega, saya disuruh masuk ke sebuah kamar untuk menunggu akad nikah. Ceritanya sih dipingit, tapi kamar itu berjendela besar sekali, dan saya bisa melihat rombongan si Aq datang, hahahahaaa …. Tapi sayang, waktu lagi dadah-dadah dari jendela sama Deni Agam—teman si Aq yang ikut motret—kepergok sama tante-tante saya, jadi jendelanya ditutup.

Sewaktu sedang menunggu akad nikah, si Opie, sobat saya dari SMP, muncul. Ternyata, saya harus menunggu agak lama di dalam kamar karena ada sambutan yang agak panjang dari keluarga saya (si Papap) dan keluarga si Aq (diwakili saudaranya). Setelah beberapa menit, akhirnya saya diizinkan keluar dan disuruh duduk di sebelah si Aq yang baru cukur kumis dan jenggot (Makanya, mulai dari keluar kamar sampai duduk di sebelahnya, saya selalu cengar-cengir, karena sejak dulu selalu merasa aneh kalau si Aq cukuran, hahahahaaa).

Si Pengantin yang Pecinya Selalu Miring dan Baru Cukuran

Selama ini, saya sering melihat orang-orang menangis terharu saat rangkaian akad nikah. Tapi, kok saya nggak ya. Apalagi waktu acara “habla-habla” sebelum akad nikahnya. Yang saya rasakan cuma sesak—memaksa saya untuk tetap duduk manis dan tegak—karena nggak biasa memakai korset.

Awalnya sih agak jaim, tapi lama-lama, mata saya jelalatan ke seluruh penjuru ruangan. Sialnya (atau untungnya?) di hadapan saya dan si Aq yang duduk berdampingan, di belakang penghulu dan si Papap, ada jendela besar. Orang-orang bisa menonton akad nikah dari luar jendela.

Mertua yang Pecinya juga Selalu Miring

Nah, di jendela itu, tampak dua sobat saya dari SMP juga, si Tinot dan si Achy. Si Achy—yang mirip Alia Rohali tapi makannya banyak hihii—sih tampak serius mencari-cari seseorang, pasti mencari si Opie yang sudah duluan di dalam. Dia juga terlihat smsan—pasti sms si Opie juga. Di sebelahnya ada si Tinot, seorang oknum ibu-ibu PNS Pajak yang sebetulnya belum ibu-ibu. Awalnya sih dia cuma senyum-senyum dari balik jendela, dan saya balas senyum-senyum lagi.

Lalu, lama-lama semakin parah—dia menjulur-julurkan lidah. Waks, sudah berusaha menahan diri agar tetap jaim, eh … nggak tahan juga, saya balas menjulurkan lidah. Padahal, di hadapan saya dan si Aq, keluarga besarnya si Aq duduk dan menghadap ke arah kami. Mungkin mereka sempat bingung, kenapa ini calon istrinya Dindin tiba-tiba nyengir dan menjulurkan lidah? (Tapi untung nggak ada yang protes, hahahaaa)

Ritual sebelum akad nikah terus berjalan, dan si Tinot tenang kembali. Si Aq sempat bisik-bisik, tangannya basah terus. Untung saya dibekali tisu oleh tante saya, mungkin untuk menyeka air mata—kalau-kalau saya menangis terharu. Eh, jadinya malah habis diminta si Aq (diam-diam, di bawah meja, hihiiii).

Setelah beberapa saat menunduk, saya mendongak lagi dan duerrr … di balik kaca jendela, si oknum PNS berbaju putih itu joged. Dasar sinting, saya hampir tidak bisa menahan tawa. Padahal akad nikah akan segera berlangsung, karena sudah ada yang memasangkan kerudung di kepala saya dan si Aq.

Tapi syukurlah, ketika akad nikah dimulai, oknum itu menghilang dari balik jendela. Eh, tapi dia muncul di dalam ruangan. Untungnya, karena di dalam ruangan banyak saudara, dia sedikit jaim (walaupun patpatnya sempat ditusuk oleh tante saya, karena badannya gede tapi nutupin tante-tante, hahahahaaaa).

Akad nikah berlangsung dengan kilat, tanpa diulang, meskipun suara si Aq gemetaran. Tangannya juga gemetar waktu mau tandatangan buku nikah dan berkas-berkas, sampai diledek oleh si Papap hihihiiii ….

Tangan si Aq masih gemetaran juga, hihihiii

Setelah itu, acara berlanjut dengan sungkeman. Sebetulnya, saya dan si Emak sudah khawatir dengan acara ini, karena banyak yang nggak bisa menahan haru. Saya sih nggak ingin menangis, karena wajah saya cenderung bengkak dan merah-merah dalam waktu lama setelah menangis. Tadinya sudah minta ke tante saya yang ngatur acara, supaya acara ini diskip saja, hihihiii … tapi permohonan saya ditolak, katanya, tenang saja, percayakan kepada Yonie untuk menyulap hidung merah dan mata bengkak supaya tetap segar.

Tapi ternyata, sungkeman juga nggak terlalu mengharukan. Soalnya, pertama, saya dan si Aq pasti harus numpang dulu di rumah ortu kami—karena si Aq anak tunggal, ibunya tinggal sendirian, dan saya juga anak “tunggal”, karena si Abang nggak tinggal di rumah. Jadi, pamitan juga nggak serius-serius amat, toh pasti kami pulang lagi ke rumah, hihihiiii …. Yang kedua, soalnya terpaksa harus sungkem kepada si Abang yang cengengesan dengan jenaka. Gimana mau terharu, dia cengar-cengir dengan ekspresi meledek waktu saya sungkeman (si Aq juga pasti ngerasa aneh harus sungkem sama teman TK-nya, hahahahaaaa).


Bagaimana Bisa Terharu Kalau Harus Sungkem kepada Orang Ini?


Jadi, kata siapa akad nikah harus bertangis-tangisan? Tentu tidak. Apalagi, kalau dihadiri oleh seorang oknum PNS yang joged di balik jendela. Dasar sinting!


Ini dia geng SMP: baju putih berselendang si ibu-ibu oknum PNS, lalu neng Nobi, dan di sebelah kiri saya duplikat Alia Rohali yang makannya banyak.

Selasa, 01 April 2008

Ya Sudah, Panggil Saja Tante ....

Beberapa minggu yang lalu, seorang teman seangkatan saya di SMA, Cep Budiharto, bilang kalau ada murid-muridnya di SMP 32 yang pengen kenalan dengan saya. Kata doski, ada yang pengen nanya-nanya tentang astronomi, tentang dunia tulis-menulis (dunia perbukuan kali yee), dan tentang macam-macam lagi. Saya bilang, okeyyy … siapa tatuuuut. Kan Tante bisa menambah koleksi brondong, hihihiiii.

Laluuu, beberapa hari yang lalu (waduh, saya mah udah lupa hari, jadi maafkan kalo nggak inget kapan tepatnya, hihii), Cep Budi ini menelepon. Katanya, ada murid-muridnya yang ingin ngobrol dengan saya. Jadilah saya kenalan dengan dua orang murid SMP. Cewek lho. (Kalo berniat mengijon, silakan minta izin dulu sama Pak Budiharto) Intinya sih cuma kenalan dan mereka bilang kalau pengen ngobrol sama saya tentang astronomi dan tulis-menulis (ya, saya memang ahli tulis-menulis dan semakin ahli ketika tak dinyana bersua dengan para kubugil—tentu saja dalam bidang tulis-menulis racauan dan hal-hal nggak penting sedunia raya. I’m queen of doing nothing, gitu whluwokhhh).

Penelepon pertama … berjalan lancar (meskipun saya lupa namanya siapa karena ngomongnya singkat, perkenalan doang). Lalu, di sela-sela itu ada suara Pak Guru Budi, “Mar, ini ada satu lagi yang mau ngomong.” Dan … jengjreng, muridnya Pak Guru Budi itu menyapa saya, “Halo, TANTE, mau kenalan ya ….”

Hahahahahahahahahahahahahaaaaaa ….

Beneran dah, dipanggil Tante. Saya langsung ngakak, dan bilang “Waduh, kok dipanggil ‘tante’ sih?” Suara dari sana balas bertanya, “Abis bingung, manggilnya apa?” Ya saya jawab, “Panggil ‘neneng’ aja, gitu,” (meskipun bukan Nenenk Anjarwati, hihihiiiii).

Pasti ini gara-gara si Cep Budi. Waktu telepon sudah dioper ke dia, Cep Budi bilang kalau murid-muridnya juga bingung mau manggil apa sama saya, trus dia bilang karena saya orang Batak, ya sudah, panggil “tante” saja.

Awalnya sih masih agak geli gitu dipanggil “tante” beneran sama anak SMP, hahaha …. Masih berusaha menyangkal kebijaksanaan yang semakin matang (bukan usia yang semakin tua, hihihiii). Eh, ternyata muridnya si Pak Cep Budi ini mengirim e-mail ke saya tadi siang. Dan akhirnya kami YM-an. Namanya Nira, kelas 3 SMP.

Ehhhh … ternyata tetep aja, dipanggil “tante” lagi, hahahahahaaaa! Cuma, kali ini ya sudah, saya pasrah saja. Ada dua alasan, pertama: memang saya punya keponakan seumuran mereka ini, SMP, meskipun dia nggak manggil “tante” (manggilnya “bou”—dari namboru, saudara perempuan ayah). Legian keponakan saya yang paling gede juga sudah hampir lulus kuliah kok … meskipun dia juga nggak manggil “tante”, manggilnya “etek”(saudara perempuan ibu). Kedua: secara struktur hierarki-hierarkian sih, bener juga. Mereka murid Cep Budi. Mereka manggil Cep Budi “bapak”. Saya temen Cep Budi. Ya wajar saja kalau mereka manggil saya “tante”. Meskipun masih geli mendengarnya, hihihihiiiiii ….

Jadi, akhirnya saya pasrah saja dipanggil “tante”. Toh meskipun tante-tante, tetap keren kok. Dan tadi, obrolan kami di YM lucu juga, heheheee… mulai dari bagaimana caranya belajar supaya lulus UN *jangan belajar terus, main juga harus banyak, begitu jawaban saya, hihiii*, dulu Tante SMP-nya di mana, dulu Tante mainnya ngapain aja, Tante dulu ikut les nggak, sampai … dulu Tante pernah naksir sama cowok nggak *dan saya jawab: ya iyyyyalahhhhh … kecengan mah segudang, gitu, hihihiiii*, dan apakah naksir cowok itu mengganggu pelajaran? *saya jawab, tergantung. Soalnya dulu saya malah semangat ke sekolah buat ketemu teman-teman dan kecengan, hahaha … makanya nggak pernah mabal, meskipun sekolah hanya untuk bersosialisasi*

Sayang tadi saya harus segera pergi ke warung, karena ada janji dengan T’ Peni. Jadilah obrolan kami terputus sampai di situ. Setelah mengendapkan peristiwa tadi sebentar, baru muncul suatu kesadaran: apakah saya malah bikin dia ngaco dengan jawaban-jawaban saya? Hihihiiiiiiiiii … yah, Pak Cep Budi, mohon maaf sajahhh … saya mah Etty Gadis Jujur sih, hahahahaha!


Catatan

  1. Sebenarnya, saya adalah jenis orang yang berpendapat bahwa panggilan tidak berbanding lurus dengan kesopanan dan penghormatan. Nggak masalah kalau saya tiba-tiba ditelepon oleh Daffa, salah seorang keponakan saya, “Hei Dek, lagi ngapain?” (hihii … lalu ortunya yang panik), atau diceritai si Ambu Vekih kalau Nenk Zahra tiba-tiba bilang ke abahnya, “Bah, hayu kita ke si Umay!” (hahaha … disebut si Umay sama gadis muda berusia dua taun euyyy … hahaha)
  2. Kalau punya anak, sebenarnya saya juga pengen dipanggil nama saja, nggak usah pake “ibu” atau “nyokap” atau dll. Tapi entahlah, gimana nanti aja. Anaknya juga belum dibikin! Hihihiiiii ….
  3. Mungkin ini juga sedikit gara-gara kualat, karena ogah dipanggil Ms. M setelah ada Ms. A, Ms. D, dan Ms. G—malah ingin dipanggil Tante M saja.
  4. “Cep” pada tulisan di atas bukan bagian dari namanya Budiharto, tapi sifatnya sama dengan “Neng” atau “Jang”.
  5. Ya sudahlah. Pokoknya saya pasrah dipanggil “Tante”. Yang penting darahnya masih bergolak seperti anak muda. Hahahahahahaaaaa!
  6. Gambarnya pake foto Mint Sahi alias teh mint hasil karya si Papah Manggis duonk ... TETAP JUWALANNNN!!!

 

 

Minggu, 23 Desember 2007

Aku, Saya, Gua, Urang, Dewek ....

Akhir-akhir ini ada seseorang yang pernah mempermasalahkan, mengapa saya memakai kata “saya” kalau menulis?

Jadi ingat waktu masih jadi tapol Cinambo. Dulu, di redaksi Qanita ada perdebatan yang lumayan seru—tentang “aku” dan “saya”. Ceritanya, ada seorang penerjemah senior, Bu Rahartati (penerjemah Asterix dan The God of Small Things), yang menerjemahkan buku Qanita, Snow Flower. Buku ini dikisahkan dari sudut pandang orang pertama, yaitu seorang tokoh gadis Cina zaman dulu yang bernama Lily. Bu Rahartati ini keukeuh menerjemahkan “I” menjadi “saya”. Sementara, kami-kami para kru redaksi, merasa lebih enak jika kisah naratif menggunakan “aku”. Alasan kami, pemakaian kata “aku” terasa lebih akrab dibandingkan dengan “saya”. Sementara, alasan Bu Rahartati, sang tokoh yang bercerita dengan gaya naratif ini masih berjarak dengan pembacanya, dan tentu saja dengan orang yang nggak begitu kenal kita akan memilih menggunakan “saya” dan “Anda”, bukan “aku” dan “kamu”.

Akhirnya, Mamah Antie yang dulunya editor Qanita memutuskan untuk mengikuti saja kehendak Bu Rahartati, menggunakan kata “saya” untuk Lily sang narator. Ternyata hasilnya tetap enak dibaca juga. Meskipun mungkin jadi agak berjarak dengan para pembacanya. Tapi nggak tahu juga sih, itu tergantung para pembacanya sendiri.

Lalu, mengapa saya memilih memakai “saya”, bukannya “aku”?

Begini, sejak kecil sampai sekarang, sebetulnya saya lebih nyaman menggunakan kata “saya” untuk menyebut diri sendiri (kecuali kalau ke orang-orang yang memanggil saya “Adek”, lebih nyaman menyebut “Adek blablabla …”). Kalau nggak, ya sekalian “urang”, karena kebanyakan memakai bahasa Sunda sehari-hari kalau sama teman.

Sementara, kata “gua” atau “gue”, terasa sulit sekali diucapkan. Entah kenapa, padahal anak-anak Bandung juga banyak yang ngomongnya “gue-elo”. Si Antjheu juga ngomongnya gitu, bahkan Mami-nya si Antjheu juga, hihihii …. Tapi memang dia sering diledek sih, kalau misalnya keceplosan, “Gua mah hayang ngabaso,” atau sesuatu yang seperti itu (haha … ongkoh gua, tapi hayang ngabaso). Tapi kadang-kadang sih, saya ber-“gue-elo” juga, tapi jarang banget. Ya karena nggak terbiasa aja, soalnya lingkungan sekitar juga nggak banyak yang begitu.

Sampai SMA, saya masih ber-saya dan ber-urang. Tapi, begitu masuk kuliah (di astro, soalnya dulu di Unpar saya hanya punya segelintir teman, hihihii), kok banyak orang Jawa, Sumatra, dan Sulawesi ya, yang ber-aku-aku. Terus, mereka menganggap kata “saya” itu sopan sekali, malah jadi kagok. Akhirnya, jadilah ketularan ber-aku-aku. Apalagi sekarang semakin ngetren gara-gara sinetron. Yang menyebalkan mah ada dua teman saya, satu orang Malangbong (tetangganya Mulan Kwok), satu lagi orang Majalaya, kalau lagi curhat serius ngomongnya ber-aku-aku gitu, padahal kalau sedang gogonjakan mah ngomongnya ber-urang-urang, hahahahahahaaa! 

Masuk kantor, ya begitu lagi, banyakan yang ber-aku-aku juga. Kecuali Teh Nunung dan Mbak Dhias, yang konsisten menyebut dirinya “Nunung” dan “Dhias”. Dan setelah gelombang Suze Antie masuk bersama Nenk Epay dan CCRNC (Ceuceu Rien-ceu, maksudnya), ada teman yang juga ber-saya-saya (si Nenk Epay dan CCRNC itu, soalnya dua-duanya orang Bandung).

Tapi sekarang, ternyata makin banyak serangan kata “aku” itu. Jadi, saya biasanya baru memakai kata “saya” kalau ngobrol dengan teman-teman lama yang memang sudah kebiasaan ber-saya-saya. Karena itu, sebetulnya nggak perlu heran apalagi sampai mempermasalahkan, toh itu sudah menjadi kebiasaan yang nyaman. Sekarang pun, mengobrol ber-aku-aku juga sama nyamannya. Tapi, ber-gua-gua belum senyaman ber-aku-aku.

(Bukan … bukan gara-gara saya menganggapnya terlalu Jakartaan atau kekota-kotaan. Biasa aja. Legian, saya pernah main ke daerah Cikotok di Kabupaten Lebak – Banten sana, dan teman saya bertanya kepada seorang bapak, “Pak, upami ka Halimun ka palih mana jalanna?” “Kin, ku GUA dianteur!” hihihihiiiii …. Sudah sampai ke pelosok desa, kan? Yah, mungkin bilang “gua” sama nggak nyamannya dengan bilang “I” atau “eike” gitu :p)

Tapi, ada satu teori menurut Nenk Epay. Katanya, yang suka ber-saya-saya itu orang Bandung, sementara yang suka ber-aku-aku orang Cimahi. Kalau begitu, pantas saja, karena saya selalu tinggal di Kodya Bandung, bukan di Kotif Cimahi, hahahahaha … (Bagi orang-orang Cimahi, jangan pundung. Nggak tau tuh, itu teorinya si Nenk Epay. Saya mah nggak tau menau ya. Teuing ah. Hihihihiii)

Jadi, sebetulnya nggak perlu dipermasalahkan bukan, aku, saya, dan gua? Suka-suka orang, tergantung nyamannya, betul kan? (Oh, kalau masih dipermasalahkan juga, saya akan menggunakan kata DEWEK saja, sebagai penghormatan bagi leluhur saya yang dari Banten, hahahahaaa)

Keterangan Foto:

Itu foto dewek waktu lagi kecil, udah keren kan ...

Senin, 05 November 2007

Tiga Belas (minus dua) Bocah Tua Nakal ...


Tanpa Ketut, Yana, dan Farkhan

Yah, ini memang bocah-bocah tua nakal, angkatan paling berandal di astronomi, karena prestasi-prestasinya yang membanggakan: satu menghilang dan dua orang pindah ke universitas lain waktu taun kedua, enam dari sepuluh orang kasus sarjana muda, hanya satu orang yang lulus tepat waktu dan IPK-nya di atas tiga, dua oknum dikejar-kejar oleh dosen pembimbingnya (bukan ngejar-ngejar, hehe), ada yang pernah menipu dan mengentuti profesor (yah, memang tanpa sengaja sih kentutnya, tapi tetep aja ... dasar gelo)

Kisah tentang makhluk-makhluk berandal ini bisa dibaca di SINI

Oiya, keterangan foto yang latarnya hijau:
ATAS dari kiri: Ical (yang gondrong), Zaid, Udin
TENGAH dari kiri: Iyam, Tya, Lia, aku
BAWAH dari kiri: Nata, Ina, Vivi

Foto kedua minus Neflia, foto ketiga itu si Ketut, oknum Bali-Tanjungsari tapi berlogat Prabumulih.

Di foto keempat masih ada foto Yana, di belakang si Nata Pehul yang masih pake jilbab, hihihiii .... (karena kulitnya hideung ya maaf, nggak jelas hehehe)

Senin, 22 Oktober 2007

Disfunctional Family


Lupa taun berapa ... kalo nggak salah si Abang masih SMP, rumah masih di Sukahaji

Keluarga yang aneh ... hanya si keren ini yang paling normal dan waras.

Minggu, 19 Agustus 2007

Oh ... si Oranye yang Kucinchaiiiii ...

Mending kalo ditimpuk HP beneran, ini ... ditimpuk bohongan, huuuu ... tapi ya sudahlah, daripada sakit sendiri ditimpuk Kobo di sini, lebih baik nimpuk orang lain juga.

1. Tipe dan Merk HP
Siemens M65, yang katanya antidebu, antiair (cipratan doank), dan antibanting (tapi kalo ada yang sengaja ngebanting, gaplok ku aing! hahaha), dibeli taun 2005

2. Fasilitas 3G
Nggak ada duonkkkkk ... (dengan bangga, hahahaha)


3. Wallpaper
Gambar orang naik sepeda gunung samar2, default dari sononya (males ngeganti-ganti sih, hahahaha)

4. Nomor
Simpati, sejak taun 1998 sampe sekarang nggak ganti-ganti, mau upgrade ke Halo tapi tanggung, nunggu bisa diupgrade ke Halo Hybrid ajah. Tapi karena nggak ganti2 dan gampang diinget itu, jadilah sayah ini pusat informasi (ditambah dengan sedikit sifat embey bocoy juga sih, dewa segala tahu, hahaha)

5. SMS terakhir

Dari T' Nuy, nanyain jurnal

6. Spesifikasi
Yah ... udah disebutkan di atas. Nggak ada 3G, antiair, antidebu, dan antibanting. Pernah kehujanan, pernah kebanting, tapi belum pernah kecemplung, hehehehe

7. On/Off
24 jam nyala, kecuali ... tiba2 abis batre lagi di jalan atau lagi tidur dan baru nyadar pas udah bangun, dan kalo lagi males ditelepon seseorang (hihihi ... jarang banget tapinya)

8. Letak HP
Di tas, di meja, di rak, di dalam bungkus abu-abunya yang bertempel secarik kertas 100% happy, di tempat tidur, di kamar mandi, ah, bisa di mana ajaaa

9. Batere
udah ngedroppppp ... meskipun nggak parah2 amat.

10. Catatan
rekening sendiri, rekening orang lain, catatan utang/piutang warung, catatan2 kecil lain (misal: harus beli sabun cuci piring, lap pel, dll), dll

Nah ... sekarang giliran nimpuk orang lain! (anggota RSJ udah ditimpukin semua yak? Hahaha)
1. Timpuk T' Peni
2. Timpuk Na'
3. Timpuk Boit

ah sudahlah, tiga saja, laki-laki perempuan sama saja, hidup KB!

Selasa, 03 Juli 2007

Salon Mariani

Daripada ke salon-salon mahal, saya lebih memilih ke salon dekat rumah saya, namanya Salon Mariani. Mariani ini nama pemiliknya. Gadis Batak, usianya lebih tua setahun dari saya. Dia mengerjakan segala sesuatunya sendiri, mulai dari mengeramasi, menggunting, meng-creambath, memblow, mengeriting, melulur, melakukan facial, hingga menyapu sisa-sisa rambut di lantai.

Biayanya murah. Gunting rambut dengan cuci dan blow saja cuma dua puluh ribu. Apalagi untuk pelanggan, dia mematok harga lima belas ribu saja. Hasil potongannya sih standar lah, tapi sudah memadai untuk orang-orang seperti saya—yang potong rambut bukan untuk mejeng di majalah atau televisi, hehehe ….

Hanya saja, kelebihannya adalah Mariani sendiri. Dia ini ceriwis dan sok akrab dengan para pelanggannya. Tapi, bukan ceriwis dan sok akrab dalam arti negatif—berbicara dengan Mariani menyenangkan. Buktinya, kalau kita sedang “dikerjai” di salonnya, banyak orang yang menyapa Mariani dari luar pintu yang terbuka. “Hai Mar!” “Kakak!” dan sebagainya.

Mungkin selain karena murah, itu yang membuat salon milik Mariani ini banyak pelanggannya. Bayangkan, saya datang ke sana untuk potong rambut pagi-pagi. Eh, ternyata jadwalnya sudah penuh sampai jam tujuh malam! Akhirnya memang harus membuat janji dulu sebelumnya. Si Emak bertanya, kalau buru-buru, kenapa nggak ke salon lain saja di dekat situ juga? Hmmm … lebih baik saya menunggu sampai malam. Bukan apa-apa, saya pernah ke salon lain yang di dekat situ juga. Mungkin potongan rambutnya sama saja sih, tapi ada sesuatu dari Mariani yang nggak dimiliki oleh salon lain itu.

Nggak tahu apa. Saya sendiri nggak bisa mengungkapkannya. Hanya saja, kalau saya menyerahkan kepala saya ke Mariani, saya merasa “dimanusiakan”. Bukan sekadar kepala berambut yang dijadikan objek eksperimen para penata rambut, yang protes atau permintaan khususnya kadang-kadang nggak didengar. Mau coba ke Salon Mariani? Kalau mau ke rumah saya lewat pasar, pasti melihat spanduk kuningnya yang sederhana kok, di dekat Indomaret. Tapi bikin janji dulu ya … hehehe.

 

Catatan

Salon Mariani terdengar cocok kan untuk sebuah salon kecantikan. Nggak seperti Salon Agus, langganannya Sitorus di daerah Cikutra, hahahaha … (Dan ya ampuuuun, Sitorus itu banggaaaa sekali dengan Salon Agus-nya itu! Dasar cewek brengsek, hahahaha)

 

Jumat, 15 Juni 2007

Keluarga Lubis Zaman Dulu




Kemarin, setelah pemakaman Totok Sutan (abangnya si Papap yang no. 8), banyak keluarga yang datang ke rumah, karena dimakamkannya di TPU Cibarunay, deket rumah.

Lalu, si Abang Hakim ngeliat foto ini dan pengen juga. Yasud, saya scan untuk dikirim via email (Bang Hakim, ntar Adek kirim foto yang resolusinya tinggi via email aja). Tapi, iseng posting di sini, karena fotonya ini lumayan ajaib hehehe ....

Foto pertama itu keluarga Lubis lengkap.
Belakang dari kiri: Totok Karel, yang no. 5 (Pontianak); almarhum Paktuo Kota (namanya Mahkota Lubis), anak Ompung yang paling kasep, no. 1 (Surabaya); Totok Agus, no. 4 (Lampung); Papaya, no. 2 (Bandung); almarhum Totok Rawa, bapaknya Abang Hakim, no. 3 (Jakarta); almarhum Ompung Moeis, adiknya Ompung Armia (Bogor); Bou Justi, no. 6, anak Ompung yang paling cantik da cuma satu cewek hehe (Bandung).
Tengah dari kiri: Totok Ikok, no. 7 (Bandung); almarhumah Ompung Armia; almarhum Ompung Hitam (karena di foto rambutnya hitam, hehe ... nama aslinya sih Marah Supi Lubis); almarhum Totok Sutan, no. 8 (Bandung)
Depan: si Papap, no. 10, celeno dengan celana monyetnya, hahahahahaha ...; Totok Bung, no. 9 (Jakarta)

Foto yang kedua, diambil di Bukittinggi. Anak terakhir Ompung baru Totok Ikok (yang digendong Ompung Armia), yang tiga lagi belum ada, jadi fotonya ditempel aja di pinggir hehehe ...

Sabtu, 09 Juni 2007

Kata Bapak Sinshe, Saya ini Telmi ....

Tadi pagi, si Emak sudah heboh mandi, mau mengantar Tante Ati ke tempat pijat alternatif di Jl. Diponegoro. Lalu, kata si Emak, kenapa Adek nggak numpang aja naik taksi? Toh Jl. Diponegoro bisa lewat Sulanjana.

Tapi, di tengah jalan, Tante Ati mengajak-ajak, “Cobain aja Dek, siapa tau enak. Nggak sakit kok dipijatnya, nggak kaya’ refleksi.” Ya sudah, oke duech …. 

Setelah agak lama menunggu, bapak “sinshe”-nya datang juga. Masih muda, paling baru 40 taunan lah. Meskipun ada empat orang sebelum kami yang mengantre, karena dipijatnya nggak lama, jadi beberapa saat kemudian, tibalah giliran si Emak, lalu saya. Tante Ati masih menunggu di kursi (karena tempat tidurnya cuma dua).

Waktu si Bapak melihat si Emak, doski langsung bilang, “Ibu ngajar ya?” Lho, kok tau Pak? “Saya bukan paranormal. Kalo bahasa kerennya sih ‘indigo’ hehe …” Oh, begitu toh. Walah, si Bapak bisa baca pikiran nggak ya? Lalu, saat memijat si Emak, doski berkomentar begini, “Kalo saya punya duit banyak, saya mau jadi produser dan bikin film silat dengan bintang film si ibu,” Itu karena badannya si Emak keras-keras, padat (sampai kita capek kalo disuruh mijitin). 

Setelah si Emak selesai, tibalah giliran saya. Si Bapak ternyata langsung tahu masalah saya apa (suka sakit kalo lagi bocor). Terus, pas dipijat-pijat lagi, katanya suka kembung juga (mungkin ya, soalnya sering kentut hikhikhik). Yang paling mengagetkan adalah ketika saya disuruh telungkup dan si Bapak memijat punggung saya. Doski bilang begini sama si Emak, “Bu, anak Ibu ini susah makan ya?” Hah? “Ah nggak kok Pak, dia mah pemakan segala,” tukas si Emak. “Iya, tapi cuma makan yang dia suka aja.” Si Emak nggak menjawab lagi, cuma senyum-senyum. Lalu, si Bapak berkata lagi, “Bu, anak Ibu ini kok kaya’nya agak telat ya?”

HAH? 

“Telat gimana, Pak?” si Emak nanya. “Ya gitu, kalo ditanya suka bengong, susah jawabnya, lama, suka ‘euuuhhhh … euhhhhhh …’. Suka telat mikir.” HAH? Telat mikir? (Hmmm … apakah ini alasan mengapa selalu terjadi peristiwa “dumb and dumber”? Hahahaha) Si Bapak meneruskan memijat saya. “Kaya’nya saluran darah ke otaknya tersumbat nih. Tapi bisa diberesin kok.”

Tadinya agak bete juga dikomentari telmi, tapi mungkin ada benarnya juga kok hikhikhikhik …. Yah, siapa tahu pijatan si Bapak bisa membuat kecerdasan saya bertambah, mendapatkan beasiswa, kuliah lagi, dan seterusnya, hahahaha! (Tapi … kalau saya nggak telat ngejawab atau berkomentar, kasian Sitorus duonk. Saya telmi aja dia sudah dinistakan melulu, apalagi kalo nanti kecerdasan dan keterampilan berbicara saya bertambah! Hahahahahaahahahahaahahaha!)