Rabu, 20 September 2006

Canyoning: Mencoba Menaklukkan Air Terjun







Hiking? Sudah biasa. Rafting? Sudah
banyak operator rafting komersial di berbagai sungai di Indonesia.
Tinggal membayar sejumlah uang, kita bisa langsung menjajal jeram-jeram sungai.
Panjat tebing? Jika malas ke Citatah atau Gunung Parang, di beberapa kota
besar juga sudah banyak dibangun dinding-dinding buatan yang menyerupai tebing.






Jadi, ingin mencoba sesuatu yang
baru? Silakan mencoba canyoning. Sensasi yang dirasakan kira-kira mirip dengan
panjat tebing digabungkan dengan rafting, kegamangan berada di ketinggian
bercampur dengan percikan—bahkan guyuran—air ke tubuh kita langsung.






Canyoning (atau dikenal juga dengan
nama canyoneering) sendiri—sesuai asal katanya, canyon—sebetulnya berarti
perjalanan mengarungi canyon atau air terjun, dengan berbagai cara: berjalan,
merayap, memanjat, melompat, menuruni tebing air terjun dengan tali, dan
berenang. Tapi, kadang-kadang memang sering terjadi pergeseran atau penyempitan
makna. Biasanya sih kalau teman-teman saya mengajak “Canyoning, yuk!” itu
artinya adalah ajakan menuruni sebuah air terjun dengan teknik turun tebing
berupa rapelling dan tali-temali.






Kalau di Bandung sih, biasanya
tempat canyoning yang relatif dekat adalah Curug Ubrug di daerah Parongpong Lembang,
dekat Villa Istana Bunga dan Pusdik Kavaleri (yang banyak kuda-nya). Jalan
masuknya sih lewat Villa Istana Bunga, di dalam kompleks villa ini akan ada
gerbang menuju perkampungan penduduk. Dari situ kita bisa mencapai curug alias
air terjun ini.






Sebelum mulai menuruni air terjun,
hal pertama yang harus dilakukan adalah mencari tempat untuk memasang pengaman.
Tentu saja pengaman yang dipasang harus betul-betul aman. Biasanya sih
berlapis-lapis, ada yang dipasang ke batu besar, ke batang pohon, atau ke benda
lain yang tentu saja harus kokoh betul. Kadang-kadang juga harus ada seorang
belayer di bagian bawah air terjun. Dan jangan lupa untuk memeriksa pengaman
tubuh kita, apakah harness-nya sudah terpasang sempurna atau carabiner sudah
terkunci. Jangan lupa juga pakai helm! Selain untuk keamanan dan keselamatan
kita, helm ini berguna untuk menahan semburan air. Baju yang dipakai juga
sebaiknya wetsuit untuk berbasah-basah (dan jangan lupa bawa ganti ya, sampai
baju dalam juga—soalnya memang basah sekujur tubuh).






Dan memang betul, sensasi rasanya …
glek! Pertama menjejakkan kaki di bebatuan saja sudah tegang, karena batu-batu
basah terasa licin di kaki. Ketika mulai melangkah turun, tambah tegang lagi,
karena di bagian awal air terjun ini semburan air begitu kuat. Hati-hati juga
jangan sampai jari kita terjepit di antara tali dan batu (soalnya saya pernah
begitu, hikhikhik … moal deui deui). Kalau nggak mau begitu, berarti pijakan
kaki kita harus kuat ke tebing air terjun (jadi tali pengaman nggak akan
menempel di batu). Selama beberapa detik, waktu itu saya merasa sesak napas.
Karena, selain tegang dan takut pegangan saya pada tali terlepas, deru air
terasa membuat tuli dan dorongannya begitu kuat, menampar kepala, wajah,
terutama mata. Tetapi, beberapa saat kemudian, saat sudah agak turun, baru
terasa kenikmatannya. Serangan air sudah mulai mereda dan indra kita sudah bisa
berfungsi kembali—melihat pemandangan indah dari ketinggian dan mendengarkan
percikan air.


canyon






Setelah sampai ke bawah, biasanya
kami turun ke sebuah batu besar di bagian dasar air terjun, nggak pernah
langsung mencebur ke air (saya nggak tahu euy, teman-teman saya sudah ada yang
pernah mencoba langsung mencebur ke air belum ya? Soalnya memang sih, telanjur
basah, hehe). Setelah itu, biasanya muncul dorongan ingin lagi, lagi, dan lagi
…. (dan yang menambah kenikmatan adalah setelahnya, karena biasanya murak bekel
alias makan bekal bersama-sama. Mie kuah instan pun terasa nikmaaaaaaat!)







Mau mencoba?




(model foto: Nenk Oey & Cep Gumi, soalnya waktu bongkar-bongkar
foto cuma ada itu euy hiks ... yang di tengah beda motretnya sama yang
di pinggir-pinggir)














11 komentar:

  1. suze, kalo rencana kita itu berjalan lancar tanpa curahan air mata dari berbagai oknum, kamu bisa melakukan kegiatan ini kapan saja. uhukss... kalo aku sih takut. aku pengecut....

    BalasHapus
  2. iya, aku juga punya banyak rencana. Salah satunya adalah membuat si Bulek iri, karena nanti perutku langsing penuh dengan kotak-kotak, lenganku berotot, dan senyumku selalu ceria hahahahahahahahahahahaha ....
    (karena kerjaannya main melulu, hikhikhik)

    BalasHapus
  3. Mau, mau dong mencoba. Ngomong-ngomong di Bandung sudah ada operator yang handal buat canyoning?

    BalasHapus
  4. Hayuuuuk ... (kalo pulang ke Bandung bilang-bilang ya hehe)
    Di Bandung lumayan banyak kok yang andal, teman-temanku juga tepercaya kok, ilmu & pengalamannya udah mumpuni.
    (kalo saya mah cuma sebagai pengguna dan penikmat, hahahahahaha)

    BalasHapus
  5. Ceu Mar...pengen nyobain gimana cara?? :D

    BalasHapus
  6. loh, kirain ini postingan baru...
    ternyata kita masih ngantor waktu ituuu.. hohoohohoho....

    BalasHapus
  7. Benerann nih langsung mupeng ngliatnya....!

    Hayuuuuksss.... :-)

    April besok oke ??
    Eh, lam kenal dulu ya

    BalasHapus
  8. biasanya saya mah main sama anak-anak gpa sman 2. sayang, sekarang para penggiat canyoningnya udah pada gawe, yang satu di kalimantan, satu di bandung (tapi susah jadwalnya), satu lagi di phuket, jadi bencong hihihiiiiiiii (nteu ketang)

    kalo ada rencana canyoning nanti kukasitau deh, barudak mah welcome sama teman-teman baru.

    BalasHapus
  9. belum bisa dipastiin jadwalnya sih.
    soalnya lihat jawaban saya untuk emma. anak-anaknya udah pada kerja, belum tentu april pada balik.

    BalasHapus
  10. baik bu....makasih .....*tertunduk lesu*... :p

    BalasHapus