Pertama kali melihat bocah ini di
jurusan Astronomi, perasaan saya sudah nggak enak. Sepertinya tengil, centil,
dan menyebalkan. Tapi, karena beda 4 angkatan dengannya, ya saya cuek saja.
Soalnya, nggak mungkin bakal mengulang kuliah dengan angkatan 2001,
hahahahahaha! (dengan angkatan 2000 pernah sekali, waktu Matriks & Ruang
Vektor, hehehe)
Kebetulan saya nggak ikut
hehe—angkatan dia. Soalnya lagi demam waktu itu. Padahal itu tahun kedua saya
jadi swasta, dan seperti biasa para swasta di Himastron sudah selayaknya
menyebalkan (Contohnya, ketika suatu siang teduh dengan angin sepoi-sepoi harus
mendengarkan kisah zaman kekuasaan si Papa Tom dengan suaranya yang
menghipnotis, tanpa boleh tertidur). Sebetulnya sedikit menyesal juga kenapa
saya harus terkapar di rumah pada saat itu, karena saya ingin sekali melihat si
bocah ini disiksa setengah mampus (Setengah mampus di sini, mohon jangan dibaca
dengan persepsi perpeloncoan seperti jurusan-jurusan penuh lelaki seperti
Geologi atau Mesin ya, tapi setengah mampus karena saaangat melatih kekuatan
mental saking menyebalkannya).
Setelah Garden Party, mulailah
makhluk ini sering muncul di Himastron. Penampilannya sih gampang dikenali,
karena dia hobi sekali memakai barang-barang berwarna pink, sama dengan Ira
(salah seorang teman seangkatannya). Lama-lama, jadilah dia dijuluki Bona, dari
nama bagus-bagus Dewi Pramesti Kusumaningrum dengan panggilan Esti (Uh, sok
imut bangettt). Yang pertama kali mencetuskan “Bona” ini adalah si Nata.
Kenapa? You know lah, Bona itu
gajah kecil berwarna pink (hahaha … aku nggak menyinggung anatomi lho ya Bon, cuma
ngasih petunjuk :p). Setelah beberapa lama di Himastron, dia mulai akrab dengan
si Coni alias Cowok Nimbrung dan mulai deh, menyuruk-nyurukkan diri ke dalam
pergaulan kakak-kakak kelasnya yang keren-keren ini.
Awalnya, setiap bertemu saya di
Himastron, dia selalu menjerit, “Kakaaaaaaaaa!” jadi ya saya panggil saja dia
Bimbim. Tapi lama-lama, panggilan Bimbim ini memudar. Soalnya, citra “Bona”
begitu kuat melekat pada dirinya.
Yang paling khas dari si Bona ini
adalah … suaranya. Kalau kalian mendengar suaranya tanpa melihat orangnya, pasti
akan menyangka dia seorang anak TK yang tersesat di rimba belantara ITB. Suatu malam,
waktu saya sakit, dia pernah menengok ke rumah bersama Coni dan Nata. Nata
sudah masuk duluan, dia dan si Coni masih ada di ruang kelas TK di bagian depan
rumah. Tiba-tiba, terdengar suara seorang anak membaca doa, “Ya Allah, …” si
Emak langsung berlari ke depan, menyangka ada seorang anak TPA atau TK yang
masuk ke dalam kelas. Atau ketinggalan, belum pulang. Ternyata … bocah itu sedang
cengar-cengir di kegelapan bersama si Coni. Hahaha, disangka anak TK!
Karena mereka (si Coni dan Bona)
ini semakin lama semakin mendesak-desakkan diri ke dalam pergaulan, akhirnya ya
jadi akrab. Sempat juga dia dijuluki Ceni alias Cewek Nimbrung, tapi julukan
ini juga nggak bertahan lama. Akhirnya, kita jadi sering nangkring di
Himastron, bertengger di pelataran belakang Himastron sambil ngeceng
burung-burung dari kebun binatang, makan pisang panggang dan indomie rebus di
Dago, jalan-jalan berkeliling
dan macam-macam lagi. Kalau makan di warung
paling seru, apalagi kalau di Warung Padang Singgalang di Tubagus Ismail.
Biasanya saya, Nata, dan si Coni makan gulai kepala ikan patin, yang membuat si
Bona amat sebal dan ngeri, karena dia takut ikan! (Sungguh aneh, bahkan
menonton Finding Nemo yang lucu pun nggak mau!)
Acara-acara nangkring ini pula yang
membuat terbentuknya Goerita Malam, band aneh dengan personil-personil yang
aneh juga, yang hobi menyanyikan lagu-lagu Indonesia zaman dahulu tapi
sok-sokan sudah go international (manggung di hadapan profesor tamu dari
Belanda dan Jerman di Observatorium Bosscha sudah termasuk kan? Hahaha) dan
pernah mengiringi Tante Henny Purwonegoro di acara pensiun Babe. Awalnya sih,
pulang dari warung pisang panggang di Dago itu (Padaloma) kami menyanyikan
lagu-lagu perjuangan. Keras-keras, karena sudah tengah malam ini, kampus sepi. Lama-lama,
lagu-lagu perjuangan berganti menjadi lagu-lagu Indonesia Romantik, kebanyakan
karya Ismail Marzuki. Dari situ tercetusnya ide untuk mendirikan band aneh.
Kebetulan nggak berapa lama dari waktu itu, ada acara di gerbang ITB (aduh saya
lupa euy, naon nya?). Akhirnya kita jadi manggung juga dengan tiga lagu, Juwita
Malam, Payung Fantasi, dan Kopral Jono (yang belum berubah menjadi bencong,
hahaha).
Sebagai personil Goerita Malam, si
Bona ini selain vokalis juga adalah pemain flute. Ciri khas Bona jika bermain
flute adalah … jika konsentrasi terganggu, flute-nya nggak bunyi (biasanya
karena tertawa, hahaha … ya sudah jelas lah!). Dan anehnya, kalau sedang
menyanyi, hilanglah suara cempreng yang menyebalkan itu. Berganti dengan husky
voice yang menggoda, hahaha. Selain kursus flute, dia juga sempat les balet (oh
noooo … Bon, please duech. Meskipun waktu TK juga aku ikut balet, tapi sekarang,
Bon? Hahaha). Mungkin bakat seni ini sudah terpupuk sejak kecil, waktu ssst …
dia sempat jadi artis cilik (sayang saya nggak tahu nama trio-nya apa, tapi
penasaran ingin menonton videoklipnya dan tertawa puas, hahahahahahahahaha!).
Dan mungkin ini juga yang membuat dia punya banyak referensi
aneh, yang pernah dipraktikkan saat pertama kali Goerita Malam manggung
hahahahaha ….
Keanehan demi keanehan semakin
bertumpuk, terutama saat dia main ke Pasar Simpang bersama si Nata. Ceritanya
bisa dibaca di sini. Padahal ibunya pengusaha restoran yang sukses lho, dengan
sop buntut yang terkenal. Hubungan dekat dengan ibunya ini juga sering jadi bahan
ledekan, soalnya dia manja, hahahaha! Suatu kali, dia pernah menerima telepon
dari rumah. Yang pertama bicara adalah kakaknya. Biasa deh, dengan kakak cowok
sering berantem. Lama-lama, dia bertanya, “Mama mana?” Setelah ibunya yang
berbicara di seberang
suaranya berubah drastis! (yah, mirip anak TK lagi, hahaha). Sepandai-pandainya
menutupi, tetap saja hal-hal memalukan ini bisa diketahui oleh khalayak.
Seperti saat dia salah mengirim sms untuk ibunya ke nomor hp si Abang, yang
isinya “Mamaku chayank, … dst., dsb. … (hahaha … nanti aku dimusuhin ah kalau
ditulis di sini isinya apa).
Satu lagi keanehan dari Bona,
setiap semester baru dia sering gelisah. Sampai-sampai si Nata membuatkan sebuah
slogan untuknya, berbunyi “Semester Baru Jangan Sendu”. Syukurlah tampaknya
semester ini dia sudah nggak begitu sendu, karena akhirnya lulus sarmud
jugaaaa! (Horeeee … selamat ya Boooon!) Dia juga termasuk salah seorang trio
Libra di Himastron (ulang tahunnya 4 Oktober, Ayu Louie 5 Oktober, dan saya 6
Oktober). Herannya, kepribadian tiga trio Libra ini saaangat berbeda-beda. Meskipun
sama-sama baik hati (hahaha, betul kaaaaan?), Bona ini saaangat moody. Sering
ada acara batal gara-gara dia sedang nggak mood. Tapi dia baik hati, selalu
siap menolong jika ada teman yang tertimpa musibah.
Masih banyak sih tentang Bona yang
nggak bisa ditulis di sini. Seperti tentang kisah-kisah cintanya yang
menyedihkan (padahal sih banyak orang yang bersedia mengadopsinya sebagai
pacar, huuuu!), kesukaannya terhadap kopi dingin yang dibeli di Circle K, kegilaannya
terhadap lagu-lagu swing jazz, dan banyak lagi.
Jadi Bon, ini
masih semester baru. Semester baru, jangan sendu, okeyyyyy!
Keterangan foto:
1. Duet sama Tante Henny di Bosscha
2. Show di pelataran depan Himastron bersama Cuppy si Cumi-Cumi, Atep, dan Onah
3. Ini dia ... Semester Baru Jangan Sendu! (foto bututnya itu bikinan si Nata
ya? Jadi kalo butut ya maklum aja hahahahahahaha!)
Barusan si Coni begitu baca langsung message via YM, ngingetin beberapa hal yang terlupa, salah satunya adalah kisah "Dunia Tak Selebar Daun Kelor". Ceritanya, si Bona ini lagi patah hati, bermuram durja, dan mengurung diri di tempat kostnya, di Dago (yang sekarang jadi BCA, depan Circle K). Lalu, saya & si Nata berinisiatif untuk menghiburnya. Jadi, dengan mengendarai si Surti, saya membonceng Nata yang membawa sebuah plastik besar, yang kami titipkan di Pak Satpam tempat kost-nya.
BalasHapusIsinya apa?
Sebuah globe besar properti Himastron, dengan tulisan butut cakar ayam: "DUNIA TAK SELEBAR DAUN KELOR"
Kalo dipikir-pikir sekarang, niat pisaaaan, ngejailin sambil bawa-bawa globe segede-gede dosa. Akhirnya, globe Himastron itu menetap di kamar kostnya selama beberapa bulan, karena si Bona malas membawanya kembali ke Himastron, hahahaha!
(Tapi kiriman globe itu bikin dia tersenyum kembali, hikhikhik)
huahahahahahahaha.....
BalasHapusnice story.....
jangan sendu, Bona...
lihat foto ketiga itu...halah! ekspresinya ga banget, dueh!
iya, itu sok-sokan niru Paramitha Rusadi, hahahahahahahahahahaha ....
BalasHapuskomentar dari Nata di blog friendster: http://mmlubid.blogs.friendster.com/mmlubis/2006/09/bona_semester_b.html
BalasHapusooooo ini bonaposesief yang superposesif sama gue dengan kelakuan supergalak superjutek dan superehm itu...
eh tambahan biar imejnya oke: dia juga baca tempo, time, buku-buku sastra dan wacana. jangan salah...
semog abertemu dengan yang mempelajari si itu bumi di batas cakrawala hohohohoho
Dan sekarang suka baca puisinya SDD, serta nulis-nulis puisi cinta di bukom himpunan!!
BalasHapusKok jadi ngegosip gini ya? :D
Ohhhh ... belum "sembuh" juga diaaaa ...
BalasHapusHahahahaha
huahahahahah, mbakyu satu ini emang spesialis buku tahunan ... semua kenalan dibahas dengan gaya !!!!
BalasHapusitu kalo aku bener-bener kenal deket sama orangnya, kalo nggak kenal deket aku nggak berani hehehehe ...
BalasHapus