Rabu, 06 September 2006

BURANGRANG [PART 1]




Ajakan naik gunung lagi ternyata sulit
ditolak. Padahal “hanya” Gunung Burangrang, di sebelah utara kota Bandung. Acara
sebetulnya sih adalah pembukaan pra-pendidikan & latihan dasar GPA, intinya
sih pelantikan siswa baru (Mau jadi siswa aja dilantik. Nanti ada lagi
pelantikan anggota muda, lalu setelah menempuh beberapa tahap pendidikan
lanjutan lagi baru ada pelantikan anggota penuh, ough … syukurlah sudah
melewati masa-masa itu, hehehe).






Rencana sudah disiapkan seminggu
sebelumnya, dengan mengajukan cuti pada hari Senin, tanggal 4 September
kemarin. Acara naik gunungnya sih hari Minggu, 3 September, tapi kami akan
mulai bermalam di area dekat Bandrek yang sekarang jadi bumi perkemahan. Karena
di formulir cuti kantor saya ada isian “Alasan cuti” (sungguh aneh, padahal kan
cuti itu hak pribadi ya, nggak usah ditanya alasannya apa hehehe), saya
mengisinya dengan “Acara keluarga”. Betul kan, nggak bohong-bohong amat? Acara
dengan keluarga besar GPA, hahahahaha …. Selain itu, sebetulnya cuti hari Senin
tersebut adalah karena saya takut bangun terlambat karena hari Minggunya
terlalu capek.






Karena sudah lama nggak
“leuleuweungan”, saya agak grogi juga waktu mengepak barang-barang. Padahal
cuma mau pergi dua hari satu malam. Mana nggak punya ransel yang lumayan besar
lagi (minimal 45 literan), hanya ada beberapa daypack yang besarnya tanggung.
Apalagi musim kemarau, pasti pada malam dan menjelang subuh dingin sekali,
hiiii … makanya saya memaksa diri membawa jaket bahan polartech yang tebal,
padahal volumenya besar. Sebetulnya sih barang-barang saya cukup di satu
daypack, tapi … OMG, saya belum membawa perbekalan. Jadi, dengan terpaksa saya
membawa lagi satu daypack untuk diisi perbekalan, ditambah dengan satu camelbag
kecil untuk dipakai si Aq. Hiks, sungguh kemping yang nggak praktis. Dan
ternyata, waktu saya sampai di sekretariat GPA di SMA 2, si Aq menunjukkan
sebuah kantong plastik besar berwarna hitam yang berisi dua buah sleeping bag.
Hahahaha … memalukan! Maenya anak PA babawaanana angkaribung (masa’ anak PA bawa
barang-barangnya ribet dan nggak praktis, gitu bok)!






Setelah para calon siswa dan
anggota yang masih SMA pergi dengan angkot carteran jurusan Stasiun – Lembang
jam 1 siang, si Aq muncul dengan si Surti tercinta. Jadilah kami menggantungkan
plastik hitam berisi sleeping bag di bagian dalam “dada” si Surti, si Aq
menggendong daypacknya yang juga penuh di depan, saya menggendong sebuah
daypack di punggung dan menyelipkan sebuah daypack di depan. Tadinya sempat
ragu-ragu, bisa nggak ya Grand Astrea ’96 yang sudah butut sampai dengan
selamat di basecamp? Belum-belum, baru sampai di Parongpong, pantat saya sudah
sakit-sakit dan pegal. Untunglah ada minimarket, jadi kami mampir dulu di situ,
membeli minum dan sempat makan burger. Setelah itu, lanjut lagi!






Ketika melewati Plang Komando, hati
saya mulai berdebar-debar. Jalan batu gitu bok, belum diaspal. Si Surti mampu
nggak ya? Apalagi dia menanggung beban yang berat di punggungnya. Makin ke
atas, jalan makin jelek, batu-batunya semakin besar. Malah ada yang
sebesar-besar kepala bayi. Hiii …. Di tengah jalan, si Aq mengambil jalan
memotong lewat perkampungan penduduk. Ough, yang ini juga sama saja. Karena
musim kemarau, debunya banyak sekali! Setelah keluar dari jalan setapak penuh
debu itu, kami melewati lagi jalan berbatu. Sampai akhirnya tiba di Bandrek,
dan kami membelok ke kiri (kalau terus sih ke Situ Lembang). Setelah melihat
mobil Jimny Jangkrik-nya si Soe Hok Tau alias Rere, si Aq terus mengemudikan si
Surti ke jalan menanjak yang berpasir halus. Di tengah jalan, hampir saja
jatuh! Untung refleks kami masih agak bagus, jadi saya segera melompat turun
dan meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Piuh ….






Sampai di basecamp, setelah
menurunkan barang-barang dari motor, kami langsung membantu anak-anak
mendirikan flysheet. Setelah beres, saya sempat jalan-jalan sebentar di sekitar
situ. Nggak terasa, kok tiba-tiba matahari sudah terbenam ya. Setelah maghrib,
anggota melakukan uji coba game ice breaking untuk para calon siswa. Tentu saja
sambil tertawa seperti setengah gila. Lalu, setelah para calon siswa makan dan
menjalani sesi game, mulailah sesi api unggun sekaligus perkenalan. Sayang
anggota yang datang nggak terlalu banyak, calon siswanya juga cuma enam orang
(sisanya terganjal beberapa hal, seperti izin orangtua dan katanya ada yang
sakit). Setelah itu, kami siap-siap … tidur! Ya iya lah tidur, besok pagi mau
trekking
! Apalagi karena penanggung jawab dapur ternyata nggak datang, jadilah
saya merelakan diri untuk mengurus sarapan anak-anak (nggak tanggung ya,
rasanya! Hahahaha).






Urusan tidur juga sedikit
merepotkan, karena harus “berebut lapak”. Lagipula udara dingin sekali, jadi
flysheet di dekat dapur nggak ada peminatnya. Yang banyak diminati sih di
sekitar api unggun, lumayan agak hangat soalnya, meskipun kadang-kadang bau
asap—jika angin berembus dari arah tertentu. Syukurlah kebagian tempat di dekat
api unggun. Hiii … dinginnya, padahal saya sudah memakai jaket polartech dan
menyelubungkan sleeping bag sampai kepala. Yang lumayan nikmat sih di sebelah
flysheet kami, soalnya bertengger sebuah tenda dome. Cuma nggak enak kalau mau
kudeta, soalnya bukan anak-anak GPA, tapi alumnus SMA 2 tahun 2003 yang memang
ikut kemping bersama kami. Yang menyebalkan, banyak pengunjung lain yang
ribuuuut menyanyi-nyanyi dengan keras (Ough, yang paling membuat kesal adalah
karena mereka menyanyikan lagu Nidji berulang-ulang, yang judulnya “Hapus Aku”
itu lho. Very annoying, karena lagu itu jadi terngiang-ngiang di telinga.
Huekkkkkkkk).






Setelah “uyek-uyekan” selama
beberapa lama, gelisah dan sedikit gatal-gatal, agak grogi karena besok harus
bangun pagi untuk masak bubur kacang hijau dan … mendaki Burangrang. Karena
saya termasuk PA “murtad” (perasaan banyak “murtad”-nya gini ya, astronom juga
“murtad” hahaha), saya belum pernah ke Burangrang! Memalukan! Selain itu,
pengalaman terakhir saya naik gunung itu hampir enam tahun yang lalu, waktu
perintisan jalur Selatan Gunung Halimun (kalau “leuleuweungan” ringan sih
sering, misalnya ke Situ Lembang, atau jalan kaki dari Sukawana ke Tower
Tangkuban Parahu lalu balik lagi ke Sukawana). Tapi akhirnya saya merasa nyaman
juga dan … segera tertidur.









Bersambung ya, takut kepanjangan
kan males bacanya (selain itu ngetiknya juga capek, hahahaha)












6 komentar:

  1. kasiannya Surti... hiks...
    dipaksa mendaki Burangrang.....

    BalasHapus
  2. hehehe ... nggak sampe Burangrang, Teh Peni. Cuma sampe Warung Bandrek. Tapi sampe situ juga medannya edun lah buat si Surti, saya mah berharap dia teh berubah menjadi seekor motor trail tapi ternyata nggak kesampean, hahaha!

    BalasHapus
  3. Hahaha ... teringat disiksa swasta sampe mampus? :p

    BalasHapus
  4. Swasta aneh itu? Iya lah... Ga ada sungai ga ada laut malah nanya "bisa berenang gak?"

    BalasHapus
  5. Lho, itu kan pertanyaan standar?
    Tinggal dijawab "Bisa!" atau "Nggak!"
    Para swasta udah cukup puas mendengar jawabannya kok, hahahahahahahaha

    BalasHapus