Rabu, 28 Mei 2008

Kriminalitas di Kalangan Mahasiswa

Tulisan ini ada di blog friendster lamaaaa, tapi karena teman seangkatan saya mengingatkan kisah ini, jadi tulis lagi aaahhhhh di sini, hihihiiiii ....

Mahasiswa adalah sosok tanggung—baru beranjak dari usia remaja dan memasuki tahap dewasa muda. Sudah jelas, pada usia-usia sebaya mereka, para mahasiswa masih labil. Mereka juga mudah tergoda oleh  pengaruh-pengaruh negatif yang begitu gencar menerpa.

Salah satunya adalah seperti yang pernah saya alami ketika masih duduk di semester tiga. Saat itu, saya dan teman-teman baru saja menyelesaikan TPB (Tahap Persiapan Bersama) di ITB. Mata kuliah di TPB ini hampir seragam untuk semua jurusan, kecuali FSRD, salah satunya mata kuliah Fisika Dasar. Bobot Fisika Dasar ini 4 SKS, dan tentu saja dilengkapi praktikum yang  membosankan—menurut saya. Mungkin ada beberapa teman yang tidak bosan mengikuti praktikum ini, karena banyak mahasiswa-mahasiswa tingkat atas yang jadi asisten lab. Kebanyakan mereka adalah mahasiswa jurusan Fisika, hanya segelintir yang dari jurusan Teknik Fisika. Dan kebanyakan laki-laki, tidak seperti asisten lab kimia. Tentu saja, lab ini jadi ajang perkecengan dan sarana saling mengincar.

Rupanya, pesona seorang asisten lab telah mencuri hati teman saya. Dua orang sekaligus, lagi. Hebat sekali. Padahal, kalau menurut saya, dia biasa-biasa saja, tipikal “mas-mas ITB” gitu deh. Tapi mungkin kegalakannya (yang menurut teman-teman saya adalah sifat tegas) yang jadi salah satu daya tarik.

Kedua teman saya ini bagaikan musuh dalam selimut—tampak rukun, padahal dalam hati mereka bergelora. Menurut mereka, tidak ada persaingan. Tapi, kami yang ada di sekitar mereka merasakan hawa panas persaingan ini.

Suatu hari, kami menemukan sebuah fakta, yang menjadi pencetus kriminalitas ini. Karena, hal ini menyangkut masa depan salah satu teman kami yang jadi peserta persaingan.

“Neng (nama disamarkan), kami harus memberitahumu sesuatu,” kata kami waktu itu.
“Apa? Apa?” kata si eNeng. Rasa penasaran membuncah di dalam dadanya.
“Kami tahu sesuatu tentang kecenganmu,”
“Apa? Tentang apa? Kenapa?”
“Mmm … nanti deh kami ceritain. Tapi, traktir dulu makan dong,”

Akhirnya, kami semua pergi ke Jalan Ganesha. Di sana banyak jajanan. Setelah memesan batagor dan yoghurt, temanku langsung membayarnya. Kami lalu duduk di meja, di bawah kerindangan pohon-pohon besar.

“Jadi, apa beritanya?” si eNeng tidak sabar.
“Mmm … nyam … nyam …” kami masih asyik menikmati batagor dan yoghurt.
“Ayo doooong! Cerita!”

Ehem. Baiklah.

“Begini Neng, pertama, kami ucapkan terima kasih untuk traktiran batagor dan yoghurtnya,” kami menarik napas dulu, menelan sisa kunyahan yang ada di mulut, lalu mulai lagi, “Lalu, ada yang harus kami sampaikan kepadamu.”
“Apaaaaaa?” rupanya dia mulai tidak sabar.
“Ehem,” kerongkongan perlu dibersihkan terlebih dahulu. “Begini Neng … kecenganmu … jadian … sama si Nona … (nama samaran teman kami yang sama-sama mengeceng si Mas ITB itu).”

“Ya ampuuuuuuuuuuuuuuun … Sialaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan!”

Dan kami pun tertawa puas di atas penderitaan teman sendiri.


Moral cerita ini: Jangan cepat teperdaya oleh rayuan maut teman-teman yang mencoba memeras Anda. Terutama untuk hal-hal yang remeh-temeh seperti kecengan dan gebetan. Si Neneng dan si Nona ada di dalam foto seangkatan yang segelintir itu, tapi saya nggak mau bilang yang manaaaahahaahahahaaaaaaaa ....


Sabtu, 24 Mei 2008

Tante-Tante Legendaris di Bandung

Gara-garanya sih, karena akhir-akhir ini sering bergaul dengan seorang TUKUGIL, ibu-ibu tukang kue “gila” yang bernama Ibu Susi alias Teh Uci alias ibutio, yang nyaris di setiap pertemuan selalu membahas tante-tante pengusaha di Bandung (hihii … iseng banget yak).

Yah, Bandung kan kota kecil, apalagi bagi para seleb lokal seperti kami ini (hahaha … huekkk), pergaulannya saling sambung-menyambung menjadi satu. Jadi, bagi anak-anak Bandung yang merasa “gaul”, pasti tahu sosok tante-tante pengusaha ini.

Yang pertama adalah Tante Hendra. Saya sudah tahu si Tante ini sejak SMP, sejak mulai senang main-main dan jalan-jalan. Entah siapa nama sebenarnya, tapi beliau adalah tante-tante pemilik Taman Bacaan Hendra di Jalan Sabang, dekat Cihapit. Mungkin si Oom yang namanya Hendra, saya kurang tahu juga. Dulu, waktu saya SMP hingga kuliah, si Tante ini setia menjaga taman bacaan miliknya, bersama sang suami dan anak perempuannya. Sebetulnya ada dua karyawan TB Hendra yang setia, hingga saya kuliah pun masih belum ganti, satu bapak-bapak, satu ibu-ibu.

Taman Bacaan Hendra ini adalah taman bacaan beken seBandung Raya, karena paling lengkap pada zamannya—mulai dari komik dan novel serial komik jadul, komik Jepang, komik Eropa, buku terjemahan, buku karya pengarang Indonesia, hingga majalah-majalah. Anggotanya tersebar dari seluruh penjuru Bandung. Nggak melebih-lebihkan, tapi memang betul, karena saya saja berasal dari daerah Sarijadi, dan teman saya dari daerah Buahbatu, sama-sama pernah menjadi anggota taman bacaan ini. Entah, saat ini si Tante Hendra masih ada nggak ya, karena sudah lama sekali saya nggak berkunjung ke sana. Kartu anggotanya pun sudah hilang.

Di seberang Taman Bacaan Hendra, ada sebuah toko kertas dan kerajinan yang bernama Toko Tidar. Nah, ada seorang tante juga di Toko Tidar ini, saya nggak tahu juga namanya—sebut saja Tante Tidar. Wuah, saya senaaang sekali kalau main ke Toko Tidar. Soalnya, banyak kertas-kertas daur ulang yang bagus-bagus, hiasan-hiasan yang lucu, bahan baku kerajinan yang unik-unik, hingga yang sudah jadi produk, misalnya bingkai foto, stationery, atau jam dinding.

Toko Tidar ini memiliki jam buka yang aneh, karena ada jam istirahatnya—siang sampai sore. Beberapa kali saya kecewa karena sudah niat jauh-jauh main ke Toko Tidar, ternyata tutup (nggak belajar dari pengalaman dan sering lupa jam bukanya). Gosipnya sih si Tante Tidar hobi tidur siang, hihihiiii …. Tante Tidar ini pula yang menjadi pelanggan pertama kuenya ibutio (Teh Uci, sepertinya asyik kalau pengalaman pertama bisnis kuenya diceritakan hehehe).

Tante berikutnya adalah Tante Yosiko. Sama, ini juga saya nggak tahu namanya. Disebut Tante Yosiko karena beliau memiliki toko kertas dan stationery yang bernama Yosiko di Balubur—dulu dekat Kebon Bibit, sekarang pindah ke lokasi baru dekat Gelapnyawang. Waktu itu saya bimbingan SR di SD Kebon Bibit, jadi sudah pasti harus sering membeli kertas dan pensil. Dan toko langganannya ya Yosiko ini. Barangnya lengkap dan lebih murah, apalagi dibandingkan dengan Gramedia atau toko-toko lainnya.

Dulu, si Tante sudah hafal dengan belanjaan kami, kertas gambar berukuran A2, pensil beragam jenis (mulai dari sekian H hingga sekian B), dan penghapus. Tapi, sejak terdampar di Astronomi dan nggak butuh kertas gambar, saya mulai jarang mengunjungi Tante Yosiko. Paling sekali-sekali saja. Sejak pindah ke Pasar Balubur baru, saya nggak pernah lagi melihat si Tante jaga di tokonya. Lagipula, saya semakin jarang ke Balubur, karena memang jarang ada perlu. Dan dulu, para pembimbing SR itu sempat bergosip (yang sudah pasti ngarang), jika Tante Yosiko itu musuhan sama Tante Tidar, hihihiiiii … Asal (Gara-gara persaingan menjual kertas).

Akhir-akhir ini, saya tahu satu tante lagi, yaitu Tante Sedjati, pemilik Toko Sedjati yang menjual bahan-bahan kue, di daerah dekat Stasiun Hall. Gara-garanya sih karena sejak ngewarung sering membeli mayones, saus, dan sambal literan. Paling murah ya di Sedjati—bisa beda tiga belas ribu dengan harga supermarket! Tante Sedjati ini keren banget (menurut kesaksian ibutio juga), karena hafal harga-harga di luar kepala. Nggak perlu melihat contekan. Nggak perlu berpikir dan mengingat-ingat lama. Begitu kita tanya, “Anu harganya berapa?” Tante Sedjati langsung menjawabnya.

Sama seperti Toko Tidar, saya senaaaang sekali kalau berkunjung ke Toko Sedjati. Meskipun malas di perjalanan (karena Stasiun Hall sering macet). Membayangkan berkilo-kilo (berkuintal-kuintal, mungkin) cokelat, mentega, keju, keju krim, krim kocok, terigu, kenari, mayones, dan bahan-bahan makanan lainnya, serta takjub melihat deretan botol esens dan berbagai bahan makanan. Ada juga mesin pembuat fondue (yang sampai sekarang masih membuat saya penasaran), beragam cetakan, loyang, serta segala macam yang berhubungan dengan kue-kue dan masak-masak!

Uh, tapi amit-amit dah kalau kita berkunjung ke Sedjati saat bulan puasa. Penuh sesak! Orang-orang antre membeli bahan kue, baik porsi besar maupun untuk dimakan sendiri. Kuncinya datang ke Sedjati hanya satu: jangan banyak omong. Tulis saja pesanan kita di kertas, berikan kepada si Tante atau para pramuniaga, lalu tunggu, sambil memerhatikan bahan-bahan makanan yang berderet—atau mengamati sibuknya mbak-mbak pramuniaga yang menakar bahan-bahan. Setelah pesanan kita siap, pramuniaga biasanya memberikan kertas kita ke si Tante atau kasir asistennya, dan mereka mulai menghitung. Hanya cukup mengucapkan terima kasih—kecuali kalau barang yang kita pesan nggak ada dan para pramuniaga menawarkan alternatif lain (misalnya “ABC lagi kosong, Del Monte mau nggak?).

Di bidang katering, ada lagi seorang tante, tapi perkecualian, yang ini beken dengan panggilan “Ibu”—Ibu Tony. Ibu Tony ini adalah istri seorang dosen ITB yang berbisnis katering, dan paling terkenal di seantero Bandung. Sampai-sampai tercetus, “Kalau ke kawinan yang kateringnya Ibu Tony, harus makan masakan lidahnya!” (Bukan lidah Ibu Tony, pastinya, hihiii). Dan Ibu Tony ini juga yang membuat si Antjheu suatu hari berhasil membujuk saya menemaninya ke kawinan, karena suaminya berhalangan, dengan iming-iming, “Temenin gua, KATERINGNYA BU TONY, MAR!” Hahahaaaa!

Ada satu lagi tante yang sempat saya lihat menunggui tokonya, yaitu Tante di Toko Sumber Hidangan, yang menjual kue-kue legendaris yang terkenal sejak zaman Belanda. Sampai sekarang, saya masih penasaran ingin minum kopi di sana, sayang waktu wisata kuliner di Braga bersama Suze Antie waktu itu, kafe Sumber Hidangan sedang tutup dan baru buka sore hari, jadi kami hanya beli kue dan selai kacang untuk dibawa pulang. Jadi, gosipnya, Tante Sumber Hidangan ini punya jadwal tidur siang yang sama dengan Tante Tidar, hihihiiiii ….

Sebetulnya sih, pasti masih banyak tante-tante pengusaha di Bandung ini. Hanya saja, yang menurut saya paling legendaris (dan saya tahu) ya para tante di atas. Saya juga nggak tahu apakah para tante itu masih ada atau sudah meninggal (kecuali Tante Sedjati, karena baru beberapa minggu saya belanja di sana, Ibu Tony, karena masih aktif berbisnis katering, dan Tante Sumber Hidangan, karena terakhir ke sana masih ada).

Kalau ada yang mengenal para tante tersebut, mohon maaf ya kalau saya sering menggosipkan mereka, ngawur lagi hihihiiii …. Yah, digosipkan itu berarti tandanya mereka memang terkenal dan legendaris. Sebetulnya juga masih banyak tante-tante lainnya, seperti Tante Teko (pemilik kafe Teko di daerah Ciumbuleuit), Tante Reading Lights (pemilik toko buku Reading Lights di Siliwangi), hingga Tante-Tante Dharma Wanita ITB yang mengelola kantin GKU Barat (hikhikhik … dulu sering dimarahi tante-tante ini, “Taruh saja uangnya di situ, Sayang!” “Sebentar, Sayang, sabarrrrrr!”). Tapi kalau diabsen semua, ya capeeeeek!

Saya juga sering bertanya-tanya, apakah saya bisa jadi tante legendaris Bandung seperti mereka? (Menurut saya, yang kemungkinan besar jadi tante legendaris Bandung itu adalah Teh Uci dan Teh Echy, hihihiiii) Mudah-mudahan saja!

 

Catatan

Oh, tentu saja fotonya WAJIB foto Ny. Hj. Romlah, pengusaha angleng dan wajit dari Cililin. Sudah terbukti, Tante Romlah memang legendaris. Meskipun Cililin agak “nyingcet” dari Bandung, Tante Romlah JUARA!

Catatan Tambahan
Maaf, lupa mencantumkan satu calon tante legendaris di Bandung: Tante Boit sang juragan Omuniuum, hahahahahaaa ....

Kamis, 17 April 2008

Meja Kerjaku Dulu (Terinspirasi Ms. G Terchayank)

Ms. G barusan posting meja kerjanya yang rapiiiiiiiiiiiiiii bangettt di SINI

Jadi inget, saya masih punya foto meja kerja waktu kantor Mizan masih di Yodkali, salah satu surga jajanan di daerah Bandung agak ke timur, hihihiii ...


Mari kita perhatikan ada apa saja di atas meja yang sama sekali nggak bisa dipake nulis, apalagi menggambar ini ...
  • Buku-buku reading copy yang sangat menyenangkan. Ya iyalah menyenangkan, karena eh karena, buku anak-anak semua hahaha .... (Dulu saya pernah mimpi indah, masuk sebuah perpustakaan penuuuhhhhh buku anak-anak. Eh, taunya agak-agak menjadi kenyataan, hidup saya bergelimang buku anak-anak, meskipun bukan milik sendiri, hiks ...)
  • Kalender dengan buletan-buletan di tanggal dan post it bertulisan "Evaluasi + Program, JUMAT!" hahahaha ... kantoran banget yak.
  • CD-CD yang isinya file-file picture book Little K. Tapi CD-nya belum begitu bertumpuk, setelah kantor pindah ke Cinambo baru CD-nya bertumpuk.
  • Dummy picture book "Perjalanan Panjang Mengelilingi Dunia" yang diterjemahkan oleh Suze Antie, tapi nggak jadi diterbitkan hihihiiii ... (yah Suze, kita kan sudah mengibarkan bendera kuning sama-sama ya hahaha).
  • Bungkus kamera digital, kamera digitalnya dipake motret duonk ahhh ...
  • Gelas air putih yang biasa dibawain A Yayat (salah satu kecengan Sitorus haha) setiap pagi, kecuali bulan puasa.
  • Mug tahan panas yang masih belum dipake (terbalik), biasanya dipake minum kopi pagi-pagi atau sore-sore (kadang-kadang pagi dan sore).
  • Kotak obat-obatan terlarang, mulai dari antianalgesik hingga obat diare.
  • Sebuah kotak bekas cokelat Cadburry yang isinya ranjau ... (Suze Antie nyaris pernah tertipu, hahaha), di balik spidol-spidol yang bertumpuk.
  • Bandana merah madusa (made in usa gitu lhuwokh hahaha) kesayangan. Kenapa kesayangan? Soalnya kain bandana madusa beda dari bandana lokal. Karena dulu saya wanita Jawa yang naik motor bebek, biasanya pake bandana buat nutupin idung dan mulut. Dan kain bandana madusa nggak bikin sesak napas, beda dengan kain bandana lokal.
Hebat kan, berantakannya? Hahahaha ...
Tapi, kalo meja saya rapi, suasana kerja jadi nggak enak ... Suka jadi males kerja, maunya ngeberantakin meja dulu, hahahaha!


TAMBAHAN FOTO

Nah ... yang ini, suasana meja di kamar beberapa tahun yang lalu ... gila ya, amit-amit dah, saya juga betek ngeliatnya. Keadaan ini cuma sebentar kok, sekitar semingguan, pas dulu lagi sibuk apa ya, lupa. Pokoknya, nggak sempat beres-beres aja. Sekarang sih jauh lebih mending meskipun masih "agak" berantakan, hahahaaaaa ....

Apa aja yang ditumpuk?
  • Wadah CD
  • Kertas-kertas nggak jelas yang akhirnya dibuang semua
  • Foto-foto
  • Buku panduan masuk Planetarium Jakarta, hahaha ... (kalo nggak salah foto ini diambil setelah temu alumni astronomi "kecil" di sono)
  • Tas peralatan mandi, yang selalu siap disambar kalo perlu nginep-nginep atau berenang
  • Syal kuning dekil hasil sehari jalan kaki Bandung-Cicenang, seminggu di hutan Cicenang (dulu masih hutan, belum kebon), dan tiga hari jalan kaki Cicenang-Subang-Bandung, hahaha ...
  • Buku-buku, khususnya buku anak-anak (lihat, ada koleksi Astrid Lindgrenku dan Jennings hehehe)
Tapi tenang, saya sudah kapok punya meja seberantakan ini ... susah nyari barang, hihihihiiiiiiiiiiiii ....

Selasa, 01 April 2008

Ya Sudah, Panggil Saja Tante ....

Beberapa minggu yang lalu, seorang teman seangkatan saya di SMA, Cep Budiharto, bilang kalau ada murid-muridnya di SMP 32 yang pengen kenalan dengan saya. Kata doski, ada yang pengen nanya-nanya tentang astronomi, tentang dunia tulis-menulis (dunia perbukuan kali yee), dan tentang macam-macam lagi. Saya bilang, okeyyy … siapa tatuuuut. Kan Tante bisa menambah koleksi brondong, hihihiiii.

Laluuu, beberapa hari yang lalu (waduh, saya mah udah lupa hari, jadi maafkan kalo nggak inget kapan tepatnya, hihii), Cep Budi ini menelepon. Katanya, ada murid-muridnya yang ingin ngobrol dengan saya. Jadilah saya kenalan dengan dua orang murid SMP. Cewek lho. (Kalo berniat mengijon, silakan minta izin dulu sama Pak Budiharto) Intinya sih cuma kenalan dan mereka bilang kalau pengen ngobrol sama saya tentang astronomi dan tulis-menulis (ya, saya memang ahli tulis-menulis dan semakin ahli ketika tak dinyana bersua dengan para kubugil—tentu saja dalam bidang tulis-menulis racauan dan hal-hal nggak penting sedunia raya. I’m queen of doing nothing, gitu whluwokhhh).

Penelepon pertama … berjalan lancar (meskipun saya lupa namanya siapa karena ngomongnya singkat, perkenalan doang). Lalu, di sela-sela itu ada suara Pak Guru Budi, “Mar, ini ada satu lagi yang mau ngomong.” Dan … jengjreng, muridnya Pak Guru Budi itu menyapa saya, “Halo, TANTE, mau kenalan ya ….”

Hahahahahahahahahahahahahaaaaaa ….

Beneran dah, dipanggil Tante. Saya langsung ngakak, dan bilang “Waduh, kok dipanggil ‘tante’ sih?” Suara dari sana balas bertanya, “Abis bingung, manggilnya apa?” Ya saya jawab, “Panggil ‘neneng’ aja, gitu,” (meskipun bukan Nenenk Anjarwati, hihihiiiii).

Pasti ini gara-gara si Cep Budi. Waktu telepon sudah dioper ke dia, Cep Budi bilang kalau murid-muridnya juga bingung mau manggil apa sama saya, trus dia bilang karena saya orang Batak, ya sudah, panggil “tante” saja.

Awalnya sih masih agak geli gitu dipanggil “tante” beneran sama anak SMP, hahaha …. Masih berusaha menyangkal kebijaksanaan yang semakin matang (bukan usia yang semakin tua, hihihiii). Eh, ternyata muridnya si Pak Cep Budi ini mengirim e-mail ke saya tadi siang. Dan akhirnya kami YM-an. Namanya Nira, kelas 3 SMP.

Ehhhh … ternyata tetep aja, dipanggil “tante” lagi, hahahahahaaaa! Cuma, kali ini ya sudah, saya pasrah saja. Ada dua alasan, pertama: memang saya punya keponakan seumuran mereka ini, SMP, meskipun dia nggak manggil “tante” (manggilnya “bou”—dari namboru, saudara perempuan ayah). Legian keponakan saya yang paling gede juga sudah hampir lulus kuliah kok … meskipun dia juga nggak manggil “tante”, manggilnya “etek”(saudara perempuan ibu). Kedua: secara struktur hierarki-hierarkian sih, bener juga. Mereka murid Cep Budi. Mereka manggil Cep Budi “bapak”. Saya temen Cep Budi. Ya wajar saja kalau mereka manggil saya “tante”. Meskipun masih geli mendengarnya, hihihihiiiiii ….

Jadi, akhirnya saya pasrah saja dipanggil “tante”. Toh meskipun tante-tante, tetap keren kok. Dan tadi, obrolan kami di YM lucu juga, heheheee… mulai dari bagaimana caranya belajar supaya lulus UN *jangan belajar terus, main juga harus banyak, begitu jawaban saya, hihiii*, dulu Tante SMP-nya di mana, dulu Tante mainnya ngapain aja, Tante dulu ikut les nggak, sampai … dulu Tante pernah naksir sama cowok nggak *dan saya jawab: ya iyyyyalahhhhh … kecengan mah segudang, gitu, hihihiiii*, dan apakah naksir cowok itu mengganggu pelajaran? *saya jawab, tergantung. Soalnya dulu saya malah semangat ke sekolah buat ketemu teman-teman dan kecengan, hahaha … makanya nggak pernah mabal, meskipun sekolah hanya untuk bersosialisasi*

Sayang tadi saya harus segera pergi ke warung, karena ada janji dengan T’ Peni. Jadilah obrolan kami terputus sampai di situ. Setelah mengendapkan peristiwa tadi sebentar, baru muncul suatu kesadaran: apakah saya malah bikin dia ngaco dengan jawaban-jawaban saya? Hihihiiiiiiiiii … yah, Pak Cep Budi, mohon maaf sajahhh … saya mah Etty Gadis Jujur sih, hahahahaha!


Catatan

  1. Sebenarnya, saya adalah jenis orang yang berpendapat bahwa panggilan tidak berbanding lurus dengan kesopanan dan penghormatan. Nggak masalah kalau saya tiba-tiba ditelepon oleh Daffa, salah seorang keponakan saya, “Hei Dek, lagi ngapain?” (hihii … lalu ortunya yang panik), atau diceritai si Ambu Vekih kalau Nenk Zahra tiba-tiba bilang ke abahnya, “Bah, hayu kita ke si Umay!” (hahaha … disebut si Umay sama gadis muda berusia dua taun euyyy … hahaha)
  2. Kalau punya anak, sebenarnya saya juga pengen dipanggil nama saja, nggak usah pake “ibu” atau “nyokap” atau dll. Tapi entahlah, gimana nanti aja. Anaknya juga belum dibikin! Hihihiiiii ….
  3. Mungkin ini juga sedikit gara-gara kualat, karena ogah dipanggil Ms. M setelah ada Ms. A, Ms. D, dan Ms. G—malah ingin dipanggil Tante M saja.
  4. “Cep” pada tulisan di atas bukan bagian dari namanya Budiharto, tapi sifatnya sama dengan “Neng” atau “Jang”.
  5. Ya sudahlah. Pokoknya saya pasrah dipanggil “Tante”. Yang penting darahnya masih bergolak seperti anak muda. Hahahahahahaaaaa!
  6. Gambarnya pake foto Mint Sahi alias teh mint hasil karya si Papah Manggis duonk ... TETAP JUWALANNNN!!!

 

 

Minggu, 02 Maret 2008

Yakitate Japan!

Awalnya sih, gara-gara iseng memindah-mindahkan saluran Indovision. Kebetulan, pas di Animax, ada sebuah film kartun tentang pembuat roti. Sebagai penggemar makan (bukan penggemar masak), saya jadi tertarik untuk menontonnya sampai habis satu episode. Padahal saya bukan penggemar anime (tapi suka menonton kartun yang berhubungan dengan masak-masak hihihii). Akhirnya, malah ketagihan.

Tokoh utamanya adalah Kazuma Azuma, seorang anak lelaki “bertangan matahari” yang punya ciri khas selalu memakai bando untuk menahan poninya yang panjang. Menurut filmnya sih, orang-orang yang memiliki “tangan matahari” yang bertemperatur panas ini biasanya jagoan mengadoni roti atau kue (sementara orang-orang yang memiliki “tangan kutub” atau tangannya selalu dingin seperti saya, jagoan mengolah nasi. Tapi, tampaknya tidak benar—dalam kasus saya, hihihiii).

Azuma ini adalah anak desa, yang dibesarkan oleh kakeknya. Sejak kecil dia sudah bereksperimen untuk membuat “Japan”, roti khas Jepang, karena Jepang adalah negara yang nggak memiliki roti tradisional. Akhirnya, dia diterima di sebuah cabang jaringan toko kue yang besar, Pantasia. Di sana, dia bertemu Mr. M (Ken Matsuhiro), laki-laki aneh berambut kribo dan bertampang seram, manajer cabang; Kyosuke si cowok centil; Tsukino, cucu perempuan pemilik Pantasia; dan seorang lagi yang saya lupa namanya, berambut seperti batok.

Namanya juga film kartun masak-masak, pasti ada kompetisi masak. Awalnya, kompetisi yang Azuma ikuti adalah melawan St. Pierre, toko roti saingan yang berseberangan dengan toko mereka. Yang dilawan adalah Mr. Mokoyama, seorang pembuat roti kekar tapi gemulai. Setelah itu, Kazuma mengikuti kompetisi antarpembuat roti pemula di Pantasia sendiri. Hasilnya, namanya juga film kartun, ya dia pemenangnya. Setelah memenangi turnamen, Azuma, Kyosuke, bersama dua mantan lawannya, Shigeru—cowok berambut pink yang ternyata anak bos Yakuza—dan Suwabara, seorang ahli katana, dikirim mengikuti Turnamen Monaco, melawan negara-negara lain. Tentu saja Jepang menang.

Yang terakhir, Kirisaki, pemilik St. Pierre, menantang Azuma untuk mengikuti turnamen yang bernama Yakitate 9. Cerita ini belum selesai diputar di Animax, masih tengah-tengah.

Anime ini menarik bagi saya karena pertama, selalu menampilkan berbagai teknik membuat roti. Mulai dari bagaimana membuat roti yang meledak tiga kali, siasat mengukus bakpao dengan teh dari daun bambu, dan banyak lagi. Yang kedua, anime ini kacau banget, hahaha …. Nyaris di setiap episode ada kemustahilan, tapi saya senang menontonnya.

Contohnya, reaksi Pierrot, badut istana yang menjadi juri Turnamen Monaco. Sewaktu episode Azuma dan teman-temannya terdampar di sebuah gua bawah laut, setelah makan roti ikan buatan Azuma, si Pierrot ini jadi punya insang. Atau reaksi juri Yakitate 9, Mr. Kuronayagi—yang sering diledek dengan sebutan “Pak Tua” oleh Kyosuke—saat memakan roti ganggang laut buatan Azuma. Reaksinya lamaaaa sekali. Ternyata, lama itu karena dia mengurus surat-surat untuk menikah dulu, lalu menikah, kemudian berbulan madu, dan bercerai lagi (sungguh aneh, hahaha). Ada juga kisah Shigeru yang melawan kakak tirinya sendiri, dengan taruhan yang kalah akan menjadi ahli waris Yakuza. Di akhir episode, bapaknya menyadari bahwa kedua anaknya sudah menemukan jalan hidup masing-masing, dan malah mengambil si Mr. M untuk menjadi penerusnya (sungguh ajaib).

Selain alur cerita yang agak-agak ajaib, seringkali ada kejutan di tengah episode. Misalnya, kemunculan seorang tokoh anime yang khas, dan tiba-tiba Kyosuke berbicara ke kamera, “Produsernya sudah minta izin belum ya, menampilkan tokoh itu di sini?”. Atau, saat Mr. M sudah menjadi bos Yakuza, si Kyosuke juga berkata, “Baru beberapa episode, tapi dia sudah jadi bos penjahat!”

Jadi, setiap hari, pasti saya berusaha untuk menonton serial anime ini. Lumayan, selain untuk menambah pengetahuan tentang roti-rotian dan berbagai bahan makanan serta cara mengolahnya, saya juga bisa tertawa karena keanehan serial ini. (Dan ternyata bukan saya saja yang suka, beberapa teman lain juga setia menonton, hihihiii)


(Gambar diambil dari http://www.gamenet.com.hk)

Jumat, 22 Februari 2008

Seminggu yang Aneh ....

Sabtu, 16 Februari

Sejak awal rasanya malassss sekali mau ke warung. Badan rasanya nggak enak. Mampet-mampet. Setelah minum obat flu, malah ketiduran di depan TV dengan selimut tebal, karena dingin banget. Mendekati maghrib, sadar kalau harus segera pergi, karena jadwalnya si Rangga dan Itok gajian.

Sampai di warung, baru ingat kalau belum makan sejak pagi. Pesan zuppa-zuppa "bo'ongan"  (abis rasanya nggak puguh) dulu di counter paling ujung. Eh, pas ditinggal ke wc, si Aq datang dengan wajah kusut. Katanya baru futsal, dan jempol kanannya keseleo lagi (huuuhhhh! dasar aki-aki bedegong! waktu itu jempol kiri yang keseleo, sekarang yang kanan. gara-gara begitu datang langsung jadi kiper).

Setelah menunggui makan zuppa-zuppa, dia mengajak ke tukang pijat dulu di Ciwaruga. Hujan nggak deras, tapi kalau bahasa Sunda sih istilahnya murupuy (apa ya bahasa Indonesianya?). Dingiiiiin sekali. Meskipun sebetulnya, saya sudah merasa dingin sejak dua hari yang lalu. Di tukang pijat juga saya diam saja.

Sampai rumah langsung cuci muka dan terkapar dengan sukses. Malamnya mimpi buruk, masa' masuk ke dalam cerita buku yang sedang diterjemahkan! (Sialan banget) Selain itu, dalam mimpi saya menemukan rumus memakai selimut agar lutut nggak linu, yaitu 7 persen saja (yang sampai sekarang saya nggak ngerti, gimana caranya pake selimut 7 persen?)

Minggu, 17 Februari

Berkali-kali bangun setelah tengah malam dan dini hari. Nggak sadar sampai teriak-teriak (tapi sebagian sadar juga dan inget, teriaknya apa), bikin si Abang yang tidur di depan TV kukulutus dan pindah ke kamar (Setelah itu, dia protes ke si Emak: "Si Adek tuh manja banget sih kalo sakit? Urang mah teu kitu!" Yeeeyyyy ... sirikkkkkk. Saya mah nggak setaun sekali sakit parah, si Abang mah tiap balik ke Bandung pasti manja-manja sama si Emak. Sebal). Dan tanpa sadar juga, saya nelepon si Emak ke HP jam 3 pagi, hahaha .... Padahal si Emak cuma satu lantai di atas.

Pagi sampai siang dilewati dengan tidur, bangun, tidur, bangun, tidur, dst., bagaikan nggak sadar, karena sakit kepala, panas, mual-mual, dan pegal-pegal. Menjelang sore ke dokter dan divonis ispa, dikasih obat yang bikin muntah-muntah, beli makanan. Sore, si Aq datang membawakan coco crunch dan susu ultra, yang sukses hanya dimakan sekali (karena hari-hari berikutnya, kalo nggak enek ya diare).

Malamnya susah tidur karena belum keramas. Mimpi buruk lagi, masalah copyright. Grrr ... mimpi buruknya kok berhubungan dengan pekerjaan gini sih! Sialannnnnnn.

Senin sampai Rabu, 18 - 20 Februari

Rasanya mendingan, hari Selasa juga sudah bisa keramas dan jalan ke kios dekat rumah buat beli pulsa dan nomor asal (cuma buat memudahkan mindahin data ke si motosialan itu). Ternyata, setelah itu langsung terkapar lagi, panas lagi, pusing lagi, pegal lagi, mual-mual lagi ...

Dan yang lebih menyebalkan, saya jadi mehe-mehe. Baca yang sedih dikit, nangis. Nonton film sedih dikit, nangis. Inget tetangga saya yang suka dijemput bapaknya di jalan besar kalo pulang malem, nangis (bapaknya udah meninggal, dan dia masih suka pulang malem karena kerja shift. oh, begitu sayang bapaknya sama dia). Puncaknya sih peristiwa perpisahan dengan si M65 oranye itu.

(Untuk alasan kesehatan jiwa, akhirnya, saya putuskan untuk menunda dulu mewariskannya kepada si Aq. Rencananya mau nunggu si Abang bawa kotaknya yang lengkap dari Jakarta, lalu langsung menjual si motosialan dan membeli hp baru. Setelah itu, baru menyerahkan si oranye kepada si Aq. Hihii ... ini keputusan penting, demi kewarasan!)

Kamis - Jumat, 21- 22 Februari 2008

Mulai Kamis, panas sudah turun, nggak linu, dan nggak sakit kepala lagi. Tapi masih pegal-pegal dan mual-mual sedikit. Tapi muncul masalah baru ... kaligata! Hari Kamis sih baru terasa sedikit gatal-gatal di tangan dan kulitnya merah. Tapi malamnya ... Jrenggggg .... Sama sekali nggak bisa tidur. Minum ctm nggak mempan. Minum claritin, nggak mempan juga.

Mata terasa rapat, tapi nggak bisa tidur.
Mana rambut sudah berminyak lagi, bikin nggak betah berbaring. Sampai jam 3 belum bisa tidur, gatal-gatal pun nggak reda. Huahhh ... tersiksa banget. Soalnya, gatalnya di dalam (bercak-bercak di balik kulit gitu deh). Mau digaruk juga susah.

Setelah tertidur sebentar, jam 4 saya terbangun lagi. Untung bisa tertidur lagi, sampai jam 9 pagi. Gatal-gatalnya semakin parrrahhhhh ... Rasanya pengen garuk-garuk pake silet dah. Akhirnya, si Emak nelepon Teh Ui, sepupu ipar saya. Teh Ui menyarankan ganti obat gatal jadi celestamine.

Alhamdulillah, minum dua kali, gatalnya agak berkurang. Sampai sekarang masih. Tapi, efek samping mehe-mehe yang dirasakan dua hari sebelumnya, sekarang berubah menjadi MARAH-MARAH. Ada sedikit saja yang menyentil hati, maunya marah. Nyeberang jalan, mobil-mobil nggak mau berenti, nekad maju sambil menatap marah mereka. Didesak di pojok angkot, marah. Sebelumnya juga marah karena sekali lagi ngalamin kejadian yang karenaterlalumenyebalkandanmenyangkuturusanduitwarungtakperlulahditulisdisini.

Yah, seminggu ini selain fisik yang dibanting-banting, mental juga diaduk-aduk ...