Rabu, 06 Mei 2009

Malam Pertama Itu Nggak Ada Apa-Apanya ....

Akhirnya, si Lumba-Lumba yang ditunggu datang juga. Terlalu cepat dua minggu dari perkiraan sih, meskipun kata dokter, sejak usia kandungan 36 minggu juga dia sudah cukup umur buat lahir.

Kamis malam, tanggal 30 April, bagian atas perut saya kok sakit ya. Sempat berkeluh kesah sama si Aq, tapi kami sama-sama berpikir, itu sih masuk angin biasa. Dan besernya semakin heboh, sampai akhirnya terakhir mau tidur, saya nggak kuat nahan pipis sedikit, dan memutuskan untuk memakai pembalut.

Ternyata eh ternyata, besok paginya, saya bangun dengan perasaan aneh, karena pembalutnya kok basah. Waktu diperiksa, ternyata sudah keluar lendir dengan sedikit darah. Si Aq langsung nyuruh saya siap-siap berangkat. Tanpa mandi (yah, namanya juga bapak-bapak waterproof, hihiii). Tapi, waktu laporan sama si Emak, saya disuruh mandi, BAB, dan segala macam dulu, karena si Emak lebih pengalaman, pasti nggak akan brojol cepat-cepat (Tapi si Aq tetap nggak mandi. Sialan).

Jam tujuh pagi sudah sampai di Hermina (karena cuma 10 menit dari rumah), lalu saya disuruh naik kursi roda. Padahal perasaan masih bisa jalan deh, tapi ternyata enak juga nggak perlu jalan kaki, hehehe ....

Sampai di Ruang Bersalin, perut saya langsung dipasangi monitor untuk menghitung detak jantung bayi dan memeriksa kadar mulas. Waktu itu sih belum mulas-mulas. Tapi, detak jantung janinnya kok sempat turun sampai 60-an. Padahal normalnya di atas 100. Jadi saya disuruh makan dulu.

Agak siang, akhirnya Dr. Anita datang, dan sekali lagi perut saya dipasangi alat itu. Kali ini juga, detak jantung si Lumba-Lumba sempat turun sampai 60-an, dan gerakannya jarang. Kata Dr. Anita, kalau begini terus, kemungkinan besar harus caesar. Aduuuh ... saya ogah, karena mahal, hihihiiiii .... Akhirnya diputuskan kalau saya harus diinfus cairan (bukan obat) dan dikasih oksigen murni, supaya detak jantung si Lumba-Lumba bagus lagi.

Saat itu juga, saya mengalami kejutan pertama. Periksa dalam, booook .... Selama jadi pasien Dr. Anita, saya belum pernah diperiksa dalam. Pernah sekali sih, waktu periksa kista, itu pun nggak dalem-dalem dicoloknya, oleh dokter pengganti Dr. Anita. Karena saya tegang, Dr. Anita sempat betek juga, karena tangannya kejepit dengan kuat, hihiii .... Dan kembali keluar ancaman, kalau saya nggak bisa kooperatif juga, ya memang sebaiknya dicaesar saja. Tapi waktu itu sempat ketahuan kalau sudah bukaan satu. Dan saya disuruh puasa, untuk siap-siap operasi caesar (Untung tadi sarapan bihunnya licin tandas, hihiii).

Sekitar jam tiga, saya kembali diperiksa. Syukurlah kali ini, yang kebagian jaga bidan yang baik sekali, dan setelah berbekal pengalaman dicolok-colok, saat itu saya sudah siap mental, meskipun si Aq yang jadi korban dijambak-jambak. Ternyata sudah bukaan tiga. Detak jantung si Lumba-Lumba juga bagus, tapi dia kok malas bergerak ya. Saat itu, sudah mulai kerasa mulas sedikit.

Sekitar jam setengah enam, kembali perut saya dipasangi alat, dan kembali (doh) dicolok-colok. Meskipun sudah berpengalaman, tapi kali ini kembali menyebalkan, karena ternyata sudah bukaan enam menuju tujuh. Tapi kok belum mulas-mulas amat ya, masih bisa ditahan dengan mempraktikkan latihan pernapasan (yoga-nya ternyata bermanfaat kok, hihihiiii). Dr. Anita kembali datang, dan saya disuruh buka puasa, karena nggak perlu caesar. Cuma, melihat mulas-mulas saya masih ringan di bukaan yang sebegitu, akhirnya diputuskan kalau saya diinduksi.

Gerakan si Lumba-Lumba juga nggak heboh, padahal biasanya dia heboh megal-megol ke sana kemari. Mungkin dia demam panggung, hihihiii .... Atau mungkin pada saat-saat menegangkan, dia memutuskan untuk kebluk (seperti emak dan bapaknya). Sampai dirangsang dengan bel berbunyi "TOOOOOT" keras, dia cuma megol sedikit, lalu diam lagi, hihihiiii ....

Jam demi jam berlalu, si Aq bolak-balik keluar untuk merokok, jadi yang jaga gantian, kadang-kadang si Emak atau ibu mertua. Sekitar jam delapan, mulailah mulas yang nyaris nggak nahaaaaan. Saat itu si Emak pulang, karena si Papap nggak ada yang jaga. Jadi, yang menunggu hanya si Aq dan ibu mertua.

Sekitar sebelas malam, si Emak datang lagi, karena nelepon si Aq dan dilapori kalau saya
sudah bukaan sembilan menuju sepuluh. Waw ... saat itu mulasnya uedaaan! Karena si Emak dan ibu mertua saya bilang "Kalau sakit jangan ngeluh, istighfar atau dzikir aja!", saya menurut. Tapi pas mulasnya heboh sekali, tanpa sadar saya teriak keras banget "ASTAGHFIRULLAH!" (dan si Aq langsung bisik-bisik, ya ampun Dek, keras amat teriaknya, sambil ngetawain. Sialan!)

Karena memang kurang tidur dan lelah, jadi di antara mulas itu saya sempat ngalenyap---tertidur sejenak tanpa sadar. Dan mengigau segala, hihiii .... Dalam bayangan, saya sedang berkata, "Meskipun air ketubannya ...." lalu tanpa sadar, saya bilang begitu, dan si Aq langsung heboh nyari air minum. Dan kalau episode mulasnya menghilang, saya seringkali tertidur. Yah, namanya juga Geng Kebluk hehe ....

Saat itu juga saya diajari mengedan oleh bidan (lho kok berima?), tapi karena sudah mulas sekali, nggak sempat minta gaya macam-macam. Setelah beberapa kali mengedan, yang keluar kok malah anak tiri, hihihiiii (Lewat belakang gitu lhuwokh ... tapi kata ibu-ibu sepergaulan, sekarang memang gayanya begitu, jadi nggak dikasi obat pencahar sebelumnya, biar lebih alamiah).

Sekali lagi, yoga prenatal memang bermanfaat (eh, pada beli dong bukunya ... ya nggak, T' Ujie? Hihihiii). Meskipun nggak menghilangkan rasa sakit (itu mah obat bius atuh), tapi ternyata otot-otot saya jadi lebih kuat, dan napas lebih panjang. Jadi bisa terus mengedan dengan penuh semangat.

Dan akhirnya, jam 23.50, Jumat malam tanggal 1 Mei, lahirlah si Lumba-Lumba (yang sampai
sekarang belum bernama, soalnya dikira masih ada kesempatan nentuin nama semingguan
lagi, hihiiii). Kelahirannya diiringi ribut-ribut suara demonstrasi karyawan Hotel Grand Aquila
yang ada tepat di seberang RS. Hermina, sekalian May Day.

Saya juga mau mengulang nasihat Ibutio kepada para pengantin baru yang akan menghadapi
malam pertama tapi dalam kondisi berbeda, bawalah handuk kecil saat melahirkan normal, hehe .... Soalnya, keringat mengucur derassss!

Dan yang terakhir, nyeri pada malam pertama tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan
pengalaman melahirkan. Hahahahahaaaaaaaaaaaaaa ....

Selasa, 05 Mei 2009

Hari Kelahiran si Bayi Lumba-Lumba


oh, anggota marching band toh

Kenapa sih harus disebut si Lumba-Lumba? Soalnya, emaknya hobi berenang waktu hamil, dan hobi menyanyikan lagu "Si Lumba-Lumba! Makan dulu!"-nya Bondan Prakoso jaman dia masih unyil, lengkap dengan koreografinya (dan ditirukan dengan sukses oleh si Bapak Lumba-Lumba, heheehee)

Lahir tanggal 1 Mei 2009, jam 23.50 WIB, proses persalinan normal, BB 3.320 kg, panjang 49 cm, hobi memberi tatapan meremehkan, ngenyot, dan nangis keras-keras, hihiiii ....

Sayang sekali dia belum bernama, karena ortunya mikir, ah, brojolnya juga 2 minggu lagi, masih ada waktu untuk nyari nama yang pasti, hahahaaaa ....

Jumat, 03 April 2009

[Geng Beser] Peta Per-WC-an di Bandung dan Sekitarnya

Sejak kecil sampai kuliah, saya jarang beser. Sepertinya pembuangan kotorannya tersalur lewat produksi keringat berlebih. Tapi yah, kalau sedang sekolah atau kuliah tetap saja izin ke WC, penyegaran sedikit hihihiii ....

Saya mulai sering beser sejak pengalaman pertama (dan mudah-mudahan terakhir kali) diinfus. Cairan infus rasanya membuat sekujur tubuh jadi dingin dan werrrr ... kadang-kadang nggak ketahan lagi dah, sampai-sampai bisa ngompol.

Seperti yang sudah diperingatkan oleh banyak ibu-ibu yang lebih berpengalaman dan di buku-buku, keadaan Hamdan ATT bisa membuat beser lebih sering. Apalagi kalau si orok semakin besar, karena kandung kemihnya tertekan. Kalau di rumah sih tenang saja, tapi kalau sedang di luar rumah? Makanya, saya jadi terpaksa menguasai peta per-WC-an di Bandung.

Menurut saya, WC umum yang lumayan bersih dan aman ya di mal atau pusat perbelanjaan atau restoran. Mahanagari juga sedang bikin polling di websitenya tentang WC-WC umum di mal ini hehe .... WC umum di mal ini terbagi dua, ada yang gretongan, ada yang harus bayar 1000 perak.

Yang gretongan itu di antaranya adalah WC umum di PVJ, Ciwalk, Istana Plaza, Braga Citiwalk, dan BEC, sementara di BSM, BIP (baru-baru ini), BTC, dan beberapa tempat lain adalah WC umum berbayar. Ada yang nyaman dan tidak nyaman. Menurut standar saya, WC umum yang nyaman adalah yang selalu menyediakan tisyu, sabun, wastafel, dan tempat sampah yang bersih, terus kalau WC duduk, keadaannya harus kering.

Di antara WC umum gretongan, yang paling nyaman menurut saya adalah di PVJ dan Ciwalk. Hanya, saya baru menemukan dua WC di Ciwalk (belum sempat menjelajah dengan teliti), kalau di PVJ, sekarang di tiap lantai ada, di Sogo pun ada, atau kalau mau iseng main ke Blitz, ada juga di sana (meskipun seringnya penuh kalau bubaran nonton hehe). Di PVJ, hampir selalu tersedia tisyu. Istana Plaza lumayan nyaman, tapi antrenya panjang dan nggak ada tisyu. Sementara di BEC, ya gitu deh ....

Nah, yang berbayar pun anehnya, ada yang nyaman ada yang tidak. Padahal kalau dipungut biaya, harusnya perawatannya lebih oke ya. WC mal berbayar yang paling nyaman menurut saya ada di BSM, dan kita selalu diberi tiket undian setiap kali masuk WC (dan saya selalu bertanya-tanya, betulkah ada yang benar-benar menang undiannya? Mungkin saja saya pernah menang, tapi kan jarang ke BSM karena jauh, hihihiiii). Kalau di BSM mau nyaman, masuk ke Metro saja, gretongan pula! Sekarang, BIP pun memberi tiket undian. Tapi di BIP antreannya panjang ... dan jarang ada tisyu tersedia.

Kalau di BTC, ada dua pengalaman yang berkaitan dengan WC. Pernah, sepulang yoga, di bis Antapani - KPAD, saya kebelet pipis. Aduuuuh ... tempat apa yang kelewat oleh rute bis ini, yang menyediakan WC lumayan nyaman ya? Sebelum sempat terpikir, bisnya sudah naik ke jalan layang Paspati, dan keluar-keluar di Pasteur. Ada beberapa pilihan, RSIA Hermina (WC-nya bersih), Griya, Giant, atau BTC. Tapi saya belum tahu letak WC di Griya, sementara kalau ke Giant harus nyeberang dulu, dan di Hermina nggak bisa sekalian jajan hihihiii .... Ya sudah, saya putuskan ke BTC. Eh, setelah lega, hujan turun derassssssss sekali, jadi saya terjebak di sana sampai dua jam, karena jalan banjir (tapi jadinya jalan-jalan dan jajan, hahaha).

Kali kedua, saya sengaja ke BTC, nyari baju kondangan yang cucok untuk ibu-ibu Hamdan ATT. Eh, begitu sampai ke sana, kok kebelet ya. Saya langsung ke WC di lantai dasar. Setelah jalan-jalan dan lapar, saya jajan dulu di foodcourt, lantai 3. Eh, pengen pipis lagi. Pipislah di sana. Jalan-jalannya masih berlanjut, sekarang ke toko perlengkapan bayi di lantai 2. Eh, beser lagi, sialan. Jadi saya ke WC dulu. Sudah tiga lantai yang saya pipisi, hahaha .... Karena masih belum puas, jalan-jalannya dilanjutkan dan ... sebelum pulang, karena beser lagi, saya mampir di WC lantai 1.

Meskipun nggak nemu baju kondangan (malah beli baju dan sepatu bayi lucu), saya harus mengeluarkan 4 x 1000 perak untuk beser dalam waktu hanya sekitar dua jam saja. Coba kalau jalan-jalannya lebih lama, mungkin uang yang dikeluarkan lebih besar lagi, hihihiiiii ....

Di Braga Citiwalk, pengalamannya lain lagi. Saya sempat ngompol di sana (hihiii ...), karena WC yang biasanya sepi, tumben-tumbennya antre. Untung ngompolnya sudah di dalam bilik WC, dan hanya kena CD, nggak kena celana luar. Masalahnya, kali itu saya benar-benar lupa bawa CD cadangan (biasanya selalu bawa), jadi terpaksa ... gitu deh, hihihiiii .... Lalu, pas keluar, saya bisik-bisik sama si Aq, cerita pengalaman tadi, dan kami langsung ke Carrefour untuk membeli yang baru (sambil diketawain lagi, menyebalkannn).

Selain tempat-tempat itu, saya juga langganan ke WC di Supermarket Setiabudi (bersih, kering, sepi lagi, tapi jarang ada tisyu), Giant Flamboyan, dan akhir-akhir ini berhasil menemukan letak WC di Griya Setrasari Mal (duh, leganya, hahaha). WC di Indomaret dekat rumah juga pernah dikunjungi, karena betulan kebelet pipis waktu turun angkot, untung mbak-mbak Indomaret mah baek-baek, hehehe ....

WC-WC di rumah sakit pun beragam kenyamanannya. WC umum di paviliun VIP RSHS lumayan bersih lah, meskipun nggak begitu nyaman (saya nggak berani ke WC umum di RSHS yang biasa, kebayang soalnya, hihiii). WC umum di RSIA Hermina menurut saya adalah yang paling nyaman. Di RS Advent lumayan bersih, tapi nggak ada tisyu. Di RS Kebonjati, ya gitu deh ... tapi yang paling parah adalah WC umum di RS Muhammadiyah. Waktu itu saya nengok almarhum uwak saya di sana, dan tiba-tiba pengen muntah karena migrain. Karena nggak enak kalau muntah di WC dalam (banyak sodara gitu bok), jadi saya cari WC umum di luar. Pas sampe sana, wowww ... malah jadi nggak pengen muntah, hihihiiii ... (aneh, saking joroknya, malah mendingan nggak muntah di sana, mending di plastik aja, haha).

Beda lagi ya, dengan WC di dalam kamar rumah sakit, apalagi yang kelasnya utama atau VIP. WC kelas VIP di RS Al Islam nyaman, begitu pun dengan WC di kelas VIP RS Advent. Bahkan, waktu si Papap sedang dirawat di RS Advent, saya sempat mandi di sana, dan ... serasa mandi di Bali, hahaha .... Soalnya, jendelanya menghadap Jalan CIhampelas (tapi karena di lantai 4, jadi yang tampak hanya rimbunnya pepohonan), kaca jendelanya blur, dan kalau dibuka bagian atasnya, nggak bakal ada yang bisa ngintip hihihiiiii .... Airnya panas lagi.

Bagaimana dengan WC-WC di kampus? Kalau di Unpar (terakhir kali saya ke Unpar pertengahan '97, sebelum kabur tanpa izin dari situ), WC-nya sejak dulu lumayan. Tapi kalo di WC Fisip, kacanya nyaris selalu penuh oleh cewek-cewek yang ngaca, hihihiiii .... Saya pernah ke WC UPI, di bangunan lama, ya gitu deh. Khas WC sekolah. Di Itenas juga gitu (waktu sering jemput si Aq awal-awal pacaran hehe), lagian di Geodesi banyakan cowok, jadi WC-nya seadanya.

Sementara, kalau di ITB, menurut saya WC paling enak adalah WC Astronomi doooong, meskipun klosetnya jongkok. Bisa mandi air anget kalau pagi-pagi (pake teko heater Himastron, haha).WC Astronomi relatif bersih karena hampir selalu dikunci, kalau mau masuk ya ambil kunci dulu di palang pintu. Tapi yang repot kalau kebelet dan kuncinya masih di Pak Amas. Kalau berkasus begitu, pasti lari ke WC TI di seberang.

WC-WC lain di ITB ya begitu deh, standar WC kampus. Sebetulnya ada WC yang nyaman dan bersih, yaitu WC dosen TI. Yah, maaf saja, sedikit nepotisme membuat saya pernah bisa masuk WC dosen TI yang selalu terkunci juga, hihihiiii ....

Begitulah peta per-WC-an di Bandung, meskipun pasti belum lengkap. Sebetulnya, penjelajahan WC ini juga merambah Jakarta lho. Sudah berapa kali saya ke Jakarta bersama Suze Antie naik travel CT Trans yang turun di Fatmawati, dan kami selalu mengunjungi WC raksasa kami di dekat situ---CITOS! Hahaha ....

Minggu, 08 Maret 2009

Insiden di WC sewaktu Beritunya si Babah

Peristiwa ini terjadi di acara pernikahan seorang oknum Babah yang berinisial Q dengan sang mamah yang berinisial M.
 
Sebagai anggota geng beser, seorang tante yang berinisial M (tapi kalo yang beritu dengan si Babah, kita panggil saja Mamah M, yang ini Tante M) bolak-balik ke WC yang untunglah dekat dengan pelaminan (lho kok? Hihii).
 
Nah, saat beser untuk terakhir kalinya, dari balik bilik WC-nya, Tante M mendengar percakapan seseorang via telepon … kok perasaan kenal suaranya ya. Mendesah-desah becek gitu. Tanpa sengaja, Tante M menguping.
 
“Halo? Iya Yang … bentar lagi udahan kok … iya, lima belas menit lagi mau cari taksi. Ini di WC, lagi ganti baju … tadi kan pake kebaya. Iya Yang … Yang … Yang ….” Lalu desahan becek itu diikuti dengan nyanyian mengikuti vokalis band kawinan.
 
Tante M terkesiap, antara ingin batuk dan ingin tertawa (soalnya Tante M memang radang tenggorokan). Tapi rasa terkejut membuatnya tersedak, dan jadilah si Tante M itu batuk-batuk heboh. Sampai muntah segala, hihihiiii ….
 
Setelah beres bersih-bersih, meskipun masih ingin batuk, Tante M keluar dari bilik WC-nya. Sambil masih terbatuk-batuk tapi ingin sekali menghina.
 
Kali ini giliran si oknum yang sejak tadi mendesah-desah becek yang terkesiap. Dia tidak menyangka TANTE M yang ada di bilik WC.
 
Jadilah Tante M keluar dari WC sambil digelendoti si oknum yang memohon-mohon “Kaaa … jangan cerita ya pliiiis … abatatsa!” Karena Tante M nggak menjawab dengan “jimhakho”, jadi ya tetap saja Tante M berniat cerita.
 
Si Tante M sendiri sampai heran, kenapa sih, selaluuuuuuuuu aja dia yang memergoki kekonyolan si oknum. Sejak dulu waktu bekerja di perusahaan yang sama. Dan anehnya si oknum nggak kapok-kapok bertindak konyol, hahahahahaaaa ….
 
Jadi Sit, siapa si Yangyang itu? Apakah kamu berubah nama jadi Icuk? Hahahahaaaa ….


(aku nggak pasang foto ah ... kejadian itu sudah cukup nista, jadi nggak usah ditambah nista hahahaha)

 

Selasa, 27 Januari 2009

Pisang Aromaaaaa


Description:
Dulu, kalo pulang sekolah, biasanya ganti angkot di pertigaan Setiabudi - Gegerkalong. Di pertigaan itu, selalu ada gerobak yang harumnya mewangi hingga membuat air liur bercucuran ... gerobak pisang aroma.

Mungkin itu asal namanya, karena aroma karamel bercampur pisangnya mmm ... membuat kantung si anak sekolah keren menjadi jebol karena pulang sekolah nyaris selalu jajan pisang aroma.

Eh, pas kemaren jalan-jalan di sekitar situ, ternyata tukang pisang aromanya masih ada. Tapi, dari harganya 150 perak, sekarang sudah 700 perak!

Karena sebetulnya bikin pisang aroma ini POC banget, jadi si anak sekolah (waktu itu sudah jadi anak kuliah keren) sering membuat sendiri dan menjualnya di Himastron. Makanya kuliahnya lama, karena dagang melulu. Hihihiii ....

Dan baru-baru ini, si Emak membelikan bahan-bahannya di pasar. Jadilah si tante keren yang dulu anak sekolah keren membuatnya lagi.

Ingredients:
- Kulit lumpia
- Pisang raja cere, tapi bisa juga pake pisang kepok atau pisang nangka. Cuma, pisang nangka itu lebih asem meskipun bentuknya lebih bagus.
- Gula pasir
- Minyak goreng
- Lem terigu (jangan aibon, memangnya Sitorus ...)

Directions:
1. Iris pisang memanjang, jadi dua (kalo pisangnya kecil) atau empat (kalo gede)
2. Simpan irisan pisang di kulit lumpia, taburkan gula sepanjang pisang
3. Gulung kulit lumpianya, lem dengan lem terigu
4. Setelah minyak panas, goreng dengan api sedang
5. Tiriskan minyaknya

POC kaaaaan?
Piece of Cake! *salah ding, piece of banana ini mah, hihihihiiiii*

Minggu, 25 Januari 2009

Gerhana Matahari Cincin 26 Januari 2009 | langitselatan.com


http://langitselatan.com/2009/01/12/gerhana-matahari-cincin-26-januari-2009/
Besok gerhanaaaaaaaaaaaaaaa ....

Tapi baca aja tulisannya si Pinah teman saya ini di langitselatan ya .... Hahahaaaaaaaaaaaa ....

*semoga besok cerah sehingga teman-teman yang ngamat gerhana puas*
**karena nggak ada foto gerhana, jadi pake fotonya si Pinah yang nulis hahaa**

Rabu, 03 Desember 2008

Maria Lubis versus Maryam Wahidin

Sebetulnya, di akte kelahiran saya (dan banyak teman yang umurnya sebaya), nggak ada nama marga yang dicantumkan. Di kelas saya (kelas 2 dan 3) waktu SMA juga ada sembilan pemilik marga Batak dan hanya satu orang yang tercantum marganya, si Olip doang (Padahal ada tiga Sirait, satu Lubis, satu Barus, satu Marpaung, satu Ginting, satu Manurung, terus si Ratna apa ya, lupa dia boru apa hihihiiii).

Menurut si Papap, pada masa itu pembuat akte kelahiran melarang pencantuman marga di akte kelahiran, dengan alasan yang agak-agak SARA (ya gitu deh, males ah ceritanya hihihiiii). Jadi, karena nama di sekolah harus sesuai dengan akte kelahiran, marga-marga yang bukan satwa itu terpaksa hilang sementara.

Saat akhirnya memiliki KTP, si Emak mencantumkan marga Lubis di belakang nama saya. Karena KTP yang akhirnya dianggap lebih berlaku daripada akte kelahiran, jadilah nama dengan marga Lubis itu yang dipakai di mana-mana, mulai urusan dengan bank sampai pekerjaan. 

Jauh-jauh hari sebelum “beritu”, saya sudah bilang kepada si Aq, saya nggak akan memakai namanya. Saya akan tetap bermarga Lubis saja, tidak seperti si Emak yang akhirnya ikut memakai nama Lubis di namanya. Si Aq sih santai-santai saja, sepertinya kalau saya ganti nama juga dia mah cuek saja hihihihihiiiiii ….

Bukannya berpikiran atau memiliki harapan buruk, tapi memang ada pengalaman merepotkan yang melibatkan nama gadis dan nama suami itu. Waktu masih kuliah, adik-adik kelas saya mengadakan suatu acara astronomi yang cukup besar. Mereka mengundang pembicara seorang perempuan ilmuwan yang beken. Tapi, ternyata mereka kerepotan mengganti spanduk pada saat-saat terakhir, karena di spanduk itu tercantum nama si ibu dengan nama suami di belakang namanya. Padahal mereka baru saja bercerai. Jadi, si ibu ingin nama gadisnya saja yang dipakai. Waks, kasihan teman-teman yang harus balik lagi ke pembuat spanduk untuk menggantinya! 

Kerepotan lain juga terjadi saat uwak saya meninggal dan istrinya mengurus surat kematian. Karena nama istri uwak saya berbeda (ada yang memakai nama gadis, ada yang memakai marga Lubis) di berbagai surat, KTP, Kartu Keluarga, dan beberapa dokumen lain, jadi urusannya berbelit-belit di kelurahan dan kecamatan.

Jadi, melihat dua pengalaman yang merepotkan ini, saya semakin mantap tidak akan memakai nama suami di belakang nama saya. Yah, kalau disapa “Bu Dindin” sih ya sok wae, hihihihiii …. Yang jelas, nama saya di dokumen-dokumen resmi dan halaman-halaman copyright buku tetap ada Lubisnya. Saya juga nggak berniat menambahkan Wahidin di belakang atau di depan Lubis, seperti nenek saya yang namanya jadi Armia Lubis-Nasution (maksudnya menikah dengan marga Lubis, sementara Ompung sendiri boru Nasution). Ini sih alasannya cetek—malas, kepanjangan. 

Emmm … sebetulnya ada alasan lain sih, yang membuat saya enggan mencantumkan nama si Aq di belakang nama saya. Alasannya lebih cetek lagi, hihihiii …. Soalnya, nama kami itu nggak nyambung kalau disatukan, masa’ jadi Maria Wahidin? Apalagi kalau Masniari-nya dicantumkan, jadi Maria Masniari Wahidin. Ini teh nama Batak atau nama apa? Hahahahaaaaa ….

Karena itu, biarkan saja nanti anak-anak kami yang memakai nama Wahidin di belakang namanya, ibunya mah tetap boru Lubis, kecuali kalau ganti nama jadi Maryam—cocok kan, Maryam Wahidin?

 

*Tapi tentu saja si tante keren ini nggak mau ganti nama, karena sudah ada pemilik nama Maryam di keluarga (istrinya salah satu uwak saya) dan di Astro '97. Hihihihiiiii ....