Selasa, 27 Januari 2009

Pisang Aromaaaaa


Description:
Dulu, kalo pulang sekolah, biasanya ganti angkot di pertigaan Setiabudi - Gegerkalong. Di pertigaan itu, selalu ada gerobak yang harumnya mewangi hingga membuat air liur bercucuran ... gerobak pisang aroma.

Mungkin itu asal namanya, karena aroma karamel bercampur pisangnya mmm ... membuat kantung si anak sekolah keren menjadi jebol karena pulang sekolah nyaris selalu jajan pisang aroma.

Eh, pas kemaren jalan-jalan di sekitar situ, ternyata tukang pisang aromanya masih ada. Tapi, dari harganya 150 perak, sekarang sudah 700 perak!

Karena sebetulnya bikin pisang aroma ini POC banget, jadi si anak sekolah (waktu itu sudah jadi anak kuliah keren) sering membuat sendiri dan menjualnya di Himastron. Makanya kuliahnya lama, karena dagang melulu. Hihihiii ....

Dan baru-baru ini, si Emak membelikan bahan-bahannya di pasar. Jadilah si tante keren yang dulu anak sekolah keren membuatnya lagi.

Ingredients:
- Kulit lumpia
- Pisang raja cere, tapi bisa juga pake pisang kepok atau pisang nangka. Cuma, pisang nangka itu lebih asem meskipun bentuknya lebih bagus.
- Gula pasir
- Minyak goreng
- Lem terigu (jangan aibon, memangnya Sitorus ...)

Directions:
1. Iris pisang memanjang, jadi dua (kalo pisangnya kecil) atau empat (kalo gede)
2. Simpan irisan pisang di kulit lumpia, taburkan gula sepanjang pisang
3. Gulung kulit lumpianya, lem dengan lem terigu
4. Setelah minyak panas, goreng dengan api sedang
5. Tiriskan minyaknya

POC kaaaaan?
Piece of Cake! *salah ding, piece of banana ini mah, hihihihiiiii*

Minggu, 25 Januari 2009

Gerhana Matahari Cincin 26 Januari 2009 | langitselatan.com


http://langitselatan.com/2009/01/12/gerhana-matahari-cincin-26-januari-2009/
Besok gerhanaaaaaaaaaaaaaaa ....

Tapi baca aja tulisannya si Pinah teman saya ini di langitselatan ya .... Hahahaaaaaaaaaaaa ....

*semoga besok cerah sehingga teman-teman yang ngamat gerhana puas*
**karena nggak ada foto gerhana, jadi pake fotonya si Pinah yang nulis hahaa**

Rabu, 03 Desember 2008

Maria Lubis versus Maryam Wahidin

Sebetulnya, di akte kelahiran saya (dan banyak teman yang umurnya sebaya), nggak ada nama marga yang dicantumkan. Di kelas saya (kelas 2 dan 3) waktu SMA juga ada sembilan pemilik marga Batak dan hanya satu orang yang tercantum marganya, si Olip doang (Padahal ada tiga Sirait, satu Lubis, satu Barus, satu Marpaung, satu Ginting, satu Manurung, terus si Ratna apa ya, lupa dia boru apa hihihiiii).

Menurut si Papap, pada masa itu pembuat akte kelahiran melarang pencantuman marga di akte kelahiran, dengan alasan yang agak-agak SARA (ya gitu deh, males ah ceritanya hihihiiii). Jadi, karena nama di sekolah harus sesuai dengan akte kelahiran, marga-marga yang bukan satwa itu terpaksa hilang sementara.

Saat akhirnya memiliki KTP, si Emak mencantumkan marga Lubis di belakang nama saya. Karena KTP yang akhirnya dianggap lebih berlaku daripada akte kelahiran, jadilah nama dengan marga Lubis itu yang dipakai di mana-mana, mulai urusan dengan bank sampai pekerjaan. 

Jauh-jauh hari sebelum “beritu”, saya sudah bilang kepada si Aq, saya nggak akan memakai namanya. Saya akan tetap bermarga Lubis saja, tidak seperti si Emak yang akhirnya ikut memakai nama Lubis di namanya. Si Aq sih santai-santai saja, sepertinya kalau saya ganti nama juga dia mah cuek saja hihihihihiiiiii ….

Bukannya berpikiran atau memiliki harapan buruk, tapi memang ada pengalaman merepotkan yang melibatkan nama gadis dan nama suami itu. Waktu masih kuliah, adik-adik kelas saya mengadakan suatu acara astronomi yang cukup besar. Mereka mengundang pembicara seorang perempuan ilmuwan yang beken. Tapi, ternyata mereka kerepotan mengganti spanduk pada saat-saat terakhir, karena di spanduk itu tercantum nama si ibu dengan nama suami di belakang namanya. Padahal mereka baru saja bercerai. Jadi, si ibu ingin nama gadisnya saja yang dipakai. Waks, kasihan teman-teman yang harus balik lagi ke pembuat spanduk untuk menggantinya! 

Kerepotan lain juga terjadi saat uwak saya meninggal dan istrinya mengurus surat kematian. Karena nama istri uwak saya berbeda (ada yang memakai nama gadis, ada yang memakai marga Lubis) di berbagai surat, KTP, Kartu Keluarga, dan beberapa dokumen lain, jadi urusannya berbelit-belit di kelurahan dan kecamatan.

Jadi, melihat dua pengalaman yang merepotkan ini, saya semakin mantap tidak akan memakai nama suami di belakang nama saya. Yah, kalau disapa “Bu Dindin” sih ya sok wae, hihihihiii …. Yang jelas, nama saya di dokumen-dokumen resmi dan halaman-halaman copyright buku tetap ada Lubisnya. Saya juga nggak berniat menambahkan Wahidin di belakang atau di depan Lubis, seperti nenek saya yang namanya jadi Armia Lubis-Nasution (maksudnya menikah dengan marga Lubis, sementara Ompung sendiri boru Nasution). Ini sih alasannya cetek—malas, kepanjangan. 

Emmm … sebetulnya ada alasan lain sih, yang membuat saya enggan mencantumkan nama si Aq di belakang nama saya. Alasannya lebih cetek lagi, hihihiii …. Soalnya, nama kami itu nggak nyambung kalau disatukan, masa’ jadi Maria Wahidin? Apalagi kalau Masniari-nya dicantumkan, jadi Maria Masniari Wahidin. Ini teh nama Batak atau nama apa? Hahahahaaaaa ….

Karena itu, biarkan saja nanti anak-anak kami yang memakai nama Wahidin di belakang namanya, ibunya mah tetap boru Lubis, kecuali kalau ganti nama jadi Maryam—cocok kan, Maryam Wahidin?

 

*Tapi tentu saja si tante keren ini nggak mau ganti nama, karena sudah ada pemilik nama Maryam di keluarga (istrinya salah satu uwak saya) dan di Astro '97. Hihihihiiiii ....

Jumat, 28 November 2008

TANAMANA? TANAMANA!

Percakapan ini terjadi di sebuah TK di daerah Sarijadi, pada Jumat pagi tanggal 28 November 2008. Hanya suaranya yang terdengar, wujud pelaku percakapan tidak terlihat karena mereka ada di balik pintu.


Anak Laki-Laki (AL): “Tanamana?”

Anak Perempuan (AP): “Apa sih?”

AL: “Tanamana!?”

AP: “Ih, nggak ngerti ih.”

AL: “TANAMANAAAAAA!”

AP: “Ngomong apa sih? Nggak ngerti?”

AL (dengan kesal memperlambat perkataannya, nyaris mengeja): “TAHA NAMANA?”

AP: “Oh …”

 

*TANAMANA ternyata singkatan dari TAHA NAMANA yang ternyata berarti “Saha Namanya”, yang diucapkan oleh lidah cadel seorang anak TK bernama Zaki. “Saha” dalam bahasa Sunda berarti “siapa”.

 

**Percakapan itu membuat seorang tante keren yang mendengarkan dari balik pintu tertawa terbahak-bahak sendirian, sampai ibunya heran kenapa pagi-pagi si tante keren kok sudah agak tidak waras—padahal waras banget sebetulnya. Hihihiiii ….


***Karena nggak ada foto si oknum TANAMANA itu, jadi si tante keren pake fotonya sendiri waktu TK hihihiiii ....

Minggu, 16 November 2008

Dua Anak Muda, Dua Orang Tua

Tiga bulan terakhir ini, dua orang teman saya meninggal. Dua-duanya laki-laki dan sama-sama belum berusia kepala tiga. Yang pertama Upiet alias Maulana Yusuf, teman saya di GPA, yang kedua si Ical yang sudah saya ceritakan di SINI. Dua-duanya sakit. Umur memang nggak bisa diduga. Padahal beberapa hari sebelum mereka meninggal, saya masih bertemu dengan mereka dalam keadaan sehat (dari luarnya sih, kalau dari dalam entah juga ya. Mungkin mereka sudah merasa sakit tapi nggak menampakkannya).

 

Sewaktu saya ulang tahun ketiga puluh (hihii … jujur ah sekarang mah, kan Etty Gadis Jujur), uwak saya, abangnya si papap yang nomor dua—kami memanggilnya Papaya—meninggal pada usia tujuh puluh sembilan. Memang sakitnya sudah lama, dan sebelumnya sudah bolak-balik masuk rumah sakit.

 

Dan empat puluh hari kemudian, tadi pagi, suami uwak saya yang nomor enam—saya memanggilnya Abeh karena mereka nggak punya anak, dan sejak kecil saya sering menginap di rumah mereka—meninggal juga. Umurnya tujuh puluh tiga. Sudah sering bolak-balik rumah sakit juga, hanya yang terakhir ini ternyata parah.

 

Dua anak muda, dua orang tua, dalam tiga bulan.

 

Senin, 03 November 2008

Si Ical, Si Betty, Saudara Sepemuhriman

Saya pertama kali bertemu dengannya waktu pembukaan penataran P4 di Sabuga, sebelas tahun lewat beberapa bulan yang lalu. Saat itu dia masih berambut a la Adi Bing Slamet, dan menambah daftar kekecewaan saya terhadap teman-teman seangkatan hahaha … (Soalnya nggak ada yang gimanaaaaa gitu. Mirip-mirip Otong Koil kek. Hihihiii).

Doski biasanya dipanggil si Ical, dan suka betek kalau namanya ditulis salah—harus Faizal Riza (karena sering ditulis Faisal). Yang agak aneh, dia dari Makassar tapi fasih berbahasa Sunda pergaulan (kasar) dengan si Yana, teman seangkatan kami yang juga dari Bandung. Setelah diusut, ternyata si Ical ini sempat sekolah di SD Banjarsari dan SMP 2 Bandung, lalu balik lagi ke Makassar.

Waktu tahun pertama kami kuliah, pergerakan mahasiswa sudah semakin ramai. Si Ical masuk PSIK (Pusat Studi Ilmu Kemasyarakatan) ITB, bersama seorang teman seangkatan kami yang lain, Iyam. Jelas saja wawasan kebangsaannya kuat. Dan pada tahun pertama ini juga, kami (Ical-Iyam-saya-Tya) sempat jadi artis demo hahaha …. Gara-garanya sih ditugaskan oleh Mas Hasan, ketua Himastron saat itu, untuk mengisi acara musik kampus. Ya sudah, kami nekad dan sok-sokan mengisi dengan band akustikan, menyanyikan lagu-lagu ngaco karya sendiri. Waktu itu masih ada Farkhan yang main gitar juga, tapi setelah manggung pertama kali, dia kapok!

Waktu itu kami lumayan laku, tapi ya laku di kalangan kampus hehe …. Setiap ada acara musik kampus, kami sering diundang. Sempat juga main di Radio Ganesha dan Radio Chevy (dan direkam di Radio Ganesha), karena saat itu dua radio itu tergolong radio “pemberani” yang sering bikin talk show “penggulingan” orde baru. Prestasi terbesar kami adalah main sepanggung dengan El Pamas (hahaha … masih ingat, grogi banget pas liat Totok Tewel) di acara malam alumni di Jakarta, dan pada malam itu juga Tragedi Trisakti terjadi (dan kami dipulangkan dengan panik oleh panitia, dengan taksi 4848, karena khawatir acaranya diintai oleh intel).

Hasil karya band akustikan kacau ini masih bisa terdengar sampai sekarang. Soalnya, Hymne KM-ITB karya si Ical dan Iyam. Dulu judulnya Demi Tuhan, Bangsa, dan Almamater, sama dengan motto KM-ITB. Sewaktu motto KM-ITB berubah, judulnya juga ikut berubah, jadi Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater. Tapi saya sering sebal karena orang-orang biasanya lupa bertanya-tanya, siapa sih yang membuat lagu kampus. Seperti lagu Mentari yang diaku-aku lagu kampus (tanpa disebutkan karya Abah Iwan Abdurrachman).

Setelah pergolakan politik mereda, si Ical masih aktif di PSIK. Tapi saat itu juga, kami “terpaksa pulang” ke Himastron, karena Himastron membutuhkan kami (hahaha … GR amat. Tapi memang benar, karena semua anggota pasti sempat ngerasain jadi pengurus, saking sedikitnya!). Si Ical yang sial, harus jadi tumbal angkatan, jadi ketua Himastron. Saat masa kepengurusannya, saya jadi danus kejam yang hobi membubuhkan stempel GOBLOG—bukan LUNAS—di buku utang Himastron (karena para penghuni Himastron saat itu saingan gede-gedean berutang dengan bangga, huh!).

Dengan komposisi tujuh cewek dan enam cowok dari tiga belas orang seangkatan (dan dua cowok rontok duluan di awal, lalu diikuti satu lagi), sungguh mengibakan nasibnya, karena cewek-ceweknya dominan, tukang ledek, dan hobi menjajah. Apalagi si Ical ini emosional dan keras. Tapi kasihan, seringkali dia tak berdaya menghadapi cewek-cewek penjajah, hihiii …. Lagipula, karena dia berambut panjang dan lembut serta berkulit putih mulus, kami sering menjuluki dia Betty (cowok-cowok lain juga dapat julukan).

Di luaran, citranya si Ical ini jantan, garang, gagah. Apalagi pernah jadi korlap demo. Tapi buat kami, dia adalah cowok manis yang lebih cantik daripada kami-kami, hihihiii …. Jadi kalau ada anak-anak jurusan lain yang memuji “Si Ical jantan ya …” kami sering membantah, “Ical? Jantan? Gagah? Halah … dia mah cantik!” (dan seringkali diprotes, karena menurunkan pasaran hahaha.) Yang lebih parah, dia seringkali kami lecehkan—misalnya dia sedang berjongkok sambil merokok di luar kelas, tiba-tiba si Lia berjongkok di sebelahnya dan tersenyum manissss sekali (yah, senyum manisnya Lia, hahaha!), dan tiba-tiba pura-pura mau mencolek dagunya. Atau saat kami iseng beli “minuman anu” untuk mabuk-mabukan di belakang Himastron, kami membelikannya sebotol Kiranti, hahahahahaaa …. Kasihan ya. Waktu giginya ompong pun, saya sempat meledeknya. Soalnya, giginya itu potong karena dia makan jagung, hahaha … saya ledek-ledekin, huh, nggak heroik, kirain berantem dengan siapaaaa gitu.

Saya pernah tanpa sengaja menginap di kamar kostnya di Sangkuriang. Oh, tentu saja setelah dengan sukses mengusirnya supaya tidur di kamar kost penghuni Sangkuriang lainnya (waktu itu ada lima anak astronomi yang ngendon di situ). Waktu itu kami sedang ada lanjutan pembicaraan materi ospek, lalu saya kemalaman dan malas berjalan kaki ke kampus (karena nggak ada angkot kalau sudah malam). Kamarnya rapi. Lebih rapi daripada kamar saya. Kamar mandinya bersih. Dan … peralatan mandinya berjajar lebih banyak daripada peralatan mandi saya. Wow.

Selama berteman—mungkin sudah bukan berteman lagi, tapi bersaudara, sebagai satu disfunctional family yang kacrut, dan sudah merasa muhrim—tentu saja kami sering berantem. Yang sering jadi masalah adalah sifat si Ical yang keras. Darahnya panas. Sampai pernah ada tragedi tangis-tangisan multiangkatan di Himastron pada suatu HUT Himastron. Sampai saya sempat mendiamkannya selama nyaris sebulan karena suatu hari dia meledak di Himastron. Tapi itu akibat saking dekatnya kami. Mirip berantem dengan saudara sendiri.

Si Ical termasuk yang terancam DO pada tahap Sarjana Muda, tapi untungnya dia berkasus di mata kuliah Matriks dan Ruang Vektor, lebih mudah daripada kasus Mekanika Lanjut kami. Dulu Tugas Akhirnya tentang Kosmologi, dan sampai beberapa saat yang lalu dia masih berminat terhadap Kosmologi (dia sempat bilang ingin S2, tapi ngumpulin duit dulu). Selama TA dia sering kami jodoh-jodohkan dengan si Ina, partner TA-nya yang juga seangkatan (dan seringkali keduanya ngambek, hahahaaa).

Setelah lulus, dia sempat menghilang beberapa saat dari pergaulan kami karena bekerja di Jakarta, jadi asisten editor di perusahaannya Raam Punjabi (dan selalu kami ledek, “Dasar perusak moral generasi muda bangsa!” Hahahaaa). Akhirnya dia nggak tahan—mungkin nggak sesuai juga dengan idealismenya—dan kalau nggak salah, sekitar peristiwa tsunami Aceh, dia keluar. Sempat jadi relawan Aceh dan bikin film dokumenter di sana. Dia memang berjiwa sosial, apalagi dia anggota KSR – PMI.

Sepulang dari Aceh, dia kerja di IMTV Bandung. Mulailah dia sering bergaul lagi dengan kami. Apalagi si Ketut juga sudah mulai muncul, setelah puas bertapa di Jatinangor. Semakin lama berteman, ternyata pelecehan kami semakin menjadi-jadi, hahaha …. Saya masih ingat, suatu hari kami kumpul angkatan di Perpustakaan Pusat. Si Ical belum datang-datang. Si Ketut yang kebagian nelepon. Lalu, pas akan menyudahi pembicaraan, kami cewek-cewek ini berseru-seru, “Bilang love you, Tut!” Si Ketut yang memang sama sintingnya menurut, dengan mesra bilang, “Love you ….” Dan kami mendengar seruan “ANJEEEEENG!” dari si Ical, hahahahaaaaaaaa! (Setelahnya kami marah-marahin, karena dia membalas sikap si Ketut yang penuh cinta dengan umpatan, dasar!)

Dia juga yang sering saya ganggu kalau sedang online tengah malam. Kalau id-nya, pcl_astro, tampak kuning, biasanya saya sapa “Hai, Say … Saython …” (Seperti biasa, umpatan-umpatan seperti “ajig” dan “gobod” selalu mewarnai percakapan kami. Seringnya sih dari dia hihiii … tapi buat kami, itu bukan umpatan kasar, itu ekspresi pertemanan akrab saja. Saat online malam-malam ini juga, dia beberapa kali curanmor soal cinta (Sebetulnya bukan dia yang sukarela curanmor sih, saya saja yang hobi mengorek-ngoreknya dengan pertanyaan mendetail. Dan dia selalu menjawab dengan jujur, hihii). Sempat juga saya ancam karena ada tanda-tanda dia mau melangkahi saya menikah duluan, tapi ternyata nggak jadi hahaha …. Sayang waktu saya “beritu” dia nggak datang karena harus pulang ke Makassar. Dan saya ledek-ledekin, “Kenapa sih nggak datang? Patah hati ya? Aaaah … ngaku, pasti patah hati yaaa!” (dan seperti biasa, dia membantah sambil mengumpat-umpat, hahaha ….)

Kami bertemu terakhir kali waktu Lebaran kemarin, hari ketiga, waktu dia beserta Vivi dan Dyno “ngalap berkah” ke rumah saya. Yah, biasa, si Emak yang menyayangi anak-anak kost seringkali open house untuk anak-anak kost yang nggak mudik saat Lebaran (sejak dulu, mulai dari teman-teman si Abang sampai teman-teman saya). Waktu itu lama juga mereka di rumah, bayangkan, dari makan siang sampai makan malam! (Si Emak sih senang, karena ada yang menghabiskan kakaren Lebaran. Soalnya kami sudah bosan, ketupat-opor-rendang melulu, hihiii) Saat itu masih saja saya ledek-ledek. Tapi beberapa tahun terakhir ini, kalau menurut saya sih, sifat emosionalnya sudah berkurang. Kalau soal dia mengumpat-umpat, itu sih karena ledek-ledekan (dan biasanya mengumpat sambil ketawa, kalau dulu bisa marah betulan—tapi semakin dia marah, kami biasanya semakin senang mengganggunya hihiii).

Sekitar dua minggu lalu, saya sempat mengobrol dengannya di telepon. Waktu itu saya sedang di BSM, dan nemu miniatur planetarium yang sudah lama Vivi cari. Saya sms Vivi, ternyata dia menelepon dengan HP si Ical. Waktu itu si Ical sempat ngajak saya jadi panitia Kongres Ikatan Alumni Astronomi, tapi saya bilang nanti dulu, lagi jadi ibu hamil nih (alasan, padahal males, hihiii). Nggak disangka, ternyata itu pembicaraan terakhir dengannya. Dan masih saya ledek-ledek juga, “Adeeeuh … kencannya ganti, bukan sama Ina lagi, sekarang sama Vivi!” (Si Vivi juga ikutan ngeledek, “Iya nih, ini kami lagi kencan!” dan seperti biasa dia ngomel-ngomel.)

Jumat minggu lalu, saya mendapat sms dari si Coni (yang Sawung), kabarnya Ical masuk RSHS. Waktu itu pikiran saya, si Ical paling-paling sakit DB atau tipp-ex, langganan (dasar anak kost, makannya nggak bener dan hobinya minum kopi banyak-banyak). Saya, Vivi, dan beberapa teman lain sudah berencana menengoknya Sabtu sore, eh, ternyata Sabtu pagi si Coni sms lagi, Ical sudah dibawa ke Makassar.

Yang sempat merasa ada sesuatu itu si Ketut, karena dia sms ke hp Ical, tapi yang bales kakaknya. Ketut sempat sms saya, “Mar, si Ical parah nggak ya? Kok nggak bisa pegang hp?” Lalu saya jawab (sambil bercanda dan menenangkan si Ketut—sebetulnya, lebih menenangkan diri sendiri juga sih), “Mungkin dia operasi kelamin, penghilangan jakun, dan pembesaran payudara Tut, jadi masih belum bisa pegang hp.” Lalu kami masih smsan bercanda gitu.

Eh, tiba-tiba, Jumat pagi kemarin, tiga sms berturut-turut masuk ke hp saya. Dari si Coni, dari si Bona, dan satu lagi dari siapa ya, lupa. Kabarnya, si Ical meninggal pukul 09.30 WITA. Saya langsung nangis dan ngadu sama si Aq, “Adek ngeledekin si Ical melulu, Q ….”

Seharian itu rasanya kelabu. Si Emak juga sedih. Tiap melihat gitar yang ada di rumah juga sedih, karena itu “gitarnya Ical” (yang dulu suka dipakai saat manggung). Sampai sekarang juga, dia masih terbayang-bayang. Sayang sekali saya nggak bisa langsung ke Makassar, tapi saya bertekad, suatu saat saya akan berziarah di makamnya. Dan mudah-mudahan, lagu-lagu rekaman karyanya berhasil dilacak (karena beberapa waktu lalu kami sudah berniat mencarinya, mudah-mudahan masih ada, karena Radio Ganesha sudah pindah).

Itulah si Ical. Bukan teman lagi, dia mah saudara, muhrim. Mudah-mudahan dia damai di sana.

Foto Terakhir Bareng Ical, Bubar Astro '97 di Warung Pasta
(Ical - Lia - Vivi - Ketut - saya)


Selasa, 09 September 2008

Laporan Honeyweek

Saya selalu menjawab “kurang lama, kurang puas,” kalau ditanya “Gimana honeyweeknya?” Soalnya, sebelum pergi si Aq harus kerja rodi dulu nyelesein pesenan tas seminar. Sampai Senin tengah malam dia belum pulang, padahal berangkat hari Selasa. Jadi, entah untung atau sial pesawatnya delay, dari jam 10.55 sampe jam 14.55 (jadi dia masih punya kesempatan istirahat).

Dan ini pengakuan jujur: saya baru pertama kali ke Bali. Si Aq sih udah pernah, tapi udah lama banget, sekitar taun 93an gitu. Dan dia datang dengan ngegembel karena cuma mau menghadiri peresmian Sungai Ayung dan pembentukan FAJI (Federasi Arung Jeram Indonesia). Jadi sama-sama belum punya bayangan mau ke mana aja.

Karena ada sepupunya si Aq, Teh Yeyet, yang sedang tugas di Denpasar, jadi kami dijemput di bandara, langsung menuju hotel The Lokha. Hotelnya keweeen …. Kamar superior aja udah luas, apalagi suite? Eh, karena si Aq kecapean, jadi aklimatisasinya lama. Karena hari Selasa udah datang malam, hari Rabunya dia tidur sampai siang.

Jadi, waktu tiga hari full honeyweek (kan dua hari dalam perjalanan, nggak keitung hihi) itu bener-bener mepet. Lumayan lah, masih sempat ke Ubud dan rafting di Sungai Ayung. Meskipun nggak terlalu “adventure” karena grade sungainya 2 atau 3 (oh, saya malah bersyukur, karena males banget kalo harus kejebur saat rafting … hihihiii), tapi sungainya bagus. Bersih dan di pinggir sungai, ada beberapa tebing yang dipahat. Tadinya mau foto di air terjun, tapi sayang baterai kamera habis, cuma ada foto yang diambil fotografer Sobek doang (lumayan, karena duduk di depan, jadi jelas banget wajah kami). Yang agak menyebalkan, yang seperahu sama kami itu ibu-anak dari Jepang, dan mereka sepanjang perjalanan ngobrooool melulu, nggak pernah ngedayung! Jadi sakit-sakit badan deh hahaha ….

Eh, konyolnya, setelah itu lupa ngecharge baterai lagi. Jadi, setelah itu, dikit banget foto-foto yang ada. Soalnya sudah hilang mood, hihihiii ... (Padahal udah sengaja beli kamera baru sebelumnya hahaha … dasar gaya).

Terus, masih ada lagi kejadian konyol yang menyertai. Ke Tampaksiring tapi karena lupa ngecharge baterai kamera, jadi nggak bisa foto-foto. Malah ditipu beli gelang termahal di dunia, 12 ribu perak, sementara di Sukowati ditawarin seribuan hahaha …. Di Sukowati juga agak ketipu karena nggak bisa nawar (beberapa sih, seperti sendal). Pulang dari Sukowati, ban motor (si Aq pinjem punya Teh Yeyet) bocor. Terus lama lagi nambalnya. Eh … waktu udah mau balik ke Legian, motor Teh Yeyet tiba-tiba ngadat di stopan, dan kami ditabrak mobil dari belakang. Pelan sih, cuma karena ada polisi, jadi urusannya lama. Dan hasilnya, KTP si Aq ditahan.

Tadinya udah khawatir aja, nanti di bandara kan harus periksa KTP. Tapi, entah untung entah sial lagi, Mas Jakfar (suaminya Teh Yeyet) yang mau nganter kami ke bandara ternyata harus ke kantor dulu. Jadi kami datang mepet banget, dan jadi orang terakhir yang boarding. Untungnya, nggak ada pemeriksaan KTP! (Tapi ini jadi berbuntut panjang, karena proses kredit motor baru jadi tertunda, huuuuuuuu)

Terus pake ketipu makan lobster di Legian. Soalnya lobster gede harganya 350 ribeng, hahaha …. Padahal tau gitu mending kita makan sushi aja ya Suze! Hahaha ….

Oh iya, kisah voucher Andong hadiah “beritu” juga aneh (hihi … makanya aku sms Smartie). Sampai seorang pemilik warung makanan Jawa Timuran turun tangan nyariin, tetep nggak ketemu. Lalu malam-malam kami nanya tukang andong beneran di Kuta, si tukang andongnya malah menyarankan kami ke Kepaon, tempat mangkal andong yang lebih banyak hihihiii …. Jadi, voucher itu masih utuh. Mungkin itu pertanda, kami harus balik lagi hahahahaaaa ….

Jadi gitu deh cerita singkatnya. Tapi kisah honeyweek ini menghasilkan suatu hal positif, kami jadi hafal jalan-jalan di Kuta-Denpasar dan sekitarnya. Dan juga menghasilkan tekad, suatu saat kami pasti balik lagi ke Bali. (Kalau saya sih malah pengen tinggal sebulaaaaan aja di Bali. Hihihiii) Selain menjelajah tempat-tempat lain, sekalian nyeberang ke Lombok hehehe …. Foto-foto yang cuma segelintir (dan nggak puguh) ada di SINI.