Minggu, 10 Agustus 2008

Kenakalan Pre-Wedding


sedang siap-siap nyobain

Kenakalan ini terjadi tanggal 4 Juli 2008, delapan hari sebelum hari-H. Karena betek, capek, becek, nggak ada ojek, ngurusin hari-H sendirian, si Aq tiba-tiba ngajak ke Pusdik Kavaleri di Parongpong, karena anak-anak Battlefield lagi ngeset bungee trampoline untuk klien mereka (sekalian paintball).

Sebelum para klien datang, kami boleh nyobain main bungee trampoline, dan ternyata setelah klien pulang, ada rombongan Ibu Ira, Mangmak (Makki), Bara, Lana, dan sepupu-sepupunya bergabung.

Kenakalan inilah yang membuat kulit hangus dan melepuh, serta merepotkan seorang dokter kulit di salah satu klinik perawatan kulit ternama ... hihihihiiiiiiiiiii

Kamis, 31 Juli 2008

Selamat Jalan, Surti Sayang ....

Hari ini adalah hari terakhir saya bersama si Surti ….

Surti telah bersama saya delapan tahun, menemani saya ke Bosscha bersama si Nata untuk mengerjakan TA, menjadi pemandu di Observatorium, dan ikut kuliah Materi Antar Bintang. Seringkali ikut menginap bersama saya di kampus, kedinginan di pelataran TI. Juga seringkali menjadi incaran favorit teman-teman saya, terutama Dyno.

Surti yang manis, yang setia mengantar saya, si Emak, si Aq, dan banyak teman saya, tanpa pernah memprotes. Menemani saya pulang tengah malam dan dini hari, tanpa pernah ada masalah.

Surti juga sempat menemani saya dan si Aq ke Cicenang, Ciater, Citarum, dan ke kaki Gunung Burangrang. Pernah juga masuk sedikit ke jalanan menuju Situ Lembang yang berbatu, syukurlah tidak sampai Cicaruk.

Surti juga menderita ketika saya dan si Aq jatuh di Jalan Cihapit sewaktu hujan deras dan jalan licin. Ia juga terluka saat saya diserobot motor nakal di perempatan Jalan Suci - Gasibu, sebelum masuk kantor. Ia juga kesakitan menabrak roda truk ketika saya tergelincir karena menginjak rem belakang terlalu tiba-tiba, di Jalan Cimareme, menuju ke Situ Ciburuy.

Surti yang selama delapan tahun hanya beberapa kali mogok, itu pun karena saluran bensinnya tertutup tanpa sengaja, atau lupa membeli bensin. Meskipun rodanya lumayan sering bocor, tetapi ia begitu tangguh.

Oh, Surti, si hitam legam, mengapa banyak sekali nama tempat yang berawalan Ci- yang saya datangi bersamamu? Hihihiii ….

Yah, Surti sekarang berpindah tangan ke seorang pemilik baru dari Jalan Bungur. Dan kepergiannya tidak sia-sia, karena ia berkorban demi kenyamanan saya, yang sudah seringkali sakit punggung karena terguncang-guncang shockbreakernya yang keras.




Meskipun nanti ada gantinya, saya tidak akan pernah melupakan Surti. Tidak sedetik pun. Surti, aku padamu … dirimu makin ….


Keterangan foto atas: Surti di depan pos satpam SMAN 2 Bandung, saat pemiliknya sedang bertemu teman-teman SMA.

Keterangan foto bawah: Surti dan pemiliknya sang wanita "Jawa" di Cicenang, saat menunggu anak-anak longmarch pulang ke Bandung.

Rabu, 23 Juli 2008

Ada yang Joged di Balik Jendela .... SINTING!

Ini sambungan dari seminggu yang bikin nggak waras.

 

Ketika sampai ke TKP, hal pertama yang saya rasakan adalah … kebelet pipis! (Sebetulnya dari didandanin juga udah kerasa sih, tapi tanggung … hahaha) Dan sialnya, kamar mandi di rumah Hegarmanah yang dalam nggak bisa digunakan, jadi harus ke rumah putih yang ada di belakang.

Setelah lega, saya disuruh masuk ke sebuah kamar untuk menunggu akad nikah. Ceritanya sih dipingit, tapi kamar itu berjendela besar sekali, dan saya bisa melihat rombongan si Aq datang, hahahahaaa …. Tapi sayang, waktu lagi dadah-dadah dari jendela sama Deni Agam—teman si Aq yang ikut motret—kepergok sama tante-tante saya, jadi jendelanya ditutup.

Sewaktu sedang menunggu akad nikah, si Opie, sobat saya dari SMP, muncul. Ternyata, saya harus menunggu agak lama di dalam kamar karena ada sambutan yang agak panjang dari keluarga saya (si Papap) dan keluarga si Aq (diwakili saudaranya). Setelah beberapa menit, akhirnya saya diizinkan keluar dan disuruh duduk di sebelah si Aq yang baru cukur kumis dan jenggot (Makanya, mulai dari keluar kamar sampai duduk di sebelahnya, saya selalu cengar-cengir, karena sejak dulu selalu merasa aneh kalau si Aq cukuran, hahahahaaa).

Si Pengantin yang Pecinya Selalu Miring dan Baru Cukuran

Selama ini, saya sering melihat orang-orang menangis terharu saat rangkaian akad nikah. Tapi, kok saya nggak ya. Apalagi waktu acara “habla-habla” sebelum akad nikahnya. Yang saya rasakan cuma sesak—memaksa saya untuk tetap duduk manis dan tegak—karena nggak biasa memakai korset.

Awalnya sih agak jaim, tapi lama-lama, mata saya jelalatan ke seluruh penjuru ruangan. Sialnya (atau untungnya?) di hadapan saya dan si Aq yang duduk berdampingan, di belakang penghulu dan si Papap, ada jendela besar. Orang-orang bisa menonton akad nikah dari luar jendela.

Mertua yang Pecinya juga Selalu Miring

Nah, di jendela itu, tampak dua sobat saya dari SMP juga, si Tinot dan si Achy. Si Achy—yang mirip Alia Rohali tapi makannya banyak hihii—sih tampak serius mencari-cari seseorang, pasti mencari si Opie yang sudah duluan di dalam. Dia juga terlihat smsan—pasti sms si Opie juga. Di sebelahnya ada si Tinot, seorang oknum ibu-ibu PNS Pajak yang sebetulnya belum ibu-ibu. Awalnya sih dia cuma senyum-senyum dari balik jendela, dan saya balas senyum-senyum lagi.

Lalu, lama-lama semakin parah—dia menjulur-julurkan lidah. Waks, sudah berusaha menahan diri agar tetap jaim, eh … nggak tahan juga, saya balas menjulurkan lidah. Padahal, di hadapan saya dan si Aq, keluarga besarnya si Aq duduk dan menghadap ke arah kami. Mungkin mereka sempat bingung, kenapa ini calon istrinya Dindin tiba-tiba nyengir dan menjulurkan lidah? (Tapi untung nggak ada yang protes, hahahaaa)

Ritual sebelum akad nikah terus berjalan, dan si Tinot tenang kembali. Si Aq sempat bisik-bisik, tangannya basah terus. Untung saya dibekali tisu oleh tante saya, mungkin untuk menyeka air mata—kalau-kalau saya menangis terharu. Eh, jadinya malah habis diminta si Aq (diam-diam, di bawah meja, hihiiii).

Setelah beberapa saat menunduk, saya mendongak lagi dan duerrr … di balik kaca jendela, si oknum PNS berbaju putih itu joged. Dasar sinting, saya hampir tidak bisa menahan tawa. Padahal akad nikah akan segera berlangsung, karena sudah ada yang memasangkan kerudung di kepala saya dan si Aq.

Tapi syukurlah, ketika akad nikah dimulai, oknum itu menghilang dari balik jendela. Eh, tapi dia muncul di dalam ruangan. Untungnya, karena di dalam ruangan banyak saudara, dia sedikit jaim (walaupun patpatnya sempat ditusuk oleh tante saya, karena badannya gede tapi nutupin tante-tante, hahahahaaaa).

Akad nikah berlangsung dengan kilat, tanpa diulang, meskipun suara si Aq gemetaran. Tangannya juga gemetar waktu mau tandatangan buku nikah dan berkas-berkas, sampai diledek oleh si Papap hihihiiii ….

Tangan si Aq masih gemetaran juga, hihihiii

Setelah itu, acara berlanjut dengan sungkeman. Sebetulnya, saya dan si Emak sudah khawatir dengan acara ini, karena banyak yang nggak bisa menahan haru. Saya sih nggak ingin menangis, karena wajah saya cenderung bengkak dan merah-merah dalam waktu lama setelah menangis. Tadinya sudah minta ke tante saya yang ngatur acara, supaya acara ini diskip saja, hihihiii … tapi permohonan saya ditolak, katanya, tenang saja, percayakan kepada Yonie untuk menyulap hidung merah dan mata bengkak supaya tetap segar.

Tapi ternyata, sungkeman juga nggak terlalu mengharukan. Soalnya, pertama, saya dan si Aq pasti harus numpang dulu di rumah ortu kami—karena si Aq anak tunggal, ibunya tinggal sendirian, dan saya juga anak “tunggal”, karena si Abang nggak tinggal di rumah. Jadi, pamitan juga nggak serius-serius amat, toh pasti kami pulang lagi ke rumah, hihihiiii …. Yang kedua, soalnya terpaksa harus sungkem kepada si Abang yang cengengesan dengan jenaka. Gimana mau terharu, dia cengar-cengir dengan ekspresi meledek waktu saya sungkeman (si Aq juga pasti ngerasa aneh harus sungkem sama teman TK-nya, hahahahaaaa).


Bagaimana Bisa Terharu Kalau Harus Sungkem kepada Orang Ini?


Jadi, kata siapa akad nikah harus bertangis-tangisan? Tentu tidak. Apalagi, kalau dihadiri oleh seorang oknum PNS yang joged di balik jendela. Dasar sinting!


Ini dia geng SMP: baju putih berselendang si ibu-ibu oknum PNS, lalu neng Nobi, dan di sebelah kiri saya duplikat Alia Rohali yang makannya banyak.

Sabtu, 05 Juli 2008

RARA MENDUT: SEBUAH TRILOGI

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Y. B. Mangunwijaya
Betapa kuasa seorang raja manusia bisa membuat kehidupan banyak orang menjadi porak poranda. Tidak hanya raja yang sebenarnya, tetapi juga raja-raja kecil di sekelilingnya. Alangkah mudahnya merenggut kebebasan seseorang yang awalnya merdeka, bahkan mencabut nyawa seseorang hanya demi kehormatan, kedudukan, atau sekadar ego dan nafsu manusia.

Rara Mendut adalah salah satunya. Gadis pantai jelita yang menganggap lautan luas adalah taman bermainnya direnggut begitu saja oleh kekuasaan seorang Adipati Pragola. Dan dia harus bernasib sebagai harta rampasan, ketika Tumenggung Wiraguna, panglima tua Kerajaan Mataram, menaklukkan sang Adipati yang dianggap memberontak dan membawanya ke ibukota kerajaan Mataram. Mulailah kehidupan Mendut sebagai hiasan Puri Wirogunan.

Mendut berusaha mencari akal untuk mengulur-ulur waktu agar tidak diperistri oleh sang Tumenggung. Ketika menjual lintingan tembakau untuk membayar “upeti” yang diminta Tumenggung sebagai syarat, dia bertemu dengan cinta sejatinya, Pranacitra, seorang pemuda dari Pekalongan. Tetapi, nasib sepasang kekasih itu berakhir tragis. Keris Tumenggung Wiraguna sendiri yang mengakhiri nyawa keduanya.

Kesedihan mendalam karena kehilangan Mendut dirasakan oleh Genduk Duku, dayang sekaligus sahabatnya. Terlahir dari ayah yang berasal dari Bima, terkenal sebagai penakluk kuda, dan ibu dari kalangan puri, Genduk Duku tumbuh menjadi seorang gadis perkasa yang pandai pula menaklukkan kuda. Dia lebih beruntung daripada Mendut, karena menikah dengan pria pilihannya sendiri.

Tetapi, seperti umumnya perempuan Mataram saat itu, hidupnya pun pahit. Suaminya tercinta juga tewas di tangan sang Tumenggung Wiraguna. Sama seperti Mendut dan Pranacitra, nyawa-nyawa terenggut hanya karena nafsu dan rasa malu sang Tumenggung. Genduk Duku terpaksa membesarkan putrinya, Lusi Lindri, sendirian.

Ketika Lusi Lindri beranjak dewasa, dia dititipkan di puri Tumenggung Singaranu. Karena kegagahan dan keluwesannya, ibunda raja Mataram tertarik untuk mengambilnya sebagai anggota Trinisat Kenya, pasukan elite perempuan yang bertugas sebagai pengawal pribadi sang raja, Sunan Amangkurat I. Tetapi, ternyata dia bertemu dengan seorang lelaki perwira pemberontak yang akhirnya menjadi suaminya. Mereka mengungsi ke pegunungan untuk bersembunyi dari kejaran prajurit Mataram.

Tiga perempuan itu yang menjadi tokoh utama trilogi Rara Mendut karya Y.B. Mangunwijaya, yang berdasarkan kisah dalam Babad Tanah Jawi dan sumber-sumber lain. Dan ada juga tokoh-tokoh perempuan lain dalam kisah ini, seperti dua perempuan perkasa, Nyai Singabarong—perempuan saudagar ibu kekasih Mendut, Pranacitra—dan Bendara Eyang Pahitmadu, kakak perempuan Tumenggung Wiraguna yang bersimpati kepada Mendut dan sempat melindungi Duku beserta suaminya.

Rama Mangun yang lahir di Ambarawa, 6 Mei 1929, menuliskan kisah ini dengan mengalir. Meskipun tebal, karena tiga buku dijadikan satu, Rama Mangun bisa membuat para pembaca untuk terus melanjutkan membaca, karena penasaran akan nasib para perempuan perkasa tersebut. Sayang sekali, masih ada beberapa kesalahan ketik—yang meskipun tidak fatal, tetapi cukup mengganggu—terutama di buku Lusi Lindri. Selain itu, banyak sekali catatan kaki yang sebetulnya tidak terlalu penting, karena istilah-istilah tersebut—meskipun dalam bahasa Jawa—sudah lazim dikenal dalam bahasa Indonesia. Tetapi, secara keseluruhan, buku ini layak untuk menjadi koleksi.


Jumat, 04 Juli 2008

Ada Telepon dari si ANSWER

Setting 1: di sebuah tempat lapang, bukan bengkel, tapi di tempat itu sedang ada mobil Land Rover yang sedang dibongkar. Si Bos yang sedang membongkar mobil, anak-anak buahnya membantu.

Bos: Ambilin kunci tujuh belas.

Salah seorang anak buahnya pergi dengan kebingungan, mencari kunci tujuh belas.

Bos: Lama-lama amat sih!

Anak buah: Iya bos, tenang.

Akhirnya si anak buah kembali.

Membawa TUJUH BELAS BUAH kunci untuk ngebengkel!

 

Setting 2: di rumah seseorang, bukan bengkel juga, dan juga ada sebuah mobil Land Rover juga yang sedang dibongkar. Yang ngebengkel sih segelintir, tapi penggembiranya banyak.

Yang ngebengkel: Tolong euy, kunci inggris!

Salah seorang penggembira berinisiatif menolong. Dia berjongkok lama di dekat kotak perkakas.

Penggembira: Nggak ada.

Yang ngebengkel: Ada!

Penggembira: Nggak ada, ada juga yang MADE IN CHINA!

Ah … hahahaa ….

 

Setting 3: di rumah seseorang, masa-masa HP belum seumum saat ini. HP milik seseorang berdering. Temannya yang mendengar.

Si teman: Hei, ada telepon!

Pemilik HP: Ti saha? (dari siapa?)

Si teman: Ieu buru, aya telepon ti si ANSWER! (ini cepet, ada telepon dari si ANSWER!)

Hahahahahahhahaaaaa ….

 

Semua itu adalah kejadian nyata, akibat berbelas-belas tahun bergaul dengan orang-orang sinting.

Gambar entah dari mana, si Aq yang download, udah ada di my documents, hihihii

Rabu, 25 Juni 2008

Tonk 1000 ligir, Can 1000 dak

Terus terang, tulisan ini terinspirasi ANGKREN si papah manggis di SINI. Saya adalah penggemar angkot, malah sekarang juga ngerasa lebih enak naik angkot daripada naik motor (kecuali kalau jauh dan dikejar waktu seperti saat ngantor dulu, atau karena ongkosnya mahal, hihiii …). Karena itu, ada beberapa kejadian berkesan yang pernah saya saksikan atau alami di angkot.


Naik Angkot GRETONG 

Waktu itu saya kelas 3 SMP. Biasa lah … di seragam tercantum nama. Biasanya, nama saya cuma tertulis Maria M, tapi karena sebal, sering disangka bernama Mariam, jadi waktu kelas 3 saya panjangkan nama di seragam itu menjadi Maria Masniari L. Suatu hari saya pulang naik angkot Ciroyom – Sarijadi. Eh, taunya, si kenek berteriak dengan antusias, “Bang, Masniari nih Bang!” ke si sopir. Lalu, dia bertanya-tanya, boru apa saya, kampung di mana, rumah di mana. Hasilnya, GRETONG. Nggak perlu bayar. Gara-gara Masniari, si nama Batak yang dulu saya sebal tapi sekarang saya sukai.


Tonk 1000 ligir, can 1000 dak

Pas SMP juga, angkot Perempatan Gegerkalong (sebetulnya pertigaan sih, tapi sudah dikenal dengan nama Parapatan) – Sarijadi masih kolt yang panjaaang. Isinya banyak, karena memang belum musim motor. Kalau naik kolt yang panjang ini sih sebetulnya yang gampang di pinggir, karena di dekat situ juga ada bel. Atau, kalau mau dekat bel, di kaca dekat sopir juga ada. Plus seringkali ada keneknya. Tapi, kadang-kadang kolt ini nggak ada keneknya. Jadi, kalau kebetulan duduk di tengah, terpaksa minta tolong si penumpang yang duduk di pinggir-pinggir ini untuk memencet bel. Karena saya turun dan naik di dekat pasar (ujung rute angkot), jadi saya seringkali kebagian memencet bel ini karena duduknya bisa milih di pinggir hihihiii …. Dan yang paling berkesan di angkot kolt ini adalah stiker bertuliskan: Tonk 1000 ligir, can 1000 dak (ah, terjemahannya tanya aja sama orang Sunda, hihihihiiiiii).


Ya Tuhan, Beraninya ia!

Ini pengalaman teman GPA saya. Jadi, suatu kali dia naik angkot kebagian di dekat pintu, karena angkotnya penuh. Bareng-bareng teman GPA lainnya juga. Eh, suatu saat, tiba-tiba angkotnya berhenti mendadak. Terus karena nggak seimbang, dia mau jatuh. Daripada malu karena jatuh, mending dia loncat duluan, katanya. Sambil teriak, huaaa! Di angkot itu banyak orang Papua. Seorang Papua yang kaget langsung berteriak, “YA TUHAN, BERANINYA IA!” dengan logatnya yang kental. Yah, meskipun malu, si teman saya itu naik angkot lagi. Teman saya yang satunya nahan ketawa sampai sakit perut. Hahahahahahaa ….


Baybay, Say ...

Kalau yang ini sih pengalaman tante saya. Katanya ya, ada sepasang kekasih yang duduk di depannya pas di angkot. Lalu, angkotnya harus lewat jalan yang bergelombang. Eh, si cewek karena mungkin nggak tahan keguncang-guncang, tiba-tiba kentut. Tuuuut …. Dan kurang ajarnya si cowok, begitu denger ceweknya kentut, dia langsung teriak, “KIRI!” dan kabur ninggalin ceweknya. Hahahahahaaaa ….


Dicurhati Sopir Angkot

Entah karena wajah saya Batak atau entah kenapa, saya sering dicurhatin sopir angkot. Prestasi saya yang paling gemilang adalah dua kali dicurhati sopir yang sama, waktu masih kerja, pulang dari Cinambo. Sopir Cicaheum – Ledeng itu bapak-bapak orang Padang, yang anaknya kuliah di Unisba. Dan dua kali saya dicurhati olehnya, pas ketika saya duduk di depan juga (kan nu geulis calik caket pa’ supir—yang cantik duduk dekat supir, hihiiii).


Marahin Copet

Pengalaman nyaris kecopetan di angkot juga pernah, tapi saat itu kebetulan saya lagi jadi petasan sumbu pendek. Di SINI ceritanya.Hihihiii ….


Jaipongan, Yuk!

Yang ini pengalaman paling dahsyat (menurut saya sih) yang pernah saya alami di angkot. Waktu itu, saya masih bimbingan senirupa. Kebetulan si Abang nggak bawa mobil, jadi kami pulang bersama naik angkot (kan si Abang pembimbing di bimbingan itu juga, hihihiii). Selain kami, ada seorang penduduk Sarijadi juga yang ikut pulang, teman bimbingan saya sekaligus kakak kelas SMA, Novi yang cantik jelita (dulu mah waktu SMA saya takuuut sama dia … jutek. Saya kelas 1, dia kelas 3 lagi. Tapi pas bareng bimbingan, ternyata bisa dikurangajari, hahaha). Dari Balubur, kami naik angkot Cicaheum – Ledeng ke arah Ledeng. Angkotnya penuh. Saya dan si Abang kebagian duduk di sebelah dalam, sementara Neng Novi nan cantik jelita ini duduk pas di belakang sopir. Waktu naik, angkot sudah terdengar berisik lagu jaipongan yang penuh blaktikpuk suara kendang.

Eh, waktu angkotnya maju, mulailah si bapak yang duduk di samping sopir menari jaipongan! Dengan heboh! Wuah, gerakan tangannya ke mana-mana, mungkin sampai kena-kena ke si sopir. Si sopirnya sih cuek, tapi Neng Novi mati gaya, hihihiii …. Bayangkan, sepanjang perjalanan Balubur – Gerlong, si bapak itu nggak berhenti jaipongan, di depan matanya! Saya dan si Abang berusaha nahan ketawa karena si bapak itu, ditambah ekspresinya Novi. Mungkin dia juga pengen ketawa, tapi takut si bapak marah, karena si bapak itu jaipongannya heboh, sampai muter ke segala arah. Akhirnya, pas kami turun dari angkot, huaaaaaaaaaaaa … ngakak sengakak-ngakaknya!


Sasakala Kiaracondong Macet

Terakhir, ini ada sasakala Kiaracondong macet (sasakala = legenda, Kiaracondong = daerah di Bandung yang terkenal macet selalu). Entah siapa yang menciptakan, saya mendengar dari si Abang. Konon, dulu Kiaracondong itu masih kosong. Hanya ada sawah luaaaaas banget. Sayang banyak hama tikus. Sampai para petani kewalahan. Lalu, mereka mendapat akal: mencari kucing untuk membasmi hama tikus. Lama-lama, populasi kucing semakin meningkat. Para petani memutar otak lagi. Solusinya, memelihara anjing supaya kucing-kucing takut. Eh … ternyata, anjing-anjing ini pun semakin lama semakin baaaaanyaaaakkkk. Apa ya, yang bisa menguranginya? Akhirnya, diputuskan: Kiaracondong harus ditinggali banyak orang Batak. Ehhhhh, semakin lama, semakin baaaaanyak orang Batak yang beranak-pinak. Dan jadilah Kiaracondong macet, karena orang-orang Batak itu pada jadi sopir angkot! Hihihiii ….

 

(Sasakala ini nggak SARA kan, soalnya yang posting juga Batak, hihihiiiiiiiiiiii)


Gambar dicomot dari www.metro.net

 

Minggu, 15 Juni 2008

MEKJUT oh ... MEKJUT


"Pap, kalau Adek DO, Adek mau kursus kue di Nyonya Liem, ya.”


Begitu yang saya bilang kepada si Papap waktu sempat terganjal kasus di tahap sarjana muda. Si Papap sih seperti biasa, manggut-manggut doang. Dan syukurlah, saya memiliki seorang abang yang aneh, SMA saja lima tahun, kuliah full tujuh tahun, jadi prestasi saya di sekolah tidak akan dibanding-bandingkan dengan prestasi si abang, hahahahahahaaaaaa! 

Di sekolah gajah yang bukan Way Kambas itu, ada tiga tahap evaluasi—TPB, Sarjana Muda, dan Sarjana. Kalau IPK < 2.00 dalam setiap tahap atau ada nilai mata kuliah E (pada tahap Sarjana sih D), dadaaaah …. Dan masing-masing tahap ada masa maksimalnya, seperti TPB maksimal dua tahun, Sarjana Muda maksimal lima tahun, dan Sarjana maksimal tujuh tahun (dulu, sekarang lebih ketat lagi).

Yah, angkatan saya memang angkatan paling ganjil dibandingkan angkatan-angkatan lain—nyaris kriminil semua (bukan kriminal). Bayangkan, dari tiga belas orang yang ada, dikurangi tiga pada tahap TPB (sekarang, yang satu sudah jadi sarjana hukum, yang satu sarjana politik, yang satu lagi entah ke mana), ada enam orang yang kasus sarmud. Lebih dari setengah dari yang tersisa!

Satu orang berkasus dalam mata kuliah Matriks dan Ruang Vektor dari jurusan Matematika (yah, saya juga ikut kuliah ini LIMA kali, dan akhirnya cuma dapat C, hahaha). Lima orang lagi, termasuk saya, tersangkut di mata kuliah MEKJUT.

Sumprit, bukan jorang atau parno, MEKJUT memang ada, MEKanika lanJUT. Kalau dalam mata kuliah Mekanika yang dipelajari adalah mekanika klasik Newtonian, di MEKJUT kami belajar tentang mekanika yang lebih rumit, mekanika Lagrangian, Hamiltonian, dan sebagainya (oh, jangan tanya apa isinya … saya juga sudah lupaaaa hahahaha).

Masalahnya, MEKJUT ini adalah mata kuliah dari jurusan Fisika, bukan dari jurusan Astronomi. Di jurusan Fisika sendiri, MEKJUT ini mata kuliah pilihan, tapi diwajibkan untuk mahasiswa Astronomi. Oh, kejam nian! Soalnya, yang mengambil mata kuliah pilihan ini umumnya adalah mahasiswa Fisika yang berminat belajar fisika teoretis—dan mereka biasanya pintar-pintar. Bagaimana nasib distribusi nilai kami? Huh.

Selain itu, isi MEKJUT sebenarnya juga diulas di mata kuliah jurusan Astronomi sendiri, di Geometri Alam Semesta. Oh, sungguh nama yang menakutkan. Seperti mata kuliah berjudul Benda Kecil dalam Tata Surya. Hihihiii ….

Nah, ada lagi masalahnya. Mata kuliah Matriks dan Ruang Vektor biasanya diberikan saat Semester Pendek. Jadi, si teman saya yang berkasus itu sudah agak selamat lah, paling-paling dia harus berusaha keras agar nilainya minimal C nanti. Sementara, MEKJUT ini kuliah pilihan yang paling diikuti oleh paling banyak lima belas orang mahasiswa. Mana mau jurusan Fisika menyelenggarakan semester pendek hanya untuk kami-kami ini?

Selain itu, dosen MEKJUT ini, sang ketua jurusan Fisika pada masa itu, adalah seorang dosen keras hati. Sebenarnya beliau baik (dan ganteng—menurut salah seorang teman saya yang juga berkasus. Halahhh!), tapi sulit dibujuk. Maka, mulailah kami bolak-balik—ke dosen wali, ke ketua jurusan, ke sekretaris jurusan, kembali ke jurusan Fisika, menemui si bapak dosen MEKJUT, bertemu dengan Pak Yeye—petugas TU Fisika, dipingpong lah.

Entah kenapa ya, saya sih waktu itu merasa benar-benar percaya diri. Saya berpikir, yang bener aje, masa jurusan rela kalau setengah angkatan 97 DO semua? Hihihii .... Tapi, ada salah seorang teman saya yang oh, panik setengah mati. Di mana-mana, air matanya bercucuran. Di depan ketua dan sekretaris jurusan, di depan si bapak dosen MEKJUT, mungkin juga di depan Pak Yeye (hmm … orangnya sama dengan si Neneng yang kami tipu harus traktir batagor itu, hihihiii).

Akhirnya, betul dugaan saya—kami semua mendapat kesempatan untuk ujian perbaikan. Syukurlah, saya mendapat nilai D! (Hahaha … nilai D aja bangga. Tapi memang, Listrik Magnet juga D, saya biarkan saja. Kimia 1 dan Kimia 2 juga begitu, ah, biar saja, daripada gatal-gatal, hihihiiiii) Sayang, di antara kami berlima, ternyata ada seorang teman yang meskipun dapat D, tapi IPK-nya benar-benar jauh dari 2.00. Jadi, hanya kami berempat yang lolos, bersama seorang teman yang berkasus Matriks dan Ruang Vektor itu.

Syukurlah, nilai-nilai saya jauh lebih membaik di tahap Sarjana (Kosmologi aja dapet A! Tapi sumprit, nggak inget sama sekali isinya, hahahahahaaaaa), meskipun perjuangan menyelesaikan Tugas Akhir sangat berat juga (haha … ini ada di kisah lain yang sudah diceritakan duluuuu).

Yang mengibakan sih si teman saya yang bercucuran air mata itu. Padahal dia yang berpendapat jika Bapak Dosen MEKJUT itu ganteng. Sampai lulus kuliah, dia nggak pernah mau lewat di depan gedung Fisika! Lebih baik jalan memutar. Sungguh aneh.

Yah, nggak jadi deh, kursus kue di Nyonya Liem. Hihihiiii ….

 

(Tulisan ini tuh request dari si Nata Pehul, yang juga berkasus MEKJUT bersama-sama saya, dan juga sialnya berpartner dengan saya di mata kuliah MATERI ANTAR BINTANG yang sudah saya ceritakan juga. Idihhh!)