Rabu, 25 Juni 2008

Tonk 1000 ligir, Can 1000 dak

Terus terang, tulisan ini terinspirasi ANGKREN si papah manggis di SINI. Saya adalah penggemar angkot, malah sekarang juga ngerasa lebih enak naik angkot daripada naik motor (kecuali kalau jauh dan dikejar waktu seperti saat ngantor dulu, atau karena ongkosnya mahal, hihiii …). Karena itu, ada beberapa kejadian berkesan yang pernah saya saksikan atau alami di angkot.


Naik Angkot GRETONG 

Waktu itu saya kelas 3 SMP. Biasa lah … di seragam tercantum nama. Biasanya, nama saya cuma tertulis Maria M, tapi karena sebal, sering disangka bernama Mariam, jadi waktu kelas 3 saya panjangkan nama di seragam itu menjadi Maria Masniari L. Suatu hari saya pulang naik angkot Ciroyom – Sarijadi. Eh, taunya, si kenek berteriak dengan antusias, “Bang, Masniari nih Bang!” ke si sopir. Lalu, dia bertanya-tanya, boru apa saya, kampung di mana, rumah di mana. Hasilnya, GRETONG. Nggak perlu bayar. Gara-gara Masniari, si nama Batak yang dulu saya sebal tapi sekarang saya sukai.


Tonk 1000 ligir, can 1000 dak

Pas SMP juga, angkot Perempatan Gegerkalong (sebetulnya pertigaan sih, tapi sudah dikenal dengan nama Parapatan) – Sarijadi masih kolt yang panjaaang. Isinya banyak, karena memang belum musim motor. Kalau naik kolt yang panjang ini sih sebetulnya yang gampang di pinggir, karena di dekat situ juga ada bel. Atau, kalau mau dekat bel, di kaca dekat sopir juga ada. Plus seringkali ada keneknya. Tapi, kadang-kadang kolt ini nggak ada keneknya. Jadi, kalau kebetulan duduk di tengah, terpaksa minta tolong si penumpang yang duduk di pinggir-pinggir ini untuk memencet bel. Karena saya turun dan naik di dekat pasar (ujung rute angkot), jadi saya seringkali kebagian memencet bel ini karena duduknya bisa milih di pinggir hihihiii …. Dan yang paling berkesan di angkot kolt ini adalah stiker bertuliskan: Tonk 1000 ligir, can 1000 dak (ah, terjemahannya tanya aja sama orang Sunda, hihihihiiiiii).


Ya Tuhan, Beraninya ia!

Ini pengalaman teman GPA saya. Jadi, suatu kali dia naik angkot kebagian di dekat pintu, karena angkotnya penuh. Bareng-bareng teman GPA lainnya juga. Eh, suatu saat, tiba-tiba angkotnya berhenti mendadak. Terus karena nggak seimbang, dia mau jatuh. Daripada malu karena jatuh, mending dia loncat duluan, katanya. Sambil teriak, huaaa! Di angkot itu banyak orang Papua. Seorang Papua yang kaget langsung berteriak, “YA TUHAN, BERANINYA IA!” dengan logatnya yang kental. Yah, meskipun malu, si teman saya itu naik angkot lagi. Teman saya yang satunya nahan ketawa sampai sakit perut. Hahahahahahaa ….


Baybay, Say ...

Kalau yang ini sih pengalaman tante saya. Katanya ya, ada sepasang kekasih yang duduk di depannya pas di angkot. Lalu, angkotnya harus lewat jalan yang bergelombang. Eh, si cewek karena mungkin nggak tahan keguncang-guncang, tiba-tiba kentut. Tuuuut …. Dan kurang ajarnya si cowok, begitu denger ceweknya kentut, dia langsung teriak, “KIRI!” dan kabur ninggalin ceweknya. Hahahahahaaaa ….


Dicurhati Sopir Angkot

Entah karena wajah saya Batak atau entah kenapa, saya sering dicurhatin sopir angkot. Prestasi saya yang paling gemilang adalah dua kali dicurhati sopir yang sama, waktu masih kerja, pulang dari Cinambo. Sopir Cicaheum – Ledeng itu bapak-bapak orang Padang, yang anaknya kuliah di Unisba. Dan dua kali saya dicurhati olehnya, pas ketika saya duduk di depan juga (kan nu geulis calik caket pa’ supir—yang cantik duduk dekat supir, hihiiii).


Marahin Copet

Pengalaman nyaris kecopetan di angkot juga pernah, tapi saat itu kebetulan saya lagi jadi petasan sumbu pendek. Di SINI ceritanya.Hihihiii ….


Jaipongan, Yuk!

Yang ini pengalaman paling dahsyat (menurut saya sih) yang pernah saya alami di angkot. Waktu itu, saya masih bimbingan senirupa. Kebetulan si Abang nggak bawa mobil, jadi kami pulang bersama naik angkot (kan si Abang pembimbing di bimbingan itu juga, hihihiii). Selain kami, ada seorang penduduk Sarijadi juga yang ikut pulang, teman bimbingan saya sekaligus kakak kelas SMA, Novi yang cantik jelita (dulu mah waktu SMA saya takuuut sama dia … jutek. Saya kelas 1, dia kelas 3 lagi. Tapi pas bareng bimbingan, ternyata bisa dikurangajari, hahaha). Dari Balubur, kami naik angkot Cicaheum – Ledeng ke arah Ledeng. Angkotnya penuh. Saya dan si Abang kebagian duduk di sebelah dalam, sementara Neng Novi nan cantik jelita ini duduk pas di belakang sopir. Waktu naik, angkot sudah terdengar berisik lagu jaipongan yang penuh blaktikpuk suara kendang.

Eh, waktu angkotnya maju, mulailah si bapak yang duduk di samping sopir menari jaipongan! Dengan heboh! Wuah, gerakan tangannya ke mana-mana, mungkin sampai kena-kena ke si sopir. Si sopirnya sih cuek, tapi Neng Novi mati gaya, hihihiii …. Bayangkan, sepanjang perjalanan Balubur – Gerlong, si bapak itu nggak berhenti jaipongan, di depan matanya! Saya dan si Abang berusaha nahan ketawa karena si bapak itu, ditambah ekspresinya Novi. Mungkin dia juga pengen ketawa, tapi takut si bapak marah, karena si bapak itu jaipongannya heboh, sampai muter ke segala arah. Akhirnya, pas kami turun dari angkot, huaaaaaaaaaaaa … ngakak sengakak-ngakaknya!


Sasakala Kiaracondong Macet

Terakhir, ini ada sasakala Kiaracondong macet (sasakala = legenda, Kiaracondong = daerah di Bandung yang terkenal macet selalu). Entah siapa yang menciptakan, saya mendengar dari si Abang. Konon, dulu Kiaracondong itu masih kosong. Hanya ada sawah luaaaaas banget. Sayang banyak hama tikus. Sampai para petani kewalahan. Lalu, mereka mendapat akal: mencari kucing untuk membasmi hama tikus. Lama-lama, populasi kucing semakin meningkat. Para petani memutar otak lagi. Solusinya, memelihara anjing supaya kucing-kucing takut. Eh … ternyata, anjing-anjing ini pun semakin lama semakin baaaaanyaaaakkkk. Apa ya, yang bisa menguranginya? Akhirnya, diputuskan: Kiaracondong harus ditinggali banyak orang Batak. Ehhhhh, semakin lama, semakin baaaaanyak orang Batak yang beranak-pinak. Dan jadilah Kiaracondong macet, karena orang-orang Batak itu pada jadi sopir angkot! Hihihiii ….

 

(Sasakala ini nggak SARA kan, soalnya yang posting juga Batak, hihihiiiiiiiiiiii)


Gambar dicomot dari www.metro.net

 

Minggu, 15 Juni 2008

MEKJUT oh ... MEKJUT


"Pap, kalau Adek DO, Adek mau kursus kue di Nyonya Liem, ya.”


Begitu yang saya bilang kepada si Papap waktu sempat terganjal kasus di tahap sarjana muda. Si Papap sih seperti biasa, manggut-manggut doang. Dan syukurlah, saya memiliki seorang abang yang aneh, SMA saja lima tahun, kuliah full tujuh tahun, jadi prestasi saya di sekolah tidak akan dibanding-bandingkan dengan prestasi si abang, hahahahahahaaaaaa! 

Di sekolah gajah yang bukan Way Kambas itu, ada tiga tahap evaluasi—TPB, Sarjana Muda, dan Sarjana. Kalau IPK < 2.00 dalam setiap tahap atau ada nilai mata kuliah E (pada tahap Sarjana sih D), dadaaaah …. Dan masing-masing tahap ada masa maksimalnya, seperti TPB maksimal dua tahun, Sarjana Muda maksimal lima tahun, dan Sarjana maksimal tujuh tahun (dulu, sekarang lebih ketat lagi).

Yah, angkatan saya memang angkatan paling ganjil dibandingkan angkatan-angkatan lain—nyaris kriminil semua (bukan kriminal). Bayangkan, dari tiga belas orang yang ada, dikurangi tiga pada tahap TPB (sekarang, yang satu sudah jadi sarjana hukum, yang satu sarjana politik, yang satu lagi entah ke mana), ada enam orang yang kasus sarmud. Lebih dari setengah dari yang tersisa!

Satu orang berkasus dalam mata kuliah Matriks dan Ruang Vektor dari jurusan Matematika (yah, saya juga ikut kuliah ini LIMA kali, dan akhirnya cuma dapat C, hahaha). Lima orang lagi, termasuk saya, tersangkut di mata kuliah MEKJUT.

Sumprit, bukan jorang atau parno, MEKJUT memang ada, MEKanika lanJUT. Kalau dalam mata kuliah Mekanika yang dipelajari adalah mekanika klasik Newtonian, di MEKJUT kami belajar tentang mekanika yang lebih rumit, mekanika Lagrangian, Hamiltonian, dan sebagainya (oh, jangan tanya apa isinya … saya juga sudah lupaaaa hahahaha).

Masalahnya, MEKJUT ini adalah mata kuliah dari jurusan Fisika, bukan dari jurusan Astronomi. Di jurusan Fisika sendiri, MEKJUT ini mata kuliah pilihan, tapi diwajibkan untuk mahasiswa Astronomi. Oh, kejam nian! Soalnya, yang mengambil mata kuliah pilihan ini umumnya adalah mahasiswa Fisika yang berminat belajar fisika teoretis—dan mereka biasanya pintar-pintar. Bagaimana nasib distribusi nilai kami? Huh.

Selain itu, isi MEKJUT sebenarnya juga diulas di mata kuliah jurusan Astronomi sendiri, di Geometri Alam Semesta. Oh, sungguh nama yang menakutkan. Seperti mata kuliah berjudul Benda Kecil dalam Tata Surya. Hihihiii ….

Nah, ada lagi masalahnya. Mata kuliah Matriks dan Ruang Vektor biasanya diberikan saat Semester Pendek. Jadi, si teman saya yang berkasus itu sudah agak selamat lah, paling-paling dia harus berusaha keras agar nilainya minimal C nanti. Sementara, MEKJUT ini kuliah pilihan yang paling diikuti oleh paling banyak lima belas orang mahasiswa. Mana mau jurusan Fisika menyelenggarakan semester pendek hanya untuk kami-kami ini?

Selain itu, dosen MEKJUT ini, sang ketua jurusan Fisika pada masa itu, adalah seorang dosen keras hati. Sebenarnya beliau baik (dan ganteng—menurut salah seorang teman saya yang juga berkasus. Halahhh!), tapi sulit dibujuk. Maka, mulailah kami bolak-balik—ke dosen wali, ke ketua jurusan, ke sekretaris jurusan, kembali ke jurusan Fisika, menemui si bapak dosen MEKJUT, bertemu dengan Pak Yeye—petugas TU Fisika, dipingpong lah.

Entah kenapa ya, saya sih waktu itu merasa benar-benar percaya diri. Saya berpikir, yang bener aje, masa jurusan rela kalau setengah angkatan 97 DO semua? Hihihii .... Tapi, ada salah seorang teman saya yang oh, panik setengah mati. Di mana-mana, air matanya bercucuran. Di depan ketua dan sekretaris jurusan, di depan si bapak dosen MEKJUT, mungkin juga di depan Pak Yeye (hmm … orangnya sama dengan si Neneng yang kami tipu harus traktir batagor itu, hihihiii).

Akhirnya, betul dugaan saya—kami semua mendapat kesempatan untuk ujian perbaikan. Syukurlah, saya mendapat nilai D! (Hahaha … nilai D aja bangga. Tapi memang, Listrik Magnet juga D, saya biarkan saja. Kimia 1 dan Kimia 2 juga begitu, ah, biar saja, daripada gatal-gatal, hihihiiiii) Sayang, di antara kami berlima, ternyata ada seorang teman yang meskipun dapat D, tapi IPK-nya benar-benar jauh dari 2.00. Jadi, hanya kami berempat yang lolos, bersama seorang teman yang berkasus Matriks dan Ruang Vektor itu.

Syukurlah, nilai-nilai saya jauh lebih membaik di tahap Sarjana (Kosmologi aja dapet A! Tapi sumprit, nggak inget sama sekali isinya, hahahahahaaaaa), meskipun perjuangan menyelesaikan Tugas Akhir sangat berat juga (haha … ini ada di kisah lain yang sudah diceritakan duluuuu).

Yang mengibakan sih si teman saya yang bercucuran air mata itu. Padahal dia yang berpendapat jika Bapak Dosen MEKJUT itu ganteng. Sampai lulus kuliah, dia nggak pernah mau lewat di depan gedung Fisika! Lebih baik jalan memutar. Sungguh aneh.

Yah, nggak jadi deh, kursus kue di Nyonya Liem. Hihihiiii ….

 

(Tulisan ini tuh request dari si Nata Pehul, yang juga berkasus MEKJUT bersama-sama saya, dan juga sialnya berpartner dengan saya di mata kuliah MATERI ANTAR BINTANG yang sudah saya ceritakan juga. Idihhh!)

Rabu, 28 Mei 2008

Kriminalitas di Kalangan Mahasiswa

Tulisan ini ada di blog friendster lamaaaa, tapi karena teman seangkatan saya mengingatkan kisah ini, jadi tulis lagi aaahhhhh di sini, hihihiiiii ....

Mahasiswa adalah sosok tanggung—baru beranjak dari usia remaja dan memasuki tahap dewasa muda. Sudah jelas, pada usia-usia sebaya mereka, para mahasiswa masih labil. Mereka juga mudah tergoda oleh  pengaruh-pengaruh negatif yang begitu gencar menerpa.

Salah satunya adalah seperti yang pernah saya alami ketika masih duduk di semester tiga. Saat itu, saya dan teman-teman baru saja menyelesaikan TPB (Tahap Persiapan Bersama) di ITB. Mata kuliah di TPB ini hampir seragam untuk semua jurusan, kecuali FSRD, salah satunya mata kuliah Fisika Dasar. Bobot Fisika Dasar ini 4 SKS, dan tentu saja dilengkapi praktikum yang  membosankan—menurut saya. Mungkin ada beberapa teman yang tidak bosan mengikuti praktikum ini, karena banyak mahasiswa-mahasiswa tingkat atas yang jadi asisten lab. Kebanyakan mereka adalah mahasiswa jurusan Fisika, hanya segelintir yang dari jurusan Teknik Fisika. Dan kebanyakan laki-laki, tidak seperti asisten lab kimia. Tentu saja, lab ini jadi ajang perkecengan dan sarana saling mengincar.

Rupanya, pesona seorang asisten lab telah mencuri hati teman saya. Dua orang sekaligus, lagi. Hebat sekali. Padahal, kalau menurut saya, dia biasa-biasa saja, tipikal “mas-mas ITB” gitu deh. Tapi mungkin kegalakannya (yang menurut teman-teman saya adalah sifat tegas) yang jadi salah satu daya tarik.

Kedua teman saya ini bagaikan musuh dalam selimut—tampak rukun, padahal dalam hati mereka bergelora. Menurut mereka, tidak ada persaingan. Tapi, kami yang ada di sekitar mereka merasakan hawa panas persaingan ini.

Suatu hari, kami menemukan sebuah fakta, yang menjadi pencetus kriminalitas ini. Karena, hal ini menyangkut masa depan salah satu teman kami yang jadi peserta persaingan.

“Neng (nama disamarkan), kami harus memberitahumu sesuatu,” kata kami waktu itu.
“Apa? Apa?” kata si eNeng. Rasa penasaran membuncah di dalam dadanya.
“Kami tahu sesuatu tentang kecenganmu,”
“Apa? Tentang apa? Kenapa?”
“Mmm … nanti deh kami ceritain. Tapi, traktir dulu makan dong,”

Akhirnya, kami semua pergi ke Jalan Ganesha. Di sana banyak jajanan. Setelah memesan batagor dan yoghurt, temanku langsung membayarnya. Kami lalu duduk di meja, di bawah kerindangan pohon-pohon besar.

“Jadi, apa beritanya?” si eNeng tidak sabar.
“Mmm … nyam … nyam …” kami masih asyik menikmati batagor dan yoghurt.
“Ayo doooong! Cerita!”

Ehem. Baiklah.

“Begini Neng, pertama, kami ucapkan terima kasih untuk traktiran batagor dan yoghurtnya,” kami menarik napas dulu, menelan sisa kunyahan yang ada di mulut, lalu mulai lagi, “Lalu, ada yang harus kami sampaikan kepadamu.”
“Apaaaaaa?” rupanya dia mulai tidak sabar.
“Ehem,” kerongkongan perlu dibersihkan terlebih dahulu. “Begini Neng … kecenganmu … jadian … sama si Nona … (nama samaran teman kami yang sama-sama mengeceng si Mas ITB itu).”

“Ya ampuuuuuuuuuuuuuuun … Sialaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan!”

Dan kami pun tertawa puas di atas penderitaan teman sendiri.


Moral cerita ini: Jangan cepat teperdaya oleh rayuan maut teman-teman yang mencoba memeras Anda. Terutama untuk hal-hal yang remeh-temeh seperti kecengan dan gebetan. Si Neneng dan si Nona ada di dalam foto seangkatan yang segelintir itu, tapi saya nggak mau bilang yang manaaaahahaahahahaaaaaaaa ....


Sabtu, 24 Mei 2008

Tante-Tante Legendaris di Bandung

Gara-garanya sih, karena akhir-akhir ini sering bergaul dengan seorang TUKUGIL, ibu-ibu tukang kue “gila” yang bernama Ibu Susi alias Teh Uci alias ibutio, yang nyaris di setiap pertemuan selalu membahas tante-tante pengusaha di Bandung (hihii … iseng banget yak).

Yah, Bandung kan kota kecil, apalagi bagi para seleb lokal seperti kami ini (hahaha … huekkk), pergaulannya saling sambung-menyambung menjadi satu. Jadi, bagi anak-anak Bandung yang merasa “gaul”, pasti tahu sosok tante-tante pengusaha ini.

Yang pertama adalah Tante Hendra. Saya sudah tahu si Tante ini sejak SMP, sejak mulai senang main-main dan jalan-jalan. Entah siapa nama sebenarnya, tapi beliau adalah tante-tante pemilik Taman Bacaan Hendra di Jalan Sabang, dekat Cihapit. Mungkin si Oom yang namanya Hendra, saya kurang tahu juga. Dulu, waktu saya SMP hingga kuliah, si Tante ini setia menjaga taman bacaan miliknya, bersama sang suami dan anak perempuannya. Sebetulnya ada dua karyawan TB Hendra yang setia, hingga saya kuliah pun masih belum ganti, satu bapak-bapak, satu ibu-ibu.

Taman Bacaan Hendra ini adalah taman bacaan beken seBandung Raya, karena paling lengkap pada zamannya—mulai dari komik dan novel serial komik jadul, komik Jepang, komik Eropa, buku terjemahan, buku karya pengarang Indonesia, hingga majalah-majalah. Anggotanya tersebar dari seluruh penjuru Bandung. Nggak melebih-lebihkan, tapi memang betul, karena saya saja berasal dari daerah Sarijadi, dan teman saya dari daerah Buahbatu, sama-sama pernah menjadi anggota taman bacaan ini. Entah, saat ini si Tante Hendra masih ada nggak ya, karena sudah lama sekali saya nggak berkunjung ke sana. Kartu anggotanya pun sudah hilang.

Di seberang Taman Bacaan Hendra, ada sebuah toko kertas dan kerajinan yang bernama Toko Tidar. Nah, ada seorang tante juga di Toko Tidar ini, saya nggak tahu juga namanya—sebut saja Tante Tidar. Wuah, saya senaaang sekali kalau main ke Toko Tidar. Soalnya, banyak kertas-kertas daur ulang yang bagus-bagus, hiasan-hiasan yang lucu, bahan baku kerajinan yang unik-unik, hingga yang sudah jadi produk, misalnya bingkai foto, stationery, atau jam dinding.

Toko Tidar ini memiliki jam buka yang aneh, karena ada jam istirahatnya—siang sampai sore. Beberapa kali saya kecewa karena sudah niat jauh-jauh main ke Toko Tidar, ternyata tutup (nggak belajar dari pengalaman dan sering lupa jam bukanya). Gosipnya sih si Tante Tidar hobi tidur siang, hihihiiii …. Tante Tidar ini pula yang menjadi pelanggan pertama kuenya ibutio (Teh Uci, sepertinya asyik kalau pengalaman pertama bisnis kuenya diceritakan hehehe).

Tante berikutnya adalah Tante Yosiko. Sama, ini juga saya nggak tahu namanya. Disebut Tante Yosiko karena beliau memiliki toko kertas dan stationery yang bernama Yosiko di Balubur—dulu dekat Kebon Bibit, sekarang pindah ke lokasi baru dekat Gelapnyawang. Waktu itu saya bimbingan SR di SD Kebon Bibit, jadi sudah pasti harus sering membeli kertas dan pensil. Dan toko langganannya ya Yosiko ini. Barangnya lengkap dan lebih murah, apalagi dibandingkan dengan Gramedia atau toko-toko lainnya.

Dulu, si Tante sudah hafal dengan belanjaan kami, kertas gambar berukuran A2, pensil beragam jenis (mulai dari sekian H hingga sekian B), dan penghapus. Tapi, sejak terdampar di Astronomi dan nggak butuh kertas gambar, saya mulai jarang mengunjungi Tante Yosiko. Paling sekali-sekali saja. Sejak pindah ke Pasar Balubur baru, saya nggak pernah lagi melihat si Tante jaga di tokonya. Lagipula, saya semakin jarang ke Balubur, karena memang jarang ada perlu. Dan dulu, para pembimbing SR itu sempat bergosip (yang sudah pasti ngarang), jika Tante Yosiko itu musuhan sama Tante Tidar, hihihiiiii … Asal (Gara-gara persaingan menjual kertas).

Akhir-akhir ini, saya tahu satu tante lagi, yaitu Tante Sedjati, pemilik Toko Sedjati yang menjual bahan-bahan kue, di daerah dekat Stasiun Hall. Gara-garanya sih karena sejak ngewarung sering membeli mayones, saus, dan sambal literan. Paling murah ya di Sedjati—bisa beda tiga belas ribu dengan harga supermarket! Tante Sedjati ini keren banget (menurut kesaksian ibutio juga), karena hafal harga-harga di luar kepala. Nggak perlu melihat contekan. Nggak perlu berpikir dan mengingat-ingat lama. Begitu kita tanya, “Anu harganya berapa?” Tante Sedjati langsung menjawabnya.

Sama seperti Toko Tidar, saya senaaaang sekali kalau berkunjung ke Toko Sedjati. Meskipun malas di perjalanan (karena Stasiun Hall sering macet). Membayangkan berkilo-kilo (berkuintal-kuintal, mungkin) cokelat, mentega, keju, keju krim, krim kocok, terigu, kenari, mayones, dan bahan-bahan makanan lainnya, serta takjub melihat deretan botol esens dan berbagai bahan makanan. Ada juga mesin pembuat fondue (yang sampai sekarang masih membuat saya penasaran), beragam cetakan, loyang, serta segala macam yang berhubungan dengan kue-kue dan masak-masak!

Uh, tapi amit-amit dah kalau kita berkunjung ke Sedjati saat bulan puasa. Penuh sesak! Orang-orang antre membeli bahan kue, baik porsi besar maupun untuk dimakan sendiri. Kuncinya datang ke Sedjati hanya satu: jangan banyak omong. Tulis saja pesanan kita di kertas, berikan kepada si Tante atau para pramuniaga, lalu tunggu, sambil memerhatikan bahan-bahan makanan yang berderet—atau mengamati sibuknya mbak-mbak pramuniaga yang menakar bahan-bahan. Setelah pesanan kita siap, pramuniaga biasanya memberikan kertas kita ke si Tante atau kasir asistennya, dan mereka mulai menghitung. Hanya cukup mengucapkan terima kasih—kecuali kalau barang yang kita pesan nggak ada dan para pramuniaga menawarkan alternatif lain (misalnya “ABC lagi kosong, Del Monte mau nggak?).

Di bidang katering, ada lagi seorang tante, tapi perkecualian, yang ini beken dengan panggilan “Ibu”—Ibu Tony. Ibu Tony ini adalah istri seorang dosen ITB yang berbisnis katering, dan paling terkenal di seantero Bandung. Sampai-sampai tercetus, “Kalau ke kawinan yang kateringnya Ibu Tony, harus makan masakan lidahnya!” (Bukan lidah Ibu Tony, pastinya, hihiii). Dan Ibu Tony ini juga yang membuat si Antjheu suatu hari berhasil membujuk saya menemaninya ke kawinan, karena suaminya berhalangan, dengan iming-iming, “Temenin gua, KATERINGNYA BU TONY, MAR!” Hahahaaaa!

Ada satu lagi tante yang sempat saya lihat menunggui tokonya, yaitu Tante di Toko Sumber Hidangan, yang menjual kue-kue legendaris yang terkenal sejak zaman Belanda. Sampai sekarang, saya masih penasaran ingin minum kopi di sana, sayang waktu wisata kuliner di Braga bersama Suze Antie waktu itu, kafe Sumber Hidangan sedang tutup dan baru buka sore hari, jadi kami hanya beli kue dan selai kacang untuk dibawa pulang. Jadi, gosipnya, Tante Sumber Hidangan ini punya jadwal tidur siang yang sama dengan Tante Tidar, hihihiiiii ….

Sebetulnya sih, pasti masih banyak tante-tante pengusaha di Bandung ini. Hanya saja, yang menurut saya paling legendaris (dan saya tahu) ya para tante di atas. Saya juga nggak tahu apakah para tante itu masih ada atau sudah meninggal (kecuali Tante Sedjati, karena baru beberapa minggu saya belanja di sana, Ibu Tony, karena masih aktif berbisnis katering, dan Tante Sumber Hidangan, karena terakhir ke sana masih ada).

Kalau ada yang mengenal para tante tersebut, mohon maaf ya kalau saya sering menggosipkan mereka, ngawur lagi hihihiiii …. Yah, digosipkan itu berarti tandanya mereka memang terkenal dan legendaris. Sebetulnya juga masih banyak tante-tante lainnya, seperti Tante Teko (pemilik kafe Teko di daerah Ciumbuleuit), Tante Reading Lights (pemilik toko buku Reading Lights di Siliwangi), hingga Tante-Tante Dharma Wanita ITB yang mengelola kantin GKU Barat (hikhikhik … dulu sering dimarahi tante-tante ini, “Taruh saja uangnya di situ, Sayang!” “Sebentar, Sayang, sabarrrrrr!”). Tapi kalau diabsen semua, ya capeeeeek!

Saya juga sering bertanya-tanya, apakah saya bisa jadi tante legendaris Bandung seperti mereka? (Menurut saya, yang kemungkinan besar jadi tante legendaris Bandung itu adalah Teh Uci dan Teh Echy, hihihiiii) Mudah-mudahan saja!

 

Catatan

Oh, tentu saja fotonya WAJIB foto Ny. Hj. Romlah, pengusaha angleng dan wajit dari Cililin. Sudah terbukti, Tante Romlah memang legendaris. Meskipun Cililin agak “nyingcet” dari Bandung, Tante Romlah JUARA!

Catatan Tambahan
Maaf, lupa mencantumkan satu calon tante legendaris di Bandung: Tante Boit sang juragan Omuniuum, hahahahahaaa ....

Kamis, 17 April 2008

Meja Kerjaku Dulu (Terinspirasi Ms. G Terchayank)

Ms. G barusan posting meja kerjanya yang rapiiiiiiiiiiiiiii bangettt di SINI

Jadi inget, saya masih punya foto meja kerja waktu kantor Mizan masih di Yodkali, salah satu surga jajanan di daerah Bandung agak ke timur, hihihiii ...


Mari kita perhatikan ada apa saja di atas meja yang sama sekali nggak bisa dipake nulis, apalagi menggambar ini ...
  • Buku-buku reading copy yang sangat menyenangkan. Ya iyalah menyenangkan, karena eh karena, buku anak-anak semua hahaha .... (Dulu saya pernah mimpi indah, masuk sebuah perpustakaan penuuuhhhhh buku anak-anak. Eh, taunya agak-agak menjadi kenyataan, hidup saya bergelimang buku anak-anak, meskipun bukan milik sendiri, hiks ...)
  • Kalender dengan buletan-buletan di tanggal dan post it bertulisan "Evaluasi + Program, JUMAT!" hahahaha ... kantoran banget yak.
  • CD-CD yang isinya file-file picture book Little K. Tapi CD-nya belum begitu bertumpuk, setelah kantor pindah ke Cinambo baru CD-nya bertumpuk.
  • Dummy picture book "Perjalanan Panjang Mengelilingi Dunia" yang diterjemahkan oleh Suze Antie, tapi nggak jadi diterbitkan hihihiiii ... (yah Suze, kita kan sudah mengibarkan bendera kuning sama-sama ya hahaha).
  • Bungkus kamera digital, kamera digitalnya dipake motret duonk ahhh ...
  • Gelas air putih yang biasa dibawain A Yayat (salah satu kecengan Sitorus haha) setiap pagi, kecuali bulan puasa.
  • Mug tahan panas yang masih belum dipake (terbalik), biasanya dipake minum kopi pagi-pagi atau sore-sore (kadang-kadang pagi dan sore).
  • Kotak obat-obatan terlarang, mulai dari antianalgesik hingga obat diare.
  • Sebuah kotak bekas cokelat Cadburry yang isinya ranjau ... (Suze Antie nyaris pernah tertipu, hahaha), di balik spidol-spidol yang bertumpuk.
  • Bandana merah madusa (made in usa gitu lhuwokh hahaha) kesayangan. Kenapa kesayangan? Soalnya kain bandana madusa beda dari bandana lokal. Karena dulu saya wanita Jawa yang naik motor bebek, biasanya pake bandana buat nutupin idung dan mulut. Dan kain bandana madusa nggak bikin sesak napas, beda dengan kain bandana lokal.
Hebat kan, berantakannya? Hahahaha ...
Tapi, kalo meja saya rapi, suasana kerja jadi nggak enak ... Suka jadi males kerja, maunya ngeberantakin meja dulu, hahahaha!


TAMBAHAN FOTO

Nah ... yang ini, suasana meja di kamar beberapa tahun yang lalu ... gila ya, amit-amit dah, saya juga betek ngeliatnya. Keadaan ini cuma sebentar kok, sekitar semingguan, pas dulu lagi sibuk apa ya, lupa. Pokoknya, nggak sempat beres-beres aja. Sekarang sih jauh lebih mending meskipun masih "agak" berantakan, hahahaaaaa ....

Apa aja yang ditumpuk?
  • Wadah CD
  • Kertas-kertas nggak jelas yang akhirnya dibuang semua
  • Foto-foto
  • Buku panduan masuk Planetarium Jakarta, hahaha ... (kalo nggak salah foto ini diambil setelah temu alumni astronomi "kecil" di sono)
  • Tas peralatan mandi, yang selalu siap disambar kalo perlu nginep-nginep atau berenang
  • Syal kuning dekil hasil sehari jalan kaki Bandung-Cicenang, seminggu di hutan Cicenang (dulu masih hutan, belum kebon), dan tiga hari jalan kaki Cicenang-Subang-Bandung, hahaha ...
  • Buku-buku, khususnya buku anak-anak (lihat, ada koleksi Astrid Lindgrenku dan Jennings hehehe)
Tapi tenang, saya sudah kapok punya meja seberantakan ini ... susah nyari barang, hihihihiiiiiiiiiiiii ....

Selasa, 01 April 2008

Ya Sudah, Panggil Saja Tante ....

Beberapa minggu yang lalu, seorang teman seangkatan saya di SMA, Cep Budiharto, bilang kalau ada murid-muridnya di SMP 32 yang pengen kenalan dengan saya. Kata doski, ada yang pengen nanya-nanya tentang astronomi, tentang dunia tulis-menulis (dunia perbukuan kali yee), dan tentang macam-macam lagi. Saya bilang, okeyyy … siapa tatuuuut. Kan Tante bisa menambah koleksi brondong, hihihiiii.

Laluuu, beberapa hari yang lalu (waduh, saya mah udah lupa hari, jadi maafkan kalo nggak inget kapan tepatnya, hihii), Cep Budi ini menelepon. Katanya, ada murid-muridnya yang ingin ngobrol dengan saya. Jadilah saya kenalan dengan dua orang murid SMP. Cewek lho. (Kalo berniat mengijon, silakan minta izin dulu sama Pak Budiharto) Intinya sih cuma kenalan dan mereka bilang kalau pengen ngobrol sama saya tentang astronomi dan tulis-menulis (ya, saya memang ahli tulis-menulis dan semakin ahli ketika tak dinyana bersua dengan para kubugil—tentu saja dalam bidang tulis-menulis racauan dan hal-hal nggak penting sedunia raya. I’m queen of doing nothing, gitu whluwokhhh).

Penelepon pertama … berjalan lancar (meskipun saya lupa namanya siapa karena ngomongnya singkat, perkenalan doang). Lalu, di sela-sela itu ada suara Pak Guru Budi, “Mar, ini ada satu lagi yang mau ngomong.” Dan … jengjreng, muridnya Pak Guru Budi itu menyapa saya, “Halo, TANTE, mau kenalan ya ….”

Hahahahahahahahahahahahahaaaaaa ….

Beneran dah, dipanggil Tante. Saya langsung ngakak, dan bilang “Waduh, kok dipanggil ‘tante’ sih?” Suara dari sana balas bertanya, “Abis bingung, manggilnya apa?” Ya saya jawab, “Panggil ‘neneng’ aja, gitu,” (meskipun bukan Nenenk Anjarwati, hihihiiiii).

Pasti ini gara-gara si Cep Budi. Waktu telepon sudah dioper ke dia, Cep Budi bilang kalau murid-muridnya juga bingung mau manggil apa sama saya, trus dia bilang karena saya orang Batak, ya sudah, panggil “tante” saja.

Awalnya sih masih agak geli gitu dipanggil “tante” beneran sama anak SMP, hahaha …. Masih berusaha menyangkal kebijaksanaan yang semakin matang (bukan usia yang semakin tua, hihihiii). Eh, ternyata muridnya si Pak Cep Budi ini mengirim e-mail ke saya tadi siang. Dan akhirnya kami YM-an. Namanya Nira, kelas 3 SMP.

Ehhhh … ternyata tetep aja, dipanggil “tante” lagi, hahahahahaaaa! Cuma, kali ini ya sudah, saya pasrah saja. Ada dua alasan, pertama: memang saya punya keponakan seumuran mereka ini, SMP, meskipun dia nggak manggil “tante” (manggilnya “bou”—dari namboru, saudara perempuan ayah). Legian keponakan saya yang paling gede juga sudah hampir lulus kuliah kok … meskipun dia juga nggak manggil “tante”, manggilnya “etek”(saudara perempuan ibu). Kedua: secara struktur hierarki-hierarkian sih, bener juga. Mereka murid Cep Budi. Mereka manggil Cep Budi “bapak”. Saya temen Cep Budi. Ya wajar saja kalau mereka manggil saya “tante”. Meskipun masih geli mendengarnya, hihihihiiiiii ….

Jadi, akhirnya saya pasrah saja dipanggil “tante”. Toh meskipun tante-tante, tetap keren kok. Dan tadi, obrolan kami di YM lucu juga, heheheee… mulai dari bagaimana caranya belajar supaya lulus UN *jangan belajar terus, main juga harus banyak, begitu jawaban saya, hihiii*, dulu Tante SMP-nya di mana, dulu Tante mainnya ngapain aja, Tante dulu ikut les nggak, sampai … dulu Tante pernah naksir sama cowok nggak *dan saya jawab: ya iyyyyalahhhhh … kecengan mah segudang, gitu, hihihiiii*, dan apakah naksir cowok itu mengganggu pelajaran? *saya jawab, tergantung. Soalnya dulu saya malah semangat ke sekolah buat ketemu teman-teman dan kecengan, hahaha … makanya nggak pernah mabal, meskipun sekolah hanya untuk bersosialisasi*

Sayang tadi saya harus segera pergi ke warung, karena ada janji dengan T’ Peni. Jadilah obrolan kami terputus sampai di situ. Setelah mengendapkan peristiwa tadi sebentar, baru muncul suatu kesadaran: apakah saya malah bikin dia ngaco dengan jawaban-jawaban saya? Hihihiiiiiiiiii … yah, Pak Cep Budi, mohon maaf sajahhh … saya mah Etty Gadis Jujur sih, hahahahaha!


Catatan

  1. Sebenarnya, saya adalah jenis orang yang berpendapat bahwa panggilan tidak berbanding lurus dengan kesopanan dan penghormatan. Nggak masalah kalau saya tiba-tiba ditelepon oleh Daffa, salah seorang keponakan saya, “Hei Dek, lagi ngapain?” (hihii … lalu ortunya yang panik), atau diceritai si Ambu Vekih kalau Nenk Zahra tiba-tiba bilang ke abahnya, “Bah, hayu kita ke si Umay!” (hahaha … disebut si Umay sama gadis muda berusia dua taun euyyy … hahaha)
  2. Kalau punya anak, sebenarnya saya juga pengen dipanggil nama saja, nggak usah pake “ibu” atau “nyokap” atau dll. Tapi entahlah, gimana nanti aja. Anaknya juga belum dibikin! Hihihiiiii ….
  3. Mungkin ini juga sedikit gara-gara kualat, karena ogah dipanggil Ms. M setelah ada Ms. A, Ms. D, dan Ms. G—malah ingin dipanggil Tante M saja.
  4. “Cep” pada tulisan di atas bukan bagian dari namanya Budiharto, tapi sifatnya sama dengan “Neng” atau “Jang”.
  5. Ya sudahlah. Pokoknya saya pasrah dipanggil “Tante”. Yang penting darahnya masih bergolak seperti anak muda. Hahahahahahaaaaa!
  6. Gambarnya pake foto Mint Sahi alias teh mint hasil karya si Papah Manggis duonk ... TETAP JUWALANNNN!!!