Jumat, 06 Juli 2007

Si Kuping Panjang!

Peristiwa ini terjadi dua hari yang lalu sih, tapi saya baru sempat menuliskannya sekarang. Waktu itu, saya dan Suze Antie sedang menjalankan ritual kami—makan-makan, lalu hotspotan bersama, dan ceting sebelahan hehe …. Seperti biasa, tempat hotspotan kami adalah Ngopi Doeloe yang di belakang Borromeus.

Karena sebelum-sebelumnya posisi kami selalu di meja makan, kali ini kami sepakat mencoba sofa (meskipun posisinya serba salah—bungkuk pegal, duduk di bawah atau jongkok nggak nyaman, dan kalau laptopnya dipangku … panas!) dan duduk bersebelahan. Di sebelah kiri Suze Antie, ada seorang ekspatriat. Di sebelah kanan saya, ada seorang ibu.

Setelah beberapa waktu, si bule berdiri. Si ibu sebelah saya juga siap-siap pergi (ternyata mereka saling mengenal—apakah mungkin mereka juga ceting sebelahan seperti kita ya, Suze? Hohoho …). Sofa sebelah kiri Suze Antie sih berapa kali berganti penghuni, tapi, yang sebelah kanan saya, tetap dikuasai oleh satu pasangan.

Dasar kuping kami ini panjang, ya kedengaran lah apa yang mereka bicarakan. Bukan maksudnya nguping, tapi pasangan di sebelah kanan saya ini suaranya keras. Apalagi si cewek. Awalnya sih, percakapan terdengar biasa saja. Tapi lama-lama … semakin memanas.

Awalnya, si cowok membuka laptopnya, lalu tampaklah perangkat presentasi. Ow, mungkin doi mau sidang. Dugaan ini diperkuat oleh komentar-komentar galak si cewek terhadap perkataan si cowok. Latihan presentasi rupanya. Wajar sih, kalau mau sidang kan harus siap dengan pertanyaan-pertanyaan tajam dan komentar-komentar galak.

Tapi, ternyata di sela-sela latihan, terseliplah komentar-komentar atau perkataan-perkataan galak si cewek yang nggak berhubungan dengan presentasi. Seperti, “Jadi kausebut dirimu ini S2?” dan “Aku tuh udah kerja dobel, ngurusin ginian, ngurusin kamu!” dan “Cuci tanganmu! Lalu lap pake tisyu!” dan lain-lain. Si cowok sih diam saja, nggak membantah atau membalas.

Omigod. Dosa apa aku dan Suze Antie, sampai harus mendengarkan perbincangan domestik seperti ini? Dan mulailah kami cekikikan sambil ceting … seperti yang biasa kami lakukan di kantor dahulu kala … jemari sibuk mengetik, tertawa tertahan, lalu cekikikan bersama … mengikuti suri teladan pujaan kami, bintang film horor legendaris, Suzanna ….

Seperti biasa, dipicu oleh keadaan nggak normal sedikit saja, otak kami berputar cepat, hingga suaranya terdengar berdentang-dentang dengan keras. Dimulai dari: berani nggak kamu tiba-tiba duduk di antara mereka? Ayo kita gelar tiker aja di hadapan mereka! Sambil makan popcorn! Kalo aku segalak gitu sama si Aq, pasti aku akan ditinggalkan begitu saja di sini! Mungkin seperti itu keadaannya kalau kita pacaran sama brondong! Atau paling sedikit cowok sebaya. Untung juga kan, bisa galak-galak? Dan pikiran-pikiran lain yang dipertukarkan via ketikan kilat di YM.

Lalu, si cowok pergi. Yah, semoga saja dia bisa sidang dengan lancar, dengan dukungan ceweknya yang galak tapi penuh perhatian. Setelah beberapa lama … si cowok akhirnya datang kembali.

Suasana kemudian menjadi lebih tenang saat itu. Si cewek juga nggak galak-galak lagi. Tapi, keadaan kembali memanas saat mereka membicarakan tentang beasiswa. Saya nggak tahu bagaimana detailnya, yang jelas menyangkut seorang teman mereka, yang menolak kesempatan beasiswa, atau semacam itu. Si cewek langsung menelepon teman mereka itu, menyuruhnya datang, dengan galak juga!

Sayang, kuping panjang kami harus berhenti berfungsi saat itu. Soalnya, sudah waktunya untuk pulang, setelah berjam-jam menjadi kuncen hingga pantat kami panas. Penasaran juga sih sedikit, apa yang akan terjadi ya? Tapi … sebetulnya nggak niat nguping kok, suerrrr, suerrrrrr! Mungkin sudah digariskan seperti itu, si Mbak yang galak dikaruniai suara keras, dan kami yang keren ini dikaruniai … kuping panjang! Hahahahahaha …


(ayo Suze, kapan lagi kita hotspotan bareng, dan memanjangkan kuping lagi seperti kelinci Playboy? Masih banyak tempat makan di Bandung yang belum kita jajah!)

 

Selasa, 03 Juli 2007

Salon Mariani

Daripada ke salon-salon mahal, saya lebih memilih ke salon dekat rumah saya, namanya Salon Mariani. Mariani ini nama pemiliknya. Gadis Batak, usianya lebih tua setahun dari saya. Dia mengerjakan segala sesuatunya sendiri, mulai dari mengeramasi, menggunting, meng-creambath, memblow, mengeriting, melulur, melakukan facial, hingga menyapu sisa-sisa rambut di lantai.

Biayanya murah. Gunting rambut dengan cuci dan blow saja cuma dua puluh ribu. Apalagi untuk pelanggan, dia mematok harga lima belas ribu saja. Hasil potongannya sih standar lah, tapi sudah memadai untuk orang-orang seperti saya—yang potong rambut bukan untuk mejeng di majalah atau televisi, hehehe ….

Hanya saja, kelebihannya adalah Mariani sendiri. Dia ini ceriwis dan sok akrab dengan para pelanggannya. Tapi, bukan ceriwis dan sok akrab dalam arti negatif—berbicara dengan Mariani menyenangkan. Buktinya, kalau kita sedang “dikerjai” di salonnya, banyak orang yang menyapa Mariani dari luar pintu yang terbuka. “Hai Mar!” “Kakak!” dan sebagainya.

Mungkin selain karena murah, itu yang membuat salon milik Mariani ini banyak pelanggannya. Bayangkan, saya datang ke sana untuk potong rambut pagi-pagi. Eh, ternyata jadwalnya sudah penuh sampai jam tujuh malam! Akhirnya memang harus membuat janji dulu sebelumnya. Si Emak bertanya, kalau buru-buru, kenapa nggak ke salon lain saja di dekat situ juga? Hmmm … lebih baik saya menunggu sampai malam. Bukan apa-apa, saya pernah ke salon lain yang di dekat situ juga. Mungkin potongan rambutnya sama saja sih, tapi ada sesuatu dari Mariani yang nggak dimiliki oleh salon lain itu.

Nggak tahu apa. Saya sendiri nggak bisa mengungkapkannya. Hanya saja, kalau saya menyerahkan kepala saya ke Mariani, saya merasa “dimanusiakan”. Bukan sekadar kepala berambut yang dijadikan objek eksperimen para penata rambut, yang protes atau permintaan khususnya kadang-kadang nggak didengar. Mau coba ke Salon Mariani? Kalau mau ke rumah saya lewat pasar, pasti melihat spanduk kuningnya yang sederhana kok, di dekat Indomaret. Tapi bikin janji dulu ya … hehehe.

 

Catatan

Salon Mariani terdengar cocok kan untuk sebuah salon kecantikan. Nggak seperti Salon Agus, langganannya Sitorus di daerah Cikutra, hahahaha … (Dan ya ampuuuun, Sitorus itu banggaaaa sekali dengan Salon Agus-nya itu! Dasar cewek brengsek, hahahaha)

 

Jumat, 15 Juni 2007

Keluarga Lubis Zaman Dulu




Kemarin, setelah pemakaman Totok Sutan (abangnya si Papap yang no. 8), banyak keluarga yang datang ke rumah, karena dimakamkannya di TPU Cibarunay, deket rumah.

Lalu, si Abang Hakim ngeliat foto ini dan pengen juga. Yasud, saya scan untuk dikirim via email (Bang Hakim, ntar Adek kirim foto yang resolusinya tinggi via email aja). Tapi, iseng posting di sini, karena fotonya ini lumayan ajaib hehehe ....

Foto pertama itu keluarga Lubis lengkap.
Belakang dari kiri: Totok Karel, yang no. 5 (Pontianak); almarhum Paktuo Kota (namanya Mahkota Lubis), anak Ompung yang paling kasep, no. 1 (Surabaya); Totok Agus, no. 4 (Lampung); Papaya, no. 2 (Bandung); almarhum Totok Rawa, bapaknya Abang Hakim, no. 3 (Jakarta); almarhum Ompung Moeis, adiknya Ompung Armia (Bogor); Bou Justi, no. 6, anak Ompung yang paling cantik da cuma satu cewek hehe (Bandung).
Tengah dari kiri: Totok Ikok, no. 7 (Bandung); almarhumah Ompung Armia; almarhum Ompung Hitam (karena di foto rambutnya hitam, hehe ... nama aslinya sih Marah Supi Lubis); almarhum Totok Sutan, no. 8 (Bandung)
Depan: si Papap, no. 10, celeno dengan celana monyetnya, hahahahahaha ...; Totok Bung, no. 9 (Jakarta)

Foto yang kedua, diambil di Bukittinggi. Anak terakhir Ompung baru Totok Ikok (yang digendong Ompung Armia), yang tiga lagi belum ada, jadi fotonya ditempel aja di pinggir hehehe ...

Selasa, 12 Juni 2007

Teman di Kala Menunggu Warung




Foodcourt Sulanjana sekarang diceriakan oleh seorang anak kecil, anaknya ibu pemilik Gelora Seafood, namanya Ajis (sungguh nulisnya gitu, bukan Azis).

Ajis ini aneh ... sering sok akrab sama pengunjung, terus pas pengunjungnya mau pulang, suka nangis hahahahahahaha ....

Tapi lumayan lah, ada teman saat nggak ada kerjaan. Sambil cerewet ngomong entah apa, nggak ngerti (palingan dia ngomong, "bibing! bibing! apa ieu? buaya!"
(bibing = mobil)

Senin, 11 Juni 2007

Waktu kecil ...




Gambar 1: Si kecil berbaju merah ini keren ya ... hahaha

Gambar 2: Itu lagi diceritain oleh Almarhum Mang Undang (yang keliatan bodinya doank). Bonekanya itu buku lho sebenernya, jadi celemeknya bisa dibuka jadi beberapa halaman dan ceritanya tentang si Tudung Merah dalam bahasa Prancis, yang kebetulan namanya MARIA.

Gambar 3: Ini belum bisa duduk sendiri sih sebenernya, jadi sama si Emak ditaro di kursi, langsung dijepret, dan langsung ... miring dengan sukses setelah difoto (edun ya, jadul banget studionya ... di Sukajadi)

Sabtu, 09 Juni 2007

Kata Bapak Sinshe, Saya ini Telmi ....

Tadi pagi, si Emak sudah heboh mandi, mau mengantar Tante Ati ke tempat pijat alternatif di Jl. Diponegoro. Lalu, kata si Emak, kenapa Adek nggak numpang aja naik taksi? Toh Jl. Diponegoro bisa lewat Sulanjana.

Tapi, di tengah jalan, Tante Ati mengajak-ajak, “Cobain aja Dek, siapa tau enak. Nggak sakit kok dipijatnya, nggak kaya’ refleksi.” Ya sudah, oke duech …. 

Setelah agak lama menunggu, bapak “sinshe”-nya datang juga. Masih muda, paling baru 40 taunan lah. Meskipun ada empat orang sebelum kami yang mengantre, karena dipijatnya nggak lama, jadi beberapa saat kemudian, tibalah giliran si Emak, lalu saya. Tante Ati masih menunggu di kursi (karena tempat tidurnya cuma dua).

Waktu si Bapak melihat si Emak, doski langsung bilang, “Ibu ngajar ya?” Lho, kok tau Pak? “Saya bukan paranormal. Kalo bahasa kerennya sih ‘indigo’ hehe …” Oh, begitu toh. Walah, si Bapak bisa baca pikiran nggak ya? Lalu, saat memijat si Emak, doski berkomentar begini, “Kalo saya punya duit banyak, saya mau jadi produser dan bikin film silat dengan bintang film si ibu,” Itu karena badannya si Emak keras-keras, padat (sampai kita capek kalo disuruh mijitin). 

Setelah si Emak selesai, tibalah giliran saya. Si Bapak ternyata langsung tahu masalah saya apa (suka sakit kalo lagi bocor). Terus, pas dipijat-pijat lagi, katanya suka kembung juga (mungkin ya, soalnya sering kentut hikhikhik). Yang paling mengagetkan adalah ketika saya disuruh telungkup dan si Bapak memijat punggung saya. Doski bilang begini sama si Emak, “Bu, anak Ibu ini susah makan ya?” Hah? “Ah nggak kok Pak, dia mah pemakan segala,” tukas si Emak. “Iya, tapi cuma makan yang dia suka aja.” Si Emak nggak menjawab lagi, cuma senyum-senyum. Lalu, si Bapak berkata lagi, “Bu, anak Ibu ini kok kaya’nya agak telat ya?”

HAH? 

“Telat gimana, Pak?” si Emak nanya. “Ya gitu, kalo ditanya suka bengong, susah jawabnya, lama, suka ‘euuuhhhh … euhhhhhh …’. Suka telat mikir.” HAH? Telat mikir? (Hmmm … apakah ini alasan mengapa selalu terjadi peristiwa “dumb and dumber”? Hahahaha) Si Bapak meneruskan memijat saya. “Kaya’nya saluran darah ke otaknya tersumbat nih. Tapi bisa diberesin kok.”

Tadinya agak bete juga dikomentari telmi, tapi mungkin ada benarnya juga kok hikhikhikhik …. Yah, siapa tahu pijatan si Bapak bisa membuat kecerdasan saya bertambah, mendapatkan beasiswa, kuliah lagi, dan seterusnya, hahahaha! (Tapi … kalau saya nggak telat ngejawab atau berkomentar, kasian Sitorus duonk. Saya telmi aja dia sudah dinistakan melulu, apalagi kalo nanti kecerdasan dan keterampilan berbicara saya bertambah! Hahahahahaahahahahaahahaha!)



Kamis, 07 Juni 2007

Kepala Ikan Patin di Warung Padang Singgalang Jaya

Duluuuu, waktu masih kuliah, hampir tiap minggu ke Warung Singgalang Jaya di Tubagus Ismail. Menunya, wajib selalu ... kepala ikan patin. Makannya pake tangan, sambil merem melek, dan mencari mata ikan yang paling nikmaaaaatttttttttt ...

Kalo dulu sih, biasanya formasi ke Warung Singgalang Jaya-nya: saya, si Nata Pehul, Coni, dan si Bona. Dan selalu, saya, si Pehul, dan Coni makan gulai kepala ikan patin ini, dan si Bona, yang alergi ikan (bahkan sama kartun Nemo pun doski takut banget) selalu makan sambil matanya berusaha menerawang ke atas dan ke mana-mana.

Karena kumpulan satu orang keren dan tiga orang aneh ini (ya sudah pasti yang keren itu akyu, hahahaha) sudah agak bubaran, karena si Pehul minggat ke Karawaci dan si Coni minggat ke Unpad, trus si Bona pacaran melulu, jadi baru tadi siang saya mengunjungi lagi Singgalang Jaya ini, bersama ... Suze Antie.

Dan tentu saja, menu yang dipilih adalah ... KEPALA PATIN! Hahaha ...

Masih enak sih, tapi sayang nggak senikmat dulu, karena tampaknya si patinnya ini digoreng lebih dulu dan ukurannya lebih kecil. Tapi biarlah, nggak apa-apa, toh yang penting kepala patin Singgalang Jaya tetap berjaya.

Sayang juga fotonya agak kabur, soalnya buru-buru motretnya, keburu laper hahahahaha ...