Senin, 03 November 2008

Si Ical, Si Betty, Saudara Sepemuhriman

Saya pertama kali bertemu dengannya waktu pembukaan penataran P4 di Sabuga, sebelas tahun lewat beberapa bulan yang lalu. Saat itu dia masih berambut a la Adi Bing Slamet, dan menambah daftar kekecewaan saya terhadap teman-teman seangkatan hahaha … (Soalnya nggak ada yang gimanaaaaa gitu. Mirip-mirip Otong Koil kek. Hihihiii).

Doski biasanya dipanggil si Ical, dan suka betek kalau namanya ditulis salah—harus Faizal Riza (karena sering ditulis Faisal). Yang agak aneh, dia dari Makassar tapi fasih berbahasa Sunda pergaulan (kasar) dengan si Yana, teman seangkatan kami yang juga dari Bandung. Setelah diusut, ternyata si Ical ini sempat sekolah di SD Banjarsari dan SMP 2 Bandung, lalu balik lagi ke Makassar.

Waktu tahun pertama kami kuliah, pergerakan mahasiswa sudah semakin ramai. Si Ical masuk PSIK (Pusat Studi Ilmu Kemasyarakatan) ITB, bersama seorang teman seangkatan kami yang lain, Iyam. Jelas saja wawasan kebangsaannya kuat. Dan pada tahun pertama ini juga, kami (Ical-Iyam-saya-Tya) sempat jadi artis demo hahaha …. Gara-garanya sih ditugaskan oleh Mas Hasan, ketua Himastron saat itu, untuk mengisi acara musik kampus. Ya sudah, kami nekad dan sok-sokan mengisi dengan band akustikan, menyanyikan lagu-lagu ngaco karya sendiri. Waktu itu masih ada Farkhan yang main gitar juga, tapi setelah manggung pertama kali, dia kapok!

Waktu itu kami lumayan laku, tapi ya laku di kalangan kampus hehe …. Setiap ada acara musik kampus, kami sering diundang. Sempat juga main di Radio Ganesha dan Radio Chevy (dan direkam di Radio Ganesha), karena saat itu dua radio itu tergolong radio “pemberani” yang sering bikin talk show “penggulingan” orde baru. Prestasi terbesar kami adalah main sepanggung dengan El Pamas (hahaha … masih ingat, grogi banget pas liat Totok Tewel) di acara malam alumni di Jakarta, dan pada malam itu juga Tragedi Trisakti terjadi (dan kami dipulangkan dengan panik oleh panitia, dengan taksi 4848, karena khawatir acaranya diintai oleh intel).

Hasil karya band akustikan kacau ini masih bisa terdengar sampai sekarang. Soalnya, Hymne KM-ITB karya si Ical dan Iyam. Dulu judulnya Demi Tuhan, Bangsa, dan Almamater, sama dengan motto KM-ITB. Sewaktu motto KM-ITB berubah, judulnya juga ikut berubah, jadi Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater. Tapi saya sering sebal karena orang-orang biasanya lupa bertanya-tanya, siapa sih yang membuat lagu kampus. Seperti lagu Mentari yang diaku-aku lagu kampus (tanpa disebutkan karya Abah Iwan Abdurrachman).

Setelah pergolakan politik mereda, si Ical masih aktif di PSIK. Tapi saat itu juga, kami “terpaksa pulang” ke Himastron, karena Himastron membutuhkan kami (hahaha … GR amat. Tapi memang benar, karena semua anggota pasti sempat ngerasain jadi pengurus, saking sedikitnya!). Si Ical yang sial, harus jadi tumbal angkatan, jadi ketua Himastron. Saat masa kepengurusannya, saya jadi danus kejam yang hobi membubuhkan stempel GOBLOG—bukan LUNAS—di buku utang Himastron (karena para penghuni Himastron saat itu saingan gede-gedean berutang dengan bangga, huh!).

Dengan komposisi tujuh cewek dan enam cowok dari tiga belas orang seangkatan (dan dua cowok rontok duluan di awal, lalu diikuti satu lagi), sungguh mengibakan nasibnya, karena cewek-ceweknya dominan, tukang ledek, dan hobi menjajah. Apalagi si Ical ini emosional dan keras. Tapi kasihan, seringkali dia tak berdaya menghadapi cewek-cewek penjajah, hihiii …. Lagipula, karena dia berambut panjang dan lembut serta berkulit putih mulus, kami sering menjuluki dia Betty (cowok-cowok lain juga dapat julukan).

Di luaran, citranya si Ical ini jantan, garang, gagah. Apalagi pernah jadi korlap demo. Tapi buat kami, dia adalah cowok manis yang lebih cantik daripada kami-kami, hihihiii …. Jadi kalau ada anak-anak jurusan lain yang memuji “Si Ical jantan ya …” kami sering membantah, “Ical? Jantan? Gagah? Halah … dia mah cantik!” (dan seringkali diprotes, karena menurunkan pasaran hahaha.) Yang lebih parah, dia seringkali kami lecehkan—misalnya dia sedang berjongkok sambil merokok di luar kelas, tiba-tiba si Lia berjongkok di sebelahnya dan tersenyum manissss sekali (yah, senyum manisnya Lia, hahaha!), dan tiba-tiba pura-pura mau mencolek dagunya. Atau saat kami iseng beli “minuman anu” untuk mabuk-mabukan di belakang Himastron, kami membelikannya sebotol Kiranti, hahahahahaaa …. Kasihan ya. Waktu giginya ompong pun, saya sempat meledeknya. Soalnya, giginya itu potong karena dia makan jagung, hahaha … saya ledek-ledekin, huh, nggak heroik, kirain berantem dengan siapaaaa gitu.

Saya pernah tanpa sengaja menginap di kamar kostnya di Sangkuriang. Oh, tentu saja setelah dengan sukses mengusirnya supaya tidur di kamar kost penghuni Sangkuriang lainnya (waktu itu ada lima anak astronomi yang ngendon di situ). Waktu itu kami sedang ada lanjutan pembicaraan materi ospek, lalu saya kemalaman dan malas berjalan kaki ke kampus (karena nggak ada angkot kalau sudah malam). Kamarnya rapi. Lebih rapi daripada kamar saya. Kamar mandinya bersih. Dan … peralatan mandinya berjajar lebih banyak daripada peralatan mandi saya. Wow.

Selama berteman—mungkin sudah bukan berteman lagi, tapi bersaudara, sebagai satu disfunctional family yang kacrut, dan sudah merasa muhrim—tentu saja kami sering berantem. Yang sering jadi masalah adalah sifat si Ical yang keras. Darahnya panas. Sampai pernah ada tragedi tangis-tangisan multiangkatan di Himastron pada suatu HUT Himastron. Sampai saya sempat mendiamkannya selama nyaris sebulan karena suatu hari dia meledak di Himastron. Tapi itu akibat saking dekatnya kami. Mirip berantem dengan saudara sendiri.

Si Ical termasuk yang terancam DO pada tahap Sarjana Muda, tapi untungnya dia berkasus di mata kuliah Matriks dan Ruang Vektor, lebih mudah daripada kasus Mekanika Lanjut kami. Dulu Tugas Akhirnya tentang Kosmologi, dan sampai beberapa saat yang lalu dia masih berminat terhadap Kosmologi (dia sempat bilang ingin S2, tapi ngumpulin duit dulu). Selama TA dia sering kami jodoh-jodohkan dengan si Ina, partner TA-nya yang juga seangkatan (dan seringkali keduanya ngambek, hahahaaa).

Setelah lulus, dia sempat menghilang beberapa saat dari pergaulan kami karena bekerja di Jakarta, jadi asisten editor di perusahaannya Raam Punjabi (dan selalu kami ledek, “Dasar perusak moral generasi muda bangsa!” Hahahaaa). Akhirnya dia nggak tahan—mungkin nggak sesuai juga dengan idealismenya—dan kalau nggak salah, sekitar peristiwa tsunami Aceh, dia keluar. Sempat jadi relawan Aceh dan bikin film dokumenter di sana. Dia memang berjiwa sosial, apalagi dia anggota KSR – PMI.

Sepulang dari Aceh, dia kerja di IMTV Bandung. Mulailah dia sering bergaul lagi dengan kami. Apalagi si Ketut juga sudah mulai muncul, setelah puas bertapa di Jatinangor. Semakin lama berteman, ternyata pelecehan kami semakin menjadi-jadi, hahaha …. Saya masih ingat, suatu hari kami kumpul angkatan di Perpustakaan Pusat. Si Ical belum datang-datang. Si Ketut yang kebagian nelepon. Lalu, pas akan menyudahi pembicaraan, kami cewek-cewek ini berseru-seru, “Bilang love you, Tut!” Si Ketut yang memang sama sintingnya menurut, dengan mesra bilang, “Love you ….” Dan kami mendengar seruan “ANJEEEEENG!” dari si Ical, hahahahaaaaaaaa! (Setelahnya kami marah-marahin, karena dia membalas sikap si Ketut yang penuh cinta dengan umpatan, dasar!)

Dia juga yang sering saya ganggu kalau sedang online tengah malam. Kalau id-nya, pcl_astro, tampak kuning, biasanya saya sapa “Hai, Say … Saython …” (Seperti biasa, umpatan-umpatan seperti “ajig” dan “gobod” selalu mewarnai percakapan kami. Seringnya sih dari dia hihiii … tapi buat kami, itu bukan umpatan kasar, itu ekspresi pertemanan akrab saja. Saat online malam-malam ini juga, dia beberapa kali curanmor soal cinta (Sebetulnya bukan dia yang sukarela curanmor sih, saya saja yang hobi mengorek-ngoreknya dengan pertanyaan mendetail. Dan dia selalu menjawab dengan jujur, hihii). Sempat juga saya ancam karena ada tanda-tanda dia mau melangkahi saya menikah duluan, tapi ternyata nggak jadi hahaha …. Sayang waktu saya “beritu” dia nggak datang karena harus pulang ke Makassar. Dan saya ledek-ledekin, “Kenapa sih nggak datang? Patah hati ya? Aaaah … ngaku, pasti patah hati yaaa!” (dan seperti biasa, dia membantah sambil mengumpat-umpat, hahaha ….)

Kami bertemu terakhir kali waktu Lebaran kemarin, hari ketiga, waktu dia beserta Vivi dan Dyno “ngalap berkah” ke rumah saya. Yah, biasa, si Emak yang menyayangi anak-anak kost seringkali open house untuk anak-anak kost yang nggak mudik saat Lebaran (sejak dulu, mulai dari teman-teman si Abang sampai teman-teman saya). Waktu itu lama juga mereka di rumah, bayangkan, dari makan siang sampai makan malam! (Si Emak sih senang, karena ada yang menghabiskan kakaren Lebaran. Soalnya kami sudah bosan, ketupat-opor-rendang melulu, hihiii) Saat itu masih saja saya ledek-ledek. Tapi beberapa tahun terakhir ini, kalau menurut saya sih, sifat emosionalnya sudah berkurang. Kalau soal dia mengumpat-umpat, itu sih karena ledek-ledekan (dan biasanya mengumpat sambil ketawa, kalau dulu bisa marah betulan—tapi semakin dia marah, kami biasanya semakin senang mengganggunya hihiii).

Sekitar dua minggu lalu, saya sempat mengobrol dengannya di telepon. Waktu itu saya sedang di BSM, dan nemu miniatur planetarium yang sudah lama Vivi cari. Saya sms Vivi, ternyata dia menelepon dengan HP si Ical. Waktu itu si Ical sempat ngajak saya jadi panitia Kongres Ikatan Alumni Astronomi, tapi saya bilang nanti dulu, lagi jadi ibu hamil nih (alasan, padahal males, hihiii). Nggak disangka, ternyata itu pembicaraan terakhir dengannya. Dan masih saya ledek-ledek juga, “Adeeeuh … kencannya ganti, bukan sama Ina lagi, sekarang sama Vivi!” (Si Vivi juga ikutan ngeledek, “Iya nih, ini kami lagi kencan!” dan seperti biasa dia ngomel-ngomel.)

Jumat minggu lalu, saya mendapat sms dari si Coni (yang Sawung), kabarnya Ical masuk RSHS. Waktu itu pikiran saya, si Ical paling-paling sakit DB atau tipp-ex, langganan (dasar anak kost, makannya nggak bener dan hobinya minum kopi banyak-banyak). Saya, Vivi, dan beberapa teman lain sudah berencana menengoknya Sabtu sore, eh, ternyata Sabtu pagi si Coni sms lagi, Ical sudah dibawa ke Makassar.

Yang sempat merasa ada sesuatu itu si Ketut, karena dia sms ke hp Ical, tapi yang bales kakaknya. Ketut sempat sms saya, “Mar, si Ical parah nggak ya? Kok nggak bisa pegang hp?” Lalu saya jawab (sambil bercanda dan menenangkan si Ketut—sebetulnya, lebih menenangkan diri sendiri juga sih), “Mungkin dia operasi kelamin, penghilangan jakun, dan pembesaran payudara Tut, jadi masih belum bisa pegang hp.” Lalu kami masih smsan bercanda gitu.

Eh, tiba-tiba, Jumat pagi kemarin, tiga sms berturut-turut masuk ke hp saya. Dari si Coni, dari si Bona, dan satu lagi dari siapa ya, lupa. Kabarnya, si Ical meninggal pukul 09.30 WITA. Saya langsung nangis dan ngadu sama si Aq, “Adek ngeledekin si Ical melulu, Q ….”

Seharian itu rasanya kelabu. Si Emak juga sedih. Tiap melihat gitar yang ada di rumah juga sedih, karena itu “gitarnya Ical” (yang dulu suka dipakai saat manggung). Sampai sekarang juga, dia masih terbayang-bayang. Sayang sekali saya nggak bisa langsung ke Makassar, tapi saya bertekad, suatu saat saya akan berziarah di makamnya. Dan mudah-mudahan, lagu-lagu rekaman karyanya berhasil dilacak (karena beberapa waktu lalu kami sudah berniat mencarinya, mudah-mudahan masih ada, karena Radio Ganesha sudah pindah).

Itulah si Ical. Bukan teman lagi, dia mah saudara, muhrim. Mudah-mudahan dia damai di sana.

Foto Terakhir Bareng Ical, Bubar Astro '97 di Warung Pasta
(Ical - Lia - Vivi - Ketut - saya)


48 komentar:

  1. oh ... satu lagi, saya dan si nata pernah melecehkannya dengan pertanyaan jebakan, kisahnya ada di SINI

    BalasHapus
  2. aku juga masih sedih ... meskipun yakin kalo si ical tau kami sayang kepadanya dengan cara melecehkannya hihiii

    BalasHapus
  3. jadi sedih :(, gak nyangka yah secepat itu perginya...sakit apa jadinya May ? kok tampak mendadak begitu *Semoga amal ibadahnya diterima di sisi-Nya...amin*

    BalasHapus
  4. yang jelas dia juga beruntung punya teman seperti kamu, Mar, yang walau ngeledekin sebenernya sayang dan tidak meratapi kepergiannya tapi mengingat kenangan hidupnya.

    BalasHapus
  5. masih sering kebayang mukanya dia mar.....
    aaah...damai dia di sana!! kata si mang uing maah..biar ical dinikahin sm bidadari disana!!! :((

    BalasHapus
  6. obituary yang daleeem banget neh.. konyol tapi menjelaskan gimana deketnya kalian. semoga amal ibadahnya diterima..

    BalasHapus
  7. *gak bisa ngomong.....turut berduka*

    BalasHapus
  8. the good one always die young....
    turut berduka cita

    BalasHapus
  9. ih meni sedih... *aku meni berkaca-kaca.. dasar cengeng*

    BalasHapus
  10. only the good die young...
    ikut berduka ya suze...

    BalasHapus
  11. pelajaran moral : jangan keras-keras ngeledek orang, ntar kita paling keras nangis kalo orang itu mendahului kita ... :((

    BalasHapus
  12. jangan sedih umayy, doakan saja.....*aku juga jadi sedih..

    BalasHapus
  13. Umar.. terakhir gue ketemu dia, H+4 lebaran kemarin, pas makan di Ampera, gue ngobrol..salah satunya, dia bilang, dia seneng karena loe dah bahagia, bisa berpenghasilan OK cuma kerja dari rumah...

    Umar.. gue kok kangen sama ical yah.. pengen rasanya nyanyi2 bareng ama dia lagi..

    BalasHapus
  14. innalillahi....

    semoga amal ibadahnya diterima
    dan semua kesalahannya diampuni..
    amiin...


    (tapi tampangnya kok agak familiar sih rasanya? apa cuma mirip sapa gitu ya? )

    BalasHapus
  15. hikss...*sad*
    ikut berduka cita....
    mudah mudahan dia diterima dan damai di sisi-Nya

    BalasHapus
  16. makasih,Mar. dah berbagi cerita ttg Ical. Mungkin kl bukan dlm rangka in memoriam aku udah tertawa terpingkal-pingkal, membayangkan bagaimana serunya pertemanan kalian.
    Yah apapun yang telah terjadi tak kan kembali, yang sudah milik-Nya, bukan milik kita lagi.itu salahsatu syairnya bang iwan untuk mengenang anaknya,galang.
    Semoga kita ikhlas melepas kepergiannya. dan dia mendapatkan kenikmatan kubur serta kebaikan berlimpah di akhirat kelak.

    BalasHapus
  17. Semoga Ical beristirahat dengan tenang, diampuni segala dosanya, diterima semua amal kebaikannya

    BalasHapus
  18. menurut kabar terakhir sih benjolan di kepala yang mungkin tumor otak

    BalasHapus
  19. yah, pas hari itu sih nangis bombay cin, tapi kupikir dia juga akan lebih senang kalo dikenang dengan gembira heheheee

    BalasHapus
  20. emmm ... asal mang uing jangan pengen segera menyusul dengan sengaja aja hihiii

    BalasHapus
  21. tapi dia senang diledek, mbu ... hihiiiii *membela diri*

    BalasHapus
  22. berarti sehari dari rumahku ya bas. aku masih terbayang gigi ompongnya ...

    BalasHapus
  23. hayooo ... sama siapa, iburanger? mungkin ada temen orang makassar juga? jangan-jangan sodaraan

    BalasHapus
  24. ikhlas atuh mang, supaya doski tenang di sana :D

    BalasHapus
  25. Goblos may...kenapa dari awal ga diindikasiin bahwa ini bakal jadi cerita sedih. Urang jadi melow weh jadina. Turut berduka cita may..semoga saudara muhrim mu tenang disana. (Jadi inget basa ditinggalkeun kubaturan deukeut urang oge may).

    BalasHapus
  26. ums.. perasaannnnnnnnnnn gue ma ical ma dino lebaran ke tempat lo hari kedua deh. kok jadi kari ketiga?? hhuhuhu.... hmm terakhir kali dibonceng ical.

    trus ada yg kacau. pas pulang dari rumah lo kita nyasar trus nerobos jalan satu arah dari arah berbeda. waktu itu alasannya.. dah malam gue salah liat. Nyampe rumah gue masih sempet maksa ngambil 2 buku kosmonya. satu ttg black hole kalo ga salah. Katanya dia mo nulis lagi ttg black hole ....

    hmm dgn cerita gini rupanya bisa membuat gue tersenyum juga ya.... kangen euy denger celotehannya di YM, kalo liat gue ol malam2. Katanya '"Ngapain lo malem2 masih ol???" *duh galak...*

    tapi pas terakhir kita makan berdua eh kencan dink... pas pulang dia maish sempet2nya bilang awas lo ya kalo nulis macem2 di milis. Setelah gue ancem.. "cal besok2 gue sebarin di milis yah soal kencan kita..."

    BalasHapus
  27. Cerita lucu but endingnya so sad...

    turut berduka yaa

    BalasHapus
  28. sms satu lagi itu dari aku, mar...

    BalasHapus
  29. Entah karena terkesan atau feeling guilty ya, Mar, bisa nulis sepanjang ini :). Walo bagaimanapun, gw yakin Umar tulus lah, saat dulu melecehkan dan saat sekarang mengapresiasinya. Salut buat Ical dan Umar....

    BalasHapus
  30. abis baca-baca postingan yang memuat kenangan2 akan ical, makin kerasa nyeseknya.... jd inget johan pula... sama2 nggak disangka-sangka....

    BalasHapus
  31. subhanallah.. ujung2nya gitu yah... *beneran nda nyangka klo ini sbenerna obituary*
    turut berduka cita yah umay...
    semoga ical mdapatkan tempat yang mulia di sisi-Nya... Amiin..

    BalasHapus
  32. wuahhhh...jadi inget johan...

    walaupun aq ga terlalu kenal sama Ical karena dia lulus oktober 03, pas 03 baru masuk,kesan pertama ngeliat dia kupikir dia orangnya cuek dan jutek bgt ternyata jiwa sosialnya tinggi bgt,baca cerita ini jadi tau lebih banyak tentang dirinya..
    hikhik

    BalasHapus
  33. ya abis kenanganku bersamanya mah tidak melow cin, penuh canda tawa hehehe

    BalasHapus
  34. iya ya vi? duh, aku semakin lupa hari ...

    BalasHapus
  35. oh iya tya, padahal sms itu kucuekin beberapa saat karena hpnya lagi dicharge, trus akunya ada di atas

    BalasHapus
  36. aku juga masuk taun segitu ji, kenapa aku kenal sama ical ya? :p

    BalasHapus
  37. innalillahi wa inna ilaihi rajiun....
    sering banget ngeliat dia, dia-mah kan tenar
    tapi gak tau kalo namanya ical ....

    BalasHapus
  38. emang, dia mah tenar, anak gaul kampus hihihiii

    BalasHapus
  39. gaul banget....ditambah gayanya yang suka mengibas2kan rambut sunsilknya itu....

    BalasHapus
  40. Ah ... tak tahu harus berkata apa. Aku tak dekat dengan Ical, tapi aku sangat suka kepribadian uniknya.

    Dan, mungkin Ical akan tertawa lepas kalau membaca ceritamu ini ums.

    BalasHapus
  41. [...] Selamat Jalan Saudara
    cm doa yg ku panjatkan...
    semoga dimudahkan jalannya...
    dilapangkan dan di terangkan tempatnya....

    Kau pergi mewariskan semangat Saudaraku....

    http://www.facebook.com/note.php?note_id=37060275946&id=1183832844&index=1
    http://alamlau.blog.friendster.com/2008/11/sahabat-in-memoriam-rest-in-peace-bro/#comments [...]

    BalasHapus
  42. cieeehhh ... pengagum rahasia satu lagi selain si cumi-cumi cuppy :p

    BalasHapus
  43. BTW, masih punya kontaknya Mas Hasan? saya kehilangan kontak nih thx..

    BalasHapus
  44. Umar..dada terasa sesak klo lagi main gitar sendirian...Gak ada yang ngegitarin sambil grogi lagi (waktu manggung ama elpamas, yang nyanyi kemana yang maen musik kemana). Ichal, jadi kangen..

    BalasHapus