Sabtu, 05 Juli 2008

RARA MENDUT: SEBUAH TRILOGI

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Y. B. Mangunwijaya
Betapa kuasa seorang raja manusia bisa membuat kehidupan banyak orang menjadi porak poranda. Tidak hanya raja yang sebenarnya, tetapi juga raja-raja kecil di sekelilingnya. Alangkah mudahnya merenggut kebebasan seseorang yang awalnya merdeka, bahkan mencabut nyawa seseorang hanya demi kehormatan, kedudukan, atau sekadar ego dan nafsu manusia.

Rara Mendut adalah salah satunya. Gadis pantai jelita yang menganggap lautan luas adalah taman bermainnya direnggut begitu saja oleh kekuasaan seorang Adipati Pragola. Dan dia harus bernasib sebagai harta rampasan, ketika Tumenggung Wiraguna, panglima tua Kerajaan Mataram, menaklukkan sang Adipati yang dianggap memberontak dan membawanya ke ibukota kerajaan Mataram. Mulailah kehidupan Mendut sebagai hiasan Puri Wirogunan.

Mendut berusaha mencari akal untuk mengulur-ulur waktu agar tidak diperistri oleh sang Tumenggung. Ketika menjual lintingan tembakau untuk membayar “upeti” yang diminta Tumenggung sebagai syarat, dia bertemu dengan cinta sejatinya, Pranacitra, seorang pemuda dari Pekalongan. Tetapi, nasib sepasang kekasih itu berakhir tragis. Keris Tumenggung Wiraguna sendiri yang mengakhiri nyawa keduanya.

Kesedihan mendalam karena kehilangan Mendut dirasakan oleh Genduk Duku, dayang sekaligus sahabatnya. Terlahir dari ayah yang berasal dari Bima, terkenal sebagai penakluk kuda, dan ibu dari kalangan puri, Genduk Duku tumbuh menjadi seorang gadis perkasa yang pandai pula menaklukkan kuda. Dia lebih beruntung daripada Mendut, karena menikah dengan pria pilihannya sendiri.

Tetapi, seperti umumnya perempuan Mataram saat itu, hidupnya pun pahit. Suaminya tercinta juga tewas di tangan sang Tumenggung Wiraguna. Sama seperti Mendut dan Pranacitra, nyawa-nyawa terenggut hanya karena nafsu dan rasa malu sang Tumenggung. Genduk Duku terpaksa membesarkan putrinya, Lusi Lindri, sendirian.

Ketika Lusi Lindri beranjak dewasa, dia dititipkan di puri Tumenggung Singaranu. Karena kegagahan dan keluwesannya, ibunda raja Mataram tertarik untuk mengambilnya sebagai anggota Trinisat Kenya, pasukan elite perempuan yang bertugas sebagai pengawal pribadi sang raja, Sunan Amangkurat I. Tetapi, ternyata dia bertemu dengan seorang lelaki perwira pemberontak yang akhirnya menjadi suaminya. Mereka mengungsi ke pegunungan untuk bersembunyi dari kejaran prajurit Mataram.

Tiga perempuan itu yang menjadi tokoh utama trilogi Rara Mendut karya Y.B. Mangunwijaya, yang berdasarkan kisah dalam Babad Tanah Jawi dan sumber-sumber lain. Dan ada juga tokoh-tokoh perempuan lain dalam kisah ini, seperti dua perempuan perkasa, Nyai Singabarong—perempuan saudagar ibu kekasih Mendut, Pranacitra—dan Bendara Eyang Pahitmadu, kakak perempuan Tumenggung Wiraguna yang bersimpati kepada Mendut dan sempat melindungi Duku beserta suaminya.

Rama Mangun yang lahir di Ambarawa, 6 Mei 1929, menuliskan kisah ini dengan mengalir. Meskipun tebal, karena tiga buku dijadikan satu, Rama Mangun bisa membuat para pembaca untuk terus melanjutkan membaca, karena penasaran akan nasib para perempuan perkasa tersebut. Sayang sekali, masih ada beberapa kesalahan ketik—yang meskipun tidak fatal, tetapi cukup mengganggu—terutama di buku Lusi Lindri. Selain itu, banyak sekali catatan kaki yang sebetulnya tidak terlalu penting, karena istilah-istilah tersebut—meskipun dalam bahasa Jawa—sudah lazim dikenal dalam bahasa Indonesia. Tetapi, secara keseluruhan, buku ini layak untuk menjadi koleksi.


43 komentar:

  1. wuuuhuuu... hebat, mamah marie :) masih sempat aja hehehe

    BalasHapus
  2. kan minggu ini sedang ndak waras, mahmin
    hahahaaaaa

    BalasHapus
  3. cihuiiii...sudah tayang euy..

    BalasHapus
  4. waaaa... reviewnya ndak waras, jadi seriuuuss :D

    BalasHapus
  5. Lho cerita Ni Semangkanya nda ada ?

    BalasHapus
  6. Pangeran Selarong favoritku juga manaa? hihihi tar kalo aku sempat merepiu, isinya bakal tentang Nyi Duku dan Selarong banyakan hihihi

    BalasHapus
  7. jadi sebenarnya harusnya waras ato gak waras mamah?

    BalasHapus
  8. aaah...ni semangka kan hanya di bagian mendut....

    BalasHapus
  9. sip!
    jangan lupa dikirim ke email lomba itu, Marie dan menangkan hadihanya!

    BalasHapus
  10. wah, perlombaan udah dimulaiiii... *mbenerin 'bantal' rara mendut*

    BalasHapus
  11. iya ruar biasa..masih sempet
    ckckckc

    BalasHapus
  12. aduhhh gimana nih....aku masih blom sempet ngetik review....*masih ada waktu sampe tengah malem*

    BalasHapus
  13. waaaaaaaaaaa, aku belum khatam, gara2 pergapergi mluluw:(

    BalasHapus
  14. ida, jangan dimakan sekalian... dicicil aja. habis baca empat bab, dituliskan tiga paragraf.... demikianlah seterusnya. apik ora....

    BalasHapus
  15. oh, aku tidak menyebut-nyebut nama ni semangka ... maafkan genduk, ni semangka ...

    BalasHapus
  16. iya. ternyata bikin review nggak waras ini lebih susah daripada review waras. yah, apa boleh buat, nggak warasnya kan hanya minggu ini ... *keluh*

    BalasHapus
  17. aku berusaha masukin pangeran selarong, tapi kok rasanya aneh, jadi nggak kumasukin

    *selarong juga favoritku, hihihiii*

    BalasHapus
  18. ini bukti aku lagi nggak waras, mamah kobo ...

    BalasHapus
  19. sudah, yiayia

    *bikin reviewnya nggak ikhlas, karena berharap voucher hihihiiii*

    BalasHapus
  20. iya mbak ... itu hati-hati bantalnya miring, hihihii

    BalasHapus
  21. hohohoho, aku paling suka membaca saja, mereviewnya butuh diceter-ceter:D

    BalasHapus
  22. iya ibutio, aku juga baru bikin tadi pagi kok :D

    BalasHapus
  23. pergapergi ga ngajak-ngajak.
    huh

    BalasHapus
  24. oh ... jadi begitu ya kiat guspeng. jadi kalo ada 30 bab = 120 paragraf? :p

    BalasHapus
  25. da, aku juga utang ripiuw lisa lutz & snow, hihihii

    BalasHapus
  26. bikin buku aja sekalian, nyi, eh..gus..

    BalasHapus
  27. hah...kok aku gak merhatiin? apa buku kita beda? apa mata kita beda? karena engkau adalah mantan editor? :))

    BalasHapus
  28. kaya'nya yang ini, ibutio
    hihihiiiiiii

    BalasHapus
  29. Huuuaaaa buku ini keren bangeeet - aku baca sekitar tahun 2002an..
    versi buku yg super dekil, dan halamannya susah dibolak balik takut robek...
    Ini baru dicetak ulang yah ?
    Ketiga bukunya mar ? atau baru rara mendutnya ?
    koleksi ahhh

    BalasHapus
  30. dulu sih terpisah gitu lis, sekarang GPU nerbitin ulang, disatuin tiga-tiganya dan hasilnya jadi buku bantal, hahahaaa

    BalasHapus
  31. nyi, tau buku yang ngebahas tentang ngedit gak ? terutama buah ngedit tulisan sendiri ?

    BalasHapus
  32. euhhhh ... apa yaaaaa
    dulu sih cuma ada buku saku kecil buatan mijan sendiri, sama ngebahas lambang-lambang penyuntingan.
    mungkin sitorus yang tau, bu ech, soalnya dia yang belajar formal penyuntingan hihi

    BalasHapus
  33. sepakat keren. buku lamanya pantas dapat bintang 5, kalo versi bundel tiga-tiganya kenapa ya nama-nama semua tokohnya jadi berbeda penulisan dan kurang "njawani".

    BalasHapus
  34. sudahkahkaubaca: bedanya apa, bolehkah saya tahu? btw, avatarnya lucu :p

    BalasHapus
  35. berhasil membaca dua buku... yang rara mendutnya justru ga sempet nemu dan baca... kenapa ga dicetak ulang ya?

    BalasHapus
  36. beda di penamaan: roro mendut jadi rara mendut. pronocitro jadi pranacitra. wiroguno jadi wiraguna. mungkin buat lidah umum tidak terasa bedanya, tetapi ibarat gudeg... yang ini (maksudnya pembundelan jadi 3 dengan pengindonesiaan cara penulisan), gudegnya jadi ala semarangan, sedang yang lama masih gudeg yogya yang manis. ujung-ujungnya rasanya jadi beda. tapi itu just my opinion lho ya.

    BalasHapus
  37. karena penerbitnya mau bikin yang tebel sekalian, hihihiii

    BalasHapus
  38. oooohhhh.... cerita yang iniiiii... heheheh...
    *baru mudeng :p*

    BalasHapus