| Rating: | ★★★★ |
| Category: | Books |
| Genre: | Literature & Fiction |
| Author: | Y. B. Mangunwijaya |
Rara Mendut adalah salah satunya. Gadis pantai jelita yang menganggap lautan luas adalah taman bermainnya direnggut begitu saja oleh kekuasaan seorang Adipati Pragola. Dan dia harus bernasib sebagai harta rampasan, ketika Tumenggung Wiraguna, panglima tua Kerajaan Mataram, menaklukkan sang Adipati yang dianggap memberontak dan membawanya ke ibukota kerajaan Mataram. Mulailah kehidupan Mendut sebagai hiasan Puri Wirogunan.
Mendut berusaha mencari akal untuk mengulur-ulur waktu agar tidak diperistri oleh sang Tumenggung. Ketika menjual lintingan tembakau untuk membayar “upeti” yang diminta Tumenggung sebagai syarat, dia bertemu dengan cinta sejatinya, Pranacitra, seorang pemuda dari Pekalongan. Tetapi, nasib sepasang kekasih itu berakhir tragis. Keris Tumenggung Wiraguna sendiri yang mengakhiri nyawa keduanya.
Kesedihan mendalam karena kehilangan Mendut dirasakan oleh Genduk Duku, dayang sekaligus sahabatnya. Terlahir dari ayah yang berasal dari Bima, terkenal sebagai penakluk kuda, dan ibu dari kalangan puri, Genduk Duku tumbuh menjadi seorang gadis perkasa yang pandai pula menaklukkan kuda. Dia lebih beruntung daripada Mendut, karena menikah dengan pria pilihannya sendiri.
Tetapi, seperti umumnya perempuan Mataram saat itu, hidupnya pun pahit. Suaminya tercinta juga tewas di tangan sang Tumenggung Wiraguna. Sama seperti Mendut dan Pranacitra, nyawa-nyawa terenggut hanya karena nafsu dan rasa malu sang Tumenggung. Genduk Duku terpaksa membesarkan putrinya, Lusi Lindri, sendirian.
Ketika Lusi Lindri beranjak dewasa, dia dititipkan di puri Tumenggung Singaranu. Karena kegagahan dan keluwesannya, ibunda raja Mataram tertarik untuk mengambilnya sebagai anggota Trinisat Kenya, pasukan elite perempuan yang bertugas sebagai pengawal pribadi sang raja, Sunan Amangkurat I. Tetapi, ternyata dia bertemu dengan seorang lelaki perwira pemberontak yang akhirnya menjadi suaminya. Mereka mengungsi ke pegunungan untuk bersembunyi dari kejaran prajurit Mataram.
Tiga perempuan itu yang menjadi tokoh utama trilogi Rara Mendut karya Y.B. Mangunwijaya, yang berdasarkan kisah dalam Babad Tanah Jawi dan sumber-sumber lain. Dan ada juga tokoh-tokoh perempuan lain dalam kisah ini, seperti dua perempuan perkasa, Nyai Singabarong—perempuan saudagar ibu kekasih Mendut, Pranacitra—dan Bendara Eyang Pahitmadu, kakak perempuan Tumenggung Wiraguna yang bersimpati kepada Mendut dan sempat melindungi Duku beserta suaminya.
Rama Mangun yang lahir di Ambarawa, 6 Mei 1929, menuliskan kisah ini dengan mengalir. Meskipun tebal, karena tiga buku dijadikan satu, Rama Mangun bisa membuat para pembaca untuk terus melanjutkan membaca, karena penasaran akan nasib para perempuan perkasa tersebut. Sayang sekali, masih ada beberapa kesalahan ketik—yang meskipun tidak fatal, tetapi cukup mengganggu—terutama di buku Lusi Lindri. Selain itu, banyak sekali catatan kaki yang sebetulnya tidak terlalu penting, karena istilah-istilah tersebut—meskipun dalam bahasa Jawa—sudah lazim dikenal dalam bahasa Indonesia. Tetapi, secara keseluruhan, buku ini layak untuk menjadi koleksi.
wuuuhuuu... hebat, mamah marie :) masih sempat aja hehehe
BalasHapuskan minggu ini sedang ndak waras, mahmin
BalasHapushahahaaaaa
cihuiiii...sudah tayang euy..
BalasHapuswhuaaaaaaaah...ditayangkan
BalasHapuswaaaa... reviewnya ndak waras, jadi seriuuuss :D
BalasHapusLho cerita Ni Semangkanya nda ada ?
BalasHapusPangeran Selarong favoritku juga manaa? hihihi tar kalo aku sempat merepiu, isinya bakal tentang Nyi Duku dan Selarong banyakan hihihi
BalasHapusjadi sebenarnya harusnya waras ato gak waras mamah?
BalasHapusaaah...ni semangka kan hanya di bagian mendut....
BalasHapussip!
BalasHapusjangan lupa dikirim ke email lomba itu, Marie dan menangkan hadihanya!
wah, perlombaan udah dimulaiiii... *mbenerin 'bantal' rara mendut*
BalasHapusiya ruar biasa..masih sempet
BalasHapusckckckc
aduhhh gimana nih....aku masih blom sempet ngetik review....*masih ada waktu sampe tengah malem*
BalasHapuswaaaaaaaaaaa, aku belum khatam, gara2 pergapergi mluluw:(
BalasHapusida, jangan dimakan sekalian... dicicil aja. habis baca empat bab, dituliskan tiga paragraf.... demikianlah seterusnya. apik ora....
BalasHapuspanas sama ibu echy :D
BalasHapusoh, aku tidak menyebut-nyebut nama ni semangka ... maafkan genduk, ni semangka ...
BalasHapusiya. ternyata bikin review nggak waras ini lebih susah daripada review waras. yah, apa boleh buat, nggak warasnya kan hanya minggu ini ... *keluh*
BalasHapusiya, aku lupaaaaa
BalasHapusaku berusaha masukin pangeran selarong, tapi kok rasanya aneh, jadi nggak kumasukin
BalasHapus*selarong juga favoritku, hihihiii*
ini bukti aku lagi nggak waras, mamah kobo ...
BalasHapussudah, yiayia
BalasHapus*bikin reviewnya nggak ikhlas, karena berharap voucher hihihiiii*
iya mbak ... itu hati-hati bantalnya miring, hihihii
BalasHapusjustruuuuuu
BalasHapushahaha
hohohoho, aku paling suka membaca saja, mereviewnya butuh diceter-ceter:D
BalasHapusiya ibutio, aku juga baru bikin tadi pagi kok :D
BalasHapuspergapergi ga ngajak-ngajak.
BalasHapushuh
oh ... jadi begitu ya kiat guspeng. jadi kalo ada 30 bab = 120 paragraf? :p
BalasHapusda, aku juga utang ripiuw lisa lutz & snow, hihihii
BalasHapusbikin buku aja sekalian, nyi, eh..gus..
BalasHapushah...kok aku gak merhatiin? apa buku kita beda? apa mata kita beda? karena engkau adalah mantan editor? :))
BalasHapuskaya'nya yang ini, ibutio
BalasHapushihihiiiiiii
Huuuaaaa buku ini keren bangeeet - aku baca sekitar tahun 2002an..
BalasHapusversi buku yg super dekil, dan halamannya susah dibolak balik takut robek...
Ini baru dicetak ulang yah ?
Ketiga bukunya mar ? atau baru rara mendutnya ?
koleksi ahhh
dulu sih terpisah gitu lis, sekarang GPU nerbitin ulang, disatuin tiga-tiganya dan hasilnya jadi buku bantal, hahahaaa
BalasHapusnyi, tau buku yang ngebahas tentang ngedit gak ? terutama buah ngedit tulisan sendiri ?
BalasHapuseuhhhh ... apa yaaaaa
BalasHapusdulu sih cuma ada buku saku kecil buatan mijan sendiri, sama ngebahas lambang-lambang penyuntingan.
mungkin sitorus yang tau, bu ech, soalnya dia yang belajar formal penyuntingan hihi
baiklah, tq
BalasHapussepakat keren. buku lamanya pantas dapat bintang 5, kalo versi bundel tiga-tiganya kenapa ya nama-nama semua tokohnya jadi berbeda penulisan dan kurang "njawani".
BalasHapussudahkahkaubaca: bedanya apa, bolehkah saya tahu? btw, avatarnya lucu :p
BalasHapusberhasil membaca dua buku... yang rara mendutnya justru ga sempet nemu dan baca... kenapa ga dicetak ulang ya?
BalasHapusbeda di penamaan: roro mendut jadi rara mendut. pronocitro jadi pranacitra. wiroguno jadi wiraguna. mungkin buat lidah umum tidak terasa bedanya, tetapi ibarat gudeg... yang ini (maksudnya pembundelan jadi 3 dengan pengindonesiaan cara penulisan), gudegnya jadi ala semarangan, sedang yang lama masih gudeg yogya yang manis. ujung-ujungnya rasanya jadi beda. tapi itu just my opinion lho ya.
BalasHapuskarena penerbitnya mau bikin yang tebel sekalian, hihihiii
BalasHapusoooohhhh.... cerita yang iniiiii... heheheh...
BalasHapus*baru mudeng :p*