Jumat, 15 Juni 2007

Keluarga Lubis Zaman Dulu




Kemarin, setelah pemakaman Totok Sutan (abangnya si Papap yang no. 8), banyak keluarga yang datang ke rumah, karena dimakamkannya di TPU Cibarunay, deket rumah.

Lalu, si Abang Hakim ngeliat foto ini dan pengen juga. Yasud, saya scan untuk dikirim via email (Bang Hakim, ntar Adek kirim foto yang resolusinya tinggi via email aja). Tapi, iseng posting di sini, karena fotonya ini lumayan ajaib hehehe ....

Foto pertama itu keluarga Lubis lengkap.
Belakang dari kiri: Totok Karel, yang no. 5 (Pontianak); almarhum Paktuo Kota (namanya Mahkota Lubis), anak Ompung yang paling kasep, no. 1 (Surabaya); Totok Agus, no. 4 (Lampung); Papaya, no. 2 (Bandung); almarhum Totok Rawa, bapaknya Abang Hakim, no. 3 (Jakarta); almarhum Ompung Moeis, adiknya Ompung Armia (Bogor); Bou Justi, no. 6, anak Ompung yang paling cantik da cuma satu cewek hehe (Bandung).
Tengah dari kiri: Totok Ikok, no. 7 (Bandung); almarhumah Ompung Armia; almarhum Ompung Hitam (karena di foto rambutnya hitam, hehe ... nama aslinya sih Marah Supi Lubis); almarhum Totok Sutan, no. 8 (Bandung)
Depan: si Papap, no. 10, celeno dengan celana monyetnya, hahahahahaha ...; Totok Bung, no. 9 (Jakarta)

Foto yang kedua, diambil di Bukittinggi. Anak terakhir Ompung baru Totok Ikok (yang digendong Ompung Armia), yang tiga lagi belum ada, jadi fotonya ditempel aja di pinggir hehehe ...

Selasa, 12 Juni 2007

Teman di Kala Menunggu Warung




Foodcourt Sulanjana sekarang diceriakan oleh seorang anak kecil, anaknya ibu pemilik Gelora Seafood, namanya Ajis (sungguh nulisnya gitu, bukan Azis).

Ajis ini aneh ... sering sok akrab sama pengunjung, terus pas pengunjungnya mau pulang, suka nangis hahahahahahaha ....

Tapi lumayan lah, ada teman saat nggak ada kerjaan. Sambil cerewet ngomong entah apa, nggak ngerti (palingan dia ngomong, "bibing! bibing! apa ieu? buaya!"
(bibing = mobil)

Senin, 11 Juni 2007

Waktu kecil ...




Gambar 1: Si kecil berbaju merah ini keren ya ... hahaha

Gambar 2: Itu lagi diceritain oleh Almarhum Mang Undang (yang keliatan bodinya doank). Bonekanya itu buku lho sebenernya, jadi celemeknya bisa dibuka jadi beberapa halaman dan ceritanya tentang si Tudung Merah dalam bahasa Prancis, yang kebetulan namanya MARIA.

Gambar 3: Ini belum bisa duduk sendiri sih sebenernya, jadi sama si Emak ditaro di kursi, langsung dijepret, dan langsung ... miring dengan sukses setelah difoto (edun ya, jadul banget studionya ... di Sukajadi)

Sabtu, 09 Juni 2007

Kata Bapak Sinshe, Saya ini Telmi ....

Tadi pagi, si Emak sudah heboh mandi, mau mengantar Tante Ati ke tempat pijat alternatif di Jl. Diponegoro. Lalu, kata si Emak, kenapa Adek nggak numpang aja naik taksi? Toh Jl. Diponegoro bisa lewat Sulanjana.

Tapi, di tengah jalan, Tante Ati mengajak-ajak, “Cobain aja Dek, siapa tau enak. Nggak sakit kok dipijatnya, nggak kaya’ refleksi.” Ya sudah, oke duech …. 

Setelah agak lama menunggu, bapak “sinshe”-nya datang juga. Masih muda, paling baru 40 taunan lah. Meskipun ada empat orang sebelum kami yang mengantre, karena dipijatnya nggak lama, jadi beberapa saat kemudian, tibalah giliran si Emak, lalu saya. Tante Ati masih menunggu di kursi (karena tempat tidurnya cuma dua).

Waktu si Bapak melihat si Emak, doski langsung bilang, “Ibu ngajar ya?” Lho, kok tau Pak? “Saya bukan paranormal. Kalo bahasa kerennya sih ‘indigo’ hehe …” Oh, begitu toh. Walah, si Bapak bisa baca pikiran nggak ya? Lalu, saat memijat si Emak, doski berkomentar begini, “Kalo saya punya duit banyak, saya mau jadi produser dan bikin film silat dengan bintang film si ibu,” Itu karena badannya si Emak keras-keras, padat (sampai kita capek kalo disuruh mijitin). 

Setelah si Emak selesai, tibalah giliran saya. Si Bapak ternyata langsung tahu masalah saya apa (suka sakit kalo lagi bocor). Terus, pas dipijat-pijat lagi, katanya suka kembung juga (mungkin ya, soalnya sering kentut hikhikhik). Yang paling mengagetkan adalah ketika saya disuruh telungkup dan si Bapak memijat punggung saya. Doski bilang begini sama si Emak, “Bu, anak Ibu ini susah makan ya?” Hah? “Ah nggak kok Pak, dia mah pemakan segala,” tukas si Emak. “Iya, tapi cuma makan yang dia suka aja.” Si Emak nggak menjawab lagi, cuma senyum-senyum. Lalu, si Bapak berkata lagi, “Bu, anak Ibu ini kok kaya’nya agak telat ya?”

HAH? 

“Telat gimana, Pak?” si Emak nanya. “Ya gitu, kalo ditanya suka bengong, susah jawabnya, lama, suka ‘euuuhhhh … euhhhhhh …’. Suka telat mikir.” HAH? Telat mikir? (Hmmm … apakah ini alasan mengapa selalu terjadi peristiwa “dumb and dumber”? Hahahaha) Si Bapak meneruskan memijat saya. “Kaya’nya saluran darah ke otaknya tersumbat nih. Tapi bisa diberesin kok.”

Tadinya agak bete juga dikomentari telmi, tapi mungkin ada benarnya juga kok hikhikhikhik …. Yah, siapa tahu pijatan si Bapak bisa membuat kecerdasan saya bertambah, mendapatkan beasiswa, kuliah lagi, dan seterusnya, hahahaha! (Tapi … kalau saya nggak telat ngejawab atau berkomentar, kasian Sitorus duonk. Saya telmi aja dia sudah dinistakan melulu, apalagi kalo nanti kecerdasan dan keterampilan berbicara saya bertambah! Hahahahahaahahahahaahahaha!)



Kamis, 07 Juni 2007

Kepala Ikan Patin di Warung Padang Singgalang Jaya

Duluuuu, waktu masih kuliah, hampir tiap minggu ke Warung Singgalang Jaya di Tubagus Ismail. Menunya, wajib selalu ... kepala ikan patin. Makannya pake tangan, sambil merem melek, dan mencari mata ikan yang paling nikmaaaaatttttttttt ...

Kalo dulu sih, biasanya formasi ke Warung Singgalang Jaya-nya: saya, si Nata Pehul, Coni, dan si Bona. Dan selalu, saya, si Pehul, dan Coni makan gulai kepala ikan patin ini, dan si Bona, yang alergi ikan (bahkan sama kartun Nemo pun doski takut banget) selalu makan sambil matanya berusaha menerawang ke atas dan ke mana-mana.

Karena kumpulan satu orang keren dan tiga orang aneh ini (ya sudah pasti yang keren itu akyu, hahahaha) sudah agak bubaran, karena si Pehul minggat ke Karawaci dan si Coni minggat ke Unpad, trus si Bona pacaran melulu, jadi baru tadi siang saya mengunjungi lagi Singgalang Jaya ini, bersama ... Suze Antie.

Dan tentu saja, menu yang dipilih adalah ... KEPALA PATIN! Hahaha ...

Masih enak sih, tapi sayang nggak senikmat dulu, karena tampaknya si patinnya ini digoreng lebih dulu dan ukurannya lebih kecil. Tapi biarlah, nggak apa-apa, toh yang penting kepala patin Singgalang Jaya tetap berjaya.

Sayang juga fotonya agak kabur, soalnya buru-buru motretnya, keburu laper hahahahaha ...

Selasa, 10 April 2007

All That You Can't Left Behind

Kadang-kadang, barang-barang lama lebih melekat di hati daripada barang-barang baru. Apa pun alasannya, apakah karena ada sejarahnya, kenyamanannya, atau macam-macam lagi. Mungkin kalau dilihat dari usianya, barang-barang itu sudah patut dibuang. Tapi, apa daya, hati sudah telanjur cinta dan setia (halah … naon sih ieu hahaha).

Nah, kalau Louie di sini mendaftar barang-barang impiannya, saya sekarang akan mencoba kebalikannya—mendaftar barang-barang lama yang begitu melekat di hati. Okay, saya mulai dari benda ini.

P1093000

P1093001

Ini adalah kaus angkatan saya, angkatan dua belas, waktu diklatsar GPA. Kaus ini sudah ada kira-kira sejak bulan Juni 1995, saat saya dan teman-teman akan berangkat ke Cicenang untuk digojlok selama sepuluh hari (Tenaaaang, penggojlokannya nggak kaya’ IPDN. Biasa-biasa kok. Cuma penggojlokan setelah diklatsar yang berat, karena lagu penyambutan GPA tiap penutupan diklatsar selalu begini, “Selamat dataaang, nu gelo anyaaaar …” hahaha). Saya masih ingat, salah seorang teman seangkatan saya, Yudi—sekarang sudah jadi letnan satu (atau letnan ya? Hehe) infanteri—yang membelikan secara kolektif (kalau nggak salah di Cihampelas). Warnanya biru, disablon karet warna kuning yang desainnya tahun ’90-an banget, saat Corel Draw, Adobe Photoshop, dan desain a la distro belum mewabah di kalangan anak muda (tapi ya, sampai sekarang kaus-kaus anak PA teteeeep aja nggak a la distro, hahaha …. Heran duech. Padahal apa salahnya ya? Mungkin harus tanya Omen chayank—anak GPA berpenampilan agak militer, berbadan kekar hasil fitness, berwajah mirip Tata Dado tapi sering ngaku mirip Ari Wibowo—yang jadi desainer di salah satu pabrik kaus oblong.).

Setelah melekat di badan selama hampir sepuluh hari dan tanpa pernah dicuci, waktu pulang diklatsar si Emak langsung menyeduhnya (betulan diseduh, karena si Emak mendidihkan air dan merendam semua baju-baju saya ke dalam air mendidih itu, saking bau lumpurnya—dan bau pesing, hahaha). Saya juga nggak pernah memakainya keluar rumah, karena desainnya “nggak banget”, hahaha …. Paling-paling ada perkecualian, dipakai saat sedang di lapangan (kan nggak ketemu banyak orang, cuma anak-anak doang hehe). Jadi lebih sering saya pakai di rumah, jadi baju tidur. Tapi aneh, meskipun harganya murah dan biasa saja, kaus biru ini sangat nyaman. Sampai sekarang, kaus ini sudah berusia hampir 12 tahun dan masih menjadi baju tidur favorit saya. Mungkin gara-gara “diseduh” si Emak juga kali ya, hahaha …. Dan mungkin karena sejarahnya juga, karena dengan kaus biru ini saya sempat jadi “nu gelo anyar”, hahaha! Gara-gara baju biru ini juga, Achiel, teman seangkatan saya, menyebut angkatan dua belas adalah laskar biru—yang diprotes habis-habisan oleh angkatan-angkatan di atas kami, yang bilang kami ini adalah angkatan leho-hangseur (ingus-pesing!) rimba, hahaha!

P1092997

Benda kedua adalah sweter yang mungkin usianya sudah hampir dua puluh tahun. Sweternya biasa saja, tipis, berwarna abu-abu, bertuliskan “University of Amsterdam” warna biru dan sablonannya sudah luntur. Kaus ini oleh-oleh Totok Bung dari Belanda, dan saya juga sudah nggak ingat, sebetulnya untuk siapa oleh-oleh ini (entah untuk si Abang, entah untuk si Papap. Yang pasti si Abang mah nggak akan muat lagi pake sweter ini, hahaha!) Di bagian punggung bawah belakang, sebelah kiri, ada koyakan sedikit—gara-gara kena paku. Ternyata, si Ujang Dandi Birdy pun memiliki sweter bertuliskan sama, “University of Amsterdam” (Cuma kaya’nya punya dia lebih baru, dan sablonannya dua warna, biru-merah). Jadi, seperti layaknya anak-anak SMA yang suka kembar-kembaran, saya sering janjian memakai sweter ini dengan si Ujang Dandi itu. Sampai sekarang, sweter itu masih ada dan masih nyaman sekali. Hanya saja karena tipis, saya jarang memakainya keluar rumah. Paling-paling jadi baju tidur lagi, hehehe …. (Dan, sweter maneh aya keneh nteu? Mun aya keneh, iraha-iraha urang kembaran deui, hahaha!)

P1092993

Benda ketiga adalah sepatu bot suede berwarna cokelat yang tingginya semata kaki. Saya ingat, membelinya awal kelas 3 SMA, tahun 1995. Jadi, usianya hampir sama dengan kaus biru saya, hampir dua belas tahun. Dulu harganya lima puluh ribu perak. Dibandingkan dengan Converse All Stars semata kaki yang sudah berharga sekitar tujuh puluh ribu, sepatu ini masih lebih murah. Merknya Dr. Mocc, yang sering membuat saya geli sendiri—apakah ini ikut-ikutan Doctor Martens? Hahaha …. Tapi biarpun begitu, sepatu ini asyik banget. Solnya tebal dan antibocor. Sebetulnya tali sepatunya sudah koyak sejak dulu, tapi saya ganti dengan yang lebih kuat. Banyak teman saya yang bilang sepatu ini keren (tapi kebanyakan cowok-cowok, hehehe), tapi sayang, sepertinya saat ini merk Dr. Mocc sudah entah ke mana. Solnya pernah copot sekitar setahun yang lalu, saat saya turun angkot di Desa menuju kantor Cinambo, hahaha …. Tapi segera saya jahit lagi, dan ternyata sepatu ini masih antibocor. Hebat!

P1092991

Benda keempat adalah sepatu trekking merk Adidas berwarna biru-kelabu yang saya beli sekitar tahun 2000. Saya lupa nama serinya apa, pokoknya nama-nama eksotis mirip nama Indian atau Afrika gitu deh. Sepatu ini untuk trekking biasa sih, bukan untuk naik gunung yang serius seperti ekspedisi. Tapi terbukti, sepatu ini sangat nyaman untuk dipakai ke mana-mana—mau naik gunung, mau sekadar leuleuweungan, atau bahkan sekadar jalan-jalan di atas aspal (dan di lantai mal, hahaha). Kelemahannya sama dengan suede cokelat Dr. Mocc saya, solnya pernah lepas. Tapi segera saya jahitkan di tukang sol yang agak bagusan, yang suka ada di mal—hasilnya memang jadi agak aneh sih, karena jahitannya tampak di samping sol. Tapi ternyata kekuatannya jadi lebih dahsyat. Entah kenapa, sepatu ini begitu nyaman di kaki saya. Mungkin karena ukurannya yang aneh—nomor 38 2/3. Beneran lho! Saya menemukannya di sebuah toko sepatu sport di Jalan Trunojoyo Bandung, di bagian anak-anak. Sepatu ini adalah nomor paling besar untuk anak-anak (ukuran bule kali ye). Dan harganya lebih murah dibandingkan sepatu trekking untuk dewasa.

P1092988

Benda kelima adalah sepatu lari Reebok model klasik, berwarna biru muda. Sebetulnya ini adalah sepatu Reebok klasik ketiga yang pernah saya miliki. Sepatu pertama saya berwarna biru tua, kalau nggak salah saya berikan kepada orang lain karena agak sempit, kira-kira tahun ’98. Yang kedua berwarna cokelat—kembar tiga dengan si Abang dan si Bona! Hahaha …. Saya membelinya sekitar tahun 2002 atau 2003. Cuma, sebetulnya saya nggak terlalu suka warna cokelatnya, karena membuat penampilan saya yang sudah dekil menjadi lebih dekil lagi, hehe. Jadi, waktu saya menemukan sepatu berseri sama dengan warna biru muda, saya langsung menjual si cokelat ke si Antjheu. Harganya lumayan jatuh sih, tapi nggak apa-apa, saya telanjur jatuh cinta sama si biru muda ini. Sepatu ini ringan sekali untuk dipakai lari. Tapi, kalau melihat penampilan sepatu saya yang masih bagus ini, sudah jelas terbukti … bahwa saya jarang lari, hahaha! Meskipun baru berusia sekitar 4 tahun, tapi karena sejak tahun ’98 saya sudah jatuh cinta dengan Reebok seri klasik ini, jadi rasanya sepatu ini sudah saya miliki lama sekali.

Benda keenam adalah pensil mekanik Rottring warna kuning, yang saya miliki sejak sekitar tahun 2000. Dulu saya sering sekali kehilangan alat tulis. Bahkan pernah satu kotak pensil seharga hampir dua ratus ribu hilang sekaligus (soalnya ada beberapa rapido berbagai ukuran di dalamnya, hiks!) Tapi, lama-lama saya jadi jarang kehilangan alat tulis. Dan sudah sekitar tujuh tahun pensil Rottring kuning itu sudah menemani saya. Sekarang, merk Rottring di tubuh pensilnya sudah hilang, mungkin sudah terkikis jari saya sendiri. (Si Antjheu juga sempat kagum karena pensil ini awet sekali. Dia sih sudah berapa kali ganti pensil, dan sempat membeli pensil bersamaan dengan saya membeli si kuning ini)

P1093003

Sebetulnya, kalau bongkar-bongkar kamar sih pasti banyak lagi barang-barang yang usianya sudah lama dan amat saya sayangi. Misalnya sehelai bandana “madusa” (Made in USA, maksudnya, hehe) warna merah tua (Memang beda, kualitas madusa dengan bandana lokal. Bandana madusa bersablon bolak-balik dan jenis kainnya lembut, enak dipakai sebagai penutup muka saat naik motor, nggak bikin sesak. Kalau bandana lokal bikin sesak napas). Atau sehelai kemeja kotak-kotak cokelat yang dibeli di Otista Shopping Heaven (yang sekarang sudah pindah tiga kali, ke Cibadak dulu, baru ke Tegalega, kemudian ke Gedebage). Atau jaket Killy biru-kuning yang saya beli dari si Aru (dia juga hasil berburu ke Cibadak, haha). Atau selimut merah saya yang hangat. Tapi sepertinya cukup enam barang dulu deh, nanti tulisan ini panjang sekali!


Catatan
Judul "All That You Can't Left Behind" saya ambil dari tempelan gambar di meja si Abang, karena komputer saya ada di kamar si Abang hehehe ...

Selasa, 27 Maret 2007

Petasan Sumbu Pendek

Entah kenapa, mungkin karena capek atau memang sifat ini sebetulnya sudah ada di dalam diri, beberapa waktu ini saya jadi petasan sumbu pendek. Disulut bentar, langsung meledak. (Padahal, saya ini perempuan penyabar lhuwokh, hahahahaha)

Yang pertama adalah ketika saya akan menendang (betulan lho!) salah seorang oknum (nggak perlu disebut namanya di sini lah, hahaha). Kebetulan, hubungan pertemanan saya dengan dia memang aneh, seringnya berantem, dan berantemnya mirip anak SD, hahaha .... Soalnya, saya sering sekali meledek dia dan dia selalu berusaha membalas. Tapi apa daya, sepertinya dia tidak pernah berhasil mengalahkan lidah yang sudah dilatih silat sejak kecil ini, jadi dia membalas dengan main fisik. Ini yang membuat saya bete. Soalnya dia menonjok-nonjok saya dengan keras. Padahal kan saya gampang memar. Akhirnya saya tonjok lagi dengan lebih keras. Lalu, pada satu kesempatan serius, dia tiba-tiba menyuntrukkan kepala saya (padahal saya sedang berbicara serius lho. Bukan dengan teman-teman, lagi. Makanya saya makin sebal).

Sialnya, saya dan dia sama-sama terikat jadwal acara selama dua hari penuh. Sewaktu akhir acara, akhirnya kesabaran saya habis juga. Waktu dia menonjok saya, saya tonjok lagi dengan keras. Lalu saya berseru, "Lama-lama aku tendang juga!" Seorang saksi mata yang melihat sampai berkomentar begini, "Maneh enyaan rek najong si eta nya Mar?" (Kamu betulan mau nendang dia ya Mar? Bener, Ud, ku urang rek ditajong basa eta teh, ngan teu wasa, bisi ceurik, hahaha). Garing ya? Anak SD-an banget hahahaha ....

Kasus kedua adalah ketika saya pulang dari Sulanjana. Kebetulan si Aq nggak menjemput, jadi saya pulang naik angkot. Turun di Karang Setra, saya ganti angkot dengan Ciroyom - Sarijadi. Eh ... malam-malam begitu, di Gegerkalong Hilir supirnya ngebut banget, susul-susulan dengan angkot Ciroyom - Sarijadi lainnya! Dengan geram saya berteriak, "KIRI!" Padahal masih jauh. Orang-orang seangkot langsung menoleh ke arah saya. Saya turun dari angkot sambil mengentakkan kaki. Lalu ketika membayar, saya bentak sopirnya, "NYAWA, PAK!" Dia tidak berkomentar apa-apa, langsung menginjak gas lagi. Gara-gara itu, saya terpaksa menunggu angkot berikutnya cukup lama, hiks ....

Kali ketiga petasannya meledak adalah ketika saya sedang menuju ke Sulanjana. Karena bus Antapani - KPAD (haha ... naik bus itu lagi deh) nggak lewat-lewat, saya naik Stasiun Hall - Sarijadi, lalu turun di Pasirkaliki dan ganti angkot Caringin - Sadangserang sampai Balubur. Ada empat penumpang di angkot Caringin - Sadangserang itu: saya (duduk di posisi kenek), seorang mahasiswi yang duduk di kanan saya, lalu dua mahasiswi yang duduk di seberang saya. Di awal Jalan Wastukencana, ada seorang Aa-Aa naik. Lalu seorang Aa lagi naik di mulut Jalan Linggawastu. Setelah itu, di depan Prodia ada dua orang cowok lagi naik. Salah satu cowok ini membuang-buang ludah, katanya mual. Tapi dia membuang ludah di jendela pas di belakang saya. Mahasiswi di sebelah saya sepertinya sudah mencium gelagat, dia langsung turun dari angkot. Malah dia sudah berjalan sebelum angkotnya berhenti. Saya bergeser ke kanan. Eh, si Aa itu meludah-ludah lagi ke jendela di belakang saya. Si Aa yang di depan berkata begini, "Teh, itu bajunya kena ludah, dilap pake tisyu aja." Tapi saya sudah mulai curiga, jadi saya membentak si Aa-Aa yang meludah tadi. "KENAPA NGGAK NGELUDAH KE PINTU! LEBIH DEKET DARIPADA KE JENDELA!" Saat itu, dua mahasiswi di depan saya langsung minta berhenti dan turun. Tadinya saya masih ingin membentak si Aa tadi, tapi tiba-tiba ada sesuatu terlintas di benak ... saya harus pindah dari angkot itu!

Saya langsung ikut turun, tetapi karena amarah masih menggelegak di kepala, saya hanya pindah ke kursi depan yang kosong. Di depan Pasar Kembang Wastukencana, salah seorang dari mereka memberikan sesuatu, "Teh, Teh, ini jatuh," ternyata dompet recehan saya yang sudah dekil, isinya juga hanya sekitar empat ribuan. Dengan sebal saya terima saja tanpa bilang terima kasih. Di depan Unisba mereka semua turun. Bapak sopirnya langsung menghela napas lega. "Neng, kirain teh bukan copet. Kalo tau copet mah nggak akan diangkut," kata si Bapak. HAH, KOMPLOTAN COPET? Saya baru sadar! Saya langsung berkomentar, "Iya Pak, kalau receh mah mereka nggak mau." Buktinya, dompet receh saya utuh, tak berkurang uangnya! Dan baru setelah itu hati saya berdebar. Ternyata saya tadi membentak copet. Untung, entah kenapa, saya bagaikan digerakkan untuk turun. Coba kalau masih duduk di belakang. Mungkin saya sudah kehilangan banyak.

Beberapa hari kemudian, saya baca di Kompas Bandung: Komplotan Copet dengan Modus Pura-Pura Muntah Tertangkap. Saya langsung tertawa puas sambil mengangkang ... hehehe, nggak ding. Jahat juga ya, menertawakan penderitaan orang. Tapi hati ini lega, karena saya sebal mereka berusaha mencopet, meludahi kaus saya lagi. Dan ada kepuasan karena sempat membentak mereka, hahaha ....

Kasus keempat adalah ketika saya akan belanja ke Gelael dari Sulanjana. Hari itu panas sekali. Waktu sedang menunggu jalan sepi sebelum menyeberang, saya menguap. Padahal cukup sopan lho, saya menutup mulut dengan tangan dan tidak bersuara. Eh, tahu-tahu ada dua orang Aa-Aa di belakang mobil Blazer yang terbuka meledek (dalam bahasa Sunda: ngalelewe), "Huaaaahhhhhhhh ...." Rasanya darah langsung naik ke kepala. Saya datangi mereka dan langsung bertanya. "Ada apa?" Mereka pura-pura bego, "Apa? Nggak tahu." Saya desak lagi. "TADI APA-APAAN?" "Nggak kok ... nggak." Lalu saya tinggalkan mereka sambil mengumpat-umpat.

Hahaha ... gila ya. Saya sampai takjub sendiri, dari mana datangnya kenekadan itu (bukan keberanian lho, itu mah kenekadan. Apalagi yang membentak copet hahaha). Tapi, meskipun ingin mencegah ledakan ini sering-sering terjadi, saya punya satu keinginan: belajar umpatan bahasa Batak. Kenapa? Supaya bisa mengumpat sopir-sopir angkot Batak yang seenaknya mempertaruhkan jiwa penumpang!
(Maksudnya bukan hanya sopir-sopir Batak saja lho yang begitu. Tapi karena saya menguasai bahasa Sunda ya saya bisa mengumpat dalam bahasa itu, kalau ada sopir orang Sunda. Atau bahkan umpatan bahasa Jawa.) Umpatan yang lebih dahsyat daripada sekadar "Bodat" lah, hehehe ....