Kamis, 17 April 2008

Meja Kerjaku Dulu (Terinspirasi Ms. G Terchayank)

Ms. G barusan posting meja kerjanya yang rapiiiiiiiiiiiiiii bangettt di SINI

Jadi inget, saya masih punya foto meja kerja waktu kantor Mizan masih di Yodkali, salah satu surga jajanan di daerah Bandung agak ke timur, hihihiii ...


Mari kita perhatikan ada apa saja di atas meja yang sama sekali nggak bisa dipake nulis, apalagi menggambar ini ...
  • Buku-buku reading copy yang sangat menyenangkan. Ya iyalah menyenangkan, karena eh karena, buku anak-anak semua hahaha .... (Dulu saya pernah mimpi indah, masuk sebuah perpustakaan penuuuhhhhh buku anak-anak. Eh, taunya agak-agak menjadi kenyataan, hidup saya bergelimang buku anak-anak, meskipun bukan milik sendiri, hiks ...)
  • Kalender dengan buletan-buletan di tanggal dan post it bertulisan "Evaluasi + Program, JUMAT!" hahahaha ... kantoran banget yak.
  • CD-CD yang isinya file-file picture book Little K. Tapi CD-nya belum begitu bertumpuk, setelah kantor pindah ke Cinambo baru CD-nya bertumpuk.
  • Dummy picture book "Perjalanan Panjang Mengelilingi Dunia" yang diterjemahkan oleh Suze Antie, tapi nggak jadi diterbitkan hihihiiii ... (yah Suze, kita kan sudah mengibarkan bendera kuning sama-sama ya hahaha).
  • Bungkus kamera digital, kamera digitalnya dipake motret duonk ahhh ...
  • Gelas air putih yang biasa dibawain A Yayat (salah satu kecengan Sitorus haha) setiap pagi, kecuali bulan puasa.
  • Mug tahan panas yang masih belum dipake (terbalik), biasanya dipake minum kopi pagi-pagi atau sore-sore (kadang-kadang pagi dan sore).
  • Kotak obat-obatan terlarang, mulai dari antianalgesik hingga obat diare.
  • Sebuah kotak bekas cokelat Cadburry yang isinya ranjau ... (Suze Antie nyaris pernah tertipu, hahaha), di balik spidol-spidol yang bertumpuk.
  • Bandana merah madusa (made in usa gitu lhuwokh hahaha) kesayangan. Kenapa kesayangan? Soalnya kain bandana madusa beda dari bandana lokal. Karena dulu saya wanita Jawa yang naik motor bebek, biasanya pake bandana buat nutupin idung dan mulut. Dan kain bandana madusa nggak bikin sesak napas, beda dengan kain bandana lokal.
Hebat kan, berantakannya? Hahahaha ...
Tapi, kalo meja saya rapi, suasana kerja jadi nggak enak ... Suka jadi males kerja, maunya ngeberantakin meja dulu, hahahaha!


TAMBAHAN FOTO

Nah ... yang ini, suasana meja di kamar beberapa tahun yang lalu ... gila ya, amit-amit dah, saya juga betek ngeliatnya. Keadaan ini cuma sebentar kok, sekitar semingguan, pas dulu lagi sibuk apa ya, lupa. Pokoknya, nggak sempat beres-beres aja. Sekarang sih jauh lebih mending meskipun masih "agak" berantakan, hahahaaaaa ....

Apa aja yang ditumpuk?
  • Wadah CD
  • Kertas-kertas nggak jelas yang akhirnya dibuang semua
  • Foto-foto
  • Buku panduan masuk Planetarium Jakarta, hahaha ... (kalo nggak salah foto ini diambil setelah temu alumni astronomi "kecil" di sono)
  • Tas peralatan mandi, yang selalu siap disambar kalo perlu nginep-nginep atau berenang
  • Syal kuning dekil hasil sehari jalan kaki Bandung-Cicenang, seminggu di hutan Cicenang (dulu masih hutan, belum kebon), dan tiga hari jalan kaki Cicenang-Subang-Bandung, hahaha ...
  • Buku-buku, khususnya buku anak-anak (lihat, ada koleksi Astrid Lindgrenku dan Jennings hehehe)
Tapi tenang, saya sudah kapok punya meja seberantakan ini ... susah nyari barang, hihihihiiiiiiiiiiiii ....

Selasa, 01 April 2008

Ya Sudah, Panggil Saja Tante ....

Beberapa minggu yang lalu, seorang teman seangkatan saya di SMA, Cep Budiharto, bilang kalau ada murid-muridnya di SMP 32 yang pengen kenalan dengan saya. Kata doski, ada yang pengen nanya-nanya tentang astronomi, tentang dunia tulis-menulis (dunia perbukuan kali yee), dan tentang macam-macam lagi. Saya bilang, okeyyy … siapa tatuuuut. Kan Tante bisa menambah koleksi brondong, hihihiiii.

Laluuu, beberapa hari yang lalu (waduh, saya mah udah lupa hari, jadi maafkan kalo nggak inget kapan tepatnya, hihii), Cep Budi ini menelepon. Katanya, ada murid-muridnya yang ingin ngobrol dengan saya. Jadilah saya kenalan dengan dua orang murid SMP. Cewek lho. (Kalo berniat mengijon, silakan minta izin dulu sama Pak Budiharto) Intinya sih cuma kenalan dan mereka bilang kalau pengen ngobrol sama saya tentang astronomi dan tulis-menulis (ya, saya memang ahli tulis-menulis dan semakin ahli ketika tak dinyana bersua dengan para kubugil—tentu saja dalam bidang tulis-menulis racauan dan hal-hal nggak penting sedunia raya. I’m queen of doing nothing, gitu whluwokhhh).

Penelepon pertama … berjalan lancar (meskipun saya lupa namanya siapa karena ngomongnya singkat, perkenalan doang). Lalu, di sela-sela itu ada suara Pak Guru Budi, “Mar, ini ada satu lagi yang mau ngomong.” Dan … jengjreng, muridnya Pak Guru Budi itu menyapa saya, “Halo, TANTE, mau kenalan ya ….”

Hahahahahahahahahahahahahaaaaaa ….

Beneran dah, dipanggil Tante. Saya langsung ngakak, dan bilang “Waduh, kok dipanggil ‘tante’ sih?” Suara dari sana balas bertanya, “Abis bingung, manggilnya apa?” Ya saya jawab, “Panggil ‘neneng’ aja, gitu,” (meskipun bukan Nenenk Anjarwati, hihihiiiii).

Pasti ini gara-gara si Cep Budi. Waktu telepon sudah dioper ke dia, Cep Budi bilang kalau murid-muridnya juga bingung mau manggil apa sama saya, trus dia bilang karena saya orang Batak, ya sudah, panggil “tante” saja.

Awalnya sih masih agak geli gitu dipanggil “tante” beneran sama anak SMP, hahaha …. Masih berusaha menyangkal kebijaksanaan yang semakin matang (bukan usia yang semakin tua, hihihiii). Eh, ternyata muridnya si Pak Cep Budi ini mengirim e-mail ke saya tadi siang. Dan akhirnya kami YM-an. Namanya Nira, kelas 3 SMP.

Ehhhh … ternyata tetep aja, dipanggil “tante” lagi, hahahahahaaaa! Cuma, kali ini ya sudah, saya pasrah saja. Ada dua alasan, pertama: memang saya punya keponakan seumuran mereka ini, SMP, meskipun dia nggak manggil “tante” (manggilnya “bou”—dari namboru, saudara perempuan ayah). Legian keponakan saya yang paling gede juga sudah hampir lulus kuliah kok … meskipun dia juga nggak manggil “tante”, manggilnya “etek”(saudara perempuan ibu). Kedua: secara struktur hierarki-hierarkian sih, bener juga. Mereka murid Cep Budi. Mereka manggil Cep Budi “bapak”. Saya temen Cep Budi. Ya wajar saja kalau mereka manggil saya “tante”. Meskipun masih geli mendengarnya, hihihihiiiiii ….

Jadi, akhirnya saya pasrah saja dipanggil “tante”. Toh meskipun tante-tante, tetap keren kok. Dan tadi, obrolan kami di YM lucu juga, heheheee… mulai dari bagaimana caranya belajar supaya lulus UN *jangan belajar terus, main juga harus banyak, begitu jawaban saya, hihiii*, dulu Tante SMP-nya di mana, dulu Tante mainnya ngapain aja, Tante dulu ikut les nggak, sampai … dulu Tante pernah naksir sama cowok nggak *dan saya jawab: ya iyyyyalahhhhh … kecengan mah segudang, gitu, hihihiiii*, dan apakah naksir cowok itu mengganggu pelajaran? *saya jawab, tergantung. Soalnya dulu saya malah semangat ke sekolah buat ketemu teman-teman dan kecengan, hahaha … makanya nggak pernah mabal, meskipun sekolah hanya untuk bersosialisasi*

Sayang tadi saya harus segera pergi ke warung, karena ada janji dengan T’ Peni. Jadilah obrolan kami terputus sampai di situ. Setelah mengendapkan peristiwa tadi sebentar, baru muncul suatu kesadaran: apakah saya malah bikin dia ngaco dengan jawaban-jawaban saya? Hihihiiiiiiiiii … yah, Pak Cep Budi, mohon maaf sajahhh … saya mah Etty Gadis Jujur sih, hahahahaha!


Catatan

  1. Sebenarnya, saya adalah jenis orang yang berpendapat bahwa panggilan tidak berbanding lurus dengan kesopanan dan penghormatan. Nggak masalah kalau saya tiba-tiba ditelepon oleh Daffa, salah seorang keponakan saya, “Hei Dek, lagi ngapain?” (hihii … lalu ortunya yang panik), atau diceritai si Ambu Vekih kalau Nenk Zahra tiba-tiba bilang ke abahnya, “Bah, hayu kita ke si Umay!” (hahaha … disebut si Umay sama gadis muda berusia dua taun euyyy … hahaha)
  2. Kalau punya anak, sebenarnya saya juga pengen dipanggil nama saja, nggak usah pake “ibu” atau “nyokap” atau dll. Tapi entahlah, gimana nanti aja. Anaknya juga belum dibikin! Hihihiiiii ….
  3. Mungkin ini juga sedikit gara-gara kualat, karena ogah dipanggil Ms. M setelah ada Ms. A, Ms. D, dan Ms. G—malah ingin dipanggil Tante M saja.
  4. “Cep” pada tulisan di atas bukan bagian dari namanya Budiharto, tapi sifatnya sama dengan “Neng” atau “Jang”.
  5. Ya sudahlah. Pokoknya saya pasrah dipanggil “Tante”. Yang penting darahnya masih bergolak seperti anak muda. Hahahahahahaaaaa!
  6. Gambarnya pake foto Mint Sahi alias teh mint hasil karya si Papah Manggis duonk ... TETAP JUWALANNNN!!!

 

 

Minggu, 02 Maret 2008

Yakitate Japan!

Awalnya sih, gara-gara iseng memindah-mindahkan saluran Indovision. Kebetulan, pas di Animax, ada sebuah film kartun tentang pembuat roti. Sebagai penggemar makan (bukan penggemar masak), saya jadi tertarik untuk menontonnya sampai habis satu episode. Padahal saya bukan penggemar anime (tapi suka menonton kartun yang berhubungan dengan masak-masak hihihii). Akhirnya, malah ketagihan.

Tokoh utamanya adalah Kazuma Azuma, seorang anak lelaki “bertangan matahari” yang punya ciri khas selalu memakai bando untuk menahan poninya yang panjang. Menurut filmnya sih, orang-orang yang memiliki “tangan matahari” yang bertemperatur panas ini biasanya jagoan mengadoni roti atau kue (sementara orang-orang yang memiliki “tangan kutub” atau tangannya selalu dingin seperti saya, jagoan mengolah nasi. Tapi, tampaknya tidak benar—dalam kasus saya, hihihiii).

Azuma ini adalah anak desa, yang dibesarkan oleh kakeknya. Sejak kecil dia sudah bereksperimen untuk membuat “Japan”, roti khas Jepang, karena Jepang adalah negara yang nggak memiliki roti tradisional. Akhirnya, dia diterima di sebuah cabang jaringan toko kue yang besar, Pantasia. Di sana, dia bertemu Mr. M (Ken Matsuhiro), laki-laki aneh berambut kribo dan bertampang seram, manajer cabang; Kyosuke si cowok centil; Tsukino, cucu perempuan pemilik Pantasia; dan seorang lagi yang saya lupa namanya, berambut seperti batok.

Namanya juga film kartun masak-masak, pasti ada kompetisi masak. Awalnya, kompetisi yang Azuma ikuti adalah melawan St. Pierre, toko roti saingan yang berseberangan dengan toko mereka. Yang dilawan adalah Mr. Mokoyama, seorang pembuat roti kekar tapi gemulai. Setelah itu, Kazuma mengikuti kompetisi antarpembuat roti pemula di Pantasia sendiri. Hasilnya, namanya juga film kartun, ya dia pemenangnya. Setelah memenangi turnamen, Azuma, Kyosuke, bersama dua mantan lawannya, Shigeru—cowok berambut pink yang ternyata anak bos Yakuza—dan Suwabara, seorang ahli katana, dikirim mengikuti Turnamen Monaco, melawan negara-negara lain. Tentu saja Jepang menang.

Yang terakhir, Kirisaki, pemilik St. Pierre, menantang Azuma untuk mengikuti turnamen yang bernama Yakitate 9. Cerita ini belum selesai diputar di Animax, masih tengah-tengah.

Anime ini menarik bagi saya karena pertama, selalu menampilkan berbagai teknik membuat roti. Mulai dari bagaimana membuat roti yang meledak tiga kali, siasat mengukus bakpao dengan teh dari daun bambu, dan banyak lagi. Yang kedua, anime ini kacau banget, hahaha …. Nyaris di setiap episode ada kemustahilan, tapi saya senang menontonnya.

Contohnya, reaksi Pierrot, badut istana yang menjadi juri Turnamen Monaco. Sewaktu episode Azuma dan teman-temannya terdampar di sebuah gua bawah laut, setelah makan roti ikan buatan Azuma, si Pierrot ini jadi punya insang. Atau reaksi juri Yakitate 9, Mr. Kuronayagi—yang sering diledek dengan sebutan “Pak Tua” oleh Kyosuke—saat memakan roti ganggang laut buatan Azuma. Reaksinya lamaaaa sekali. Ternyata, lama itu karena dia mengurus surat-surat untuk menikah dulu, lalu menikah, kemudian berbulan madu, dan bercerai lagi (sungguh aneh, hahaha). Ada juga kisah Shigeru yang melawan kakak tirinya sendiri, dengan taruhan yang kalah akan menjadi ahli waris Yakuza. Di akhir episode, bapaknya menyadari bahwa kedua anaknya sudah menemukan jalan hidup masing-masing, dan malah mengambil si Mr. M untuk menjadi penerusnya (sungguh ajaib).

Selain alur cerita yang agak-agak ajaib, seringkali ada kejutan di tengah episode. Misalnya, kemunculan seorang tokoh anime yang khas, dan tiba-tiba Kyosuke berbicara ke kamera, “Produsernya sudah minta izin belum ya, menampilkan tokoh itu di sini?”. Atau, saat Mr. M sudah menjadi bos Yakuza, si Kyosuke juga berkata, “Baru beberapa episode, tapi dia sudah jadi bos penjahat!”

Jadi, setiap hari, pasti saya berusaha untuk menonton serial anime ini. Lumayan, selain untuk menambah pengetahuan tentang roti-rotian dan berbagai bahan makanan serta cara mengolahnya, saya juga bisa tertawa karena keanehan serial ini. (Dan ternyata bukan saya saja yang suka, beberapa teman lain juga setia menonton, hihihiii)


(Gambar diambil dari http://www.gamenet.com.hk)

Jumat, 22 Februari 2008

Seminggu yang Aneh ....

Sabtu, 16 Februari

Sejak awal rasanya malassss sekali mau ke warung. Badan rasanya nggak enak. Mampet-mampet. Setelah minum obat flu, malah ketiduran di depan TV dengan selimut tebal, karena dingin banget. Mendekati maghrib, sadar kalau harus segera pergi, karena jadwalnya si Rangga dan Itok gajian.

Sampai di warung, baru ingat kalau belum makan sejak pagi. Pesan zuppa-zuppa "bo'ongan"  (abis rasanya nggak puguh) dulu di counter paling ujung. Eh, pas ditinggal ke wc, si Aq datang dengan wajah kusut. Katanya baru futsal, dan jempol kanannya keseleo lagi (huuuhhhh! dasar aki-aki bedegong! waktu itu jempol kiri yang keseleo, sekarang yang kanan. gara-gara begitu datang langsung jadi kiper).

Setelah menunggui makan zuppa-zuppa, dia mengajak ke tukang pijat dulu di Ciwaruga. Hujan nggak deras, tapi kalau bahasa Sunda sih istilahnya murupuy (apa ya bahasa Indonesianya?). Dingiiiiin sekali. Meskipun sebetulnya, saya sudah merasa dingin sejak dua hari yang lalu. Di tukang pijat juga saya diam saja.

Sampai rumah langsung cuci muka dan terkapar dengan sukses. Malamnya mimpi buruk, masa' masuk ke dalam cerita buku yang sedang diterjemahkan! (Sialan banget) Selain itu, dalam mimpi saya menemukan rumus memakai selimut agar lutut nggak linu, yaitu 7 persen saja (yang sampai sekarang saya nggak ngerti, gimana caranya pake selimut 7 persen?)

Minggu, 17 Februari

Berkali-kali bangun setelah tengah malam dan dini hari. Nggak sadar sampai teriak-teriak (tapi sebagian sadar juga dan inget, teriaknya apa), bikin si Abang yang tidur di depan TV kukulutus dan pindah ke kamar (Setelah itu, dia protes ke si Emak: "Si Adek tuh manja banget sih kalo sakit? Urang mah teu kitu!" Yeeeyyyy ... sirikkkkkk. Saya mah nggak setaun sekali sakit parah, si Abang mah tiap balik ke Bandung pasti manja-manja sama si Emak. Sebal). Dan tanpa sadar juga, saya nelepon si Emak ke HP jam 3 pagi, hahaha .... Padahal si Emak cuma satu lantai di atas.

Pagi sampai siang dilewati dengan tidur, bangun, tidur, bangun, tidur, dst., bagaikan nggak sadar, karena sakit kepala, panas, mual-mual, dan pegal-pegal. Menjelang sore ke dokter dan divonis ispa, dikasih obat yang bikin muntah-muntah, beli makanan. Sore, si Aq datang membawakan coco crunch dan susu ultra, yang sukses hanya dimakan sekali (karena hari-hari berikutnya, kalo nggak enek ya diare).

Malamnya susah tidur karena belum keramas. Mimpi buruk lagi, masalah copyright. Grrr ... mimpi buruknya kok berhubungan dengan pekerjaan gini sih! Sialannnnnnn.

Senin sampai Rabu, 18 - 20 Februari

Rasanya mendingan, hari Selasa juga sudah bisa keramas dan jalan ke kios dekat rumah buat beli pulsa dan nomor asal (cuma buat memudahkan mindahin data ke si motosialan itu). Ternyata, setelah itu langsung terkapar lagi, panas lagi, pusing lagi, pegal lagi, mual-mual lagi ...

Dan yang lebih menyebalkan, saya jadi mehe-mehe. Baca yang sedih dikit, nangis. Nonton film sedih dikit, nangis. Inget tetangga saya yang suka dijemput bapaknya di jalan besar kalo pulang malem, nangis (bapaknya udah meninggal, dan dia masih suka pulang malem karena kerja shift. oh, begitu sayang bapaknya sama dia). Puncaknya sih peristiwa perpisahan dengan si M65 oranye itu.

(Untuk alasan kesehatan jiwa, akhirnya, saya putuskan untuk menunda dulu mewariskannya kepada si Aq. Rencananya mau nunggu si Abang bawa kotaknya yang lengkap dari Jakarta, lalu langsung menjual si motosialan dan membeli hp baru. Setelah itu, baru menyerahkan si oranye kepada si Aq. Hihii ... ini keputusan penting, demi kewarasan!)

Kamis - Jumat, 21- 22 Februari 2008

Mulai Kamis, panas sudah turun, nggak linu, dan nggak sakit kepala lagi. Tapi masih pegal-pegal dan mual-mual sedikit. Tapi muncul masalah baru ... kaligata! Hari Kamis sih baru terasa sedikit gatal-gatal di tangan dan kulitnya merah. Tapi malamnya ... Jrenggggg .... Sama sekali nggak bisa tidur. Minum ctm nggak mempan. Minum claritin, nggak mempan juga.

Mata terasa rapat, tapi nggak bisa tidur.
Mana rambut sudah berminyak lagi, bikin nggak betah berbaring. Sampai jam 3 belum bisa tidur, gatal-gatal pun nggak reda. Huahhh ... tersiksa banget. Soalnya, gatalnya di dalam (bercak-bercak di balik kulit gitu deh). Mau digaruk juga susah.

Setelah tertidur sebentar, jam 4 saya terbangun lagi. Untung bisa tertidur lagi, sampai jam 9 pagi. Gatal-gatalnya semakin parrrahhhhh ... Rasanya pengen garuk-garuk pake silet dah. Akhirnya, si Emak nelepon Teh Ui, sepupu ipar saya. Teh Ui menyarankan ganti obat gatal jadi celestamine.

Alhamdulillah, minum dua kali, gatalnya agak berkurang. Sampai sekarang masih. Tapi, efek samping mehe-mehe yang dirasakan dua hari sebelumnya, sekarang berubah menjadi MARAH-MARAH. Ada sedikit saja yang menyentil hati, maunya marah. Nyeberang jalan, mobil-mobil nggak mau berenti, nekad maju sambil menatap marah mereka. Didesak di pojok angkot, marah. Sebelumnya juga marah karena sekali lagi ngalamin kejadian yang karenaterlalumenyebalkandanmenyangkuturusanduitwarungtakperlulahditulisdisini.

Yah, seminggu ini selain fisik yang dibanting-banting, mental juga diaduk-aduk ...

Selasa, 19 Februari 2008

Tangisan Bombay Pada Suatu Malam

Kejadian ini konyol sih. Memalukan pulak. Tapi bagaimana lagi, nggak bisa ditolak.

Gara-garanya lumayan panjang. Si Papap punya hp baru. Lalu, hp lamanya diwariskan ke si Abang. Nah, karena hp si Abang masih relatif baru, dan melihat hp saya sudah butut, jadi dia mewariskan hpnya kepada saya.

Sebetulnya bisa saja ditolak sih. Tapi, mau diwariskan ke siapa lagi? Kalau diwariskan ke si Emak repot, karena si Emak gaptek. Soalnya, hpnya Motorola yang terkenal susah digunakan.

Yah, hp itu saya terima juga, setelah sebelumnya bertanya, “Kalau Adek jual lagi dan dibeliin hp baru, boleh nggak Bang?” Ya boleh aja, kata si Abang. Toh sudah hak milik saya. Jadi, bebas mau diapa-apain juga.

Hp lungsuran ini sebetulnya keren sih, dan kebanyakan orang bilang kalau hp ini lebih keren daripada si Siemens M65. Suaranya juga katanya lebih keren daripada Sony Ericsson. Tapi, ya gimana lagi … hati sudah terpaut sama Siemens sih. Meskipun modelnya jadul dan suaranya sember. Makanya, waktu Siemens bergabung dengan Ben-Q, saya bete, apalagi setelah Siemens benar-benar bangkrut. Menyedihkan … hiks.

Tadi, di warung dekat rumah, saya membeli simcard baru, hanya untuk dipakai transfer data. Sengaja nyari yang paling murah, IM3. Setelah utek-utekan berusaha membuka tutup baterai dan menelepon si Abang untuk nanya caranya bagaimana, akhirnya berhasil juga.

Ketika sedang memindahkan data dari hp lama, eh … nggak kerasa, air mata tiba-tiba mengalir tanpa bisa dibendung. Ternyata ikatan batin dengan si oranye itu lebih kuat daripada ikatan saudara seludah. Meskipun sudah tak terhitung berapa kali jatuh, terbanting-banting, baterainya ngedrop, kadang-kadang ngehang, tapi ternyata saya begitu mencintai si oranye.

Apalagi, karena belum terbiasa mengoperasikan si Motorola ini, rasanya saya gapteeeek banget. Pengen ngelemparin dah ke dinding, hahahaha ….

Sebetulnya, si M65 ini juga nggak akan pergi jauh-jauh sih. Saya sudah berencana mewariskannya kepada si Aq (Abis dia mah disuruh beli hp baru males, bukan cowok yang tergila-gila gadget sih. Dia mah tergila-gila Siemens juga seperti saya, hehe … dan masih betaaah aja memakai Siemens ME45).

Yah, yang bisa saya lakukan hanyalah berdoa dengan khusuk, berharap agar perusahaan Siemens segera bangkit kembali (nggak ada yang nggak mungkin toh), dan memproduksi hp-hp berseri M. Bukan untuk gaya-gayaan outdoor, tapi karena saya sudah terbiasa dengan featurenya dan seri M sangat cucok untuk orang jorok seperti saya. Amiin.

Love you, Siemens M65 metalik-oranye tersayang. Baik-baik ya di tangan si Aq.

 

*Saya benci Motorola! Huh!*

 

Minggu, 23 Desember 2007

Aku, Saya, Gua, Urang, Dewek ....

Akhir-akhir ini ada seseorang yang pernah mempermasalahkan, mengapa saya memakai kata “saya” kalau menulis?

Jadi ingat waktu masih jadi tapol Cinambo. Dulu, di redaksi Qanita ada perdebatan yang lumayan seru—tentang “aku” dan “saya”. Ceritanya, ada seorang penerjemah senior, Bu Rahartati (penerjemah Asterix dan The God of Small Things), yang menerjemahkan buku Qanita, Snow Flower. Buku ini dikisahkan dari sudut pandang orang pertama, yaitu seorang tokoh gadis Cina zaman dulu yang bernama Lily. Bu Rahartati ini keukeuh menerjemahkan “I” menjadi “saya”. Sementara, kami-kami para kru redaksi, merasa lebih enak jika kisah naratif menggunakan “aku”. Alasan kami, pemakaian kata “aku” terasa lebih akrab dibandingkan dengan “saya”. Sementara, alasan Bu Rahartati, sang tokoh yang bercerita dengan gaya naratif ini masih berjarak dengan pembacanya, dan tentu saja dengan orang yang nggak begitu kenal kita akan memilih menggunakan “saya” dan “Anda”, bukan “aku” dan “kamu”.

Akhirnya, Mamah Antie yang dulunya editor Qanita memutuskan untuk mengikuti saja kehendak Bu Rahartati, menggunakan kata “saya” untuk Lily sang narator. Ternyata hasilnya tetap enak dibaca juga. Meskipun mungkin jadi agak berjarak dengan para pembacanya. Tapi nggak tahu juga sih, itu tergantung para pembacanya sendiri.

Lalu, mengapa saya memilih memakai “saya”, bukannya “aku”?

Begini, sejak kecil sampai sekarang, sebetulnya saya lebih nyaman menggunakan kata “saya” untuk menyebut diri sendiri (kecuali kalau ke orang-orang yang memanggil saya “Adek”, lebih nyaman menyebut “Adek blablabla …”). Kalau nggak, ya sekalian “urang”, karena kebanyakan memakai bahasa Sunda sehari-hari kalau sama teman.

Sementara, kata “gua” atau “gue”, terasa sulit sekali diucapkan. Entah kenapa, padahal anak-anak Bandung juga banyak yang ngomongnya “gue-elo”. Si Antjheu juga ngomongnya gitu, bahkan Mami-nya si Antjheu juga, hihihii …. Tapi memang dia sering diledek sih, kalau misalnya keceplosan, “Gua mah hayang ngabaso,” atau sesuatu yang seperti itu (haha … ongkoh gua, tapi hayang ngabaso). Tapi kadang-kadang sih, saya ber-“gue-elo” juga, tapi jarang banget. Ya karena nggak terbiasa aja, soalnya lingkungan sekitar juga nggak banyak yang begitu.

Sampai SMA, saya masih ber-saya dan ber-urang. Tapi, begitu masuk kuliah (di astro, soalnya dulu di Unpar saya hanya punya segelintir teman, hihihii), kok banyak orang Jawa, Sumatra, dan Sulawesi ya, yang ber-aku-aku. Terus, mereka menganggap kata “saya” itu sopan sekali, malah jadi kagok. Akhirnya, jadilah ketularan ber-aku-aku. Apalagi sekarang semakin ngetren gara-gara sinetron. Yang menyebalkan mah ada dua teman saya, satu orang Malangbong (tetangganya Mulan Kwok), satu lagi orang Majalaya, kalau lagi curhat serius ngomongnya ber-aku-aku gitu, padahal kalau sedang gogonjakan mah ngomongnya ber-urang-urang, hahahahahahaaa! 

Masuk kantor, ya begitu lagi, banyakan yang ber-aku-aku juga. Kecuali Teh Nunung dan Mbak Dhias, yang konsisten menyebut dirinya “Nunung” dan “Dhias”. Dan setelah gelombang Suze Antie masuk bersama Nenk Epay dan CCRNC (Ceuceu Rien-ceu, maksudnya), ada teman yang juga ber-saya-saya (si Nenk Epay dan CCRNC itu, soalnya dua-duanya orang Bandung).

Tapi sekarang, ternyata makin banyak serangan kata “aku” itu. Jadi, saya biasanya baru memakai kata “saya” kalau ngobrol dengan teman-teman lama yang memang sudah kebiasaan ber-saya-saya. Karena itu, sebetulnya nggak perlu heran apalagi sampai mempermasalahkan, toh itu sudah menjadi kebiasaan yang nyaman. Sekarang pun, mengobrol ber-aku-aku juga sama nyamannya. Tapi, ber-gua-gua belum senyaman ber-aku-aku.

(Bukan … bukan gara-gara saya menganggapnya terlalu Jakartaan atau kekota-kotaan. Biasa aja. Legian, saya pernah main ke daerah Cikotok di Kabupaten Lebak – Banten sana, dan teman saya bertanya kepada seorang bapak, “Pak, upami ka Halimun ka palih mana jalanna?” “Kin, ku GUA dianteur!” hihihihiiiii …. Sudah sampai ke pelosok desa, kan? Yah, mungkin bilang “gua” sama nggak nyamannya dengan bilang “I” atau “eike” gitu :p)

Tapi, ada satu teori menurut Nenk Epay. Katanya, yang suka ber-saya-saya itu orang Bandung, sementara yang suka ber-aku-aku orang Cimahi. Kalau begitu, pantas saja, karena saya selalu tinggal di Kodya Bandung, bukan di Kotif Cimahi, hahahahaha … (Bagi orang-orang Cimahi, jangan pundung. Nggak tau tuh, itu teorinya si Nenk Epay. Saya mah nggak tau menau ya. Teuing ah. Hihihihiii)

Jadi, sebetulnya nggak perlu dipermasalahkan bukan, aku, saya, dan gua? Suka-suka orang, tergantung nyamannya, betul kan? (Oh, kalau masih dipermasalahkan juga, saya akan menggunakan kata DEWEK saja, sebagai penghormatan bagi leluhur saya yang dari Banten, hahahahaaa)

Keterangan Foto:

Itu foto dewek waktu lagi kecil, udah keren kan ...

Minggu, 02 Desember 2007

Lukisan yang Mengerikaaann!






Minggu lalu, hari Selasa, saya dan Suze Antie diundang untuk menghadiri konferensi pers peringatan 25 tahun Mizan, di R.M. Shinta, depan RRI. Yah, meskipun acara itu sebetulnya hanya makan-makan bagi kami (mungkin kami diundang karena mereka pesan makanannya terlalu banyak, hahahahaaaa).

Karena hari itu termasuk dalam rangkaian 1 tahun menjadi anytime girls, jadi kami bermaksud pergi ke PVJ setelah acara selesai. Tapi sebelumnya, kok pengen ke belakang dulu ya? Ya sudah, daripada ngompol di jalan, lebih baik dilampiaskan di sini saja, mumpung masih ada WC.

Begitu masuk, menutup pintu, membuka celana (ya iyalah ...) dan duduk di kloset, DUG! Tiba-tiba jantung saya berdetak kencang, karena suatu pemandangan di balik pintu. Lukisan seorang perempuan! Tapi, ekspresinya nggak jelas. Legian, ditempelnya tepat di depan kloset.

Jadi, bagaimana menurut teman-teman, melihat ekspresinya yang mengerenyit aneh itu:
1. Apakah perempuan itu mulas-mulas karena diare?
2. Apakah perempuan itu malu karena kepergok sedang telanjang?
3. Apakah perempuan itu baru saja mengalami pelecehan seksual?
4. Apakah perempuan itu memang ekspresinya dari sananya begitu?
5. Apakah perempuan itu mulas-mulas karena mau melahirkan?
6. .... dst, isi sendiri.

(Tapi ya, kalo tiba-tiba mulas saat tengah malam dan pengen kiss-kiss bang bang, serem banget kalo yang nemenin lukisan itu, hihihiiii)

Oiya, pertanyaan tambahan, siapakah nama yang cocok untuk perempuan tersebut?
1. Nyi Uneh
2. Nyi Enok
3. .... dst (isi sendiri)
(yang jelas bukan Nyi Romlah, karena Nyi Romlah sudah memiliki wajah sendiri)