Ini sambungan dari seminggu yang bikin nggak waras.
Ketika sampai ke TKP, hal pertama yang saya rasakan adalah … kebelet pipis! (Sebetulnya dari didandanin juga udah kerasa sih, tapi tanggung … hahaha) Dan sialnya, kamar mandi di rumah Hegarmanah yang dalam nggak bisa digunakan, jadi harus ke rumah putih yang ada di belakang.
Setelah lega, saya disuruh masuk ke sebuah kamar untuk menunggu akad nikah. Ceritanya sih dipingit, tapi kamar itu berjendela besar sekali, dan saya bisa melihat rombongan si Aq datang, hahahahaaa …. Tapi sayang, waktu lagi dadah-dadah dari jendela sama Deni Agam—teman si Aq yang ikut motret—kepergok sama tante-tante saya, jadi jendelanya ditutup.
Sewaktu sedang menunggu akad nikah, si Opie, sobat saya dari SMP, muncul. Ternyata, saya harus menunggu agak lama di dalam kamar karena ada sambutan yang agak panjang dari keluarga saya (si Papap) dan keluarga si Aq (diwakili saudaranya). Setelah beberapa menit, akhirnya saya diizinkan keluar dan disuruh duduk di sebelah si Aq yang baru cukur kumis dan jenggot (Makanya, mulai dari keluar kamar sampai duduk di sebelahnya, saya selalu cengar-cengir, karena sejak dulu selalu merasa aneh kalau si Aq cukuran, hahahahaaa).
Si Pengantin yang Pecinya Selalu Miring dan Baru Cukuran
Selama ini, saya sering melihat orang-orang menangis terharu saat rangkaian akad nikah. Tapi, kok saya nggak ya. Apalagi waktu acara “habla-habla” sebelum akad nikahnya. Yang saya rasakan cuma sesak—memaksa saya untuk tetap duduk manis dan tegak—karena nggak biasa memakai korset.
Awalnya sih agak jaim, tapi lama-lama, mata saya jelalatan ke seluruh penjuru ruangan. Sialnya (atau untungnya?) di hadapan saya dan si Aq yang duduk berdampingan, di belakang penghulu dan si Papap, ada jendela besar. Orang-orang bisa menonton akad nikah dari luar jendela.

Mertua yang Pecinya juga Selalu Miring
Nah, di jendela itu, tampak dua sobat saya dari SMP juga, si Tinot dan si Achy. Si Achy—yang mirip Alia Rohali tapi makannya banyak hihii—sih tampak serius mencari-cari seseorang, pasti mencari si Opie yang sudah duluan di dalam. Dia juga terlihat smsan—pasti sms si Opie juga. Di sebelahnya ada si Tinot, seorang oknum ibu-ibu PNS Pajak yang sebetulnya belum ibu-ibu. Awalnya sih dia cuma senyum-senyum dari balik jendela, dan saya balas senyum-senyum lagi.
Lalu, lama-lama semakin parah—dia menjulur-julurkan lidah. Waks, sudah berusaha menahan diri agar tetap jaim, eh … nggak tahan juga, saya balas menjulurkan lidah. Padahal, di hadapan saya dan si Aq, keluarga besarnya si Aq duduk dan menghadap ke arah kami. Mungkin mereka sempat bingung, kenapa ini calon istrinya Dindin tiba-tiba nyengir dan menjulurkan lidah? (Tapi untung nggak ada yang protes, hahahaaa)
Ritual sebelum akad nikah terus berjalan, dan si Tinot tenang kembali. Si Aq sempat bisik-bisik, tangannya basah terus. Untung saya dibekali tisu oleh tante saya, mungkin untuk menyeka air mata—kalau-kalau saya menangis terharu. Eh, jadinya malah habis diminta si Aq (diam-diam, di bawah meja, hihiiii).
Setelah beberapa saat menunduk, saya mendongak lagi dan duerrr … di balik kaca jendela, si oknum PNS berbaju putih itu joged. Dasar sinting, saya hampir tidak bisa menahan tawa. Padahal akad nikah akan segera berlangsung, karena sudah ada yang memasangkan kerudung di kepala saya dan si Aq.
Tapi syukurlah, ketika akad nikah dimulai, oknum itu menghilang dari balik jendela. Eh, tapi dia muncul di dalam ruangan. Untungnya, karena di dalam ruangan banyak saudara, dia sedikit jaim (walaupun patpatnya sempat ditusuk oleh tante saya, karena badannya gede tapi nutupin tante-tante, hahahahaaaa).
Akad nikah berlangsung dengan kilat, tanpa diulang, meskipun suara si Aq gemetaran. Tangannya juga gemetar waktu mau tandatangan buku nikah dan berkas-berkas, sampai diledek oleh si Papap hihihiiii ….

Tangan si Aq masih gemetaran juga, hihihiii
Setelah itu, acara berlanjut dengan sungkeman. Sebetulnya, saya dan si Emak sudah khawatir dengan acara ini, karena banyak yang nggak bisa menahan haru. Saya sih nggak ingin menangis, karena wajah saya cenderung bengkak dan merah-merah dalam waktu lama setelah menangis. Tadinya sudah minta ke tante saya yang ngatur acara, supaya acara ini diskip saja, hihihiii … tapi permohonan saya ditolak, katanya, tenang saja, percayakan kepada Yonie untuk menyulap hidung merah dan mata bengkak supaya tetap segar.
Tapi ternyata, sungkeman juga nggak terlalu mengharukan. Soalnya, pertama, saya dan si Aq pasti harus numpang dulu di rumah ortu kami—karena si Aq anak tunggal, ibunya tinggal sendirian, dan saya juga anak “tunggal”, karena si Abang nggak tinggal di rumah. Jadi, pamitan juga nggak serius-serius amat, toh pasti kami pulang lagi ke rumah, hihihiiii …. Yang kedua, soalnya terpaksa harus sungkem kepada si Abang yang cengengesan dengan jenaka. Gimana mau terharu, dia cengar-cengir dengan ekspresi meledek waktu saya sungkeman (si Aq juga pasti ngerasa aneh harus sungkem sama teman TK-nya, hahahahaaaa).

Bagaimana Bisa Terharu Kalau Harus Sungkem kepada Orang Ini?
Jadi, kata siapa akad nikah harus bertangis-tangisan? Tentu tidak. Apalagi, kalau dihadiri oleh seorang oknum PNS yang joged di balik jendela. Dasar sinting!

Ini dia geng SMP: baju putih berselendang si ibu-ibu oknum PNS, lalu neng Nobi, dan di sebelah kiri saya duplikat Alia Rohali yang makannya banyak.